Sunday, 7 October 2018

Favorit-Favorit Belakangan Ini*

*Belakangan Ini bisa berarti beberapa bulan terakhir, baru-baru ini atau udah bertahun-tahun, bebaskeunnnn

Berikut adalah listnya.

Niacinamide 10% + Zinc 1% - The Ordinary
OMG!!!! Serum terfavorit untuk saat ini. Warbiayasak efeknya, ini serum pasti dibuat campuran air mata Dewa Thor dan Freyja. Bukan hanya efeknya yang memang terpampang nyata, tapi harganya pun ramah di kantong sobat kizmin, gw beli di olshop di mari dengan harga € 5.5, lebih murah daripada duit yang dipake buat sekali nongkrong di kafe atau mol hitz ibukota kannnn????

Serum ini digadang-gadang bisa mengatasi masalah jerawat yang ternyata memang benar. Kalau di gw sendiri, efeknya adalah jerawat ini jadi cepet sembuhnya, bikin kempes dan kering lebih cepat tapi nggak bikin kulit jadi kering. Sering juga bibit jerawat yang udah muncul akhirnya hilang sendiri dan nggak jadi jerawat. Efek lainnya adalah bikin permukaan kulit lebih alus, terasa sejak pemakaina pertama. Bukan berarti kulit muka gw jadi mulus juga, yabes permasalahan jerawat udah terjadi sejak tahun gajah, sebagus-bagusnya muka gw kalau pakenya produk-produk di pasaran tanpa bantuan dokter ya nggak akan jadi mulus licin tanpa cela. Mungkin untuk memuluskan kulit muka, gw perlu mengunjungi Bina Esteti.....*kecebur got*

Eniwei, gw rekomendasikan serum ini untuk orang yang bermasalah dengan jerawat atau kondisi kulit mukanya kayak gw...hahahahahahaha, gw sendiri udah hampir habis botol kedua dan kemarin-kemarin baru beli lagi sekaligus dua, biar kayak Yakult!!

Nutritional Yeast
Ciehhhhh, situ vegan Ning? Tentu saja.........bukan!! Nutritional yeast ini agak identik dengan orang-orang vegan atau mereka yang nggak makan daging karena rasanya yang enak bisa dipake untuk campuran ketika orang bikin keju dari kacang mete (btw, agak nggak rido sih cheese replacement dari tanaman disebut keju, pret) atau bumbu ketika masak. Bisa ngasih rasa umami dan gurih tanpa campuran MSG. 

Gw nyobain ini penasaran aja, kok hitz banget sih. Awalnya gw rada nggak suka. Meski rasa umami adalah kesukaan gw, tapi ada aroma dan rasa dari nutritional yeast ini yang bikin gw ilfil, bwek gitu deh. Gw sendiri pun nggak bisa mendeskripsikan. Tapi ya namanya juga udah dibeli dan bergizi, gw pakein aja tiap gw masak, dadar telur *cemen* atau bikin sup ala-ala, eh lama-lama doyan. Apalagi kalau bikin sup tapi nggak pake dedagingan, hambar banget kan, nutritional yeast ini bikin rasanya jadi enak dan ngasih sensasi semacam kuah indomi gitu *halahhhh*

Sejauh ini yang pernah gw coba adalah Bob's Red Mill large flake dan Now yang powder, dua-duanya rasanya sama aja. Kebanyakan orang pake Bragg, tapi ya namanya juga gw, ujung-ujungnya pasti milih yang lebih murah.   

Ini kayaknya salah satu buku ter-wow yang gw baca belakangan ini. Singkatnya buku ini mengisahkan hal-hal yang terjadi di Wall Street saat krisis rumah 2008 yang lalu. Sejujurnya, buat gw, ini bukan kategori buku yang bisa mulus dibaca tanpa bikin bingung. Meski buku ini bukan buku yang menyoroti hal-hal teknis yang bikin industri finansial kolaps, tapi lebih ke narasi deskriptif mengenai hal yang terjadi, drama-dramanya dan interaksi antar aktor, tetep aja suah ya bok kalo otak cuma segini-gini aja. Yabes, biar kata hal teknis bukan yang utama, pembaca nggak akan bisa lepas dari istilah-istilah ekonomi dan finansial karena krisi yang terjadi kan krisis di area tersebut, bukan krisis PD *lo kira iklan Rexona* *tuwir* 



