Tuesday, 21 November 2017

Terabsurd: Pengalaman Tes Kesehatan Jiwa

Bentarrrrr, ini bukan content tes kesehatan jiwanya yang jadi absurd. Gw harus segera disclaimer dulu, karena rangorang zaman now suka langsung mengambil kesimpulan, "Kok ngatain tes kesehatan jiwa absurd? Parah sekali tidak menunjukkan perilaku budi luhur Kamu Bening!! Tidak tenggang rasa dan tepa selira pada mereka yang mengalami disorder untuk urusan kejiwaan"

Bbbbzzzttt. 

Sabar Bu, Pak, jadi ini bukan tentang isi tesnya, melainkan proses tesnya. 

Gw akan menyamarkan tempat di mana gw melakukan tes ini, karena kita semua tahu ya, setiap konsumen komplain, bukannya ngebenerin servisnya malah ngelibas konsumen, ngok!

Jadi begini, beberapa bulan yang lalu gw ikut tes kesehatan jasmani dan kejiwaan, siapa tahu butuh. Kesehatan jasmani mah biasa ya. Standar tinggi, berat, tensi, dan buta ijo warna. Untuk tes kejiwaan sendiri, gw belum pernah. Btw, sebenarnya kalau cari info di internet atau berbagai sumber, tes ini lebih sering disebut tes kesehatan rohani, tapi surat keterangan yang gw terima bunyinya 'Kesehatan Jiwa.' Lagipula tes kesehatan jiwa gw rasa lebih tepat, karena kalau rohani tuh kesannya spiritual, yenggak?  

Tes kesehatan jiwa ini terdiri atas lebih dari tiga ratus soal yang harus dijawab. Nggak ada jawaban benar dan salah karena setiap soal berisi dua pernyataan dan peserta tes diminta memilih satu pernyataan yang lebih mewakili dirinya. Misalnya:
- Saya merasa bahagia
- Saya mudah stres

- Tidur Saya sering tidak nyenyak
- Nafsu makan saya membludak baik

Gw nggak inget soal-soal dalam tes tersebut, di atas itu berupa gambaran seperti apa bentuk tesnya. Proses tesnya sih biasa aja, kita akan diberi buku soal dan lembar jawaban lalu diberi waktu untuk menyelesaikan. Di lembar jawaban pun terdapat kolom untuk mengisi waktu memulai dan waktu ketika kita menyelesaikan tes tersebut. Gw sebagai cewe soleha yang berbaik sangka hanya berpikir, "Wow, presisi ya, mungkin banyaknya waktu yang diperlukan mempengaruhi kondisi kejiwaan pada saat itu."

Benarkah begitu? Mari kita lihat.

Setelah gw selesai mengerjakan dalam tempo sesingkat-singkatnya, gw kembali bertanya pada petugas front desk yang kemudian mengarahkan gw, "Mbak turun ke bawah belok kiri nanti bla..bla..bla.." Oke, gw ikuti petunjuk belionya. Setelah gw sampai di bangunan yang dimaksud, gw lihat ada seorang bapak-bapak, gw tanyalah, intinya mau ngumpulin lembar jawaban tes kesehatan. Bapak tersebut ngeluarin kunci lalu membuka ruangan yang di pintunya terdapat label bertuliskan nama dokter perempuan yang  di belakang namanya ada gelar SpKJ. Berarti spesialis kejiwaan kan? 

