Thursday, 20 April 2017

Makasih Koh Ahok :')

'Ngapain sih nulis-nulis tentang Pilkada DKI? Bukan orang DKI juga, pun yang diucapin makasih calon mantan gubernur kapir yang bentar lagi lengser...ihhhh...'

Ya nggak apa-apa, Michelle Obama aja gw makasih-in dan komentarin, apalagi Koh Ahok.

Meski gw bukan warga DKI dan cuma pernah tinggal sebentar di Jakarta dengan pengetahuan sebatas daerah Pancoran thok, tapi tetep lah, Jakarta ya Jakarta. Kota yang kalau buat sebagian orang ngasih 1001 kesempatan untuk punya kehidupan yang lebih baik, kota yang -kalau istilahnya temen gw- lain sendiri dan nggak merepresentasikan kota lain di Indonesia pada umumnya, kota yang disebelin sekaligus dicintai orang-orangnya.

Kemarin jadi hari penentu siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan Jakarta lima tahun ke depan .*lima apa empat sih? :)))* Kemarin juga sebagian orang bersuka cita karena calon gubernur yang didukung memenangkan Pilkada dan sebagian lain patah hati karena calon yang dia dukung kalah. Gw termasuk yang mana? Jujur aja gw termasuk yang patah hati, meski nggak sepatah hati ketika aplikasi lamaran ina-inu terus-terusan ditolakin atau ketika wipol in love with someone we can't have *cih!!* Tapi tetep aja gw patah hati.

Buat gw, Ahok nggak sempurna karena seperti yang Bunda Dorce bilang, kesempuraan hanya milik Tuhan dan nggak mungkin juga 100% bersih...sih...sih karena gw nggak pernah percaya ada politisi yang 100% bersih, bukan dalam artian nggak bersih=korupsi, tapi pasti semua bermanuver sana-sini untuk ngamanin kepentingan dan sebagainya. Tapi buat gw Ahok (dan Jokowi) adalah pemimpin yang bikin gw sadar kalau perubahan ke arah yang lebih baik di ibukota itu bisa . Pada masa kepemimpinan beliau gw nggak di Jakarta (obviously, and I silently wish that I would not have to live there. Dear Justin Trudeau, tolong aku direkrut sebagai mbok cuci piring), tapi testimoni orang-orang yang tinggal di sana nggak bohong, terutama soal pelayanan publik yang jadi lebih baik dan kesandungnya pekabat-pejabat yang *berniat* korupsi. Buat gw, contoh kayak gitu udah lebih dari cukup. Kalau kata orang-orang, Jakarta itu kejam, lebih kejam dari ibu tiri, ya gw rasa panteslah mereka dapet pemimpin yang galak.

Buat gw, Ahok juga memanusiakan manusia. Selama ini sering denger berita di mana dese bikin merebot (penjaga masjid) bisa pergi haji dan mempekerjakan pasukan oranye dengan gaji yang layak. 'Loh, kan naikin haji juga bukan duit dia? Tapi duit negara?' Iya emang duit negara, tapi kemana aja pemimpin sebelumnya nggak kepikiran amat? Inget kan cerita gw waktu main ke Penang dan secara random ketemu uncle-uncle Chinese? hal yang pertama di bilang, 'Gubernur kamu yang Cina-Kristen itu naik hajiin para penjaga masjid ya? Bagus.'

Soal menistakan agama. Sebenarnya definisi menistakan agama itu yang kayak apa sih? Kalau buat gw tindakan dia nggak bisa dibenarkan juga, nggak perlu nyitir ayat dari kitab suci umat lain, ya ngapain sih? Sesama umat Islam aja kalau nyitir ayat bisa dikapir-kapirin apalagi yang nyitir kapir bawaan orok? Gali kubur sendiri judule. Gw setuju kalau dia salah dan gw juga senang dengan kebesaran hati dia untuk meminta maaf. Tapi setelah itu ya seharusnya udahlah, ngapain diperpanjang dan diperkeruh dengan aksi bulanan turun ke jalan. Awalnya sih keren, ngeliat orang segitu banyaknya tumplek ke jalan tapi aksi berlangsung (relatif) aman dan tertib, tapi ujung-ujungnya males juga karena banyak halu bilang kalau yang turun 7 juta orang dan ketika dibenerin, yang ngebenerin malah ditanya balik agamanya apa. Lalu aksi ini jadi rutin, bulanan, dengan spanduk dan jargon yang isinya kebencian, ditambah banyak peserta demo yang bawa anak. Tapi giliran pulang dan nggak punya moda transportasi, pemerintah DKI juga yang direpotin buat nyedian alat transportasi. Dan hari ini ketika sidang vonis Ahok sedang berjalan, sepi pendemo...lahhhh, politis amat selama ini.

