Tuesday, 12 December 2017

Tontonan Netflix Kali Ini

Semenjak langganan Netflix, gw -yang merasa bahwa nonton adalah aktivitas dengan komitmen tinggi dan butuh pengorbanan- mulai agak rajin nonton. Bukan biar kece, gaul, dan kekinian, cuma ogah rugi aja. Sebagai #SobatKizmin, tabu hukumnya menyia-nyiakan duit yang sudah dibayarkan untuk langganan Netflix. Nah, berikut ini beberapa serial yang gw ikuti dan senangi. Di antaranya nggak akan ada serial booming macam House of Cards atau Breaking Bad, bukan sok anti mainstream nggak mau nonton serial yang banyak diomongin dan digemari, tapi kedua serial tersebut (dan banyak serial lainnya) seasonnya banyak dan ngejar nontonnya kayaknya capek deh *ahelah, nonton aja nyebut capek gimana ngurus negara ngikutin jejak Angela Merkel, hih!!*

Berikut beberapa serial thriller/drama/kriminal yang gw ikuti dan gw suka. Serial ini nggak melulu orginal Netflix ya, tapi kebetulan Netflix menayangkan.

Dark
pic from here
Serial ini belum lama tayoung di Netflix, gw udah tunggu-tunggu karena gosip mengatakan bahwa serial ini bagus dan mind-gripping *bukan groping, ngok*. Dark ini -seperti judulnya- memang 'dark', sebuah sci-fiction thriller yang bikin gw bilang, "Eh bentar, ini gimana sih kok bisa gini? Itu siapa itu yang barusan? Kok jadi kek gini?" tapi ga lama kemudian bikin gw "OMG!!"

Ceritanya dimulai di tahun 2019 (masa kini) tentang anak yang tiba-tiba menghilang dari sebuah desa di Jerman. Ternyata ada portal yang bisa membawa mereka ke masa lalu dalam periode per 33 tahun. Ada dunia paralel yang sama-sama berjalan baik di masa kini maupun di masa lalu. Beberapa orang yang tinggal di masa kini pun menemukan bukti bahwa orang yang mereka kenal sempat mengunjungi masa lalu dan hidup di dalamnya. Seru, gemez, kezel, dan bingung deh pokoknya.

Banyak yang menyandingkan serial ini dengan Stranger Things, gw sendiri nggak tahu karena memang belum nonton Stranger Things. Satu lagi, serial ini berasal dari Jerman, gw memang menyengaja sok-sok memperbanyak tontonan non Ameriki, biar memperkaya khazanah pertelevisian *halahhhhh*. Selain itu, harapan gw sih pas kelar nonton season 1 dari Dark ini gw tiba-tiba fasih Bahasa Jerman. Ternyata engga ya? *menurut ngana?!*

Occupied (Okkupert)
pic from here
Lagi-lagi serial non Ameriki yang kali ini berasal dari Norwegia. Mengangkat geopolitikal isu dan rasanya masih bisa dimasukin ke genre thriller lebih ke drama, iya nggak sih? 

Ceritanya, di masa depan, Norwegia yang dipimpin oleh PM dari Green Party mengehentikan produksi minyak 100% persen karena  mereka bisa mandiri menggunakan sumber energi berupa Thorium. Pada saat itu dikisahkan juga kalau Amerika pun sudah bisa memenuhi kebutuhan energinya. Ketika Norwegia memutuskan menghentikan produksi minyaknya, tentunya protes datang dari negara Eropa lainnya yang menggantungkan (sebagian) sumber energinya dari pasokan minyak yang diproduksi Norwegia. Keadaan ini membuat Rusia menduduki Norwegia dan 'menyetir' negara ini untuk kembali memproduksi minyak. Hal ini mengakibatkan Free Norway, gerakan nasionalis (resistance), bangkit untuk menentang Rusia. Dalam perjalanannya, banyak terjadi konflik. Anggota PST diminta menyusup untuk memata-matai Rusia, petinggi pemerintahan ternyata anggota Free Norway, bom meledak dan membunuh orang Rusia yang akhirnya bikin konflik semakin panas. 

Selama nonton ini, gw sih emosi. Meski ga jelas emosinya sama siapa. Emosinya tersebar secara sporadis ke semua lapisan umat manusia yang menduduki jabatan berbeda. Gw emosi ke PM, anggota Free Norway, Rusia, jurnalis, juga rakyat-rakyat jelata yang perannya tidak signifikan di flim itu. Pokoknya esmosi is numero uno!!! Kalau nggak salah, serial ini sudah sampai di season 3, tapi baru ada 2 season di Netflix.  

