Friday, 24 October 2014

Ewan is in my mind

Buat sebagian orang, kalau mereka suka penyanyi, ya mereka dengerin lagunya, suka penulis ya baca bukunya, kalau suka pemain film ya tonton filmnya. Nah, kalau gw, kalau suka penyanyi ya gw dengerin lagunya *sudah barang cencu*, nah kalau suka pemain film, ketimbang nonton filmnya gw lebih milih untuk….nonton interviewnya. Nggak aneh kan ya? Ini normal kan ya? Katakan ini normal!!!! Karena secara natural emang gw bukan golongan hobi banget nonton film. Soalnya effort nonton film itu kan lumayan, kalau dengerin musik itu bisa disambi, semisal ngerjain kerjaan, sambil ngepel, nyapu, masak *mbok-mbok abis*, olah raga. Tapi kalau nonton film, ga sambil disambi aja gw suka gagal paham apalagi sambil disambi.

Nah, salah satu orang yang paling gw suka itu mas Ewan McGregor *lope*…hahahahahahah. Gw lebih jatuh cintrong kalau liat wawancara dia ketimbang liat film yang dia bintangi (entah di Graham Norton, Ellen show, atau wawancara-wawancara setiap dia lagi promoin filmnya). Jadi awalnya dia melejit gara-gara film Trainspotting ya, dan salah satu temen nyaranin gw nonton itu katanya brilian gitu. Gw nonton dan...meh. Bukan tipe kesukaan gw. Ceritanya tentang pemuda-pemuda narkobus dengan berbagai intrik dan polemiknya. Terus jiji gitu kan, liat yang sakau, muntah, ngubek kloset *wc lho ini bukan lemari* demi dapet narkoba. Jiji aku. Lebih baik dikasi film berdarah-darah semisal assassin creed, inglorious basterds *ga terlalu berdarah-darah sih inih, cuma nyayat-nyayat kulit kepala*, atau se7en daripada film narkobus gitu.

Salah satu wawancara kesukaan adalah pas  di Graham Norton Show. Wawancara pertama dia berdua sama Chris O’Dowd. Jatuh cintrong karena dia begitu sekyur dengan dirinya sendiri *halahhhh*. Kemudian pun, posisi dia sebagai actor kan 'di atas' Chris, tapi tiap Chris ngomong dia pasti merhatiin bok dengan seksama, nggak menunjukkan gesture ‘gw-lebih-oke-daripada-situ-bhayy!!’ Lalu-lalu, dia tuh suka sombong-sombong gitu nyeritain dirinya, tapi sombong bercanda secara proper gitu dan di saat yang sama dia bisa bikin joke ngehina-hina dirinya sendiri sambil ketawa-ketawa.

Semisal ya bokkkk…
Graham Norton (GN): We have two great  movies to talk about, could be more different blablablabla
Ewan McGregor (EM): Yah The Beginner, film doing incredibly well, film nobody ever heard of *ketawa ngakak tanpa beban*

Atau kurang lebih…
GN: Gini lho, sebelumnya kamu merasa kalau kamu femes, terus kamu main di Star Wars,  kamu merasa nggak ke-femes an kamu ada di level yang lain setelah membintangi Star Wars?
EM: Nggak tuh biasanya aja, because I thought I was really really  femes, jadi ya bukan masalah membintangi Star Wars. So I was walking around just being femes, God I am femes!! *ngakak kampret*

And he told embarrassing story about s3x scene with Christian Bale for Velvet Goldmine movie lightly. Ga ada beban sama sekali malah sambil ketawa-ketawa kampret gitu.



Yaoloooo aku sukiyaki!!! He has (one of) the most sekyur laugh ever *ga tau gw ngomong apaan sik* ditambah diana adalah Scottish yang kalau ngomong ada aksennya *meskipun bikin nggak ngerti kamoh ngomong apa sih Ewan?!*. Uwooooooo…..

Ngomongin filmnya dia, ya beberapa adalah yg gw tonton selain trainspotting (yang pasti bukan Star Wars yang gw tonton), lalu dari semua yang gw tonton favorit gw The Ghost Writer. Aku sukaaaaa!!! Tentang misteri-misteri gitu. Dia sebagai ghost writer pengganti karena pendahulunya (disinyalir)  mati dibunuh buat nulis memoar Adam Lang (Pierce Brosnan) seorang mantan PM. Tegang bok gw nontonnya pas satu-satu mulai terkuak dan si misteri yang dipertanyakan terjawab pas bener-bener di akhir. Akuh sukaaa.  Jadi kalau suka film yang ada teka-tekinya tapi ga suka adegan bunuh-bunuh yang keji nan kejam, ditambah suka Ewan McGregor, tontonlah film ini. Ya review IMDB juga masih sekitar 7, ga jelek lah.