Tapi ya udahlah, nggak usah dibahas panjang, daripada gw nanti dikapir-kapirin terus dikatain, 'Buka aja jilbabnya sekalian Mba!!!' Etapi kalo beneran ni jilbab gw buka terus di akhirat ditanya, ya gampang aja jawabannya, 'Rangorang di Indo pada teriak-teriak nyuruh Saya buka jilbab ya Allah, tolong tuh pada diadili.' Fufufufufufufu....

Eniwei, apapun yang terjadi selamat buat Anies dan Sandi. Semoga banyaknya informasi negatif yang gw terima saat beliau menjabat sebagai menteri adalah salah. Semoga segala blunder, data salah, hitung-hitungan kacau selama ini hanyalah akting belaka. Semoga segala janji kampanye bisa dipenuhi. Ahok penah bilang, 'Ya kalau emang nggak mungkin dilakukan, Saya sih nggak akan bilang iya cuma buat kepentingan kampanye,' boleh gw berasumsi bahwa apa yang Anies bilang emang yang akan dia lakukan? Boleh lah yaaaaa....gw sih nungguin stadion sekelas Old Trafford, nyetop reklamasi (it's not because i am against reclamation, just because he's  so adamant to stop it, let's see), DP-0, dan nutup Alexis, gitu aja. Semoga dengan dukungan dari FPI nggak akan bikin tenun kebangsaan yang dijanjikan jadi rusak, semoga kebhinekaan tetap terjaga. Oke oke? 

Cek cenah mah, dalam sistem demokrasi you get leader you deserve.

Akhir kata, semoga hal-hal baik yang sudah bisa dicapai akan diteruskan oleh pemimpin selanjutnya, semoga yang masih kurang bisa diperbaiki. Sekali lagi, makasih untuk Koh Ahok (dan tentunya Pak Djarot juga), you set the bar so high and lead us by an examples, you'll be missed :').


p.s. Koh, semoga kasus penistaan agama segera berlalu dan kemudian jadi menteri.
Read More »

Wednesday, 19 April 2017

Jake Gyllenhaal My Laffff - Favorite Movies so Far

Long weekend kemarin judulnya mabok Gyllenhaal.

Gw ga pernah sadar keberadaan Jake Gyllenhaal sebagai aktor sampai sekitar tahun 2011 atau 2012 *wajar ya, gw baru tau siapa itu Paul Walker waktu doi kecelakaan dan meninggal...ppffffttt*. Pada saat itu, salah seorang temen gw punya spesialisasi mengamati gosip artis luar negeri, sedangkan spesialisasi gw baca detikhot, hyuk!! Nah, pada suatu waktu saat kami sedang bergosip, sampailah pada obrolan yang membuat dia nyeletuk, 'Enak banget Taylor Swift pernah sama Jake Gyllenhaal.' Tanggapan gw? 'Heh, sapose itu? John Mayer lah juaranya.'

Baru beberapa waktu silam gw kebetulan lihat dese main water war di Jimmy Fallon. Tanggapan gw? Ganteng ya bok, mau diajak basah-basahan pulak *eh*. Tapi pada saat itu gw pikir dia hanyalah some of Hollywood pretty face. Ya ganteng doang tapi nggak jelas *dirajam fans garis keras Gyllenhaal*. Setelah itu gw nonton Graham Norton dia sedang promo film End of Watch dan obrolan pertama antara Norton dan Gyllenhaal adalah tentang Gyllenhaal's healthy beard *penting abis* yang ternyata dia tumbuhin untuk kepentingan play. Reaksi gw saat itu, 'Hapah? dia main play? Oke dong dia bukan ganteng doang!!!' 

