Wednesday, 3 February 2016

(Tentang) Bahasa Inggris

Tenang aja, bukan mau ngasih tips lancar berbahasa Inggris, lha wong sampai sekarang Bahasa Inggris masih belepotan dan writing skill pun memble. Ini cuma mau ngomongin betapa kadang kita sangat takut untuk berbicara Bahasa Inggris, terutama takut salah dan takut dijudge sama orang lain, padahal sih nggak gitu juga.

Sejarah kemampuan gw dalam berbahasa Inggris nggak impressive sama sekali *watir*, meski dari SMP udah masuk les, ditambah nilai Bahasa Inggris di sekolah dan tempat les pun bagus, tapi ternyata kenyataan tak seindah bayangan. Jaman kuliah, di kampus gw, kelas Bahasa Inggris dibagi tiga kelas berdasarkan skor TOEFL, kelas reading (TOEFL kurang dari 450), kelas presentasi (450-475), dan kelas writing (lebih dari 475). Ketebaklah gw masuk kelas yang mana, sudah barang tentu kelas reading :)))).

Maju beberapa tahun di era gw apply-apply sekolah dan beasiswa, tentu ada syarat kemampuan Bahasa Inggris. Gw bersyukur juga gw terdampar di jurusan IPA  yang mensyaratkan Bahasa Inggris cenderung lebih kecil (IBT at least 79-80) dari kelas IPS (92-93). Nah, kalau gw udah lolos syarat IBT, berarti Bahasa Inggris oke dong? YA ENGGA JUGA KELEZZZZ. Buat gw, dan gw yakin buat beberapa orang lainnya, yang namanya tes TOEFL (atau IELTS atau apa pun) itu targetnya ya buat lolos, yang penting skor yang diinginkan tercapai. Miriplah sama SPMB, aslinya mah blangsak ga ngarti-ngarti amat, cuma banyak latihan soal sama ngikutin guideline aja dan ditambah sedikit hoki. Lama-kelamaan terbiasa dan berhasil lolos. HAHAHAHAHAHAHA, jangan ditiru ya, latihan banyak dan pake cara cepat sungguh membantu, tapi kalau bisa paham, itu jauh lebih baik lagi.

Nah, balik maning ke masalah takut ngomong Bahasa Inggris. Ya envelope, gw ngalamin banget. Seumur idup selalu pake Bahasa Indonesia campur Jawa dan Sunda, ditambah bahasa bencong dan bahasa G4UL ala Debby Sah3rtian, kacau semua. Meski pernah ngambil kelas presentasi dan ngalamin speaking section pas IBT, tapi tetep nggak ada yang ngalahin sensasi jatuhnya level kepercayaan diri ketika ngobrol dengan bule yang jago Bahasa Inggris. I stutter in an instant.

Masalahnya bule Landa kan emang salah satu golongan bule dengan kemampuan Bahasa Inggris mumpuni (tahun 2012 tiga besar di Yurep: Sweden, Denmark, Netherlands), maka hampir setiap gw ngobrol sama orang Belanda gw gagap dan ga pe-de samsek (kecuali gw nyaman sama orangnya) meski  lama-lama membaik sih. Terus apa jadinya kalau gw ngobrol sama English native speaker? tambah memble dong? Engga juga sih, soalnya gw tahu, mereka jago Bahasa Inggris karena emang itu Bahasa Ibu mereka, karena mereka dari lahir udah diajak komunikasi pake Bahasa tersebut, ya wajar kalo jago banget dan gw ga peduli kalo gw jadi terlihat begok banget.  Lain cerita dengan bule Landa, mereka nggak lahir dengan Bahasa Inggris, tapi mereka jago Bahasa Ingrris (ya emang sih  karena sistem pendidikannya yang mumpuni), kepercayaan diri langsung drop shayyyy.

Terus gimana dong? Ya nggak gimana-gimana sih. lama-lama semua membaik. Ada beberapa faktor yang nolong, misalnya kemampuan Bahasa Inggris orang lain yang, kalau kita analisis secara seksama, sebenernya sama memblenya dengan kita (atau bahkan lebih memble) tapi kok ya ngewes melulu kesana-kemari. Lha, kalau dese aja berani , masa gw yang (kayaknya sih) nggak sememble itu nggak berani? Rugi dong gw, kapan bisanya kalau nggak mau belajar ngomong? 