Mindhunter
pic from here
Akhirnya kembali ke kiblat perfilman di dunia fana ini, Amerika. Awalnya nonton hanya karena baca berita bahwa David Fincher terlibat di serial ini. Embel-embel David Fincher ini bikin gw langsung berseru, "Bungkus!!!"  

Serial ini mengisahkan awal mula FBI mulai melirik area psikologi/behavioral untuk menangkap pelaku kriminal. Dua agen -tua dan muda, pengalaman dan idealis- berpasangan untuk mencari tahu apa yang ada di dalam kepala para pelaku pembunuhan yang melakukan tindak kejahatan dengan cara yang mengerikan dan tidak biasa. Mereka menemui para kriminal tersebut dan melakukan wawancara. Eh, kok gampang sih kayaknya? Sowan sama kriminal terus ngobrol-ngobrol deh. Salah banget. Namanya juga para pembunuh yang tidak biasa (entah jumlah yang dibunuh atau cara membunuhnya yang tidak biasa), mereka jatuhnya ya manipulatif, misalnya ya, ada yang pinter ngomong (seperti Ed Kemper) dan hal-hal yang dia katakan sebenarnya sudah dia rencanakan. Intinya dia mengatakan apa yang FBI ingin dengar. Ada juga yang emosian dan bikin komunikasi susah. Hal-hal seperti ini yang bikin kedua agen ini harus memutar otak dan menggunakan berbagai trik agar para kriminal ini mau bicara. Kadang, trik dan cara yang digunakan dianggap kelewat batas oleh petinggi FBI pada masanya sehingga membuat mereka bermasalah di dalam lingkungan FBI tersebut.

Awalnya agak males nonton serial yang diangkat dari buku ini karena gw merasa alurnya agak ngayayay *gw pun agak bingung menjelaskan*, kerasa agak lambat dan bosenin. Tapi lama-lama kerasa seru apalagi pas tahu betapa akuratnya potret Ed Kemper di serial ini. Meski tentang para pembunuh berdarah dingin, serial ini lebih fokus, sejauh ini, ke sisi sayens dan psikologis dari para pembunuh, jadi nggak ada visual yang mengerikan atau nggilani dari scene pembunuhan.


Broadchurch
pic from here


Kusuka!!! Serial Inggris ini mengangkat genre kriminal/drama yang dibintangi Olivia Colman dan David Tennant (fans berat Dr. Who pasti sudah paham). Gw nonton ini gara-gara pernah liat wawancara kedua aktor utamanya di Graham Norton *angger* dan rasanya menjanjikan deh.

Inti dari serial ini adalah pengusutan tindak kriminal dan embel-embel sederatan drama di dalamya yang nggak jarang bikin kzl nan emosi, hih!! Dan serial ini bukan tipe serial yang menunjukkan satu kasus untuk satu episode, tapi satu kasus untuk satu season. Agak kesel sih ya, sampai akhirnya tahu siapa pelaku kejahatannya musti nunggu satu season. Di season pertama, seorang anak laki-laki mati dibunuh, dan secara nggak sengaja, Alec Hardy (David Tennant) dan Ellie Miller (Olivia Colman) berpasangan untuk menyelesaikan kasus tersebut. Bukan cuma soal pengusutan pembunuhan, kehidupan pribadi para karakternya pun diangkat sehingga membuat serial ini lebih drama.  Btw, untuk yang belum nonton, tanpa spoiler, pelakunya ini bakal bikin emosi karena dia bukan cuma membunuh seorang anak tapi juga merusak tali silaturahmi yang terbina selama ini. Season dua adalah season paling emosi buat gw, karena fokus cerita mengenai persidangan si pelaku pembunuhan dari season sebelumnya. Persidangan ini pun jadi ajang pertarungan antara jaksa penuntut dengan pembela karena keduanya saling mengenal dan punya cerita. Selain tentang persidangan, season dua pun menceritakan kasus yang sebelumnya sempat Alec pegang tapi gagal dia selesaikan, double emosi jadinya buat pemirsa. Puncak emosi terjadi di akhir season ketika pemirsa mengetahui hukuman untuk si pelaku. Season tiga tetap menarik dan paling tenang nontonnya, nggak terlalu emosi karena nggak melibatkan kehidupan pribadi si tokoh utama.