Masih berbaik sangka, gw pikir dokter tersebut ada di ruangan tersebut. Ternyata tidak saudara-saudara. Tau apa yang dilakukan? Bapak tersebut adalah operator. Dese bawa lembar jawaban gw ke dalam, dia buka template dari komputer, lalu memasukkan biodata gw dan keperluan tes kesehatan jiwa tersebut untuk apa, terus di-print. Kelar perkara. "Ih, kok lo ngomong gitu Ning? Tidak baik berburuk sangka ukhti. Tahu dari mana coba ukhti?" Ya masa ngecek tiga ratus lebih soal kelar dalam waktu lima sampai sepuluh menit. Hal lain, si bapak tersebut minta gw nunggu di luar pas dia sedang "memproses" lembar jawaban gw, tapi nggak lama manggil karena ada sesuatu yang nggak jelas, makleum tulisan gw mirip piktograf. Pada saat gw masuk ke dalam, gw liat dese lagi input data gw ke dalam template yang dia punya. Nggak lama setelah itu, dia panggil lagi dan udah kelar. Di surat keterangan tersebut ada tanda tangan dari dokter yang namanya gw lihat di pintu ruangan itu.  

YA KALO GITU SIH SEMUA PESERTA TES BAKAL SEHAT SECARA KEJIWAAN ATEUHHH.

Tesnya sendiri nggak murah, ibaratnya, kalau dipake beli bakso, bisa dapet dua puluh-an mangkok atau bisa juga dipake beli FTE Missha di sista olshop. Selain itu, ada yang lebih penting dari harga lumayan yang dibayarkan tapi tesnya ga sungguh-sungguh diperiksa, yaitu kesehatan jiwa si peserta sendiri. Kalau memang tes ini dilakukan sungguh-sungguh, bukannya bagus ya? Hasilnya pasti bisa menjadi masukkan buat pesertanya sendiri, apalagi kalau dokter yang bertanggung jawab dan namanya tertera di surat keterangan bisa memberi masukan. Gw sendiri pengen tahu lah gw pada saat melakukan tes kondisinya seperti apa, ada kecenderungan-kecenderungan tertentu apa nggak. Perkara si peserta tes jadi nggak eligible untuk suatu posisi pekerjaan atau beasiswa ya urusan belakangan. Kalau kecenderungannya agak parah dan bisa membahayakan dirinya atau mungkin temennya nanti, kan amsiong juga jadinya.

Hal lainnya terjadi ketika gw daftar di front desk. Salah satu petugas front desk nanyain gelar gw apa :))). Pasti bukan tanpa alasan dese nanya gitu, seperti halnya kenapa ada 'Do not drink' di kemasan bleaching. Mungkin pernah di suatu masa ada peserta tes yang nggak terima ketika petugas cuma menanyakan namanya tanpa peduli gelar akademisnya. Lyfe.
Read More »

Friday, 17 November 2017

[Buku] Camilla Läckberg - Erica Falck & Patrik Hedström

Akhirnya gw menamatkan sembilan novel Camilla Läckberg - Erica Falck & Patrik Hedström. Kesan pertama? Bangkrut ya bokkk!!!! *brb pasang stoking jala terus nangkring di lampu merah* Soal kepelitan berkaitan dengan harga buku Kobo dan Amazon akan dibahas kapan-kapan (kalo ngga males). Gw baca buku dia pun kebetulan, awalnya dari Stieg Larsson. Kalau baca suatu buku biasanya ada rekomendasi, entah dari genre yang sama, atau bahkan lebih spesifik lagi yaitu dari genre yang sama dan penulis dari negara yang sama.

Sekarang nggak mungkin bahas bukunya satu-satu, mungkin sih, tap banyak banget neyk. Meski bagus sih satu buku buat satu postingan, jadinya sembilan postingan *quantity over quality*, jadi lebih baik nulis kesan pesan secara keseluruhan aja, oke? Garis besar cerita, setting terjadi di sebuat kota kecil (atau desa) bernama Fjällbacka. Tempat ini emang beneran ada dan si penulis berasal dari sini. Erica adalah penulis dan Patrik adalah polisi yang kemudian nikah.

