Wednesday, 11 October 2017

(Apalah) Arti Sebuah Nama

Gw sudah merencanakan nama anak kalau gw memutuskan untuk beranak satu hari nanti. Kurang visioner apalagi coba, padahal hilal jodoh juga belum ada, ngok! Menurut gw, kebanyakan orang tua ngasih nama anak dalam bentuk doa dan harapan supaya anaknya nanti jadi seperti namanya. Masalahnya, apapun nama anaknya, selalu ada jalan buat anak-anak lain untuk ngeledek nama anak tersebut. Mari mulai dari diri sendiri.

Bening.

Yaelah, ini sih udah jelas. Nama yang tidak dibarengi dengan penampakan fisik yang sesuai dengan ekspektasi dari lingkungan sekitar. Kalau udah tua sih nggak peduli lagi, terserah orang mau ngomong apa, temen-temen yang seumuran gw juga udah ngerasa nggak perlu buat ngeledekin nama gw (atau nama orang lainnya), ngabis-ngabisin energi aja lha wong permasalahan duniawi lainnya udah banyak.

Pas masih muda sering banget ngenalin diri terus dapet tatapan, "Oh really? Ga salah nih namanya." Kampret sih, tapi ya nggak bisa disalahain juga mengingat sejarah penampakan gw di dunia fana seperti berikut ini. 


Foto di atas diambil ketika gw berumur enam tahun dan baru masuk SD. I don't remember I was cute once. Well, everyone was cute when they're little at some points at their life. Or no.


Gw berumur 12 tahun di foto ini, tepatnya pas gw lulus SD. Masih keliatan lumayanlah, still look like a human. What can go wrong? Btw, itu tanda tangan, selain nggak jelas juga panjang banget gara-gara gw dibilangin kalau tanda tangannya musti nyebrang dari ujung foto ke ujung lainnya. Pertanyaan lain yang muncul soal tanda tangan mungkin inisia PS di akhir tanda tangan, apaan tuh? Postscript? Bukan. Play station? Bukan juga. PS itu adalah singkatan dari Peter Schmeichel karena pada masanya gw demen banget sam doi *malu* *tutup muka* Ngapain juga gw abadikan di tanda tangan gw????


Lulus SMP dan lulus SMA. Puberty (and poor eating habit) done wrong and I was called Bening. Thank you very much. I got so much laughter from people. Beban nama begini amat sik. #PuberMe. Terus nanti ada yang berargumen, "Ah Dek Bening lebay, lebih berat yang punya dikasih nama Soleh/ah atau Bijaksana misalnya." Ya enggaklah, Soleh/ah dan Bijaksana sifatnya nggak fisik, no one cares about something non physical during teenage time, akuilah. Pret. Just for the record, don't imagine the current version of me based on those two pics. But if you do, what can I do.

Itulah dia, meski nama adalah doa, manuver dalam ngasih nama seyogyanya nggak usah banyak-banyak, kasian anaknya soalnya. Ditambah fakta bahwa nggak ada aturan dalam ngasih nama anak, semua bisa ngasih nama anak sebebas-bebasnya. Gw pernah denger ada seorang supir taksi bernama Superman atau seseorang bernama Tuhan. Boleh jadi besok-besok ada yang ngasih nama anaknya "Bahwa Sesungguhnya Kemerdekaan Itu Adalah Hak segala Bangsa" atau kasih nama anak "Hello", lengkapnya "Hello Is It Me You're Looking For." Besarkah kemungkinan orang tua ngasih nama anak seperti itu? Tentu Tidak. Tapi apa mungkin ada yang ngasih nama kayak gitu? Tentu iya.

Balik lagi ke rencana gw dalam memilih nama. Rule of thumb milih nama kalau buat gw adalah jangan ngikutin trend *you know what I mean*, selain itu gw selalu pengen ngasih nama yang ada unsur Sansekerta. Bahasa ini udah lama banget dan sesuatu yang klasik udah teruji waktu biasanya sih everlasting. Ibarat lagu, meski jadul dan pertama rilis udah puluhan tahun lalu, tapi tetep enak buat didengar. Sudah barang tentu gw ga akan ngasih nama anak bak nama keponakannya Hancong *maap yak* *salim* :))). Hal lain adalah, gw pengen nama yang netral, just in case in the future those kids need to travel to Murica, they can save themselves from secondary search or racial/religion profiling :)))).

