Tuesday, 25 August 2015

ChaSing

Setelah mendulang sukses *mendulang sukses? YHA :))).* di edisi The Wageningen Challenge juga Tantangan Bandung-Bogor, kali ini kami kembali dengan CHASING: Challenge in Singapore.

Penasaran apa aja yang dilakukan? Nih monggo trailernya...


Nantikan kedatangan kami di Bulan September!!

*eniwei, kok gw pantes ya pake mantel dari trash bag? pret!!*
read more.. "ChaSing"

Monday, 24 August 2015

[Buku]: Blink: Malcolm Gladwell

Secara umum, suka dengan bukunya, tapi kalau dibanding dengan Outliers, gw masih lebih suka outliers sih. Itu tuh ibaratnya pembuka mata banget nget nget nget, kayak ditampar, ’Oy, get real woyyy!!!’ Tapi tetep sih, buku ini bagus sekali, worth to read.

Di buku ini, contoh pertama yang Gladwell ambil tentang beberapa orang yang dengan sekejap mata bisa mengetahui apakah sebuah patung asli atau palsu, ketebaklah. Mereka bisa tahu asli atau nggak karena mereka udah sangat pengalaman di bidangnya. Pun dengan tennis coach yang hampir selalu tahu dari awal petenis ancang-ancang, apakah dia akan melakukan double fault apa engga, saking udah enegnya seumur hidup berkubang dalam dunia tenis. Ya mirip-miriplah sama temen gw yang hobinya, ’Ning, liat yang pake jaket orange? Berani taruhan berapa? Gw yakin dia hombreng.’  Dan dese selalu bener tiap tebak-tebak mana hombreng mana yang straight.

Ini apaan sih ujug-ujug tebak-tebak berhadiah mana yang hombreng mana yang straight? Hehehehehe, jadi sebenernya buku ini menceritakan tentang bagaimana kita bisa membuat snap judgment, ibarat kata menggunakan intuisi untuk menilai sesuatu di dua detik pertama, tsahhhh. Makanya tagline bukunya tuh ‘The power of thinking without thinking.’ Pas temen gw nanya gw lagi baca buku apa, terus gw sebut judul dan tagline-nya, yang ada malah diketawain. Iya sih, tagline-nya agak alay, kesannya mau pake indra ke-6 apa gimana gitu, ngok.

Eniwei, kalau menurut kesimpulan awam gw sih, snap judgment bisa akurat itu karena jam terbang. Kalau itu memang bidang elu, dan elu udah makan asam garam kehidupan dalam bidang tersebut, ya gampang aja. Intuisi udah terasah, jam terbang memang nggak bisa bohong. Makanya ada orang yang bisa tahu dalam sekejap tanpa nyentuh, kalau suatu patung nggak asli. Lalu ketika diminta alasannya cuma jawab ,’Entahlah, tapi Saya tahu ada yang salah dengan patung ini, ada sensasi aneh di perut Saya.’ Lha, elu sebenernya sedang menilai patung atau habis nenggak Bon Cabe level 10?!?!

Nah, yang repot kalau snap judgment yang dibuat adalah sesuatu yang nggak kita sangka-sangka. Sesuatu yang nggak pernah kebayang sebelumnya, yang benar-benar di luar dunia kita, priye?

Nah, ada sedikit pesan penting dari Blink yang bisa ditemukan di afterword-nya, seperti merangkum dan menyimpulkan maksud dari buku ini.

Ketika kita ingin memulai untuk membuat sebuah instinctive decision, kita harus bisa ‘memaafkan’ meraka yang ada dalam kondisi tertentu, karena tanpa ‘memaafkan’, sebuah good judgment menjadi terancam. Ini terjemahan campur sari, karena kadang bingung mau nerjemahin pake bahasa yang pas itu gimana caranya. Maapken, kemampuan terbatas. Kalau yang gw tangkap sih intinya adalah lepaskan segala prasangka, dimulai dari nol yaaaa. Seperti kisah sukses seorang sales mobil. Dia sukses besar karena dia selalu memberi pelayanan yang sama baiknya pada semua pelanggan. Pake celana pendek kek, bau kambing kek, bergelimang emas kek, laki, perempuan, kulit hitam atau putih. Karena pada kenyataanya, banyak sales yang akan mematok harga lebih tinggi ketika seorang yang datang adalah perempuan atau mereka yang berkulit hitam. Kenapa? Karena perempuan dan orang kulit hitam dianggap bodoh, bisa ditipu-tipu. Jadi jangan sampai kita 'dibutakan' oleh kondisi/penampakan sesuatu/sesorang sehingga judgment yang dibuat jadi kacau.

