06 August 2022

When a PhD student sees the finish line

So, I just finished my first dissertation draft last week.  As I stared into my draft on screen, I suddenly felt a profound sadness. I was like, what the heck is happening? I could see the finish line; for the first time, I got a sense that I could graduate from this PhD, but at the same time, I felt like I did not want to leave it.  WHAT IS THE MATTER WITH ME?!?!?!?! Was it a different version of that Stockholm syndrome thingy?


So then I just sat and started thinking about what happened, and then I remembered things I read from ‘Maybe you should talk to someone’ (btw, terrific book, go read) about why making or facing change is so difficult. The author says that change is difficult because we cling to the status quo. As we gain something (from some changes), we lose something as well, our status quo. Our baseline situation may not be ideal (it can even be terrible), but that’s all we have. We may opt for something subpar but certain and predictable (the status quo) instead of the prospect of getting something better (from the changes) yet uncertain.


That seems to be the answer.


I still feel sad every time I think I will end this PhD. I just don’t want to lose it. If I had to describe this PhD, it would just fill with all negative descriptions: stressful, depressing, frustrating, exhausting, draining, isolating, shattering my sense of self, worsening my self-inadequacy, crippling, eating you from the inside, etc, etc. With that situation, I felt like I didn’t have many options, so I (subconsciously) sought comfort and found one. Those difficulties have become my friends, and they have given me comfort. Comfort I got from the predictability of those miseries. Hence, getting out of that predictable miseries and moving toward something potentially better yet uncertain becomes scary. 


I once told my professor that I did not want to spend 10 years doing this PhD (some people do), and he promised me that it would not happen. It is certainly not happening, but I still don’t know how to deal with this. 


Guess maybe I just need to give some time and take things in.  


Read More »

24 November 2021

I am back

Me walking to the blog be lyke:


Niat gw dari kemarin-kemarin balik ngeblog tapi ditunda-tunda mulu karena biasalach nak PhD dah paling sibuk sedunia kok kelamaan ga ngeblog kok jadi males ya, belum lagi gw malu sendokir saking lamanya nggak ngeblog. Ibaratnya udah bolos mentoring lama banget tapi akhirnya apa boleh buat, kudu datang mentoring lagi karena butuh nilai (yakali ngeblog dapet nilai).

Dan kayaknya sekarang pas aja buat balik lagi ngeblog karena PhD gw kondisinya:


jadi bisa rada slacking tenang ya kalau mau ngapa-ngapain. Progress berartinya apaan? Tentunya ini dan itu, plus ada dua under review, gw lagi revisi sebiji, dan satu lagi join paper dengan anak PhD uni sebelah, wismilak!!! Jangan lupa dibaca dan disitasi ya gengs *shamelessly promoting own work* kalau ga ada aksesnya, bilang sama gw. Bisa tenang ngapa-ngapain karena semua nak PhD pasti bisa relate, pas lagi di puncak misery, mau istirahat aja rasanya bersalah, mau lanjut kerja juga nggak bisa ya karena udah kerja seharian. Intinya, mau ngapa-ngapain tetep kepikiran kerjaan, bahkan udah sampai main ke summer cottage pun tetep nggak bisa rileks ya, tolong.

Okelah segini dulu buat pemanasan sebelum gw hibernasi balik lagi ngeblog kayak orang bener.

Read More »

07 October 2020

Kepundungan 2020

Edan, udah tuwir masih pundungan, semacem geng relawan yang laporin Mba Nana Shihab.

Ini adalah cerita nggak penting, tapi 1) ya jaman korona gini, semoga drama receh gw ini bisa jadi hiburan 2) demi membangkitkan blog yang kek sarkofagus dikubur 2500 tahun, maka akan gw tulis. 

Jadi program PhD gw ini mengharuskan gw ambil 40 kredit. Lalu gw ngeliat mata kuliah online yang gw tertarik, dengan kredit lumayan gede. Btw, mata kuliah yang sifatnya umum seringnya cuma satu kredit, yang bener aja kapan kelarnya. Mata kuliah ini ga ada ujian kayak kehidupan, adanya tugas individual dan kelompok. Ketebaklah, kepundungan gw datangnya dari mana, dari kelompok yang kamvret. Tugas kelompoknya ini udah didesain sama dosennya supaya akhirnya bisa bikin eco industrial park, jadi peserta bisa milih industri. Dari awal gw bimbo alias bimbang bok. Belajar dari asam garam kehidupan, prinsip gw adalah pilih orang daripada pilih projek. Projeknya garing kalau orangnya bener, pasti akhirnya bener. Projeknya keliatan menarik, kalau orangnya embuh pasti akan berakhir embuh juga. Meski kuliah online, gw selalu bisa google nama peserta. Peserta yang pake domain email universitas, pasti terafiliasi sama kampus dan lebih reliable daripada peserta non-kampus dan punya full-time job. Gile, prejudice banget ga? Tapi terbukti kok.