Faktor lain yang membantu adalah hasil analisis terhadap para bule ketika mereka nanggepin orang yang Bahasa Inggrisnya memble kek gw. Setelah gw liat-liat, mereka mah biasa bangetttt, woles aja kalo kita lupa suatu kata, nggak tahu suatu istilah, atau ngomong nggak lancar. Mereka pun sama aja, kadang kalau lagi ngobrol berhenti lalu, 'Wait, I don't know the English word for it.' Lama-lama ya gw cuek aja, kalau lagi ngobrol dan nggak tahu istilahnya dalam bahasa Inggris ya bilang aja, kadang masih usaha mendekripsikan, tapi kalau ternyata buntu, tinggal bilang, 'Forget it,' atau minta pertolongan g-translate. Kalau tahu katanya tapi ga bisa mengucapkan, eja aja hurufnya, nanti mereka yang bantu kasih tahu pelafalannya. Sejauh ini, orang yang gw temui sih baik-baik aja (ya mungkin ada yang ngenyek atau nge-judge dalam hati, tapi gw yakin orang seperti ini ya minoritas).

Intinya, kadang akar dari ketakutan untuk ngomong dengan Bahasa Inggris adalah perasaan Ge-Er belaka. Ge-Er kalau yang diajak ngomong ga bakal ngerti atau Ge-Er kalau bakal dijudge sama lawan bicara, padahal mereka ora peduli, yang penting buat mereka maksud nyampe dan bisa komunikasi. Terus gimana kalau nemu lawan bicara yang ngenyek karena kita memble? ya ga usah ngobrol sama dese, cari orang lain buat diajak ngobrol. Kalau memang kita tetep harus kerja bareng sama doi, ya udah ngobrol seperlunya aja, dan tetep ngobrol dengan orang lain yang baik, niscaya lama kelamaan kemmapuan bahasa akan membaik, pasti.
 
read more.. "(Tentang) Bahasa Inggris"

Friday, 29 January 2016

Progress towards Parity

You may feel sick for I posted about this on my Twitter and also Instagram, but for me, indeed it's really good talk. I have never imagined that I would very much enjoy watching that panel talk since this whole time I only enjoy watching music video and talkshow on Youtube. Again, if you have time and smooth internet connection, please watch.


Is there any duplicate of Trudeau in this Galaxy? I want one! 

I found the transcript of the talk here, but then these are some of my favorite parts:

Trudeau: One of the things – like I’m incredibly proud to have a partner in my wife Sophie who is extremely committed to women and girls’ issues, but she is – you know, we’re of a like mind on it, and I agree with her on that. And I’ve been very thoughtful about how we raise our daughter. But she caught me – or she took me aside a few months ago and said, “Okay, it’s great that you’re engaged and modelling to your daughter that you want her in power and everything, but you need to take as much effort to talk to your sons” — my eight-year-old boy and my two-year-old’s still a little young still — “about how he treats women and how he is going to grow up to be a feminist just like dad.”

And by the way, we shouldn’t be afraid of the word feminist. Men and women should use it to describe themselves any time they want. (Applause.) But that – that role we have as men in supporting and demanding equality, in demanding a shift is really, really important. And there’s lots of other things governments can do and we’re trying to do but —

Gates: .....blablablala....And the second thing I would say is if you are a male in this room — and I think somebody asked earlier what can we do — get 10 men that you know who believe in women and get them to publicly speak about it. When our foundation was first formed and was being talked about in the press, Warren Buffett got asked about Bill’s participation in Bill’s foundation. And he said, “I won’t answer those press questions unless it’s about Bill and Melinda. They are doing this equally.” I’ve been asked here numerous times about Mark Zuckerberg’s new initiative with his foundation at this forum, and I say about it’s not about Mark, it’s about Mark and Priscilla. We have to all talk about this publicly, raise up women.

*standing applause* 

p.s. Alanda Kariza was among the audience and asked question to Trudeau.
read more.. "Progress towards Parity"

Friday, 22 January 2016

Plastik

Maksudnya kantong, kantong plastik. Bukan operasi plastik.

Krik.

Jadi, menurut kabar yang beredar di timeline, Bandung akan segera menerapkan sistem plastik berbayar, bagus juga ini mengingat Indonesia masuk lima besar pembuang plastik terbesar di dunia. Kalau nggak salah, bahkan sisa di luar lima besar ini kalau sampah plastiknya ditotal masih di bawah si lima besar ini *cmmiiw*. 