Belum lagi buku ini sungguh mendetail, bikin susah otak gw yang harus nampung dan memproses info yang terlalu banyak. Mau tahu level detailnya sampai kayak apa? Di situ diceritain bahwa para top management sedang kumpul memenuhi panggilan Hank Paulson (kalau nggak salah) di tengah-tengah kegentingan industri finansial ada seorang yang liat Jamie Dimon dan komentar, "Bok, di umur segitu doi masih keliatan oke ya." Pret.

Hal lain adalah banyaknya institusi dan aktor yang terlibat. Gw pusing ini siapa dan yang mana, belum nama orang-orangnya kok mirip-mirip atau 'Bentar, bentar, ini barusan yang diceritain orang Barclays atau Wachovia sih?' mundur lagi bacanya kapan kelarnya?!?!?!?!  

Biar begitu, buku ini memanglah...

via GIPHY

Bill Burr
Hidup di masa kini, mau bercanda tanpa nyinggung siapa pun apalagi orang-orang berhati selembut salju dengan standar moral paling bener be lyke...


Terus secara nggak sengaja, pada suatu hari, gw nonton stand up special Bill Burr yang I'm Sorry You Feel That Way. Ngakak bngzd!!! Kejujuran yang hakiki keluar semua di situ!!! Males nonton stand up Bill Burr karena terlalu panjang? Tontonlah wawancara dese di Conan O'Brien Show. 





I don't find him as an asshole, he's just being brutally honest and real funny. Gw yakinlah banyak orang sepikiran dengan dese, cuma ya nggak berani aja pas mau ngomong karena semua bakal jatuhnya jadi body shaming, seksis, rasis, dan semua-semuanya. Kalau ada yang bilang, 'Misalnya lo termasuk orang yang nggak bisa denger becandaan yang nggak biasa atau nggak bisa dnegar orang ngomong sesuatu yang nggak pengen lo dengar, maka jangan nonton stand up comedy.' Menurut gw justru sebaliknya, kalau lo termasuk orang-orang yang seperti itu, tontonlah. Mereka jual tiket bukan untuk ngomong hal yang pengen lo denger, bukan untuk jadi politically correct, di satu sisi emang ngehibur banget, tapi di sisi lain, justru mereka yang sering jadi penunjuk hal-hal yang rusak di masyarakat. 

***

Kurang lebih empat hal tresebut sih yang masih jadi favorit gw akhir-akhir ini. Silakan diikuti yang kira-kira dianggap menarik dan bakal cocok. Tapi yang paling pasti, ayo dong dicoba Niacinamide-nya, soalnya ada yang gw rekomendasikan produk ini dan cocok juga, kan gw jadi seneng. Jangan lupa juga untuk nonton Bill Burr, karena ya namanya idup, masa maunya cuma denger hal-hal yang sesuai dengan nilai dan pemikiran kita masing-masing.
Read More »

Tuesday, 25 September 2018

Tetap Sibuk Tanpa Facebook

Apakah gw sudah pernah bercerita bahwa gw sudah menghapus akun facebook gw untuk selama-lamanya?!?!?!?!

*bertanya pada warganet*
*tidak ada warganet yang menjawab*

Sekitar setahun yang lalu, atau lebih tepatnya setahun lebih dua bulan, gw menghapus akun facebook gw selama-lamanya. Sebenarnya udah maju mundur syantikkk sejak lama pengen ngehapus, tapi selalu urung dengan alasan ada beberapa orang yang emang cuma terkoneksi dengan gw di Facebook. Tapi setelah dipikir-pikir, ahelah bodo amat, kalau emang sekiranya gw butuh, gw bakal googling atau add di LinkedIn, lebih profesional. Atau seapes-apesnya ya putus kontak, kayak nggak pernah putus kontak sama orang aja, bbbzzzttt. Itu hal yang bikin gw sempat urung, sedangkan motivasi untuk ngehapus lebih banyak lagi. Utamanya sih postingan-postingan orang yang bikin gw ...