Dan ini salah satu yang terganteng dari instagramnya:


 siawasiwa uwono uweni...yang baju biru jangan sampai lepass 
read more.. "Ewan is in my mind"

IPA atau IPS

Labih heitz mana sik bahasan kayak gini sama bahasan sufor vs asi, sahm vs wm *mancing-mancing*…lalalala…yeyeyeye…dududududu. Kenapa IPA vs IPS bukan IPA vs IPS vs Bahasa? Karena aku nggak setua itu. Pas gw SMA kelas bahasa sudah dihapusken, jadi yang mengalami masa-masa itu ya angkatan jadul aja gituh, hihihihihi…

Sejatinya gw adalah anak IPA yang pas SPMB memilih IPC *yes SPMB lho ya, bukan Sipenmaru* *boo!!! Disurakin sambil ditimpukin anak IPS* Kalau ditimbang-timbang, akuilah, itu memang keuntungan anak IPA, ga terlalu rumeuk kalau mau nyebrang dan ngambil IPC untuk pada akhirnya kuliah di jurusan IPS, sebaliknya, setahu gw kalau anak IPS ya stick di pilihan IPS saat akan SPMB, belum pernah gw denger ada yang  nyebrang  ambil IPC. Tapi di sisi lain, selain keliatannya maruk, anak IPA juga sering dibilang ga punya pendirian. Sekolahnya di kelas IPA, giliran kuliah di ngambil IPS, pasti takut dibilang kurang kece ya kalau jadi anak IPS?!

Ok, mari kita luruskan. Gw pribadi termasuk golongan orang yang memandang bahwa IPA dan IPS sama baiknya. Karena pada akhirnya yang jadi penentu adalah ketekunan ketika kita memutuskan buat mengambi suatu bidang, bukan bidang itu sendiri. Ya ngambil IPA tapi kalau nggak serius dan cuma biar keliatan kece tapi kemudian nyungsep juga buat apa. Tapi lagi-lagi, OH LAGI-LAGI, our lovely society (and of course parents) define it. Gw yakin masih banyak paradigma *apaan sih paradigma?* yang berkembang di masyarakat (dan orang tua siswa) kalau anak IPA itu 1) lebih pinter dari anak IPS 2) anak IPS hanyalah anak ‘buangan’ yang ga sanggup masuk IPA. Hellllawwwww!!! Banyak keles yang masuk IPS karena memang mereka mau and I salute them because they know what they want to do way earlier than us yang masuk IPA karena masih galau menentukan jalan ke depannya dan mencari jalan tengah nan aman dengan ‘masuk IPA dulu deh.’

Pada awalnya gw sempet pengen masuk IPS, sederhana, karena gw sadar nilai IPS gw selalu lebih bagus dari nilai IPA. Selalu. And I had no problem with pelajaran hapalan. Giliran IPA, nilai gw udah carut marut abis, mau tanya nilai berapa? 1,2,3? Udah gw rasain semua. Jangankan 1,2, atau 3, nilai 0 aja gw pernah dapet buat kimia. Bego banget kayaknya masuk IPS aja deh. Terus gimana? Ya nggak boleh dong sama orang tua *yaiyalah, sama siapa lagi*. My parents are that kind of parents yang melihat bahwa IPA itu ya lebih bagus dari IPS. Yang selalu bilang harus bisa matematika. Yang berpandangan kalau pinter matematika pasti pinter pelajaran lain. *sedih* I swear I will never ever ever ever say that kinda of things to my kids. Go find your own path and be responsible for it nak!! *ngomong sama anak di masa depan* *anak gw sama Adam Lev…lupakan dia sudah berbahagia* Fortunately, my parents have us as their kids. I don’t say three of us are bright in math or exacts subject, let’s say my big bro is bright on it, bawaan orok. Gw mah ngandelin kerja keras aja, intergral lipat tiga? Sudah lupa tuch. Ya kebayang aja kalau salah satu anaknya bego seada-adanya bego matematika tapi shines bright like a diamond buat ilmu sosial, kasian ajalah, you probably will not find your way. Eniwei…ya kemudian banyak perdebatan dan berakhir gw masuk IPA *dadah dadah sama kelas IPS* asumsinya gampanglah nanti ambil IPC kalau mau kuliah IPS. Walhasil gw kuliah teknik dengan pilihan pas SPMBM 1) jurusan yang berhasil gw masuk 2) akuntansi 3) biologi , kemudian back up untuk SPMB pun akuntansi Unpar, bukan jurusan IPA. Banyak juga yang nanya, kalau niat IPS, kenapa ga simpen akuntansi di pilihan 1 pas SPMB? Abisnya gw udah jungkir balik di IPA kayak pemain sirkus, udah terlanjur basah sekalian aja gw nyungsep nyebur sekalian, masuk aja teknik. And I made it, I sometimes could not believe it.