Entah kenapa otak gw yang cuma satu sel ini ga mau kompromi dan belajar dari pengalaman. Gw kekeuh lah milih indsutri yang kayaknya menarik. Terus bener dong ya, satu anggota, sebut saja Mawar, hare-hare yang satu lagi, sebut saja Kumbang, susah banget dihubungi. Si anggota kedua ini bukan lokal dan kayaknya dia posisi nggak lagi di Finland. Tapi ya maneh kalau udah enroll kelas ya komit, bukan cuma komat-kamit *apeuuu*

Oke, tugas pertama. Gw kontak dua orang anggota tim gw, apa boleh buat, padahal gw paling males sok-sokan inisiatif, gw paling demen jadi anggota kelompok yang kayak rumput yang bergoyang *?!*  Si Mawar ngasi slot waktu karena dia kerja, si Kumbang gada rimbanya, ga bales satu email pun, konfirmasi kek, apa kek, krim duit kek. Terus Mawar minta ganti jadwal, karena dese sibuk, okelah. Gw sebagai operator Zoom pun mengganti jadwal seraya berkata sama Kumbang, 'Maneh bisa teu di jadwal yang baru?' swooosshh, tidak ada jawaban, hanya angin yang berhembus. Oke, aing kzl. Beberapa jam setelah meeting, Kumbang kirim email nanya, 'Meetingnya jam berapa?' Woooo, manehna udah kayak inspektur di film-film India jaman gw TK, telat datang padahal persoalannya udah kelar!! Akhirnya tugas pertama dikerjakan oleh gw dan Mawar yang mana hasil kerjaannya Mawar sungguh bikin mengelus dada.

Di tugas kedua, Kumbang minta dikirim wasap ketika meeting akan mulai. Kzl ya bok, ada email, bisa set remainder. Okelah, gapapa. Pas meeting, Kumbang lagi-lagi ga muncul, udah gw kirim wasap pun. Setengah jam kemudian pas meeting udah kelar baru bales, 'Oke Saya join meeting.' Pengen jadi Cinta deh terus bilang, 'Basi madingnya udah terbit!' Besokannya si Kumbang telpon gw dan bilang 'Tugasnya apa ya?'

Aing be lyke:

Short story shorter, gw kerjain sebagian besar, terus Mawar dan Kumbang gw minta ngelengkapin. Udah gw kasih penjelasan dan kasih template, tinggal baca petunjuk tugas di website terus lengkapi. Si Kumbang bolak-balik telpon harus ngapain, terus gw dengan kesabaran lebih tipis dari rambut bersabda, 'Itu video course sama slide ditonton dan dibaca ga?' Dese diem. Gw diem. Dese diem. Gw diem. Telpon berakhir. Anjir, pantesan gw ga punya temen, aku ternyata keji. Sampai hari deadline ga ada kabar. Gw kasi reminder. Mawar akhirnya bilang dese sibuk bahkan ga sempat cek template. Oke aing emosi. Kumbang ga kasih kabar sama sekali. Dobel emosi. Akhirnya tugas gw kerjain semua, pas gw kumpulin, gw cuma tulis nama gw. Gongnya adalah gw kirim email sama dosenya seraya bilang, 'Kelompok gw kampret gada kontribusinya Saya mau lanjutin tugas kelompok ini sebagai tugas individu, harap maklum.' Gw udah deg-degan ya takutnya gurunya bilang, 'Kamu cupu deh, gitu aja kabur, ayo resolve masalahnya dan kerja bareng.' Ternyata nggak dese cuma bilang, 'Fair enough, nanti Saya yang kabarin anggota kelompok Kamu.'

Aing be lyke:



Padahal gw udah siap-siap kalau musti bilang sama Mawar dan Kumbang kalau gw bakal ngerjain tugas secara individu, eh ternyata gurunya yang bilang. Gw yang cupu dengan masalah konfrontasi langsung bernafas lega.

Sekarang ini Mawar sama Kumbang pasti ngerasa nggak enak sekaligus suebel banget sama gw. Ngerasa nggak enak karena nggak ngapa-ngapain dan suebel banget karena, 'Anjir kena tulah apaan gw dapet anggota kelompok tukang ngadu.' Inti dari cerita ini adalah gw yang sampe sekarang masih surprised kok bisa ya gw ngadu. Kebayang kalau gw kayak gini kelakuan dari jaman S1, udah jadi musuh satu angkatan gw :))). Kayaknya gw bisa cuek aja ngadu dan ga peduli karena 1) kuliah online, gw semacam netijen gila di dunia maya, ngerasa ada level anonimiti 2) gw udah tua, energi dan kesabaran menipis, mau dimusuhin orang juga bodo amat, ga worth it 3) gw tau gw yang bener, ibarat kami bertiga dibawa ke court martial, gw tau gw bakal menang *smug*

Mbuhlah ini nasib Kumbang dan Mawar di tugas berikutnya gimana. Atau justru mereka bakal bersinar bak bintang kelas karena ternyata mereka cuma pura-pura bego karena mereka tahu ada gw yang bisa dimanfaatkan *shrug*

Read More »