Nah, tapinya ide nama dari Bahasa Sanksekerta mulai bergeser sejak beberapa tahun lalu gw kenal *duile kenal* aktor dari Irlandia bernama Saoirse Ronan. Ini nama ditulisnya gimana, dibacanya gimana, dih. Terus gw kepikiran, kayaknya gw bisa ngisengin anak gw seumur hidupnya kalau gw ngasih tipikal nama dari Irlandia, karena besar kemungkinan semua orang akan melafalkannya salah di percobaan pertama. Bahkan setelah dikasih tahu cara bacanya pun, pasti orang-orang bakal tetap salah. Gw nggak membebani anak gw dengan nama yang punya arti begitu berat dan mulia, gw cuma ngasih nama yang bikin dia frustrasi karena pelafalan yang kampret :))).

Sila skip langsung ke 2:18 untuk mengenal nama-nama Irlandia.

Gw udah kebayang kalau gw kasih tipikal nama Irlandia, begitu si anak punya sosial media, status pertamanya berbunyi, "If I had a dollar for every time someone said my name wrong, I'll be a millionaire."

Pic from 9gag

Read More »

Thursday, 5 October 2017

Dilema Grup WhatsApp

Kata orang, zaman semakin maju dan ngasih banyak kemudahan. Banyak hal yang dulu nggak mungkin dilakukan dengan mudah dan cepat sekarang tinggal lagu lama. Zaman dulu, mau ngobrol aja harus kirim surat dulu dan harap-harap cemas apa surat apa suratnya bakal nyampe atau nggak, merpati posnya bakal mokat nggak nih di tengah jalan. Setelah itu, masuk era telepon, pas telepon rumah mulai marak, nggak lupa ngantongin koin ke mana-mana buat kasih kabar orang rumah kalau pulang telat karena mau ditraktir temen makan di KFC. Lalu ada pager, telepon genggam, ina, ini, inu, lalu sampailah kita di hari ini, era WhatsApp.

Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan coba dengan keberadaan WhatsApp? Bisa kirim pesan dengan cepat, plus emoji-emoji yang bikin percakapan keliatannya lebih akrab dan ramah. Tapiiiii, bersama kemudahan pasti ada kesulitan. Salah satu hal yang bikin gemes adalah keberadaan Grup WhatsApp. Gemes-gemes gimana gitu, kenapa?


Ada GrupWhatsApp yang mengatasnamakan consent ketika masukkin elo dan elo happy ada di dalamnya, ada Grup WhatsApp yang membuat elo tergabung karena emang by default elo bagian dari sesuatu dan elo nggak ngerasa bermasalah, ada juga GrupWhatsApp yang membuat elo...


Meski begitu, ada juga grup yang terbentuk by default dan elo anggotanya, tapi karena satu dan lain hal elo males aja ada di dalamnya. Bisa jadi karena apa yang dibahas bukan interest elo, bisa jadi elo ngerasa nggak klik aja sama anggota lain *bukan dalam artian rusuh dan bermasalah, cuma nggak klik aja*, atau ya males aja. Males karena menuh-menuhin handphone dan bikin hang, terus ujung-ujungnya grup cuma hidup ketika ada yang ulang tahun, nikah, atau beranak. Di luar itu, grup mati suri....bbbzzzztttt

Ada juga grup yang bersifat temporari. Misal, gw sedang mempersiapkan acara 17-an, lalu dibentuklah grup panitia 17-an yang atas persetujuan anggotanya akan dibubarkan setelah acaranya selesai. Atau grup surprise yang dibentuk untuk ngomongin kado ulang tahun atau kawinan seseorang. Biasanya grup ini dibentuk untuk menghindari diskusi di grup lain di mana orang yang punya hajat juga tergabung. Mbingungi nggak sih? Gini maksudnya, misalnya gw tergabung di Grup WhatsApp Miss Universe 2027, nah di grup tersebut ada yang bakal kawin. Biasanya akan dibuat grup tertentu di mana anggota Grup Miss Universe 2027 lainnya bisa diskusi dengan damai untuk ngomongin kado kawinan Miss XYZ, sebut saja Grup Kawin Miss XYZ. Masalahnya, meski elo merupakan bagian dari Miss Universe 2027, nggak otomatis lo mau gabung di grup ini, bisa jadi lo udah punya rencana sendiri untuk Miss XYS karena kalian berdua adalah BFF atau lo ga mau gabung karena....ya nggak mau aja kelessss....mesti banget pake alasan? Problematika muncul ketika tanpa persetujuan tiba-tiba elo udah dimasukkin ke dalam Grup Kawin Miss XYZ, kenapa? Karena elo terjebak dan satu-satunya jalan yang paling aman untuk dilakukan adalah ngikutin aturan yang berlaku di grup tersebut. Entah ikut udunan atau ikut sumbang performance pole dancing di resepsi Miss XYZ, apapun aturan main grup tersebut.