Nah, yang satu ini adalah kesimpulan favorit gw.  Seringkali kegagalan dalam membuat keputusan diakibatkan karena terlalu BANYAK informasi yang diketahui. Iya, TERLALU BANYAK. Salah satu ilustrasi yang diambil adalah tentang patung tersebut. Bahwa ketika pihak museum dihujani berbagai informasi (puluhan bahkan ratusan lembar analisis ahli geologi dan arkeologis, dokumen legal pendukung, dsb, dsb.), justru disitulah mereka gagal membuat judgment yang benar. Ketika beberapa ahli patung diminta datang, dalam dua detik pertama mereka langsung memberi judgment yang tepat. Ingat blind audition the voice? Awal proses audisi seperti itu sudah dimualai sejak lama, biasanya untuk rekrutmen tim orkestra. Kenapa hal ini baik? Karena juri hanya akan mengandalkan pendengaran, bukan pengelihatan. Hanya informasi berupa audio yang didapat, tidak berlebihan.

Ada bagian yang ingin gw kutip.

We live in a world saturated with information. We have virtually unlimited amount of data at our fingertips at all times, and we’re all versed in the arguments about the dangers of not knowing enough and not doing our homework. But what I have sensed is an enormous frustration with the unexpected cost of knowing too much, of being inundated with understanding.

Nah, ini bagian paling penting: ‘When to blink and when to think. Di bagian ini gw masih rada skeptis sama saran yang dia kasih. Saran yang dia kasih kurang lebih mengutip ucapannya Sigmund Freud.

When making a decision of minor importance, I have always found it advantageous to consider all the pros and cons. In vital matters however . . . the decision should come from the unconscious, from somewhere within ourselves. —Sigmund Freud-

Gila nggak tuh? Menurut ngana?! Terus ibarat kata gw diajak kawin gw nggak perlu pikirin pros and cons-nya gitu? Mending kalau yang ngajaknya Adam Levine.

YHA.

Nah, sekarang silakan masyarakat yang menilai. When you want to blink or think. Tapi ada baiknya untuk mampir ke penelitian yang dilakukan oleh psikolog asal Landa, A.P. Dijksterhuis yang berjudul Think Different: The Merits of Unconscious Thought in Preference Development and Decision Making. Di awal tulisannya dia mengutip omongan Freud tersebut. Setelah itu, silakan, you decide, do you want to blink or think? 
read more.. "[Buku]: Blink: Malcolm Gladwell"

Tuesday, 18 August 2015

Kalau Bisa....

Udah lama banget nggak nulis!!!

Pas ada ide, pas males nulis. Pas pengen nulis, lupa yang mau ditulis apaan. Gitu aja terus siklus kehidupan. Oiya, selamat hari jadi dulu buat RI yang ke 70, oiya, pas RI ke 68 gw dan Hancong berhasil mengelilingi Landa dalam satu hari, videonya bisa dicek lho di bawah ini *tetep promosi dari dulu :))))*


Ya, siapa tahu menginspirasi teman-teman dari Indonesia yang sedang di negeri orang untuk iseng-iseng melakukan hal yang sama. Misal, satu hari keliling Rusia *yakali*.

Gw habis nonton Inglorious Basterds *lagi*, gw fans berat Hans Landa di film itu, gila, perpaduan jahanam dan menggelikan. Tapi yang paling seru tuh waktu lagi bincang-bincang di tavern (bener ga nih istilahnya?) sebelum akhirnya kelahi tembak-tembakan. Ya apalagi yang ditunggu kalau bukan Fassbender ngomong Jerman :))).