Dari situ gw mulai nonton film-filmnya dia dan sebagian merupakan drama/thriller/mystery/dark movie. Kusuka. Padahal sih film-filmnya kampret dan gw ga ngerti, maka ujung-ujungnya....



Setelah nontonin sebagian film-film dia yang mumpuni, reaksi utama gw adalah, 'Melanie Laurent ini apeu banget sih, di Enemy nganu beradu peran sama Jake Gyllenhaal di Beginners sama Ewan McGregor. Bikin album pulak. Life is unfair.' 

Meskipun gw belum nonton semua filmnya Jake Gyllenhaal, gw tetep keukeuh ngelist film favorit gw dari Gyllenhaal sejauh ini.

Film ini dibikin dengan style documentary di mana film ini mempertontonkan footage dari apa-apa yang terjadi ketika polisi berpatroli dan bertugas. Gw awalnya nggak tertarik karena kayaknya banyak ya dokumentari soal polisi yang bertugas, udalah cukup nontonin itu aja kalau pengen tahu kerjaan polisi. Ternyata gw salah, gw suka sama film ini karena bukan cuma mengisahkan polisi yang berpatroli dan menjalanakna tugasnya, tapi juga persahabatan dua orang polisi (Jake Gyllenhaal dan Michael Peña). Ketika mereka di belakang dashboard dan berpatroli, obrolan mereka ya tipikal dua obrolan cowok, kampret dan nggak penting, tapi begitu ada panggilan, mereka langsung tune dan it also shows how these two fellas really really watch each other's back *gw sedih karena inget endingnya*

Mz, leh kenalan ngga?
Pic from here
Dalam mempersiapkan film ini, selain latihan fisik *hyuk*, para aktor pun ikut patroli malam selama beberapa bulan bersama LAPD dan pertanyaan paling kampret datang dari Graham Norton, 'Pernah nggak ketika ikut patroli, sampai di lokasi kejadian lalu si pelapor berkata ,"My husband just beat me, oh wait!!! Jake Gyllenhaal!! (lalu si pelapor berkata pada suaminya) Ok, this time I'm leaving you!" Hahahaha...'

Teleque nih Graham Norton.  

Kesukaan banget ini. Mystery-crime-drama-thriller, berdasarkan kisah nyata dan sutradaranya David Fincher. Di sini Gyllenhaal berperan jadi kartunis yang terobsesi dengan kasus pembunuhan berantai. Di mana si pembunuh ini mengirimkan surat ke beberapa media cetak *yakali jaman dulu ada media dijital*. Kadang si pembunuh ngasih tahu detail perbuatan dia, kadang dia ngasih ancaman, dia pun mengirimkan teka-teki yang harus dipecahakan untuk mengetahui lebih lanjut hal yang berkenaan tentang dirinya. Gw suka banget dia di sini, peran dia sebagai kartunis bikin dia biasa banget dan nggak glamor sama sekali, ke mana-mana pake kemeja *apeu*. Saking terobsesinya sama kasus ini, dia melakukan investigasi sendiri dengan bukti yang dikirimkan ke media tempat dia bekerja bahkan sampai ngejar ke file storage-nya kepolisian. Saking terobsesinya, segala hal banyak yang terkorbankan termasuk pernikahannya. Lawan main dia di sini diantaranya Mark Ruffalo dan Robert Downey Jr.

Mz, liatin apa sih Mz??? Aku di sini Mz, di sini!!!
Pic from here.
Berbekal bukti dan analisa yang dia buat, akhirnya dia menulis buku tentang peristiwa pembunuhan berantai ini dan buku ini yang menjadi salah satu acuan dalam pembuatan film ini.