Tuh kan akhirnya gw juga yang curhat!! Kenapa?! Back to main topic. Initinya sih gw melihat bahwa IPA dan IPS sama baiknya. Semua ada tempatnya masing-masing dalam tataran karir ataupun di masyarakat. Kalau ada yang bilang IPA lebih bagus, jangan didengerin. Kalau ada yang bilang hidup tuh harus bisa matematika, nggak usah dipercaya. Orang yang matematikanya nyungsep banyak yang hidupnya sukses dan baik-baik aja. Kalau kamu hidup di rezim ‘harus bisa matematika karena pasti pinter di bidang lain‘, ya diterima aja tapi jangan diteruskan ke generasi berikutnya. Meskipun susah ya bok melawan apa yang udah tertanam di society, tapi kalau kita tahu itu salah ya janganlah diikuti. Kalau kamu masuk IPS dan dianggap bodo, senyumin aja yang ngatain bodo, tinggal berusaha buat sukses di jalan yang udah dipilih, karena (massive) success is the best revenge.   


Gilingan, giliran ngasih petuah buat orang jago, tapi pas harus speak my own voice memble. Hvfth *melangkah gontai*. Gw sendiri masih punya banyak cita-cita yang semoga sih ya tetep semangat untuk diwujudkan, nggak melempem di tengah jalan.  Nah, apalagi dedek-dedek yang belum kuliah, masih panjang jalannya, tetap semangat ya dek, nggak ada satu ilmu pun yang jelek. Itu aja intinya.
read more.. "IPA atau IPS"

Wednesday, 22 October 2014

IKEA dan Swedia

Akhirnya, peristiwa bersejarah di Indonesia terjadi juga, yes apalagi kalau bukan IKEA yang akhirnya jadi juga buka outlet di Indonesia. Produsen furniture asal Swedia akhirnya resmi buka lapaknya di daerah tangerang. Beuhhhhhh, pasti antusiasme khalayak sudah tidak terbendung lagi. Gimana yang udah mampir ke sana? Pada pengsan nggak liat harganya? Aku sih belum ke sana, tapi liat harga barangnya aja udah bikin ketawa-ketawa. Ketawa-ketawa sedih, buset mahal amat sik nih produk begitu masuk Indonesia, boker duit dulu nih kalau mau belanja-belanji. *cusss menuju outlet pic..pic..olympicccc* 

Terus, denger-denger, saking membludaknya pengunjung, banyak yang nggak dapet lahan parkir dan sampe harus markir mobilnya hampir 2 km jauhnya dari outlet IKEA tersebut. Luar biasah pengorbanannya, bagus juga nih buat jadi progam Indonesia combats obesity *jalan kaki sampai gobyos* Jadi ya kalau mau ke IKEA datanglah di hari kerja atau kalau mau datang wiken, tunggulah agak nanti. Nggak bikin kurang gaul juga kok.

yak, ambil kalkulatornya, nge-kurs harga dulu yak.

Gw juga ngak ngerti sik ini kenapa barang bisa jadi semahal ini begitu masuk Indonesia. Mahal bukan sekedar mahal, mahalnya tuh pake bingit, dua kali lipat aja gitu dibandingin harga dolar. Padahal, biasanya pengunjung IKEA itu pasanan muda yang baru punya apartemen dan butuh belanja furniture tapi budget terbatas. Iyes, budget terbatas. Kalau gw sih ngeliatnya mungkin karena pajaknya gede dan lokasi lapak si IKEA itu sendiri. Tapi the best statement yang gw temu di twitter  so far tentang kenapa harganya bisa jadi mahal gini adalah  willingness to pay orang Indonesia (Jakarta dan sekitarnya pada khususnya) yang begitu tinggi untuk membeli gengsi. Ya bener juga sih. IYA BINGIT!!! Produk luar gicuh, ya miriplah sama pas H&M masuk sini. Gilingan antrian mengular semenjak outlet belum buka. Ya padahal itu semacem Ramayana&Robinson-nya wong yurep. Ya pas udah masuk sini si jadi mahal juga, ngok *bhay!!* *melenggang masuk pasar baru*

Tapi ya mau semahal apa pun pasti laku kok kalau udah masuk Indonesia. Pasti. No worry. Without a doubt.