Eh bentar, akik mau disclaimer dulu, gw mah bukan aktivis dan gw sama sekali TIDAK anti sama penggunaan kantong plastik *meski dulu jaman kuliah pernah berpartisispasi dalam anti plastic bag campaign, Hyuk!* Lha kalo anti, gw abis renang baju basah kopoh-kopoh mau gw gembol pake apa? Karung? Paling gw cuma melakukan hal sederhana yang bisa dilakukan sehari-hari. Ih, kan situ bekgronnya Teknik Lingkungan? Ah, gada hubungannya kok kalau buat akik. Your mentality does not depend on that, hahahahahaha. Kalo berhubungan, boleh tanya dong anak-anak ekonomi udah pada bener belom keuangannya? Investasi udah sampai mana? Cash flow priye? Moahahahahah. Pret.

Salah satu hal yang bikin gw kaget saat pertama pindah kemari adalah penggunaan kantong plastik yang cukup masif, sistematis, dan terstruktur. Biasa, ekspektasi dari negara yang udah maju adalah concern terhadap lingkungan yang cukup tinggi, ya nama pun negara udah maju, urusan mendasar dan remeh sudah terpenuhi. Ternyata Singaparna lumayan anomali. Selain penggunaan kantong plastik yang nggak berbayar dan nggak dibatasi, hal lain adalah soal buang sampah. Di sebagian tempat memang ada fasilitas tempat sampah yang dipilah, tapi di sebagian tempat lainnya sampahnya ya jadi satu semua, was-wes-was-wes, semua buang di tempat yang sama.

Untuk plastik lumayan kaget karena selain nggak ada insentif *bener nggak nih istilahnya?*, supermarket juga super mureee dalam urusan ngasih plastik kepada konsumen. Misal nih ya, kalao di Indo, mbak kasir akan kasih banyak plastik kalau 1) kita belanja banyak *yeah it's obvious* dan satu plastik sudah barang tentu tidak cukup 2) ada produk  basah di belanjaan, misal beli biskuit, cemilan dan juga tahu. Biasanya kita akan di kasih plastik kecil terpisah untuk tahu  3) kalau ada bahan kimia, misal beli makanan dan deterjen.

Nah, sedangkan di Singaparna, selain prinsip nomor 1-3 dipake, mereka juga kalau ngasih plastik was-wes-was-wes kayak orang kentut pas lagi masuk angin!!! Nggak ngerti alasannya apose. Satu kresek segede alaihim gambreng boleh jadi cuma isi satu atau dua item. Misal lo cuma belanja pisang, anggur satu boks, dan madu. kemungkinan untuk dapet satu plastik memang besar, tapi kemungkinan bahwa mbak kasir bakal ngasih lo dua plastik pun sangat besar. Padahal kalau disusun dengan bener dalam satu plastik, satu belanjaan nggak akan ngerusak belanjaan lain (eg. boks anggur bikin pisang jadi penyet). Entahlah ku tak paham.

Hal lain adalah buang sampah. Awal-awal di mari gw pernah nanya tentang buang bohlam.

Me:  'Ini gw ada sampah bohlam di rumah, buang ke mana ya?'
Friend:  'Ah buang aja sama sampah sehari-hari kamu.'
Me: 'I thought it's Singapore not Indonesia.'
Friend: 'Ada sih tempat buang bohlam, tapi ga di setiap apartemen ada. Udah buang sama sampah lain ajalah.'
Me: .....

Ya udahlah, gw buang sama sampah lainnya. *dear aktivis lingkungan, silakan kalau mau jambak dan ngelepehein gw :)))* 

Ini lumayan mengagetkan sih, soalnya gw pikir pemilahan sampah cukup kuat di mari, nyatanya sih enggak segitunya, banyak yang menyatukan sampah, lalu buang gitu aja. Meski ga sedikit juga sih yang paling nggak milah sampah kertas/karton. Tapi gw nggak merasa urgensi yang tinggi dari melakukan pemilahan ini, hahahahahahaha. Mungkin gw salah pergaulan barangkali.