pic from here
Detail Prosedural Investigasi
Buku ini bukan untuk mereka yang suka denga detail prosedural investigasi polisi. Gw, sebagai orang yang (ngerasa) mampu jadi homicide investgator (berbekal nonton serial detektif) kadang mengernyitkan dahi karena kok kayaknya nggak mungkin polisi slebor banget atau lupa melakukan sesuatu yang basic. Misalnya ya (spoiler alert), di buku pertama ada korban pertama yang mati. Setahu gw, daftar telepon korban adalah salah satu hal yang akan pertama dicek, terutama komunikasi yang dilakukan beberapa saat sebelum doi diperkirakan mati. Tapi polisi kok nggak ngecek, yang ngecek justru Erica dengan mengunjungi rumah korban terus pake redial (karena ini landline) untuk tahu orang yang terakhir korban kontak. Dan itu terjadi setelah  seminggu (atau lebih) korban ditemukan. "Oh, mungkin polisi lupa Ning." Nggak, nggak boleh dan nggak masuk akal!!! Polisi nggak boleh lupa sama hal kayak gini dan nggak masuk akal karena ketika ada korban kedua yang mati, satu hal pertama yang polisi cek adalah daftar telepon genggam si korban.

Di buku lain, (setelah Erica dan Patrik nikah) ada penembakan, pada saat penembakan terjadi, adik Erica yaitu Anna ada di lokasi kejadian. Lalu Erica kekeh buat ikut ke lokasi kejadian dan dikasih sama Patrik. Masa sihhh??? Itu kan artinya membahayakan nyawa warga sipil lain (Erica) atau bisa aja si warga sipil (Erica) slebor dan ngacak-ngacak crime scene. Noooo!!!!!

Dan masih ada perintilan lain yang gw anggap tidak masuk akal.

Cara Menulis
Ada beberapa pembaca yang nggak suka dengan style nulisnya doi karena dianggap tidak melibatkan pembaca. Dia sering nulis hanya menggunakan s/he dalam situasi yang penuh misteri. Dan banyak pembaca yang nggak suka karena jadinya mereka penasaran dan nggak tahu apa-apa *ini gw ngemeng apa sih?* Misalnya gini.

Penulis lain yang melibatkan pembaca
"Erica mencium sesuatu yang tidak biasa. Dia mencium bau busuk yang khas dari pakaian yang dikenakan oleh Natalie. Bau yang mengingatkan dia pada mayat yang sudah membusuk beberapa hari. Baunya begitu menyengat dan menempel. Ia tiba-tiba teringat akan Joe, anak Natalie yang berusia empat tahun. Selama ini Erica tak pernah melihat Joe keluar rumah. Natalie selalu mengatakan bahwa Joe tidak sehat dan perlu berisitirahat. Erica merasa ada yang tak beres, ia takut apa yang ia perkirakan ternyata benar. Ia pun mengatakan pada Natalie bahwa ia perlu mengambil barang yang tertinggal di kapal, namun yang Erica lakukan adalah memasuki tempat tinggal Natalie untuk mengecek keadaan Joe."

Camila yang suka berteka-teki
"Erica mencium sesuatu yang tidak biasa. Dia mencium bau busuk yang khas dari pakaian yang dikenakan oleh Natalie. Bau yang mengingatkan dia pada sesuatu yang pernah ia alami sebelumnya. Ia berusaha mengingat-ingat dan seketika terhenyak ketika menyadari dari mana bau tersebut bersumber. Tanpa berpikir panjang, ia pun mengatakan pada Natalie bahwa ia perlu mengambil barang yang tertinggal di kapal.  Namun, yang Erica lakukan adalah memasuki tempat tinggal Natalie. Ia berusaha menghilangkan pikiran yang ada di benaknya, semoga dugaannya kali ini salah." 

Banyak orang yang esmosi dengan si Camilla karena "Elo ngemeng apose sih sebenarnya??? Gue sebagai pembaca pengen tahu, masa Gue harus menebak-nebak dan menunggu dalam kebimbangan?!?!?!?!"

Dan semua misteri-misteri tersebut baru kebuka ketika buku hampir tamat.  