Gw juga nggak tau sik kenapa si furniture IKEA bisa se booming itu, padahal kan masterpiece nomor wahid dari IKEA adalah….

IKEA masterpiece yang sesungguhnya.

The famous Swedish Meatballs!!!! WOOHOO!!!! Padahal gw sendiri sik belom pernah nyoba, tapi ini tuh femeus abis. Ada nggak nih di outlet IKEA sini? jangan-jangan harganya jadi dua kali lipat juga? Tapi nggak mungkin sik, secara seporsi bakso isi 8 pake kentang dan krim harganya 29 swedish krona (48 rebu), kalau dianalogikan seperti furniture lain ya masa' harga seporsi bakso 96 rebuuu!!! *tampar-tampar*


Ya udahlah, daripada mengejar IKEA si furniture asal Swedia, aku lebih milih mengejar Gabriel Wikstrӧm, mentri asal Swedia yang baru 29 tahun *de hek baru 29 tahun masnya hidupnya ngapain aja udah bisa jadi mentri?!?!*

Hae mas... --,
read more.. "IKEA dan Swedia"

KRL oh KRL

I am a professional angcot (antapani-ciroyom) passenger , tapi ya bukan golongan yang nggak pernah ngerasain naik kopaja, metro mini atau KRL. Kalau dibilang sih, ketiga alat transportasi tersebut sama aja kejamnya, lha wong keberadaannya di Jakarta kabeh. Ya KRL lebih luas lah cakupannya. Tapi sekarang lagi pengen aja ngomongin KRL. Meskipun pengalaman gw naik KRL cuma seujung kuku, sekali-kali doang, tapi cukuplah buat membentuk mental. Mental misuh-misuh tentunya *tampar*.

Turun-naik penumpang
Ini ngehek, pun merupakan salah satu indicator ter-developing country *yes, bitch me please am that person who comes from developing country yet joking and swearing about developing country itself* *toyor*.  Penumpang yang mau naik nggilani parah nggak mau ngalah banget sama yang mau turun. Lha ya di mana-mana juga yang mau turun dulu keles yang didahulukan. Yang mau turun baru mau ngelangkah udah diseruduk penumpang yang mau masuk, nggak kasian apa kalau ada nini-nini atau aki-aki renta mana bisa melawan kebrutalan arus masuk penumpang. Nah, yang lebih kampret ya gw. Selain ngata-ngatain ter-developing country, kadang suka kepancing juga sih buat masuk ke dalam sebelum semua penumpang  yang mau turun berhasil keluar. Yabes gimana, persaingan ketat parah kalau gw nggak kayak gitu habislah gw.

Penumpang pendek
Sebagai penumpang dengan tinggi badan di bawah rata-rata, lebih banyak ruginya daripada untungnya. Pertama, sudah kalau mau gantelan ke pegangan yang ada di bagian atas kereta. Nyampe sih, tapi ya panjang tangan ngepas jadi lumayan effort. Sekali lagi, gw nyampe lho sama gantelan di atas kereta. Tapi ya gw sih lebih milih pegangan di besi-besian yang ada di deket pintu kereta, less effort dan deket pintu. Memudahkan gw kalau mau turun juga. Selain repot buat gantelan, sebagai penumpang pendek, gw selalu diketekin penumpang lain, i repeat, gw selalu diketekin penumpang lain. Selalu. Apalagi kalau naik keretanya adalah di peak hour sore hari di hari kerja. Luar biasa jahanamiyah!!! Udah penuh, sre-sore udah pada keringetan bau acem dan mereka ngetekin gw secara masal!!! Ini tidak termaafkan!! Nah, makanya simbol bau menyengat di bawah ini baiknya diganti aja pake gambar ketek, karena lebih merepresentasikan bau menyengat. Pun ketek menyengat jauh lebih mengerikan dari durian yang menyengat.  