Gw mah anaknya gitu, dalam hal-hal tertentu peer pressure nggak mempan tapi dalam hal-hal lainnya herd mentality tertanam kuat dalam diri gw :)))). Contohnya waktu di Belanda, koridor gw salah satu koridor paling apik (gw anaknya pernah pindah tempat beberapa kali dan hobi mengunjungi teman di berbagai koridor), anggotanya rajin bebersih dan sampah dipilah secara paripurna: sampah domestik, kertas&karton, plastik dan botol plastik, botol beling, batere, hazardous waste, dan bohlam. Tidak lupa bahwa pada akhirnya botol beling dipilah lagi berdasarkan warna: hijau, coklat, transparan (mbuhlah, aku lali), kurang ribet apalagi coba hidup ini.  Karena anggota koridornya apik, yang gw kebawa-bawa apik dong, ya mau nggak mau :)))).

Biarpun supermarket royal dalam memberikan plastik kepada konsumen, mungkin karena sebanyak-banyaknya penduduk di sini nggak akan banyak juga *ini kalimat apaan coba*, jadi pada akhirnya ya sampah plastik nggak banyak. Terus hal lain mungkin karena treatment di hilirnya udah mumpuni kali yak (misal, pake insinerator beneran, bukan insinerator abal-abal yang temperaturnya nggak nyampe ke temperatur aman dalam membakar plastik) jadi semua baik-baik aja. 

Semoga aja dengan plastik berbayar di Indo keadaan jadi lebih baik. Ga muluk-muluk perubahan yang super drastis, hal sederhana udah cukup kok. Sesederhana mbak-mbak kasir yang nggak lagi nyindir pembeli yang nolak plastik atau mbak kasir yang nggak lagi  kekeh ngasih plastik karena membiarkan pembeli pergi dari supermarket tanpa plastik dianggap harom hukumnya. Ya gw pernah cuma beli minum sebiji, lalu gw tolak lah kantong plastik, mbaknya malah bilang, 'Mbak nggak apa-apa ambil aja plastiknya, kita masih punya banyak.' Ya kali masih punya banyak, nama pun supermarket.

Bbbbbzzzzttt.
read more.. "Plastik"

Wednesday, 20 January 2016

Nama adalah Doa

Sejak Desember sampai sekarang, gw belom banyak kerjaan lagi, secara reaktor akik belum jalan lagi *ga tau harus seneng apa sedih*. Jadi ya begini ini, tengah hari menuju waktu pulang malah ngeblog. Nggak papa kan ya? Iya nggak papa *nanya sendiri jawab sendiri*. Kemarin-kemarin koleha dari Danemark baru mampir, mereka kabur dari kejamnya winter di sana, kemudian bertemu dengan panasnya Singaparna (dari minus sekian belas ke plus tiga puluhan). Manapulak pas mereka ngunjungin wastewater treatment plant pake setelan lengkap suit, blazer, dress shoes gara-gara abis pada miting. Poor gentlemen :))).

Eniwei, gw baru kelar baca Drunk Tank Pink: And Other Unexpected Forces That Shapes How We Think, Feel and Behave - Adam Alter, mayanlah, seru. Bukunya tentang apa yang dia sebut di judul, sangat obvious memang :))). Meski kalau ngasih contoh keknya kurang komprehensif dan banyaaaakkkk banget contoh yang dia kasih udah muncul di buku lain yang sejenis, tapi ya mayanlah, gampang dipahami. Bagusnya, Alter bisa bikin jalan ceritanya. Ibarat pelajaran mengarang di kelas Bahasa Indonesia, akhir dari suatu paragraf baiknya menjadi pengantar bagi bahasan selanjutnya, di bagian ini Alter dapet. 

Ini sebenernya postingan nggak penting sih, ya seperti biasa lah. Di awal buku, Alter nyeritain tentang nama. Udah pada apal kan ya sama istilah 'Nama adalah Doa,' meskipun gw juga kurang paham doa di balik nama gw apa sebenernya dan output  apa yang diharapkan emak dan babeh gw dari nama gw.


(((OUTPUT)))


Lah, terus tiba-tiba gw baca buku ini dan bab awal udah ngebahas tentang nama, misalnya...


Tapi bahasan utama dari bab itu bukan 'nama adalah doa' juga sik, gw aja yang kurang kerjaan ngehubung-hubungin :)))). Terus gw mikir, gw terjebak di kerjaan gw gara-gara nama gw? Gw udah (rada) belok sikit pas ngambil jurusan master terus pas internship ujung-ujungnya mirip kek kerjaan gw sekarang. Jadi salah siapa? Salah (nama) gw?! Salah temen-temen gw?! Terus gimana cara cita-cita gw jadi artes internesyenel bisa kesampaian? #Halu.