Kadang, keberadaan grup temporari ini bisa jadi lebih nyebelin daripada grup permanen. Grup permanen biasanya nggak punya visi-misi jelas, by default aja. Ketika lo mau leave dari grup, meskipun tetap tricky, tapi sepertinya lebih bisa diterima. Sedangkan grup temporari, biasanya dibentuk karena jelas tujuannya apa, ketika elo mau leave, lo seperti 'oposisi.' Misalnya gw leave dari Grup Kawin Miss XYZ, anggota lainnya bisa jadi komentar, 'Ih, kok leave sih? Lo nggak setuju dengan visi-misi buat Miss XYZ? Elo kayak AfD terhadap Merkel deh, hih!!' Bbbbzzzttt. 

Hal ini terus bikin gw mikir, perlukah approval dari seseorang yang diinvite masuk grup tertentu? Bisa jadi, meski nggak semua orang suka sih pasti. Pasti ada yang lebih milih leave grup ketimbang reject invitation. Seenggaknya kalau pake sistem approval dan lo me-reject, lo bisa bilang sama yang kasih invitation, 'Aku ga bisa gabung, Grup Wasap ini terlalu baik buat Aku. Maaf ya.' 
Read More »

Monday, 25 September 2017

Real Detective

Ceritanya gw baru mengkhatamkan Real Detective (tersedia di Netflix dan pastinya banyak link-link streaming dan donlot di luar sana :p) karena khatam quran bisa menunggu kok nonton satu episode terus nagih dan nagih. Sebagai orang yang seumur hidupnya cuma ngikutin secara hakiki The X-Files, Ugly Betty, dan Ally McBeal (plus beberapa telenovela seperti Marimar dan kawan-kawan), bisa namatin/ngikutin TV series secara berkelanjutan adalah suatu prestasi. Mungkin karena topiknya, makanya gw bisa suka dan ngikutin, ditambah embel-embel based on true story, bahkan naratornya sendiri adalah detektif yang bersagkutan. Judulnya juga Real Detective, isinya tentang kasus-kasus pembunuhan di Amerika, jadinya ya seru. Di saat bersamaan, gw masih ngikutin Forensic Files, udah 100-an episode gw tonton yang pada akhirnya bikin gw yakin kalau sekarang gw udah bisa jadi homicide investigator.

YHA!!

*nyampe crime scene kemudian pengsan, paling nggak muntah*

Real Detective ini baru dua seasons dan total episodenya kurang dari dua puluh. Dari semua episode yang gw tonton, ada tiga yang menurut gw "paling," paling nakutin, paling bikin marah, dan paling bikin sedih. Setelah nonton tiga episode ini, nonton episode lainnya mungkin terasa kurang greget, misalnya, "Oh, gini doang. Ditususk piso tiga puluh kali terus akhirnya mati. Oke deh."

Bzzztttt.

Tiga episode tersebut.

1. Misery
Semua orang tua bakal marah dan emosi nonton episode yang satu ini. Meski gw ngakak dengan bit ketiga Louis C.K di sini tentang child molesting, tetap menurut gw child molesting adalah salah satu tindakan terkeji di muka bumi (tindakan keji lainnya misalnya nggondol uang jamaah untuk hidup mermewah-mewah dengan beli gorden 700 juta), apalagi kalau child molesternya merangkap pembunuh berdarah dingin, keji kuadrat ini.

Ceritanya, seoarang anak menghilang dalam perjalanan menuju sekolahnya. Pada awalnya mereka sempat mencurigai ibu korban, karena seperti biasa, kalau ada orang hilang/dibunuh, penyelidikannya pasti dari dalam ke luar, dimulai dari orang-orang terdekat, baru keluar. Ehm, dah bisa kan gw jadi homicide investigator?

Setelah diusut, mereka punya satu orang tersangka, ketika  polisi menggeledah rumahnya, ditemukan diari yang ditulis dengan kode yang berisi nama-nama korban dan apa yang dilakukan terhadap anak-anak tersebut, detektif tersebut sempat bilang, "Mungkin seumur hidupnya dia udah molesting 100an kali." Emosi ga lo?!?!?! And when he thinks it is necessary to kill the kid(s), he does not just kill the kid(s), he butchers them. Butchering the kids, as if they are cow or pig. Saddest thing? Since the body's never recovered, the victim's mother maintain the illusion that her kid's still alive somewhere, although in the diary it's said that that kid died. Another saddest thing? this case destroyed detective's marriage. Hvft, sini om detektif, sanadaran di bahu aku aja.