Dari situ terus sadar, ya ampun, masa muda gw banyak amat sia-sianya. Mbok ya dulu tuh benerin bahasa Inggris sebener-benernya terus belajar bahasa lain, Jerman kek, secara kepake di mana-mana *ya meskipun menguasai Hochdeutsche belum tentu bisa komunikasi sama orang di daerah Bavaria/Swiss/Austria*. Terus jadinya malah kebanyakan mikir 'harusnya tuh dulu...', meskipun percuma sih, ga ada yang bakal berubah. Lagian jaman dulu, mana tahu kehidupan bakal dibawa ke mana *tsahhh*, semua orang juga meraba-raba. Tapi ya nggak apa-apa, kalau tiba-tiba Doraemon datang bawa mesin waktu, kalau bisa gw akan...

Ganti bidang.
Biasalah, rumput tetangga selalu lebih hijau. Kok kayaknya kerjaan orang lain lebih seru sih? Ngok! Kalau bisa ganti bidang, pengennya di area gut microbiome, keren nggak tuh kedengerannya? Hitz abis pokoknya bidang ini. Banyak temuan seru dari bidang ini. Etapi kalau gw mau kerjaan gw seputar gut microbiome, basic gw harus apaan yak? *self toyor* Kedokteran? apa microbiology? Terus, kalau belajar ini juga kans buat tinggal di Indo kecil banget. Yakali apa prospeknya di NKRI buat orang-orang yang peduli sama bakteri di perut manusia terus salah satu penelitiannya nganalisis taik manusia. YHA.

Belajar bahasa.
Ini adalah salah satu penyesalan tiada tara. Ngapain sih dulu jaman sekolah/kuliah hobi amat nongkrong di kampus? maksud gw, HOBI AMAT SIH?!?! Kalau hobi doang sih masih nggak apa-apa. Pulang malem/pagi, terus ngerjain tugas, ya mending waktunya gw pake untuk belajar bahasa. Benerin Bahasa Inggris kek. Kalo diinget-inget lagi, kacau bangetlah Bahasa Inggris gw. Pernah iseng-iseng ikutan tes TOEFL ala-ala waktu SMA kelas 1, hasilnya nggak nyampe 400 kalo nggak salah. Begok dipiara, kambinglah dipiara bisa gemuk! *self toyor* Terus kuliah tingkat 1, dapet kuliah Bahasa Ingris yang mana dikelompokkan ke dalam tiga kelas: reading, presentation, dan writing. Pengelompokkan berdasarkan hasil tes. Gw masuk kelas apa? kelas yang kastanya paling bawahlah: reading. Kalau nggak salah, ini untuk yang skor TOEFL (ala-ala) nya nggak lewat dari 450 *double self toyor* 

Kalau Bahasa Inggris sudah agak bagus dari dulu, mau loncat untuk belajar bahasa lain kan jadi lebih mantap. Meskipun menurut gw sih nggak ada aturan baku bahwa harus bener dulu Bahasa Inggrisnya untuk mulai bahasa lain. Cuma, kalau gw, setiap pengen merambah bahasa lain selain Inggris, kayak ada bisikan kecil, 'Yaelah Inggris aja masih kacau mau belajar yang lain, benerin Inggrisnya dulu aja kali.' Makanya gw nggak maju-maju *triple self toyor*. Meskipun rasanya nggak afdol sih kalau belajar suatu bahasa tapi nggak dipraktikkan, gimana mau faseh? Ya tapi nggak apa-apa dong, meskipun nggak jadi faseh, tapi hakul yakin, akan tetep banyak manfaat yang didapat kalau kita bisa beeberapa bahasa, misalnya ya ini. Pernah juga gw baca, kalau belajar bahasa lain tuh bisa ngasih suatu 'identitas' baru karena penekanan pada setiap bahasa itu beda. Misal, English native speaker dan German native speaker akan memandang suatu peristiwa dari sudut pandang yang beda, salah satu penyebabnya karena penekanan dari bahasa mereka itu. Seru kan? Sudut pandang jadi lebih luas.