Yowislah, jadi gimana, udah siap kasih nama anak 'Kaya Harta Slamet Dunia Akherat,' belom?
read more.. "Nama adalah Doa"

Thursday, 7 January 2016

Terinspirasi dari 'Dalam Rangka Tujuh Belasan'

Pada suatu hari gw baca tulisan mbarika yang ini. Lalu gw tertohok, 'Eaaaa amponnn kesindir gueeee.'

Bagian ini:
Dan menilik dari banyak blog yang pernah gue baca -sepertinya sih ya, kalo gue boleh menyimpulkan- suka ada kecenderungan di antara blog perantau untuk bikin tulisan yang membanding-bandingkan tanah air kita dengan negara lain. Dalam perbandingan tersebut biasanya Indonesia dituliskan sebagai pihak yang kalah atau bahkan bersalah. Kecenderungan ini santer di kalangan perantau baru, baik online maupun offline, tapi semakin lama seseorang merantau komen-komen yang berat sebelah ini semakin berkurang. Kalopun ada perbandingan perspektifnya lebih objektif dan lebih dalam. Gak sekedar “Nih, liat nih di luar negri begini. Lo-lo mah yang di Indonesia tuh salah…salah semua!”
Bandung-bandingin tuh wajar banget yah, mau belanja cabe seons aja biasa bandingin di warung ini sama di warung itu, cari yang lebih murah, cari yang lebih seger mas penjaga warungnya cabenya, dan yang ramah penjualnya. Ya apalagi tempat buat hidup. Semua orang maunya yang nyaman, yang fasilitasnya bagus, yang orang-orangnya waras, yang pemerintahannya baleg, yang sekolahnya gratis, yang barang-barangnya murah, yang ini, yang anu, pokoknya yang sempurna. Pertanyaannya, emang ada tempat tinggal yang sempurna? Mau dibandingin sampai Liverpool juara liga kapan pun nggak akan ada habisnya. 
 
Ini gw mau pengakuan yah, sebagai cewek soleha yang lahir dan tumbuh di Indonesia -yang mana negara berkembang, carut-marut, dan tertinggal *eaaaa, mulai ngehina-hina negara sendiri* *tampar*- lalu dapet kesempatan ngerasain tinggal di Belanda selama dua tahun, kecenderungan untuk selalu banding-bandingin negara tuh nggak bisa dihindarkan sema sekali. Indonesia kok ya bobrok banget sihhh??? Apa-apa benchmarknya sama Belanda dan apa-apa yang salah pasti Indonesia sampai akhirnya gw mikir *meskipun sampai titik ini gw masih suka banding-bandingin* 

YAELAH NING, BARU PERNAH TINGGAL DI LANDA DOANG UDAH BELAGU, YANG LO LIAT TUH CUMA LANDA, CUMA LANDA!!! ONE COUNTRY OUT OF 196 COUNTRIES IN THE WORLD. *tampar diri sendiri*

Berangkat dari situ, gw mikir, bahwa pernah tinggal di satu negara yang lebih maju dari Indo tuh bisa jadi pengalaman bagus, tapi di sisi lain bia menjadi satu bahaya laten. Ya itu tadi, baru pernah tinggal di satu negara doang, belum liat apa-apa di luar itu, jatuhnya cuma bisa banding-bandingin apa yang diliat di Indo dan negara maju tersebut. Temen gw pernah cerita (pas lagi sama-sama di Landa), 'Yaelah temen gw, ikut suaminya sekolah ke US, status febuknya bikin pusing, tiap update pasti banding-bandingin doang, sampai WC aja dibahas. Gw juga suka kesel sama apa-apa di Indo, tapi ya ngga gitu-gitu amat juga.' Ya iya sih :)))))

Mau tahu apa yang bikin lebih capek? 

X: 'Gw ga suka banget deh ni Jakarta, Jakarta tuh [insert semua kata dengan konotasi negatif].' 
Gw: 'Ya udah, pindah dari Jakarta, ke [insert nama kota lain di Indo] misalnya.'
X: 'Nggak mau ah, kalau di [nama kota tersebut di atas] nggak ada apa-apa banget, sore-sore aja udah sepi. paling enak tuh emang di [insert negara maju].'
Gw: 'Ya udah coba apply kerjaan ke sana.'
X: 'Susah kali kita orang Indo, pasti diprioritasin orang aslinya.'
Gw: 'Ya coba cari posisi PhD, pasti lebih besar kemungkinannya.'
X:  'Nggak ah, gw nggak mau PhD, pusing.'