Drama
Emang buku ini lebih ke drama daripada investigasi yang bener, makanya ada detail yang kayaknya nggak terjadi di kehidupan nyata. Semua bukunya ditulis dengan cara yang tipikal. Selalu ada narasi kejadian di masa lalu yang kemudian berhubungan degan apa yang terjadi di masa kini, dan  kasus yang terjadi di masa kini ya biasanya dendam. Tapi ada satu buku yang gw merasa si background cerita di masa lalu agak dipaksain dengan yang kemudian terjadi di masa kini.

Doi juga senang mendeskripsikan hal dengan panjang lebar di sana-sini, beberapa pembaca nggak suka dan lebih suka kalau langsung to the point, "Tong loba ile lah," kalau kata orang Sunda. Makanya ada yang baca Henning Mankell akhirnya ga suka dengan Camilla Läckberg, karena stylenya beda dan beberapa buku mereka ada yang diterjemahkan oleh orang yang sama. Jadi pembedanya emang si penulis, bukan si penerjemah.

***

Dari buku pertama emang udah gini, terus kenapa gw terus-terusan baca sampai tamat? Nggak tahu juga. Mungkin yang terjadi dengan gw adalah attachment dengan tokoh dan lokasi. Nggak tahu lah. Karena selain kasus pembunuhan, dinamika kehidupan Erica, Patrik dan orang-orang sekitarnya juga diceritain *pembaca butuh drama tambahan di luar drama pembunuhan*, ujung-ujungnya pengen baca lagi. Karena awalnya dari Stieg Larsson yang bukunya difilmkan dengan apik oleh David Fincher, alam bawah sadar gw menumbuhkan obsesi terhadap Swedia secara khusus dan Negara Nordik secara umum.

Dan btw, gw sempat ngecek adaptasi buku ini ke TV, dan versi tersebut sungguh membuat gw menghela napas. Visualisasi tokoh yang ada di kepala gw sama sekali nggak ada di pemerannya. Kesel deh, asal amat kayaknya mereka milih pemeran, padahal aktor yang nyampe Hollywood semodel Alexander Skarsgård. Bbbbzzztttt.

Tidakkk!!!! Erica yang ada di kepala gw nggak kayak gini, apalagi Patrik nya. Kenapa doi botse di mari.
Pic from here

Untungnya, di seri selanjutnya terjadi perombakan menuju arah yang lebih baik.

Patrik-nya kegantengan sih, tapi yaudala, pemirsa tak menolak dan Erica-nya pas.
Pic from here
Lebih baik baca atau nggak? Ya baca aja. Masa' orang mau baca dihalang-halangin. Tapi menurut pendapat pribadi, kalau memang nggak mau baca semua hindarilah The Lost Boy dan bacalah The Hidden Child, The Drowning, dan Ice Child. Jangan lupa kalau mau beli bersi e-book, silakan bandingkan Kobo dan Amazon. 
Read More »

Wednesday, 25 October 2017

Apa yang Dilakukan Ketika Akun Netflix Dibajak

Meski gw udah sempat menjabarkan via Twitter, tetep gw akan tulis sekelumit pengalaman yang tidak menegangkan ketika gw mengindikasikan bahwa akun Netflix gw dibajak. Kenapa? Yabes gada bahan buat nulis di mari.

YHA.

Jadi begini, pagi ini gw bangun dan mendapati email di inbox gw yang berbunyi....


Lha, gimana ini, gw nggak pernah minta atau ngganti settingan Netflix gw menggunakan alamat email yang lain. Hmmmm, mencurigakan, ini pasti kerjaannya orang kampret yang mau ngebajak akun Netflix. Setelah baca email ini, gw meluncur menuju Netflix yang mana menunjukkan halaman awal di mana lo musti login, padahal selama ini gw nggak pernah logout Netflix, jadi seharusnya, ketika gw masuk websitenya langsung masuk ke akun gw. Ketika gw coba untuk login, dia bilang alamat email gw nggak terdaftar, silakan register kalau mau. 

Wah, setan ini, bener ada yang ngehack akun gw!!!!!