Udah ketebak lah ya postingan kayak apa yang bikin gw esmosi, tipikal banget deh gw :)))). 

Misalnya ajakan boikot Sbux karena mereka mensupport eljibiti tapi ajakan tersebut diposting lewat Facebook, gw kan jadinya...


Pernah coba cari tahu perusahaan apa aja yang eljbiti friendly? Beberapa diantaranya ya Facebook (otomatis Instagram dan WhatsApp juga), Apple, Microsoft, P&G, Ben and Jerry, Levis, dll, dll. Sebelum tulis status kayak gitu di Facebook sudah bersih-bersih rumah dari produk P&G yang jenisnya banyak banget? Sudah menghibahkan produk Apple pada orang lain kalau memang pake? Udah banting laptop sama komputer kalau kebetulan pake Microsoft? Lelah deh hayati. *sodorin Esia hidayah*

Atau contoh lainnya perkara ibu kerja atau nggak kerja dengan bikin postingan...

'Bu apakah Ibu akan menitipkan perhiasan pada pembantu?'
'Oh, tentu tidak Nak, Ibu tidak percaya.'
'Lalu kenapa Ibu menitipkan Aku pada pembantu?'

Ya kan lagi-lagi bikin...


Dua hal tersebut adalah dua contoh kecil dari kepusingan-kepusingan yang gw temui di Facebook, bukan tanpa usaha memfilter orang, rekor jumlah teman gw di facebook pernah sampai 1200 orang yang kemudian gw reduksi sampai 600an :)))). Bukan, bukan karena 600an yang gw hapus bikin emosi, tapi sebagian besar emang orang-orang yang gw pun nggak kenal dan cuma tahu sekilas, bahkan nggak pernah ketemu *self toyor* Meski udah melakukan prosesi hapus-hapusin teman, tapi pada kenyatannya gw emang udah bukan pengguna aktif dan males aja punya akun cuma untuk punya-punyaan, mending hapus sekalian.

Terus gimana setelah hapus akun? Nggak gimana-gimana. Hidup biasa aja. Ngehapus Facebook nggak bikin gw jadi kizmin atau kaya *duniawi oriented* tapi hakul yakin kalau gw belum hapus Facebook, mungkin sekarang gw udah darah tinggi karena terlalu hobi makan ciki dan emosi liat postingan Facebook. Repotnya, kalau ada event terus informasi cuma diposting via Facebook, atau jual beli barang seken yang seringnya iklannya via Facebook, ujung-ujungnya gw musti pake website normal dan beli sepeda hasil maling :)))

Pada akhirnya sih terserah mau pake sosmed apapun, ada yang memang rezekinya dari sana, misalnya dibayar buat nyebarin hoax jual produk atau promosi bisnisnya, tapi ya tetep aja, hati-hati yang utama. Kalau dulu bahaya sosmed cuma sampai di level iri-dengki dengan kebahagiann hidup palsu orang lain, sekarang udah sampai di level fitnah atau nyulut dan menyebarkan kebencian. 

Punya waktu 20 menit? Silakan tonton Last Week Tonight edisi terbaru tentang Facebook

Facebook ini yang bikin kebencian orang Myanmar terhadap Rohingya semakin berlipat-lipat karena 1)Facebook sendiri nggak punya mekanisme untuk mereview konten dan butuh waktu bertahun-tahun sampai mereka mempekerjakan orang Myanmar 2)Sumber informasi dari kebanyakan orang Myanmar cuma Facebook. Familiar? Tentunya, karena gw yakin bahwa banyak di antara kita yang sumber utama informasinya juga dari Facebook. Masalahnya, website semacam Facebook itu kan menyesuaikan user experience berdasarkan hal yang paling sering diakses. Iklan yang ditampilkan sesuai dengan link yang sering lo buka, misalnya. Jadi kalau hobi lo bacain berita yang isinya ngatain orang lain cebong atau kampret, maka berita yang sejenis itu yang bakal sering muncul.  