Ini juga kesukaan!!! *semua aja kesukaan, cih!!* Masih tipikal mystery-crime-drama-thriller yang disutradarai Denis Villeneuve, di mana Gyllenhaal berperan sebagai detektif yang berusaha memecahkan kasus penculikan anak. Salah satu orang tua yang anaknya menjadi korban penculikan di sini adalah Hugh Jackman. Di film ini gw emosi berat sama Hugh Jackman, seorang bapak yang anaknya hilang dan memiliki teori sendiri mengenai siapa penculik anaknya. Jackman pun 'menculik' tersangka penculik anaknya dan berusaha dengan caranya sendiri untuk membuat si penculik mengakui perbuatannya dan menunjukkan di mana dia menyembunyikan anaknya. 

Film ini nggak susah untuk diikuti dan endingnya pun jelas. Meski endingnya jelas, tapi penonton akan tetap dibuat emosi karena, 'Ya ampun ini endingnya??? Padahal itu dikit lagi nyet!!!'

Pic from here
Zodiac dan Prisoners ini sepaket menurut gw, kalau suka Zodiac tontonlah Prisoners, begitu pula sebaliknya.

Masih dari Denis Villeneuve, tapi yang satu ini kampret. Jalan cerita dan ending bikin gw, 'Ya Allah Tuhan YME, ini apose sih??' 

Di Enemy, Gyllenhaal memerankan dua tokoh, yaitu seorang profesor dan aktor. Pada suatu hari, seorang kolega di tempat dia mengajar menyinggung mengenai sebuah film, saat Gyllenhaal-profesor menonton film tersebut, dia menemukan salah seorang aktor yang benar-benar terlihat sama dengan dirinya. Mulailah banyak plot twist yang bikin puyeng pala berbi antara Gyllenhaal-profesor dan Gyllenhaal-aktor. Sepanjang fim gw terus berteori tentang apa sebenarnya yang terjadi meski ujung-ujungnya googling mengenai penjelasan film ini.

Pic from here
Kesel sih nonton film ini, apalagi kalau otak tebiasa mencerna komedi-romantis sejenis Love Actually atau Notting Hill yang nggak perlu mikir.  

Gyllenhaal memerankan seorang yang nggak punya pekerjaan dan karena sebuah kebetulan dia memulai karir sebagai jurnalis kriminal. Dia mendokumentasikan peristiwa kriminal dan berusaha menjual secara eksklusif pada stasiun TV. Segala cara dilhalalkan supaya berita yang didapat bisa terlihat jelas (secara visual) dan seekslusif mungkin.

Kurus abis demi peran.
Pic from here.
Banyak banget yang mengaggap bahwa sejauh ini Nightcrawler adalah film terbaik dari Gyllenhaal. Tetep gw mah nontonnya emosi. Emosinya bukan karena jalan cerita yang bikin gw nggak paham tapi emang jalan cerita filmnya bikin emosi, bawaannya, 'Astaga, lo ngapain sih??? Udah oyyy, cukup!!!'

Ini juga kampret, meski nggak sekampret Enemy. Ada cerita di dalam cerita. Ada cerita di masa kini dan masa lalu, kesel nggak you? #rhyme 

pic from here
Amy Adams adalah seorang pemilik galeri yang mendapat novel kiriman mantan suaminya (Gyllenhaal). Ketika Amy mulai membaca novel tersebut, visualisasi Amy terhadap apa yang dia baca ditunjukkan dalam film tersebut (ada cerita dalam cerita), Amy merasa bahwa novel tersebut adalah manifestasi dari perasaan Gyllenhaal terhadap apa yang terjadi dalam hubungan mereka. Hal ini membuat Amy flaschback ke masa lalu, awal mula hubungan dia dengan Gyllenhaal (ada cerita masa kini dan masa lalu). Baik cerita dalam kehidupan yang nyata maupun cerita dalam novel, sama-sama dark dan kampret, belum lagi peran Aaron Taylor-Johnson dalam cerita novel yang nyeremin. 

Endingnya juga bikin perasaan ngenes.

Btw, kalau lo suka Nocturnal Animal, maka nonton A Single Man (kalau belum nonton) adalah wajib hukumnya, Tom Ford ini desainer dan cuma menyutradarai dua film tapi keduanya kampret dan dark.