Gerbong wanita
 Nah, ini the ultimate turtore of KRL...bahahahahahaha. Eh, nggak tau juga sih, gw pernah naik gerbong wanita pas tengah hari bolong sepi parah bahkan gw bisa kayang atau tiger sprong. Jadi, setahu gw, gerbong wanita itu justru lebih kejam dari gerbong umum lainnya. Sederhananya, persaingan/kompetisi sesame cewek itu kan emang lebih nggilani daripada persaingan secara umum. Kalau lo pake gerbong umum, masih bisalah ditemui penumpang laki waras dan baik hati yang kasi tempat *pernah tuh gw ditawarin tempat di KRL, belom gw jawab tiba-tiba diserobot sama bapak-bapak. God bless you pak!!* atau paling engga menyilakan kasi jalan atau space. Di gerbong wanita (denger-denger) sih ya jangan harap, semua disikut dan dilibas, sori ya Sis!!

Kereta dan platform
Ya gua sih nggak ngerti soal desain platform dan kereta. Ya kalao nanyain desain kereta sik nggak mungkin, lha wong pasti standar hakul yakin. Nah, yang jadi masalah adalah platformnya. Nggak safety first. Gimana ini ngomonginnya. Jadi gini, platform di sepanjang rel itu kan tinggi disesuaikan dengan si KRL itu sendiri. Jadi ketika penumpang akan naik, cukup melangkah normal buat masuk KRL dan nggak usah manjat/setengah loncat karena perbedaan ketinggian yang lumayan banyak. Nah, di sepanjang platform ini ada bagian rendah tempat penumpang lewat/nyebrang ke platform yang letaknya berlawanan kalau-kalau kereta yang mau dinaikin letaknya ada di sana. Nah, setiap kereta berhenti di suatu stasiun, biasanya ada bagian pintu yang pas di bagian platform yang rendah. Mak!! Kalau ada penumpang yang nggak ngeh terus loncat, bisa cilaka itu. Jatuh lumayang tinggi itu. Di beberapa stasiun jarak pintu ke platform malah lumayan tinggi, jadi petugas stasiun harus naruh tangga portable di depan pintu kereta setiap ada kereta yang berhenti. Kadang juga nggak pas letak tangga sama pintu. Biasanya, biasanya sih ya, jalur nyebrang penumpang untuk menuju platform di depannya itu dibikin di bawah tanah. Digali gitu. Paling aman tuh. Selain nggak perlu ada bagian platform yang rendah dan membahayakan penumpang, orang yang nyebrang pun nggak khawatir kena risiko ada kereta lewat pas dia lagi nyebrang.

Jadwal KRL
Ini luar biasah nggak usah di tanya. Pokonya Indonesia banget jadwal berantakan. Lumayanlah untuk belajar sabar, meh! Problemnya bukan hanya para penumpang yang jadi terlambat sampai ke tujuannya masing-masing, tapi penumpukan penumpang di suatu stasiun yang paling nggilani, apalagi kalau udah peak hour. Yaolo udah jadi pasar tumpah. Penumpang yang banyak kan bikin persaingan semakin ketat hasilnya kebrutalan dan emosi pun meningkat!! Hyuk. Belum lagi kalau hujan dan rel tergenang lumayan tinggi kan biasanya sistemnya jadi kacau, kereta nggak mau beroperasi. Walhasil kereta bisa stuck di suatu tempat sambil nunggugenangan air agak surut berjam-jam lamanya.


Kalau yang cerita pengguna KRL sehari-hari pasti lebih shahih. Tapi yang pasti, salah satu pelajaran berharga dari naik KRL adalah 'you dont know how brutal you are until being brutal is the only option you have.’ Be brutal!!  
read more.. "KRL oh KRL"

Sunday, 19 October 2014

music helps

Yes, indeed. Music helps me to stay calm and carry on, or at least, pretend to be calm. These are some of my friends -aside from daydreaming- when I feel so low:

1. Let it be - Beatles


*peluk salim tangan om Paul*

2. Carry on - Fun


3. Fix you - Coldplay (oyeah of course)


*tisu mana tisu*

4. Reach - Gloria Estefan


5. The power of the dreams - Celine Dion


6.  Happy - Pharell Williams


7. Heart of life -John Mayer



Oke, segitu aja dulu biar jumlahnya tujuh.

Those musicians probably just want to sing/make good music without even realizing how many souls have been saved.
read more.. "music helps"

Thursday, 16 October 2014

ngomongin seblak dan bandung

Postingan ini terinspirasi ketika gw sedang makan seblak basah yang dijual oleh mbak-mbak cantik, cocok buat direkrut main di tukang bubur naik haji. Setelah dipikir-pikir, Bandung tuh emang juaranya kreativitas, mau di bidang apapun *combong* *padahal bukan orang bandung* *tapi emang berasal dari bandung*.

