Monday, 10 September 2018

Balada Beli Sepeda

Sekitar dua bulanan yang lalu gw akhirnya beli sepeda. Gw beli sepeda seken via website jual beli di sini. Lagi browsing-browsing lucu, tiba-tiba gw nemu sepeda yang murah, murahnya mencurigakan karena sepeda tersebut merk bagus dan dari foto keliatannya masih bagus. Namanya juga positif thinking, mungkin ini yang namanya rezeki anak solehah. Singkat cerita gw janjian untuk melakukan transaksi.

Sebelum gw bayar untuk membeli sepeda tersebut, gw minta pemiliknya untuk nurunin sadel sepeda karena terlalu tinggi meski hati gw masih lebih tinggi dari itu. Karena doi nggak punya alat yang mumpuni, doi nggak berhasil nurunin dan akhirnya bilang, "Kamu turunin sadel di toko sepeda, paling beberapa euro doang. Berhubung Saya nggak bisa nurunin sadelnya, saya diskon 10 €." Lah, kok enteng banget ngasih diskon, gw semakin curiga. Tapi pada saat itu gw curiganya cuma  sebatas kalau orang tersebut lagi butuh duit cepet buat bayar utang atau beli ganja *entah kenapa gw suudzonnya ke arah sini*

Setelah itu gw pergi ke toko sepeda buat nurunin sadel dan beli kunci yang harganya hampir separo harga sepedanya. Surem.

Tiga minggu kemudian, ketika sedang buka kunci sepeda di parkiran kampus, seseorang nyamperin gw dan langsung nyerocos ngomong Bahasa Finlandia yang mana gw anggap sebagai pujian di mana dese mengganggap gw bagian dari mereka. Gw cuma pasang muka bingung dan dia pun beralih bahasa sambil ngomong, 'Kamu beli sepeda itu di mana?' Gw ceritakan lah prosesi pembelian sepeda gw yang kemudian dia tanggapi, 'Saya punya sepeda yang identik sama sepeda Kamu dan sepeda tersebut dicuri sebulan yang lalu.'

Wah setan.

Dalem hati gw bertanya-tanya, sepeda yang gw beli memang bukan tipe sepeda paling pasaran di sini, tapi lumayan juga jumlah orang yang make sepeda yang sama, kok bisa dese hakul yakin kalau sepeda yang gw beli punyanya dia. Mungkin orang tersebut punya bakat cenayang Mama Loreng untuk membaca pikiran gw, dese pun lanjut, 'Iya, Saya tahu itu sepeda Saya soalnya sadelnya bukan sadel original, Saya modif di toko sepeda. Kemarin saya udah nyamperin toko sepeda buat nanya ada berapa orang dengan sepeda yang sama dengan Saya yang modif sadel dan yang punya toko sepeda bilang cuma Saya.'

Bbbbzzzztttt.

Singkat cerita, gw kasih nomor telepon maling sepeda (MS) ke pemilik sepeda tersebut (PS). PS kontak MS dan diblok, akhirnya PS lapor polisi. Tapi karena nggak ada bukti, si MS nggak bisa diapa-apain kecuali dia ngaku *yakali bakal ngaku*. Akhirnya gw dan PS pun sepakat kalau dia bakal ngebeli sepeda miliknya dari gw seharga yang gw bayar ke MS. Nggak rugi sih gw, tapi ujung-ujungnya gw musti nyari sepeda lagi dan sepeda gw sekarang ga sekece sepeda gw sebelumnya, hih!!

Dari serentetan peristiwa ini, yang paling bikin gw terkesima adalah kebetulan banget sih PS ini kerja di area yang sama dengan gw. Ya emang sih ini kota kecil, tapi perusahaan banyak banget di mari. Ini pasti konspirasi, pret. Hal kedua adalah soal si MS. Bok, dia ngingetin gw untuk beli kunci sepeda yang mumpuni karena maling sepada marak banget di sini. Lha, kan situ yang maling. Ditambah sekali waktu gw kebetulan ketemu si MS dan lagi-lagi dia bilang, "Kok belum beli kunci sepeda yang mumpuni sih?" Mungkin dia tergiur untuk maling ulang sepeda yang dia jual ke gw supaya bisa dijual lagi.

Begitulah balada jual-beli sepeda seken di kota kecil. Denger-denger, kalo jaringan malingnya kuat, sepeda yang dicuri bakal dijual di kota lain. Emang maling kelas teri deh ni si MS ini.
Read More »

Friday, 3 August 2018

Kejadian Random Nggak Jelas

Hal berikut adalah beberapa peristiwa random yang secara objektif nggak penting, tapi jadi penting kalau dilihat dari perspektif bisa-nambahin-postingan-di-blog.