Terus karepmu ki opo? Puyeng deh berbi.

***
Terus gimana dong? Kalau ada kesempatan tinggal di luar gimana? ya masa ditolak, toh pada kenyataannya banyak negara lain yang memang lebih baik dari Indo, terus priye? Ya jangan sampai nggak mau juga buat merantau, kalau ada kesempatannya ya sikat lah, gile apa!!! Lha emang udah nature-nya manusia kan ya untuk mencari yang lebih baik, kalau ada pilihan yang lebih baik ya diambil.

Terus kalau nanti jadi belagu gimana? Coba kalau punya duit lebih, dipake buat yalan-yalan. Seenggaknya keluar sedikit, bisa liat ada apa di sana. Mungkin Indonesia emang blangsak, tapi ada banyaaaakkkk yang lebih blangsak dan akhirnya bisa bikin bersyukur. Kayak waktu itu gw diceritain temen gw yang balik training dari India. Dia bilang kalau lo pikir Jakarta ancur dan semrawut, coba lo mampir Bombai, lo bakal langsung bersyukur jadi orang Indonesia. Btw, she traveled there alone. thing I will not going to do when in comes to visit India, serem bok, Indihe gitu lochhh *bayangin mamang-mamang Indihe yang hobi nyamperin gw*
 
Oia satu lagi, hampir lupa gw. Gw penah baca, lupa buku apa, bahwa mereka yang tinggal di tempat dengan high quality of life justru lebih rentan melakukan bundir. Soalnya semua hal sudah baik dan pada tempatnya, sehingga ketika mereka ga bahagia, mereka cenderung bundir, sedangkan yang tinggal dengan situasi yang agak berantakan dan carut marut, malah nggak melakukan itu. Katanya, hal ini disebabkan oleh adanya eksternal faktor yang bisa disalahkan, entah pemerintah, entah kerjaan yang jelek, bos yang sinting, lingkungan yang kacau. Semua eksternal faktor tersebut bisa dikambinghitamkan dan berubah menjadi 'sistem imun.' Kalau kualitas hidup udah baik dan lo ga bahagia, apose yang mau dikambinghitamkan? Tapi kalau negaranya ancor banget sih ya nggak tahu. Coba cek di sekitar yurep, suicide rate yang terendah salah satunya Greece, ya padahal tahulah kayak apa tu negara. Wallahualambisowab, hyuk.

Jadi begitulah. memang udah nature-nya manusia buat banding-bandingin dan pastinya nyari yang lebih baik, tapi ya gitu deh. Kan pada akhirnya segala yang berlebihan itu kan nggak baik, berlebihan ibadah aja nggak boleh, nanti kita lupa bahwa tetep ada urusan duniawi yang musti dikerjakan, apalagi berlebehan banding-bandingin tempat hidup, ye nggak? *teteh mentor mode  on*

Eh bentar-bentar, apaan tuh hakim yang menangin kasus pembakaran hutan? Katanya kan pohon bisa tumbuh lagi, yaelah  gevlek amat sih nih hakim Indo, coba ya kalau bukan di Indo tapi di Eropa pas…..*eaaaaa molaik kita banding-bandingin lagi*
read more.. "Terinspirasi dari 'Dalam Rangka Tujuh Belasan'"

Tuesday, 5 January 2016

2016

Well, I guess you are nobody until you either write a flashback about 2015 or about your plan in 2016. 

Hmmmm.
Hmmmm.
Hmmmm.

My 2015 was quite intense at the beginning, especially when I had to decide whether I would accept the job offer here in Sg or became Gov. Employee (just like what my parents always wanted, like ALWAYS. ZZzzZZzzz.). Ok, just fyi, at some points, most parents here in my country want their daughter to be a Gov. Employee. Talking about the time flexibility you have if you are a gov. employee. Parents will start argue like, 'You are a woman, you're going to be a mother anyway. No need to get busy lah with your career. If you work with the gov., you will have quite a lot of time to take care of your family, you're pretty much relax in the office, you can come and play candy crush every day and still get a promotion each in every 4 years.' 