Misalnya makanan nih ya, contohnya seblak basah. Buat yang ga tau seblak basah, itu tuh versi basahnya dari seblak *ya keleuzzz*. Seblak itu kayak kerupuk bantet yang bertabur bubuk cabe dan em-es-ge, luar biasah pokonya, luar biasah haus setelah makan seblak saking banyaknya em-es-ge. 

*ngeces sebaskom*
pic dari sini
Nah, kalau si seblak basah itu, bok, itu tuh pada dasarnya kerupuk yang lo godok terus dikasi kuah (yang dominan rasanya pedes, em-es-ge, dan kencur) lalu dikasi variasi pelengkap kayak ceker, bakso, siomay, dll. Terus kalau lu beli di tempat yang udah punya nama, meskipun di mamang-mamang pinggir jalan, seporsi kicik varian original yang isinya campurannya berbagai macam kerupuk harganya bisa 7000, yang mana kalau lu beli kerupuk mentah yang orange bisa dapet setengah kilo itu *bening anaknya apdet soal harga kerupuk* #DukungKerupukJadiMakananPokokIndonesia , terus kalau seblak kasta terendah ya yang isinya kerupuk orange thok, seporsi kicik segede upil 4000an lah. Mana kalau yang picky dan peduli estetika makanan mungkin ga akan doyan kali yak, secara kerupuk di godok kan jadi biyek-biyek-jemek gitu. 

Seblak kasta terendah: kerupuk orange thok
Seblak basah dengan campuran macem-macem.
Biyek-biyek gimana gitu kan wujudnya.
Kalau soal kreatif, kenapa gw bilang kreatif soal makan, because we are always able to bring foods to particular level. Ya kalo ngomong makanan endeus mah, mana sik tempat di Indonesia yang nggak punya kuliner yang enak? lha enak kabeh. Tapi yang bisa bikin kreasi macem-macem dan ngebikin suatu makanan keliatannya gimana getoh ya cuma Bandung. Oke, dari mulai bikin seblak versi basah aja udah kreativitas tersendiri, terus some creative minds bring to the next level by producing seblak basah instant. Yoihhhh banget mennn, kayak apa wujudnya? kayak pop-mie gitu lo tinggal seduh pake air panas!!! *prok-prok-prok* No I wont' post any pic of it *unless the pay me :))))*, you may google it and find it easily.  Bukan cuma seblak lho bok, tapi siomay (atau cuanki? hedeh gw lupa) ada versi instannya juga. Luar biasach memang!!!

Nah, itu baru ngomongin seblak doang. Belum ngomongin Maicih the phenomenon. Apaan sik coba itu layaknya keripik setan pada umumnya: keripik singkok dicabein dan di taburin em-es-ge. Tapi dese bikin pake level, kemasan menarik, dan sistem jualan yang berbeda pada awalnya, kan kece tuh. Gimana nggak jago coba kalau bisa bikin lo beli what-so-called keripik setan doang dengan harga puluhan rebo. Kemudian bemunculan keripik-keripik setan lainnya. Ya, sejenis Maicih wannabe, tapi tetep laku bok.

Belom batagor. Batagor dengan merk macem-macem yang harga sebijinya bisa dipake beli batagor seporsi kalau di mamang-mamang biasa, tapi tetep aja dikejar-kejar sama orang luar kota, belom percuankian yang rasane em-es-ge puolll tapi termahsyur ke mana-mana. Eniwe, ngomongin soal makanan di bandung, gw sih sebenernya termasuk golongan yang nggak apdet tentang perkembangan terkini dan tempat makan kece, so don't ask me, just don't *kurang G4UL*

Itu baru sbagian kecil makanan. Sebagian kecil banget sodara-sodara. Belum gera'an-gera'an anak-anak muda bikin acara dan komunitas sana-sini. Oia, kemaren juga denger perwakilan dari Indonesia baru juara satu festival lighting di Rusia *de heck is festival lighting I know nothing about*, ya dari mana lagi kalo bukan dari Bandung *satu almamater pulak*, belum salah satu gera'an mendorong orang-orang untuk pakai angkot sampai pernah ada angkot day (sehari naik angkot haratis) dan mereka lagi bikin workshop mobilism dan urbanism tentang angkot di Eindhoven, yoihhh Eindhoven *satu almamater jugak* *duile bangga amat*. Ya gitu deh kalau nyeritain bandung, aku suka bangga, meskipun gw sih butiran debu doang dan paling menuh-menuhin aja, ya sambil menggulirkan perekonomian lokal dengan cara jajan di mamang-mamang.