Gw nonton ini lebih karena iming-iming transformasi dari body Gyllenhaal yang memerankan petinju *ketebak ya* Gw pikir ini cerita tentang petinju belaka, ternyata ini lebih ke redemption story sih kalau gw bilang. Emang ya, kalau belum gagal atau kehilangan, manusia emang masih disilaukan oleh berbagai hal; ngerasa yang paling, ngerasa punya ini-itu, ngerasa jagoan selalu. 

Eug masih penasaran, kalau dada muluz begini shaving apa waxing?
Pic from here 
Setelah kehilangan istrinya, segala harta benda, sampai hak asuh anaknya, Gyllenhaal akhirnya berusaha untuk bangkit dan berubah. Ngono thok inti ceritanya, tapi tetap layak untuk ditonton. 


Di luar film di atas, kayaknya Brokeback Mountain dan Donnie Darko tuh jadi semacam film wajib tonton dari Gyllenhaal. Peran dese lumayan menantang di Brokeback Mountain,  di mana saat itu tahun 2005, dengan seting tahun 60-an dan mengangkat topik gay kan agak tricky juga ya, meski gw selalu yakin mereka nggak gay di film tersebut, entah biseks atau terbawa suasana *dibahassss*. Meski rating filmnya tinggi dengan berbagai puja-puji dan dese mendapat nominasi Oscar, tapi tipe film ini bukan favorit gw. 

Sedangkan Donnie Darko sendiri tuh kayaknya jadi titik balik di mana Jake bener-bener mendapat banyak perhatian dan komentar, 'Ih, ni lekong sesuatu deh!!' Secara selera, gw  lebih milih  Donnie Darko daripada Brokeback Mountain  meskipun muke gile nggak paham cerita Donnie Darko :)))).

Selain mumpuni berakting, doi pun ternyata mumpuni dalam hal tarik suara, bahkan Mindy Patinkin sebagai pemeran asli George mengakui hal itu. Nggak heran sih ya kalau ngeliat latihan dia dari video ini.


Okelah, gw mau latihan vokal dulu, siapa tahu besok-besok dapet peran broadway duet bersama Gyllenhaal *kalau halu jangan nanggung*

Read More »

Monday, 10 April 2017

Sosial Media

Bahas sosial media itu nggak ada habisnya. Gw menghabiskan banyak waktu di sosial media *no wonder I have no real social life :)))*, entah aktif posting atau aktif making a silent judgement akan hal yang berseliweran di sosial media.

Tiap ngomongin sosial media, gw biasanya jadi kontemplasi. Apalagi dua hari belakangan gw sempet baca ini (poin nomor 1), baca ini dan nonton video ini (tonton videonya sampe kelar, gw selalu ngakak tiap nonton Gervais, doi terlalu brilian, ❤ ).


Dari menit 2.10 Ricky Gervais sempet ngomong, '....."my opinion is worth as much as your opinion," but people started thinking that,  "my opinion was worth as much as your facts," and that's just not true. And that came from people finding their groups and on social media, they found their mobs, their found comfort with like-minded people. And it was like two armies.' Dia lanjut lagi, 'Social media is another form of communication, another outlet you know only amplifies things. You can't say this is terrible, there are idiots on Twitter, but there are idiots on high street, you got to go there, probably at the same percentage. It's just that now people feel that they have voice. Most people wouldn't sat things to you in the street they would on Twitter.'   

Kok bener banget sih?!?!?! 

Gw juga nggak tahu gimana menarik benang merah secara mulus artikel yang ditulis MbaLei, omongan Ricky Gervais, atau artikel di 1843Magazine. Tapi gw ngerasa apa yang ditulis/diomongin di situ sangat berkaitan dan bener banget. 

Dari video di atas, gw sih ngerasa banget. Gw ngetwit tentang apa pun, dari Trump sampai Gert Wilders, bahas Ewan Mcgregor sampai Adam Levine, ngomel ga puguh ngetwit ga jelas dan tiada guna. Gw mungkin masih bakal bilang, 'You are hot I like you a lot let's get a room,' kalau hadap-hadapan sama Adam Levine atau Ewan McGregor, tapi kalau gw hadap-hadapan sama Trump atau Wilders, emang gw bakal bilang semua yang pernah gw tulis di sosmed? Hhhhmmmmmm, kemungkinan engga. Atau ketika isu DP 0% sedang panas-panasnya, secara nggak langsung gw bilang DP 0% di Indo untuk saat ini itu halu. I found my mob, most of people I follow on Twitter said it so, I found my armies, my comfort with like-minded people. But if I stand face to face with Pak Anies, will I say it? Well maybe no...eh wait, yes, most likely YES. I think I still dare to do it :)))))) *self toyor*