Ngerawat muka.
Muka tuh dirawat, bukan diedit. Pernah tuh Ridwan Kamil ngetwit begitu, pret abis nggak sih. Meskipun gw sih nggak kesepet, secara gw kurang hasrat dalam selfie *yaiyalah muka kagak ada bener-benernya :)))* dan pasang filter buat foto muka *filter? air limbah kali difilter* *terlalu menghayati jurusan kuliah*. Muka gw tuh kayak NKRI, masalah banyak nggak kelar-kelar, yang satu belom kelar udah ada lagi yang lain. Biasalah, perkara jerawat dan sebangsanya nggak kelar-kelar. Orang lain udah ada yang move on dari acne prone skin care ke anti ageing, gw masih galau cari obat jerawat yang mumpuni. Meskipun sekarang udah agak ngerti sih harusnya gimana, apa yang dipake, apa yang nggak perlu, tapi semua sudah terlambat!!! Nasi sudah menjadi dubur bubur. Problemnya udah menahun, kalau mau dibenerin pun mungkin butuh waktu menahun. Ya gimana, kebagian lotere genetik jenis kulit muka yang kurang ciamik. Ada golongan orang yang mukanya dipakein produk apa pun nggak akan bermasalah. Pret ah. 

Embrace solitude.
Tsahhhh!!!! Ya kan udah gw bilang sebelumnya, bahwa practicing solitude di NKRI tuh susah, kemungkinan besar dianggap menyedihkan. Padahal yang ke mana-mana gerombolan juga nggak semuanya sreg sama gerombolannya, cuma nggak berani aja kalau sendirian, dianggap menyedihkan soalnya,  ye kan? ye kan? ye kan? nggak usah dijawab, tanya aja diri sendiri :))). Kalau bisa balik lagi ke jaman dulu, ya pengennya dari dulu lebih cuek untuk ngelakuin hal-hal yang kayak gini.     

***

Kalau dirunut mundur, pasti masih banyak bangetttt hal-hal lain yang pengen dibenerin, dari mulai hal yang gw anggap besar dan serius *yang males aja dan buat apa juga gw tulis di mari* sampai  perintilan-perintilan kecil yang sebenernya nggak signifikan dan bak butiran debu. Tapi yasudalah, semua orang juga sama aja, pasti banyak elemen 'Harusnya tuh dulu gw...' dalam hidupnya, ya mana tahu hidup bakal kayak apa dan di bawa ke mana, semua juga meraba-raba musti ngapain. Ya, nama pun manusia biasa, bukan titisan mama loreng yang (katanya) bisa menerawang masa depan. Hyuk.  

read more.. "Kalau Bisa...."

Monday, 27 July 2015

KZL...

Jadi gini, ujian Tuhan bisa datang dalam bentuk apa pun, termasuk dalam bentuk senior yang nggilani. Disclaimer dulu yah, senior tetaplah senior, bahwasannya secara ilmu dan pegalaman pasti jauh di atas gw yang hanya butiran debu ini. Tapi segimana pun banyaknya pengalaman yang dipunnya, kalau gemblung ya tetep gemblung, kalau sense of logicnya agak-agak ya tetep aja bikin KZL. Mana pulak gw termasuk golongan yang get irritated easily, like easily. Nyebelin kan gw? Ilmu cetek, pengalaman nggak punya, bahasa Inggris tensesnya campur sari, tapi menggunjingkan orang.

#1
Pada suatu hari yang panas, gw dan senior ,sebut saja, Mawar akan berlatih suatu metoda. Dia udah pernah diajarin sama, sebut saja, Kumbang. Pada hari itu Kumbang akan datang buat ngajarin lagi karena pada akhirnya gw yang bakal ngerjain. Awal-awal kita ngerjain, Kumbang belum datang. Mawar nggotong suatu larutan, terus taruh di atas meja seraya berkata,'Pas kemarin diajarin sama Kumbang, dia bilang suruh pake lemari asam, nah tapi sekarang dia belum datang dan nggak ada orang merhatiin, kita kerjain di sini aja ya.'