Gongnya sih ya walikotanya. Kita punya wali kota kece berat dan kekinian. Meskipun sekarang bandung udah nggak seenak dulu, udah padat-semrawut di sana-sini, kalo wiken macet nggak kira-kira gara-gara para pendatang *lirik pendatang*, tapi tetep masup one of most liveable city. Liveable city di Indonesia loh, bukan dunia *ya keleuz*
read more.. "ngomongin seblak dan bandung"

Sunday, 12 October 2014

Kepribadian INFP

Selain mainan kuis-kuis nonsense semisal ‘coffee oracle’, ‘what cookies say about you’, ‘what country you should live’, dan lain-lain, gw pun hobi mainan personality quiz/tes. Berawal jaman baheula pake tes yang empat kategori personality sanguine-melankolis-plegmatis-korelis, ya lumayan buat insight but it does not tell much, too broad. Terus karena dalam kehidupan yang fana ini gw kadang mempertanyakan apakah gw ini gila apa engga *yes call me weird* *tapi kan kata ahok kalo lo sadar bahwa lo gila, lo sebenernya nggak gila* *hidup ahok!!*I felt the urge to know myself better.

Apa hubungannya berasa orang gila sama personality tes? Jadi begini, gw kan kadang mempertanyakan kenapa gw begini-kenapa gw begitu-terus kontemplasi *cih!!*, terus mikir ngapain sih gw kayak gini? Apa orang lain gini juga? Kalo orang lain ga gini apa gw gila? Ato gw begini karena bawaan orok? Nah, kalau gw lebih tau tentang diri sendiri, gw berasumsi ada hal-hal yang bakal terjawab dan terkuak *tsahhh*. Ya udahlah gw mainan si kuis yang pake sistem 16 personaliti, dulu tuh pernah ngambil kuis ini juga, tapi dulu nggak terlalu digubris, pas ngambil lagi hasilnya masih sama, cuma source quiz nya aja yang berbeda.

Jadi gw termasuk jamaah INFP. Salah satu jamaah dengan populasi tersedikit di dunia ini ga tau kalo di mars. Ini bukan bangga karena berasa langka dan one of kind yah, malah jatohnya kzl karena akan lebih susah menemukan orang yang melihat sesuatu seperti cara lo. Karena ketika lo sharing sesuatu, emang enak untuk dapat insight dari berbagai pandangan, tapi ngezelin juga bok kalo jatohnya pandangan-pandangan kita malah disalahartikan muluk. Kzl. Kalo kata Jamie Cullum please don’t let me be misunderstood *nyanyi* *ituh album Interlude udah keluar*


Oh iya, tapi kalau baca sumber lain tentang populasi, hasilnya beda-beda. Mungkin ini hasil studi yang lama atau gimana. Atau mungkin lembaga survey yang dipake beda *lirik kisruh quick count pilpres* Jadi kalau gw sering bilang gw itu banyak hasidu (hayalan si dungu) ya udahlah emang bawaan orok, match dengan INFP type.

Ada yang mau tau detail hasil tes gw? *NGGAK!!!* bodo amat, I’ll post it anyway. If in any weird circumstances there’s a psychologist out there interested doing research using me as a case study, I’ll say yes gladly. Hyeuk!!



Surprised that I am introvert? No, no surprise, yes I am introvert, a little (12% ajah, tapi tetep introvert). I like being surrounded by people whom I am familiar with. In the party where others are totally stranger (except si empunya party) I tend to have conversation with one or two people rather than being a star and mingle with many people. In the conference I feel safe when listen to somebody’s talk or even give a presentation and feel like am going to die in the (coffee) break where I have to meet others and have meaningful or only small talk. That’s why, the idea of being  a decent researcher/scientist scares me because  I have to attend many conferences and making networking which am pretty shit on that. Idea of being decent researcher/scientist? See,  another hasidu of mine. Ya gitudeh, tapi sekarang sih hamdalah pengetahuan semakin maju dan anggapan-anggapan miring tentang orang introvert mulai menurun. Karena pada masanya, introvert itu identik dengan nggak bisa ngomong, nggak bisa komunikasi yang mana banyak institusi jadi ragu mempekerjakan orang kayak gini.  Pada kenyataannya, introverts are able to deliver great  presentation whatsoever. Dan satu lagi, there’s nothing about introversion and being shyness apalagi sama shy-shy cat *?!*, nope that’s a total different thing. You can go wild and crazy although you are an introvert *nunjuk hidung sendiri*

Ini kok bahas introvert?