Akhirnya melaui link contact us yang ada di email di atas, gw diarahkan ke help center-nya Netflix, pertamanya gw milih live chat untuk minta dibantu urusan ini, karena gw gregori kalau musti nelpon, jangan-jangan operatornya nanti ngga paham Bahasa Inggris gw yang kental akan logat Bantul campur Sunda. Setelah gw ngetik pesan, window live chat-nya mengatakan bahwa gw akan mendapatkan respon dalam waktu sekitar satu menit yang ternyata hanya harapan semu belaka. Karena gw nggak sudi si hacker bisa berlama-lama pake akun Netflix gw secara cuma-cuma, akhirnya gw donlot aplikasi Netflix di handphone lalu gw teloponlah help centernya melalui app tersebut. Tenang, nelponnya nggak pake pulsa, tapi pake koneksi internet.

Begitu nelpon, responya cepat. Hal pertama yang gw ucapkan ketika tersambung ke operator adalah 'Good Morning,' yakali, mana tahu ini operatornya berbasis di US, dalam hati mungkin dia berkata, 'Good morning gundulmu! Ini gw shift malem kelessss!!!' Setelah gw ceritain soal penggantian email yang nggak pernah gw lakukan, mz operatornya mengembalikan akun gw dengan cara yang sederhana.
1. Dia akan menanyakan nomor handphone yang lo gunakan ketika registrasi Netflix
2. Setelah lo beritahukan nomor handphone lo yang menunjukkan bahwa lo memang pemilik akun tersebut, maka operator akan mengirimkan kode verifikasi
3. Lo akan diminta menyebutkan kode verifikasi tersebut
4. Operator di help center akan mengembalikan akun lo seperti semula dengan memberikan password sementara, 'Oke, Saya udah balikin akunnya, coba Kamu login menggunakan xxxx sebagai password.' 
5. Setelah itu semua selesai dan lo akan diminta memberi rating dari pelayanan yang barusan lo dapat

Kalau gw bilang sih pelayannya oke dan sigap yak, mereka dipasang di help center bukan cuma karena bisa ramah sama customer yang seringnya ngomel-ngomel, tapi emang bisa bantu menyelesaikan masalah. Selain itu, salah satu syarat jadi operator help center kayaknya harus memiliki suara yang mikrofonik deh, yabes mz-nya suaranya cucok meong dehhhh.

Begitu akun Netflix gw kembali, hal pertama yang gw lakukan adalah mengganti password, setelah ganti pasword, gw ceklah aktivitas terakhir yang terjadi, lalu gw mendapati....



Bangke nih, hacker Netflix gw lokasinya di Dominika dan udah sempat mengakses tiga show; Naked, Little Man dan Heroin(e). Selain itu, ketika gw coba ngetes nonton film, tiba-tiba default bahasanya udah berganti  jadi Spanyol. Fix ini, hacker gw lokasinya di Dominika dan kemungkinan emang orang Dominika, ngok!!

Untuk itu, gw ada saran awam yang bisa gw bagi untuk para pemilik akun Netflix di luar sana.
1. Secara berkala, mungkin password bisa diganti-ganti, entah ini menolong apa enggak sih
2. Secara berkala (juga), cek aktivitas di akun Netflix kalian, kalau mislanya ada aktivitas yang mencurigakan, bisa ketauan sedari awal. Misalnya, ada yang akses akun Netflix lo dari Antartika padahal elo sedang di Mars
3. Default bahasa pun bisa dijadikan indikator. Kalau default bahasa yang lo pakai Inggris dan pada suatu hari berubah jadi Spanyol, bisa jadi ada yang membajak akun Netflix lo meski orang tersebut tidak mengganti akun email yang digunakan untuk login.

Sekian pengalaman akun Netflix dibajak, yang seperti sudah gw katakan, tidak menegangkan sama sekali dan dengan kesigapan dapat lagsung diselesaikan. Semoga tips awam dari gw bisa berguna.
Read More »