My reaction was like... 


Gw speechless abis. Inti dari pake lemari asam itu bukan ada atau nggak yang melihat kamu saat kerja, karena kalau ini intinya, Tuhan kan Maha Melihat *ngok*, tapi bahaya atau nggak. Semakin bahaya, precaution actionnya semakin banyak dong. KZL aing.

#2
Suatu hari gw dan Mawar sedang belajar satu metoda bersama, sebut saja, Melati. Salah satu step dari metoda tersebut adalah menggunakan penutup plastik di atas kaca. Ukuran penutup plasik yang dipake lebih kecil dari kaca alasnya (gambar paling atas).




 Lalu Melati bersabda, 'Gih, sekarang pake kutek buat ngelem penutup plastik dan kacanya.' 

NGELEM PENUTUP PLASTIK DAN KACANYA.

Apa yang gw lakukan (dan gw yakin kabanyakan orang pun) adalah gambar yang tengah. Pinggiran penutup dikutekin, ya biar nempel kelez. Nah, yang Mawar lakukan adalah gambar yang paling bawah. Ngapain ngutekin pinggiran kaca, lha wong nggak bikin nempel sama penutupnya.  Why oh why.


Itu hanyalah dua contoh dari sekian banyak kejadian-kejadian yang bikin puyeng pala berbi. Kalau ngutip omongannya 9gag, memiliki common sense itu bukan keberuntungan, tapi kesialan karena kamu tetap musti menghadapi orang-orang tanpa common sense.

Hyuk mari.
read more.. "KZL..."

Saturday, 18 July 2015

Menuju Udik

Hwalowwww semua!!

Pertama, gw dan jajaran artis Hollywood papan atas mengucapkan Eid Mubarak!!! Semoga amal ibadah kita (terutama gw yang nggak seberapa) selama Ramadhan diterima dan dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan. Amen!

Bitch please!!  X))) 

Edisi menuju udik kali ini sungguh........biasa aja.

Anti klimaks.

Pokoknya tema yang diusung adalah mudik ringkas dan tangkas. Nggak mau rempong dengan gembolan yang nggak penting. Walhasil gw berhasil balik dengan satu backpack doang yang mana udah termasuk laptop segede gaban di dalamnya. Awalnya sih yay! Seneng bawaan nggak rempong. Kenapa bawaan bisa nggak rempong? Karena gw nggak bawa apa-apa, literally nggak bawa apa-apa, baik buat diri sendiri atau pun orang lain. Ya ada rikues-rikues yang mana gw paksa masuk backpack, apa pun yang terjadi. Walhasil, backpack gw yang sudah terokupai oleh laptop dan beberapa titipan udah nggak bisa lagi dipaksain buat bawa barang, makanya gw nggak bawa apa-apa sama sekali. Baju cuma yang nempel di badan. Sikat gigi, sabun muka, sampai pelembap nggak gw bawa. Auk ah, apa masih ada di rumah atau nanti gw harus beli.

Lalu  kerempongan terjadi.

Gw sampai rumah, buka lemari. Lha, gw nggak punya baju ternyata?! Ya ada sih, tapi baju jaman baheula yang udah nggak pernah dipake tapi belum sempet dikeluarin, besok-besok gw pake apa ini? Ya masa’ pake kebaya kalau keluar rumah. Ya udahlah, yang ini masih isokey, masih bisalah gw mengais-ngais baju yang bisa dipake. Gongnya ketika gw mendapati gw nggak punya daleman. Buset, gemblung amat sih ini. Tapi yowis, ini pun isokey, pan rencananya mau ke supermarket beli sikat gigi dan segala perintilan.

Urusan daleman, sikat gigi, dan perintilan menjadi sungguh nggak penting ketika gw inget problem utama umat masa kini: nggak punya paket data. Oke, mari beli paket lewat i-banking. Kemudian gw mikir, lha gw nggak punya paket data samsek, terus mau pake i-banking pegimana. Ya  udah deh, nanti aja sekalian ke supermarket sekalian ke ATM buat isi pulsa dan ambil duit, eh bentar, ta...ta...tapi PIN ATM gw berapa ini?!?! Wis lali, nggilani!!! Oke, gw inget satu PIN tapi nggak tau buat ATM yang mana. Ini priye tho, 12 dijit nomor hape masih inget, giliran PIN yang nggak seberapa malah lupa, mungkin karena gw nggak menganggap duit itu penting, cih!