Kenapa gw jadi menasihati orang soal Facebook? Hih!! Pada intinya, kalau ada yang ragu mau ngehapus akun Facebook dengan alasan takut stabilitas kehidupannya terguncang, yakinlah, nggak akan kejadian. Lo akan tetap sibuk meski tanpa Facebook. Sibuk rusuh di sosmed lainnya maksud gw :))).
Read More »

Thursday, 20 September 2018

"Dasar KNTL!"

Judul tersebut  adalah frasa dengan frekuensi tertinggi yang gw liat via sosial media selama kurang lebih beberapa waktu silam ketika Asian Games sedang dihelat. Ketika gw bilang sosial media, gw merujuk Twitter, karena cewe soleha abal-abal yang satu ini udah nggak punya Facebook, sedangkan Instagram gw cakupannya kecil dan adem-adem aja. Awal mulanya , seorang pebulu tangkis, sebut saja Jojo, melakukan selebrasi kemengangan dengan membuka bajunya. Gw yang udah uzur *coba tanya Ricky Subagdja dan Rexy Mianky, gw pasti tahu!* dan nggak terlalu ngikutin perhelatan olahraga pun bingung, "Ini Jojo siapa sih? Heboh banget ngalah-ngalahin wim cycle!" *krik*  Ternyata Jojo yang dimaksud adalah Jonatan Christie, atlet yang berhasil menyumbang medali emas. Selebrasi dese dengan cara buka baju bikin stabilitas terguncang karena banyak bermunculan komen-komen dari netijen perempuan seputaran 'rahim anget' dan sebangsanya.

Seperti biasanya, tipikal dinamika sosial media nggak akan berhenti smapai di situ, kerusuhan berlanjut ke perdebatan apakah komentar-komentar tersebut termasuk pelecehan atau nggak. Nggak, gw bukan mau ikut bahas apakah itu termasuk pelecehan atau nggak, monmap nih, untuk yang beginian gw nggak punya kualifikasi buat bahas. Meski pun kalau bahas hal lain gw tetep ga punya kualifikasi, tapi kalau bahas yang satu ini serem aja gitu, salah-salah gw yang berikutnya dikatain  "Dasar KNTL!" :))) 

Gw justru lebih merhatiin tanggapan yang diberikan oleh orang-orang yang menyebut diri mereka aktivis feminisme. Ada yang nanya baik-baik karena memang nggak ngerti malah digoblo-gobloin ada yang nggak setuju terus dikntl-kntlin. Besok-besok kalau feminis dianggapnya segerombolan orang yang kerjaannya marah-marah, benci sama laki, dan hobinya ngerendahin mereka yang nggak punya pengetahuan tentang feminisme, ya monmap, terima aja. Satu lagi, gw sempet baca tulisan dari seorang feminis yang bilang kalau laki-laki, dalam situasi apapun, ga mungkin bisa dilecehkan. Kalau ada kejadian, tetep jatuhnya bukan dalam koridor pelecehan. Monmap lagi nih, gw sih ga setuju, kalau mbaknya mau ngntl-ngntlin gw, silakan lho.

Anyway....sebenarnya inti hakiki dari tulisan ini adalah gw pengen nanya soal publik figur yang kebetulan pernah melakukan pelecehan dan punya karya yang ciamik. Nih ya gw ngaku, sejak Louis C.K. mengakui perbuatan doi solo seks di depan komedian perempuan, gw tetep aja nonton stand-up performancenya doi (berulang-ulang!), entah di Youtube atau di Netflix. Alasannya? Gw emang suka kerjaan doi, bri-li-an. Apakah hal ini bikin gw tergolong orang yang nggak ada moralnya? Apakah gw salah? Mustikah gw dibully massal oleh selebtwit yang standar moralnya paling bener sedunia dan seakhirat

Gw merasakan apa yang Miund tulis di sini...




Sayangnya, di kasus gw, gw tetep bisa menikmati karyanya Louis C.K. Makanya, gw sebenernya penasaran dengan apa yang orang lain rasakan dan lakukan, misalnya mereka yang fans berat House of Cards atau R. Kelly, priye perasaanmu?
Read More »