1.
Lebaran kemarin gw video call sama ponakan-ponakan gw, meski akhirnya sih ngobrolnya cuma sama Si Aman karena dese emang hobinya ngomong. Begitu video konek dan gw liat Si Aman, hal di bawah ini terjadi. 

Gw: "Amannn!!!!! Katanya Aman udah disunat yak???" *jangan tanya kenapa ini jadi kalimat pembuka gw*
Aman: "Iya udah."
Gw: "Tapi kan Aman baru disunat sekali, belum selesai itu, nanti masih perlu disunat lagi."
Aman: "Nggak!"
Gw: "Iya beneran!!!"
Aman: "Nggak"

*terjadi pergeseran posisi kamera dan nggak jauh dari situ gw liat bapak dari emaknya Aman alias bapak mertua kakak gw*

Gw: *dalam hati* "Wah, harga diri habis ini, goblok emang gw."

Belum lagi ditambah fakta bahwa bapak mertua kakak gw itu orangnya assalamualaikum alias soleh. Mulutmu itu Ning!!!!

2. 
Kemarin-kemarin itu gw main ke Landa, ketemu sama sesama anak master jaman gw dulu, topik gosip kemarin kebanyakan kelakuan minus anak-anak penerima beasiswa paling elit se-NKIR. Tapi bukan itu yang mau gw tulis, gw cuma mau menunjukkan level keimanan gw dan seorang temen gw, sebut saja Mawar.

Mawar: "Ning, maneh mun solat subuh di Finland jam sabaraha?" (Ning, lo solat subuh di Finland jam berapa?).
Gw: "Kuduna mah isuk-isuk pisan lah, tapi urang mah solatna sahudangna wehhhh." (Harusnya sih pagi-pagi banget, tapi gw sih solatnya sebangunnya aja).
Mawar: "Goblok maneh, sarua jeung urang." (Goblok lu, sama kayak gw).

Pesen emak gw ke gw kan, "Jangan suka ngakalin Allah," saking usahanya gw mencari celah dari aturan illahi robbi buat ngeles atau melakukan sesuatu versi gw. *dirukyah Mamah Dedeh*

3.
Di tempat les bahasa, kami sedang bahas dari mana datangnya nama belakang 'Son' orang Swedia.

Guru: "Di Indonesia gimana?"
Gw: "Surname nggak wajib."
Guru: "APA?!?!?!"
Gw: "Nama belakang gw sama siblings gw beda semua."
Guru: "......"
Gw: "Kalau ada keluarga yang mau nerusin surname ya bisa, tapi kalau nggak ya nggak apa-apa."
Guru: "Terus kalau banyak yang nama depannya sama bingung dong? Gimana itu?
Gw: "Nggak bingung, biasa aja. Baik-baik aja."
Guru: "...."

4. 
Masih di tempat les bahasa (untungny udah beda level jadi beda guru), kami bahas sejarah Viking.

Guru: *nanya satu-satu ke murid di kelas* Kalian di sekolah belajar sejarah Viking?
Gw: "Nggak."
Guru: "Sama sekali?"
Gw: "Ya. Tapi gw nonton How to Train Your Dragon." *nada bangga*
Guru: "......"

Guru: 0 - Bening: 1.
Read More »

Monday, 30 July 2018

Keributan Sedotan

Beberapa waktu yang silam gw sempet mendengar soal wacana pelarangan penggunaan sedotan plastik atas nama sampah plastik yang semakin menggunung di laut *jadi ini ngomongin gunung apa laut?!* *krik* Gw liat beritanya sekilas doang dan sambil nganggap itu angin lalu, mungkin karena sedotan plastik nggak berpengaruh dalam kehidupan gw sehari-hari, jadi ya 'doamat. Ternyata di luar dugaan gw, reaksinya lumayan juga. Mulai dari reaksi yang mendukung karena masalah sampah plastik di laut memang sudah semakin mengerikan dan mereka berpendapat bahwa sekecil apa pun usaha yang dilakukan tetap akan bisa memberikan dampak positif kalau memang diterapkan secara benar. Pun reaksi datang dari grup yang kontra. Kontra dengan berbagai alasan dan ternyata lumayan kenceng juga protesnya.