Ya gitu deh. Baca profil sebagai INFP udah kayak baca personality berdasarkan jodiak *halah disambung-sambungin*  Ya kalo baca karakter berdasarkan jodiak tuh dikatainnya dreamer *shahih lah gw sebagai ratu hasidu*, kreatip dan imajinatip, cocoknya jadi artist Hollywood,   semacem penulis, art performer, nu kararitu lah. Pokoknya match banget deh Sis!!

Jadi diplomat? Ini shahih jugak. Pada suatu hari gw pernah ngambil salah satu quiz tentang strength-weakness kalo berkarir *yaolo ratu quiz* kemudian hasilnya bilang gw tuh cocoknya jadi sekretaris jendral UN, taelah hasilnya :)))) *dikepert bank ki moon*, yagitudeh, kalo ditanya kan jarang ngasih jawaban ‘ya’ atau ’nggak’, pokonya play safe di tengah-tengah supaya semuanya terakomodir…bihihihihik. Bos gw pada masanya magang pernah bilang, ‘Sana kamu jadi presiden aja *jadi presiden Indonesia? Nee!! baru memegang jabatan sebulan rambut udah putih semua setres. Cihh!!*, atau paling enggak jadi duta besar. Siapa duta besar Indonesia buat Belanda? Sana kamu gantiin!’! *kepret*

Udah ah bahas diri sendiri muluk. Etapi biarin ngomongin/nyeritain diri sendiri, daripada ngomongin orang, itu bergunjing *pasang cadar* *padahal hobi*

Pokonya gini, secara garis beras INFP itu:
 Termasuk golongan idealis (bingits). Dengan jumlah populasi yang sedikit, ini bikin INFP sering merasa disalahartikan, tapi sekalinya menemukan orang dengan pemikiran yang serupa –gak berarti sama kan yak- itu tuh udah kayak kebahagiaan luar biasa dan jadi sumber inspirasi. INFP itu cenderung mengedepankan prinsip daripada logic (analis), excitement (explorer), atau practicality (sentinels). Ketika akan mengambil keputusan, yang diutamakan itu honor, beauty, morality and virtue *ga tau aku bingung nggak bisa trenslet pake kata yang pas* Orang INFP itu biasanya bangga dengan kualitas yang mereka punya tapi nggak semua orang paham and it can lead to isolation. –‘INFP bisa berkomunikasi secara dalam dengan orang lain. Kekuatan untuk menggunakan intuitive communication ini bikin mereka cocok untuk kerja kreatif (penyair, penulis, aktor *daptar audisi tukang bubur naik haji* ). Hal ini pun bikin INFP cenderung mampu untuk menguasai bahasa-bahasa lain *mana buktinya?!?!*.
INFP lebih memfokuskan perhatian pada sedikit orang, a single worthy cause. Kadang mereka pun lelah karena terlalu banyak hal buruk di dunia ini yang nggak bisa mereka perbaiki. Akibatnya kalau tidak berhati-hati, INFP malah sibuk in their quest dan mengesampingkan hal sehari-hari yang butuh diperhatikan.   Mereka sering terjebak dengan pemikiran mendalam, kontemplasi mengenai hipotesis dan hal filosofis. Kalau dibiarkan, mereka bisa menarik diri dan butuh banyak energi untuk mengembalikannya.
Fyuh.

You know, the scariest part of taking personality quiz when the result exactly shows who you really are.

Sebagai pelipur lara karena sering menyusahkan diri sendiri dengan idealismenya and be misunderstood, ini dia jajaran orang INFP: Shakespeare, Tolkien, Bjork, Depp, Julia Roberts, Lisa Kudrow, Tom Hiddleston. 

Yang tokoh fiktifnya: Frodo (LOTR), Anne (Green Gables), Fox Mulder (X-files) *that’s why I can really relate to how he sees this world!!!* *ge-er nggak kira-kira*, Deanna (Star Trek), Wesley Crusher (Start Trek).

Kalau mau ngambil kuisnya bisa di sini, siapa tahu ada ngerasa butuh tahu dirinya dan merasa gila juga. Nanti kita ngomongin aspek lain dari INFP di postingan berikutnya *kalo nggak males*. Adios!!

      
read more.. "Kepribadian INFP"