Sampe di supermarket gw muter-muter lalu.....

APEU BANGET HARGA KANCUT MAHAL AMAT!!

Buset, padahal boro-boro, Victoria Secretk KW 15238.88 juga bukan.

Nah, nomor hp gw tuh masih gw simpan baik-baik, karena di saat paket pra-bayar makin nggak karu-karuan term and conditionnya, gw cukup beruntung karena pada masanya berhasil dapat varian nomor yang nawarin paket 4GB seharga 60 ribu untuk sebulan, nggak pake batas waktu siang atau malam, ashoy kannnn. Tapi semua nggak ashoy lagi karena harga paket naik 10 ribu, pret!!! *pelit adalah koentji*

Ini kenapa segala mahal dan naik gini, tuslah hari raya???

Etapi dibalik semuanya, ada satu hal paling precious yang akhirnya bisa gw rasain lagi. Di Bandung, ternyata cuacanya masih luar biasa enak, padahal daerah rumah gw termasuk padat, dan bobok siang selimutan masi sangat mungkin. Gw udah lupa rasanya bobok selimutan (meskipun itu di malam hari) saking panasnya cuaca yang selama ini gw rasain.

Sekali lagi, selamat lebaran *tarik selimut*
read more.. "Menuju Udik"

Wednesday, 15 July 2015

Current Favorite

Favorite dari sulu sih, tapi akhir-akhir ini lagi seneng-senengnya dengerin lagi lagu-lagunya Wouter Hamel. Harapan pas ke Landa adalah bisa nonton dese karena effort buat ngesot di sana dari satu tempat ke tempat lain jauh lebih gampang daripada kalo di Indo *yakale*, tapi ga tau pokoknya jadwal nggak pernah pas. Ngarep juga papasan gitu di mana kek sama dia, nggak pernah juga. Pret!

Jadi kalau suka Jamie Cullum, bisalah dengerin dia (esp. album dia yang judulnya Hamel), meskipun dia nggak pernah mengklaim bahwa dia adalah penyanyi jazz. Kalau ditanya dia paling jawab,'Oh, Saya ini singer/songwriter with the jazz band player. Better not to say I'm a jazz singer because there's other influence but the band I play with is definitely jazz band.' Azeg.

These are some of the numbers I can't stop listening to lately :



This is a sweet sweet song. Happy sweet song with a nice melody lyric whatsoever.


Super love Lohengrin.


Live a little :')


Atau cek ini. Full Paradiso concert, daripada nontonin Inb*x atau Dahs*at gitu.

Pokoknya love bingit, Lagu yang bikin mellow ya banyak, tapi yang bikin hati melonjak juga banyak. 
read more.. "Current Favorite"

Sunday, 12 July 2015

Embrace Solitude

Gitu kata artikel yang ditulis di sini. Baca dua paragraf pertama langsung setuju, bunyi dari paragraf tersebut adalah:
I got a Skype call from one of my Indonesian friends a couple of months ago. She confided in me about being uncomfortable and hurt by her friends who made fun of her, because she had been practicing solitude of late.
“I was called a loner and I hate it! I don’t think Indonesia is a safe place for seekers of solitude like us.”
Akurat.

Gw inget, pada masanya, I have always flocked with others. Kemana-mana bareng-bareng, bergerombol. Pengen pergi-pergi sendiri tapi takut. Bukan, bukan takut diciduk dimasukkin ke dalam karung terus diculik *yang nggotong karungnya juga ga bakal kuat, bwek!!*, tapi takut terlihat menyedihkan. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, hal yang sebenarnya menyedihkan justru karena kita takut terlihat menyedihkan, ye nggak? *ruwet* Paling banter, keberanian gw cuma di level pergi ke toko buku sendirian dan paling anti pergi makan sendirian. Mending take away deh makanannya. Kebayangnya pas lagi duduk makan sendiri dan bangku lain keisi paling enggak sama dua orang, maka semua mata pengunjung akan memandang gw dengan tatapan sedih.