Itu dia yang bikin gw senang, bukan cuma misteri tindak kriminal yang diangkat, tapi juga sisi personal dari para karakternya diceritakan. Bahkan, para pemeran pun nggak dikasih tahu siapa sebenarnya pembunuhnya (Olivia Colman tahu sih untuk season satu, itu pun nggak sengaja), jadi sepanjang film, semua aktor bertanya-tanya dan menebak-nebak. Kok seru bingit sih kedengarannya. Hal yang paling gw sukai adalah dinamika dua tokoh utamanya, berantem melulu tapi tetap saling membantu, dan yang paling pasti, no romance involved. Meski kalau serial ini dilanjutin (yang mana gw sih pengen) kayaknya sih ujung-ujungnya mereka bobok-bobok bareng juga :)))).

The Fall
pic from here
Alkisah, seorang detektif bernama Stella Gibson (Gillian Anderson) ditugaskan mengungkap kasus pembunuhan yang ternyata merupakan bagian dari pembunuhan beranatai yang dilakukan oleh satu orang bernama Paul Spector (Jamie Dornan). Seperti Broadchruch yang bukan tipikal satu seri satu kasus, The Fall  yang sudah memasuki season tiga menceritakan pembunuhan yang dilakukan Spector terhadap para perempuan. Bedanya, dari awal, para pemirsa memang diajak untuk menyaksikan aksi-aksi pembunuhan yang dilakukan Spector, jadi nggak ada cerita tebak-tebak buah manggis siapakah pelaku dari serangkaian pembunuhan tersebut. Meski pemirsa tahu kalau Spector pembunuhnya, dia itu licin bak belut, sehingga sulit ditangkap. Bahkan ketika sudah ditangkap, kesulitan tetap banyak karena Spector ini manipulatif bahkan cenderung psikopat. Ya gimana nggak, liat aja perlakukan dia terhadap para korbannya, termasuk diari yang dia punya. Nggak kalah kompleks adalah detektif Gibson. Meski kelihatannya kejam, perfeksionis, dan berdarah dingin, tapi dia menyimpan kompleksitas tersendiri dan sayangnya Spector justru bisa membaca ini dengan baik. Kehidupan pribadi dari karakter utama pun ditunjukkan dengan drama terjadi di sana-sini.

Gw nonton ini karena masih dalam bayang-bayang Gillian Anderson sebagai Scully di The X Files dan berusaha menghapus imej Christian Grey dari Jamie Dornan. Serial ini masih berjalan dan bikin emosi juga. Seperti Broadchruch, serial ini pun Inggris punya. Di sini gw kaya liat psychological war antara dua karakter utama.
Read More »

Sunday, 10 December 2017

Kehidupan Zaman Now: Apa-apa Masuk Kategori Rasis, Seksis, dan Kawan-kawannya

Kalau kita baca soal kemajuan zaman dan peningkatan taraf hidup, kayaknya tenang dan senang ya. Usia harapan hidup semakin panjang, sanitasi dan kesehatan semakin meningkat, kesempatan pun semakin terbuka lebar buat siapa pun tanpa pandang bulu. Tapi di sisi lain, gw kok kadang ngerasa kalau sekarang ini banyak hal yang (terasanya) biasa aja tapi kok respon duniawinya luar biasa, apa gw kurang sensitip? Misalnya bercanda yang (menurut gw) biasa aja tapi dibilang seksis atau rasis atau apalah gw kurang paham, makleum rakjat djelata. 

Pergeseran nilai ke arah yang lebih baik, seperti perempuan bisa punya kesempatan yang sama, adalah hal yang gw sukai dan rayakan, makleum, di masa depan kan gw mau jadi the next Angela Merkel, tapi kok sekarang orang-orang banyak yang kelewat sensitip dan dikit-dikit ketrigger dan ujung-ujungnya ngeluarin senjata aadalan, "Stop being sexist/racist/misogynist/ dll...dlll." 

Cukup sudah hayati lelah!!! 

Misalnya ya, dulu tuh denger kata feminisme kesannya serem dan sangar, kebayangnya segerombol perempuan sangar nan galak yang marah-marah mulu nggak suka laki-laki dan ingin menguasai dunia. Pas cek kamus, eh definisinya ga ribet dan applicable buat disupport oleh semua orang.
"The advocacy of women's rights on the basis of the equality of the sexes."

Lalu gimana sekarang? Justru kadang berbalik 180°, tiap denger berita tentang feminisme atau seksisme, gw memicingkan mata memastikan bahwa berita yang gw denger nggak bikin gw  malah, "Halah, kerusuhan apalagi ini," diikuti ekspresi...  