2. Riverside Killer
Ini serem. Gimana nggak serem kalau ini menceritakan serial killer yang ngincer perempuan. Namanya juga serial killer, gesrek dan kelainan di mana bisa ditarik benang merah dari apa yang dia lakukan pada korban-korbannya. Entah cara ngebunuhnya serupa, entah demografi korbannya serupa, entah jejak yang ditinggalkan khas, dan entah-entah lainnya. Tapi yang pasti, kekhasan yang dilakukan orang ini terhadap korban-korban perempuannya nggilani habis, pake media bohlam.

Hal terkampret dari kasus ini, yaitu si pelaku yang merupakan orang yang ada di sekitar detektif. Makanya dia bisa tahu pennyelidikan udah sampai mana, rencana selanjutnya dari detektif apa, bahkan satu waktu hal yang nggak boleh diketahui media sampai bocor ke media. Berhubung si pelaku memang ada di sekitar detektif, beberapa pembunuhan yang dia lakukan pun (seolah-olah) ada unsur ngenyek dan ngeledek si detektif. Misalnya mayat korban dibuang di sekitar tempat tinggal kakeknya detektif, di mana si detektif waktu kecil banyak menghabiskan waktu di sana. Pernah juga si korban merupakan orang yang detektif kenal. Si pembunuh ini kayak mau ngomong, "Segitu doang nih? Coba tangkep gw kalo lo emang bisa."

Ketika pelakunya terungkap, reaksi gw cuma, 'Ya Allah Tuhan YME.....' 

3. Blood Brothers
Ini sedih bukan karena korbannya, bukan karena keluarga yang ditinggalkan, tapi karena apa yang terjadi dengan detektif yang megang kasus ini. Selain sedih, gw pun emosi. Gw selalu emosi ketika ada orang yang menutupi kejahatan yang dilakukan pasangannya, apalagi kalau sampai ada korban dan korbannya adalah anggota keluarganya sendiri.  Kzl pangen ta' jambak rasanya! Hal ini pun terjadi di episode ini, di mana si perempuan menutupi kejahatan yang dilakukan sama pertnernya.

Partnernya emang gesrek, pemarah, dan kriminal. Perempuan ini nutupin perbuatan pertnernya yang menyebabkan adiknya meninggal. Hal yang bikin gw sedih adalah detektif yang megang kasus ini, dua orang sohib kental bak adonan vla yang udah ditambahin cairan tepung maizena. Mereka udah kerja bareng-bareng bertahun-tahun. Di tengah penyelidikan, ibu dari detektif John meninggal, cutilah dia sementara. Partnernya, Ray, lanjut dengan penyelidikan. Ray memutuskan untuk kembali ke rumah tempat terjadinya perkara, sendirian. Ketika dia sedang mengamati kondisi rumah, tiba-tiba dia ditembak dari belakang. Nggak sempat membalas, udah keburu mati.

Harusnya sih ini jadi sesuatu yang biasa. Bukan biasa dalam artian terjadi sehari-hari, tapi sangat mungkin terjadi pada polisi/detektif ketika sedang bertugas. Masalahnya, serial ini dibuat lebih personal, dan seperti yang udah gw bilang, naratornya adalah orang yang bersangkutan. Ini yang bikin sedih. John masih cuti ketika dia dapet kabar kalau Ray mati dan ketika dia kembali ke kantor dia ngecek telepon Ray dan ada dua pesan, pesan pertama dari bapaknya Ray, isinya kurang lebih, 'We heard an inspector being shot dead in [name of his area], i know you're busy, but please call me.' Pesan kedua, masih dari orang yang sama, dengan isi yang sama. Cetannnn!!!!! 

Hal kayak gini nggak perlu terjadi kalau si perempuan nggak nutupin kejahatan partnernya *jambak lagi*.

***

Begitulah lika-liku dari orang yang jarang nonton serial TV. Gw sempat nonton Confession Tape juga, tapi nggak dilanjutin, ya habis nggak tega. Soalnya dokumentari ini menceritakan pengakuan (terpaksa) dari tersangka yang diakibatkan karena pihak penyelidik menggunakan berbagai trik. Hal ini terjadi karena kasus kekurangan bukti. 

Sedikit info nggak penting, di salah satu episode Real Detective, ada seorang polisi yang sekilas kok mirip pemeran utama Tukang Bubur Naik Haji, kan gw nontonnya jadi terdistraksi. Tapi di luar itu, gw puas ya, bukan cuma karena emang bagus, tapi karena setiap episode beda cerita, maka pemeran detektifnya pun ganti-ganti, lumayan penyegaran :))). Belum lagi kasus yang dipegang oleh investigator perempuan, gile bad ass abis. 
Read More »