Meskipun begitu, pada kenyatannya gw yakin kalau banyak sekali ocehan gw yang hanya berani gw tuangkan di Twitter. I feel that I have a voice, I have my own stage. Gw liat banyak banget fenomena kayak gini, dari mulai mereka yang kerjaannya menghina pemerintah sampai jelek-jelekin presiden, eh begitu ketemu presiden sih mingkem dan ngajak foto bareng. Atau orang-orang yang berkata kasar atau menyulut twitwar dengan seseorang, tapi begitu dikontak secara personal, diajak ketemu dan ngomong, eh tiba-tiba mingkem dan mengkeret semua. Yes, the power of the mob and like-minded people. Seperti yang dibilang MbaLei dan juga hasil pengamatan gw di akun Lambe Turah *ketauan deh, gw antek-antek lamtur :)))*, ketika ada suatu berita naik di LamTur, beuhhhhh, komen-komennya bikin ngelus dadanya Jake Gyllenhaal. Tapi ketika gw iseng-iseng *iseng-iseng? emang niat elo mah Ning!* cek beberapa akun yang kasih komen pedes dan luar biasa kasar, mereka biasanya akun privat. They found their mob, their like-minded people, together bashing some other people but hide behind private account, why? because why not. It's like, 'I am allowed to judge and bash you, but sorry you can't do the same.' 

MbaLei sempet menggarisbawahi juga kalau yang namanya sosial media itu terkurasi, yang mana bener banget. Ada bagian dari artikel 1843Magazine yang ,ya ampun!!!, kok bener banget.
The internet and social media don’t create new personalities; they allow people to express sides of themselves that social norms discourage in the “real world”. 
Artikel itu pun menunjukkan hasil penelitian yang, lagi-lagi, astaga kok bener banget.

.....giving subjects a simple task: describe your day to both one person and to a group of people.
The researchers provided each participant with details from an imaginary day, with several enjoyable events (like joining a friend to see an excellent film) and some letdowns (like ordering an underwhelming dessert at a local bakery). They asked par­ti­ci­­­pants to document the day in letters written ­for each audience.
Here is an excerpt from a note in the study intended for just one friend: “My day had a rocky start. After a brief meeting with my mentor, which I was late for by the way, I met up with Charlize to go see a movie…I took her to the Cheesecake Factory for some dessert but they were closed and we had to settle for a Hot n Crusty around the corner. Womp Womp!”
And here is a selection from a note intended for a larger group: “Hey guys! I had a great weekend! I went with a couple of friends to see Iron Man 3. It was phenomenal. I really really enjoyed it! I thought it was way better than the second movie.”
In the first letter, the author was frank and self-deprecating. In the second, she airbrushed out her disappointments to make her day as enviable as possible. This is the vanity of crowds.
Betapa sosial media dan dunia maya ngasih ruang untuk mengekspresikan suatu sisi yang nggak mungkin bisa dilakukan di dunia nyata. Ngasih panggung untuk diri sendiri, menemukan orang-orang yang serumpun dan sefrekuensi.  

Betapa terkurasinya sosial media. Betapa besarnya usaha yang dibuat untuk menunjukkan pada khalayak bahwa my day is so enviable. Sungguh fana *menerawang jauh ke depan*. 


Auk ah.

Seperti yang pernah gw bilang, gw masih suka sosial media. Mungkin yang paling penting adalah manage diri supaya nggak jadi golongan idiot sepertu yang Ricky Gervais bilang dan ingatkan diri sendiri bahwa di balik semua postingan bahagia orang-orang di sosial media, boleh jadi itu yang mereka rasakan atau mungkin itu hanya bagian dari vanity crowds. 

Akhir kata, wabillahi taufiq wal hidayah, selamat kembali bermain sosial media. 
Read More »