Siapa sih yang ngga pengen perempuan maju? Lha wong hal ini baik untuk semuanya. Masalahnya, kalau merhatiin dalam kehidupan sehari-hari, justru banyak berita yang berseliweran dan bikin gw  ngelus dada sambil geleng-geleng kepala. Misalnya, pas gw tadarus akun @FeministBS. Keriuhan dan kerusuhan akan hal-hal yang nggak masuk akal bisa ditemui di sini. Pernah sekali waktu gw lihat screepcap dari orang yang kecewa. Meski dia senang ada Assassin Creed versi perempuan, dia tetap kecewa karena yang akan memerankan adalah seseorang yang langsing. "Kok nggak inklusif sih sama cewe-cewe yang kelebihan berat badan??"

I am lyke...


Ni orang yang ngomong ngerti jobdesk-nya Assassin Creed apa nggak sih?*gw juga kurang tahu, kemudian google dulu* *self toyor* Taruhlah dalam kehidupan nyata Assassin Creed melakukan  open rekrutmen, dia nerima pendaftar seorang perempuan yang kelebihan berat badan, hakul yakin setelah periode traning dia bakal jadi langsing, berotot, sigap dan lincah. Kalau nggak, gimana bisa dia mengemban tugas, belum apa-apa bisa-bisa udah isdet duluan dibunuh oleh musuh. Itu dia kenapa menurut gw konteks jadi penting, seperti halnya jangan mau ditipu *pakai* ayat *lah, ujung-ujungnya ke sana lagi* *ngok* :))))

Contoh lainnya sewaktu badai di Amerika kemarin. Ada tips yang viral di internet mengenai bagaimana cara mengecas (atau menghemat?) baterei dari smartphone. Hal ini mendapat banyak perhatian karena pada saat itu sambungan listrik mati dan semua orang pengen tetap bisa menggunakan ponselnya. Setelah tips ini viral, ada seorang laki-laki yang menjelaskan kalau cara tersebut salah, terus ujung-ujungnya dikatain mansplaining. HLH TLQ!!!


Lah, gw yang cewek aja kzl liatnya, pengen tak toyor deh simbak yang ngatain manspalining. Masnya ngejelasin secara netral tanpa merendahkan siapapun karena dia nggak pengen orang-orang justru ngikutin saran yang salah. Jadi ya nggak usah keget kalau akhirnya banyak orang yang skeptis dan ngenyek gera'an-gera'an yang diusung untuk memajukkan perempuan.

Anyho, ini post bukan tentang fenisme sih, itu cuma contoh doang saking banyaknya kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Gw cuma rakjat djelata yang senang bertjanda jadi ngerasa was-was karena kok apa-apa oversensistif? Atau semua cuma perasaan gw doang? Segala sesuatu musti politically correct (hellowww orang yang kasi review bagus buat film Dunkirk tapi bilang filmnya kurang diverse dan terlalu white-male-centrist, bok itu kejadian di WW-II, ai sia damang?!) dan diseriusin secara belebihan. Sekarang jadinya kalau mau ngetwit ngedraftnya bisa lama banget dan ujung-ujungnya ga jadi ngetwit, yabes serem cynnnn, ditambah netizen zaman now yang makin beringas. Hvft.
Read More »

Tuesday, 21 November 2017

Terabsurd: Pengalaman Tes Kesehatan Jiwa

Bentarrrrr, ini bukan content tes kesehatan jiwanya yang jadi absurd. Gw harus segera disclaimer dulu, karena rangorang zaman now suka langsung mengambil kesimpulan, "Kok ngatain tes kesehatan jiwa absurd? Parah sekali tidak menunjukkan perilaku budi luhur Kamu Bening!! Tidak tenggang rasa dan tepa selira pada mereka yang mengalami disorder untuk urusan kejiwaan"

Bbbbzzzttt. 

Sabar Bu, Pak, jadi ini bukan tentang isi tesnya, melainkan proses tesnya. 

Gw akan menyamarkan tempat di mana gw melakukan tes ini, karena kita semua tahu ya, setiap konsumen komplain, bukannya ngebenerin servisnya malah ngelibas konsumen, ngok!

Jadi begini, beberapa bulan yang lalu gw ikut tes kesehatan jasmani dan kejiwaan, siapa tahu butuh. Kesehatan jasmani mah biasa ya. Standar tinggi, berat, tensi, dan buta ijo warna. Untuk tes kejiwaan sendiri, gw belum pernah. Btw, sebenarnya kalau cari info di internet atau berbagai sumber, tes ini lebih sering disebut tes kesehatan rohani, tapi surat keterangan yang gw terima bunyinya 'Kesehatan Jiwa.' Lagipula tes kesehatan jiwa gw rasa lebih tepat, karena kalau rohani tuh kesannya spiritual, yenggak?  