Padahal keinginan terdalam adalah duduk makan sendiri atau ngopi-gopi sambil bengong planga-plongo merhatiin orang-orang atau -bener kata penulis artikel di atas- just wander around aimlessly then stop anywhere sit and take moment enjoying yourself without companion and observe anything, or just doing nothing, completely nothing. Tapi, lagi-lagi, gw merasa takut 1) takut orang-orang lain yang nggak dikenal memandang sedih, pitying me  2) takut ketemu orang yang gw kenal yang kemungkinan besar nggak mungkin jalan sendiri kemudian percakapan yang terjadi adalah:

dese: eh bening lagi ngapain?
me: nggak ngapa-ngpain, lagi jalan aja.
dese: sama siapa?
me: sendirian?
dese: kok sendirian sih? *diiringi tatapan iba*

Bbbzzzttt.

Lagi-lagi, gw setuju sama tulisan di artikel tersebut, ya emang begitu adanya kalau tinggal di negara/lingkungan dengan close-knit community, ye nggak? Emang nggak ada yang salah, kalau gw rasa ya memang di Indonesia kulturnya begitu (individualisme kita kan sangat rendah), pasti ada untung ruginya. Kekeluargaan dan pertemanan yang akrab emang baik, ya mun cek cenah mah kan menjalin silaturahmi, tapi (selalu ada 'tapi' dalam segala hal) ya nggak perlu memandang menyedihkan juga sama orang yang memang sedang embracing solitude atau pada dasarnya memang senang menyendiri. Dan bener banget, banyak karya besar lahir dari solitude tersebut, kayaknya hampir semua scientist melahirkan karya hasil pemikiran mendalam saat menyendiri, bukan saat flocking together berisik cekakakan (meskipun dalam beberapa hal banyak kepala lebih baik dari satu kepala). Begitu juga dengan Wozniak, Dickens, Dr. Seuss dan masih banyak lagi. 

Pas di Landa barulah gw meletek. Naik kereta sendiri, mau ke mana? Ya kadang ke mana aja. Duduk mepet jendela, merhatiin lansekap di luar yang sedap buat diliat (meskipun lama-lama membosankan), terus berhenti di mana pun cuman buat ngopi terus makan kukis sambil planga-plongo, merhatiin orang, mikirin kemajuan bangsa  hidup gw kok nggak maju-maju. Atau jalan nyusurin kanal, berhenti duduk, planga-plongo terus nanti tiba-tiba mewek for no reason, bhahakakkkaka, ya kalau di Ams sih sambil ngirup bau-bau kanabis di sepanjang jalan, lumayanlah biar bikin hepi dan boosting mood. Setiap gw bilang gw suka sama Wage karena tempatnya yang kecil, no excitement, damai, isinya sebagian besar mahasiswa dan nggak ada hingar bingar metropolitannya sama sekali, nggak ada yang mandang aneh, seringnya malah dapat saran untuk ngunjungin tempat yang sejenis. Yang nggak terlalu besar, nggak hitz, dan damai. I ended up like those places, like Haarlem for instance.

Paling sering sih sepedaan ke arboretum terdekat, duduk di kursi yang ada di tengah-tengah, wis ngono thok.



Mengutip artikel tersebut 'Practicing solitude is simple. It could be done by taking a walk, going nowhere in particular, shutting off your phones, withdrawing from the social media, and, if possible, meditating.' Beberapa orang mungkin merasa nggak bisa melakukan hal tersebut. Ya nggak bisa aja, mungkin embrace solitude is just not their thing. Merasa nggak mungkin kalau pergi ke mana gitu tanpa ada yang nemenin atau menarik diri (sementara) dari hingar bingar kehidupan, they just can't. But for at least you can try this thing I found from Notes Of Belin's Instagram:


Let's embrace solitude.
read more.. "Embrace Solitude"