Alasan tersebut salah satunya datang dari generasi muda pengguna mik-eup yang berargumen kalau sedotan plastik dilarang, jatuhnya kurang aesthetically unpleasant untuk mereka yang memakai lipstik karena stabilitas kekecean lipstik bisa terguncang. Ribet yak, kalau stabilitas lipstik terguncang, ya tinggal re-apply aja sih, bukannya kalau lipstik cepet habis kalian pada silently feel happy karena ada alasan kuat tak terbantahkan untuk beli lipstik baru? Alasan lain yang jauh lebih kenceng datang dari mereka yang berargumen bahwa kontribusi sedotan plastik terhadap pencemaran laut kecil banget bak butiran debu. Polutan tertinggi yang mengakibatkan pencemaran plastik di laut datang dari jaring nelayan yang menangkap ikan. Argumen yang diangkat adalah betapa sia-sianya melarang sedotan plastik yang ga seberapa efeknya, kalau mau efektif, targetlah soal jaring ikan, sekalian bikin pelarangan makan ikan.

Eug....


Gw tuh cenderung ga peduli, karena gw nggak terdampak langsung dengan pelarangan sedotan plastik ini *terignorant*.  Tapi tetep geli aja sih pengen ikut komentar, namanya juga warga NKRI sejati, segala perlu dikomentari. Gw kurang paham aja dengan argumen bahwa melarang sedotan plastik adalah sebuah kesia-siaan nan lebay karena efeknya yang terlalu kecil terhadap pencemaran plastik di laut. Ibarat gw jadi pengurus RT/RW, lalu kerjaan gw nilepin duit kalau kegiatan atau program, pas mau dikasi regulasi biar ga ada celah buat nilep dan gw diminta insap, gw bilang, "Ngapain gw yang disuru insap? Duit yang gw tilep emang segimana sih? Noh banyak pejabat yang nilepnya lebih banyak, urus aja yang nilepnya gede-gedean." Oke, gw tahu perbandingannya nggak imbang, yang satu sampah dan lingkungan, yang satu lagi udah masuk area kriminal karena tilep-tilepan duit, tapi semoga pesannya nyampe. Hanya karena satu hal yang (dianggap) punya dampak kurang signifikan, ya udah mending diabaikan. Siapa tahu emang kapasiats baru sampai di situ untuk mengatur sesuatu, makanya mulainya dari situ. Siapa tahu juga karena levelnya mikro (penggunaan sedotan kan biasanya individual), jamaah yang biasanya nggak aware bahwa sedotan itu plastik yang bisa ngotorin laut jadinya sadar terus bisa menggiring ke perubahan perilaku lain yang lebih baik. Buat orang-orang tertentu, isu kayak gini familiar, tapi ga semua orang ngeh kalau dampak dari sedotan plastik bisa cukup panjang. 

Kalau mau serius ngurus sampah plastik di laut, target yang paling bikin kotor, jaring nelayan, sekalian larang makan ikan. Okelor. Misalnya baca statistik, terus di sana dikatakan bahwa penyebab kematian tertinggi di jalan adalah kecelakaan mobil. Okelah, mari kita larang penggunaan mobil karena sumber utama kematian di jalan adalah mobil. Kayaknya nggak deh. Entah infrastruktur jalan dan rambu dibenerin supaya lebih aman, aturan dapet SIM diperketat, aturan kadar alkohol dalam darah untuk pengemudi dicek lagi, industri automobil harus memenuhi persyaratan tertentu dalam bikin mobil, dll. Tapi kayaknya bukan mobilnya yang dilarang. Lagi, mungkin perbandingan nggak imbang ya, tapi semoga pesannya nyampe. Daripada ngelarang makan ikan, kenapa nggak coba lewat inovasi, misal cari material alternatif yang untuk jaring yang saat ini dipake atau alternatif metode penangkapan ikan yang lebih baik dan nggak bikin jaring serabutan ke mana-mana. "Ahelah, si Bening kebanyakan teore, gimana caranya coba?" Meneketehe, gw juga nggak tahu caranya gimana :))) *self toyor* yang gw tau ada masa di mana kita bakar-bakaran bahan bakar minyak secara masif, eh sekarang nyampe juga ke teknologi yang bisa menghasilkan energi tanpa bakar-bakarin bahan bakar minyak. Ya mungkin ketemu solusinya bukan besok atau lusa, bisa jadi tiga puluh tahun lagi sampai akhirnya pasar mau ngambil teknologinya. 

Concern gw palingan terhadap mereka yang emang butuh sedotan, anak kecil yang baru belajar minum atau orang tua dan orang sakit, tapi kalau pengecualian begini, bisalah dibicarakan baik-baik. Halah.
Read More »