Tes kesehatan jiwa ini terdiri atas lebih dari tiga ratus soal yang harus dijawab. Nggak ada jawaban benar dan salah karena setiap soal berisi dua pernyataan dan peserta tes diminta memilih satu pernyataan yang lebih mewakili dirinya. Misalnya:
- Saya merasa bahagia
- Saya mudah stres

- Tidur Saya sering tidak nyenyak
- Nafsu makan saya membludak baik

Gw nggak inget soal-soal dalam tes tersebut, di atas itu berupa gambaran seperti apa bentuk tesnya. Proses tesnya sih biasa aja, kita akan diberi buku soal dan lembar jawaban lalu diberi waktu untuk menyelesaikan. Di lembar jawaban pun terdapat kolom untuk mengisi waktu memulai dan waktu ketika kita menyelesaikan tes tersebut. Gw sebagai cewe soleha yang berbaik sangka hanya berpikir, "Wow, presisi ya, mungkin banyaknya waktu yang diperlukan mempengaruhi kondisi kejiwaan pada saat itu."

Benarkah begitu? Mari kita lihat.

Setelah gw selesai mengerjakan dalam tempo sesingkat-singkatnya, gw kembali bertanya pada petugas front desk yang kemudian mengarahkan gw, "Mbak turun ke bawah belok kiri nanti bla..bla..bla.." Oke, gw ikuti petunjuk belionya. Setelah gw sampai di bangunan yang dimaksud, gw lihat ada seorang bapak-bapak, gw tanyalah, intinya mau ngumpulin lembar jawaban tes kesehatan. Bapak tersebut ngeluarin kunci lalu membuka ruangan yang di pintunya terdapat label bertuliskan nama dokter perempuan yang  di belakang namanya ada gelar SpKJ. Berarti spesialis kejiwaan kan? 

Masih berbaik sangka, gw pikir dokter tersebut ada di ruangan tersebut. Ternyata tidak saudara-saudara. Tau apa yang dilakukan? Bapak tersebut adalah operator. Dese bawa lembar jawaban gw ke dalam, dia buka template dari komputer, lalu memasukkan biodata gw dan keperluan tes kesehatan jiwa tersebut untuk apa, terus di-print. Kelar perkara. "Ih, kok lo ngomong gitu Ning? Tidak baik berburuk sangka ukhti. Tahu dari mana coba ukhti?" Ya masa ngecek tiga ratus lebih soal kelar dalam waktu lima sampai sepuluh menit. Hal lain, si bapak tersebut minta gw nunggu di luar pas dia sedang "memproses" lembar jawaban gw, tapi nggak lama manggil karena ada sesuatu yang nggak jelas, makleum tulisan gw mirip piktograf. Pada saat gw masuk ke dalam, gw liat dese lagi input data gw ke dalam template yang dia punya. Nggak lama setelah itu, dia panggil lagi dan udah kelar. Di surat keterangan tersebut ada tanda tangan dari dokter yang namanya gw lihat di pintu ruangan itu.  

YA KALO GITU SIH SEMUA PESERTA TES BAKAL SEHAT SECARA KEJIWAAN ATEUHHH.

Tesnya sendiri nggak murah, ibaratnya, kalau dipake beli bakso, bisa dapet dua puluh-an mangkok atau bisa juga dipake beli FTE Missha di sista olshop. Selain itu, ada yang lebih penting dari harga lumayan yang dibayarkan tapi tesnya ga sungguh-sungguh diperiksa, yaitu kesehatan jiwa si peserta sendiri. Kalau memang tes ini dilakukan sungguh-sungguh, bukannya bagus ya? Hasilnya pasti bisa menjadi masukkan buat pesertanya sendiri, apalagi kalau dokter yang bertanggung jawab dan namanya tertera di surat keterangan bisa memberi masukan. Gw sendiri pengen tahu lah gw pada saat melakukan tes kondisinya seperti apa, ada kecenderungan-kecenderungan tertentu apa nggak. Perkara si peserta tes jadi nggak eligible untuk suatu posisi pekerjaan atau beasiswa ya urusan belakangan. Kalau kecenderungannya agak parah dan bisa membahayakan dirinya atau mungkin temennya nanti, kan amsiong juga jadinya.

Hal lainnya terjadi ketika gw daftar di front desk. Salah satu petugas front desk nanyain gelar gw apa :))). Pasti bukan tanpa alasan dese nanya gitu, seperti halnya kenapa ada 'Do not drink' di kemasan bleaching. Mungkin pernah di suatu masa ada peserta tes yang nggak terima ketika petugas cuma menanyakan namanya tanpa peduli gelar akademisnya. Lyfe.
Read More »