Ok, forget about that. After a long consideration, consultation and asking a fortune teller, I finally flipped coin to decide my fate. Wow, really??? Of course....not!

Short story shorter, I moved to Sg and start everything over. Adaptation and everything, not sure if it's going to be the right thing or not. One of the reason why I ended up here is simply because I still want to grow. I did not say you can't grow if you are in the gov, but yeah, I just don't think I could deal with all the bureaucratic matter or see something against my moral occurs in front of my eyes without able to do anything.

In 2015 I was also able to push myself back (a little bit) into my reading habit. I think I almost stopped reading book when the social media became a hit. My favorite activity is scrolling Twitter timeline and it goes like: scrolling-judging people inside my head-scrolling-judging, repeat. Apparently, there are many good books out there and I'm so thankful that I still have a resource to access whatever book I want.  By the way, I really like Malcolm Gladwell, so if in any weird circumstances Mr. Gladwell read this, I just want to say: I adore you a lot and oh, let's take a selfie so I can post it on my Instagram!!

So, how about my plan in 2016??? I don't know. I don't remember  if I ever made any resolutions this whole time. The best message of course comes from 9gag, it says: new year, same old shit, just one year closer to die. So precise :))) !!!

Then I found an article on Buzzfeed about what resolutions you can always do in 2016. In my opinion that list is general things to do to be a better you, still nice indeed. I really need to do number 8!! SAY NO WHENEVER I NEED AND PLEASE STOP TAKING ADVANTAGE OF ME JUST BECAUSE YOU KNOW THE ODD OF ME SAYING NO IS SO LOW!!!

Number 5 and 15 are also interested. Talking about doing something new every month,  I always wanted to have a personal project each of every month, just whatever nice thing that I can do. Either doing it for myself or for other. I started a small thing on last December. Out of the blue, I just want to send Xmas card to my favorite people and also whoever random people I knew in Europe. The thing is, many people I came across in Europe are connected through facebook and I don't know their address. And it's not fun at all if I send them message just to ask them their address so I can send a card. Thus, the only thing I could do was just sending card to people whom 1) i already knew their address 2) i can find their address (mostly their office address) through google.  The card was sort of DIY and it's far from perfect since I am so crap in crafting.


It's just feel so good. I sent it to my friends, corridor mate in my previous student housing, study adviser, internship place, and some of my trainers from the summer course I participated. Some of them may think, 'Who's this person sending me the Xmas card? I don't feel I know her.'  :))).

Now I am thinking about my January personal project.

Last, I wish that 2016 will be exciting and bring so many surprises (in a good way) for all of us. Cheers!!
read more.. "2016"

Monday, 4 January 2016

Kabur Akhir Tahun: Penang

Gw cus dari KL ke Penang sore-sore. Sekitar jam 18-an udah mendarat di Penang dan gw baru tahu kalau Penang adalah satu pulau terpisah. Payah. Ok, this is the real deal, nggak ada koneksi Metro/MRT/sejenisnya, beklah, selamat bingung Bening Mayanti!!! Ada bus, judulnya Rapid Penang, tapi tau sendiri kan persoalan gw kalau naik bus, di daerah yang udah familiar aja suka planga-plongo, gimana tempat yang baru pertama dikunjungi? Pret!! 

Warbiyasak, gw nunggu 40 menitan sampai bus yang mau gw tumpangi akhirnya datang. Etapi gw tetap sabar dan istikomah, begitu gw balik ke Sg dan harus nunggu MRT 5 menit, langsung misuh-misuh. Dasar manusia!! 

Eniwei, jarak dari bandara ke Georgetown lumayan juga ternyata dan gw denger segerombolan perempuan ngomong Bahasa Sunda. Ternyata mereka dari Bandung dari baru beberapa bulan kerja di sana. Seru juga. Karena gw merasa ragu harus turun di mana, akhirnya gw tanyalah sama kapten bas a.k.a. pengemudi Rapid Penang. Gw selalu ingat pesan temen gw, biar ikrib, sama muda-mudi panggilah Abang (laki) atau aka/kakak (pere), yang berumur baru Pakcik dan Makcik. Mayan uga, hasil nanya sama Abangnya (ikrib) akhirnya gw ditunjukkin jalan yang lebih mudah, musti turun di mana lalu nyambung naik apa. 

Nginep
Gw nginep di Old Penang Guesthouse. Female dorm sekamar isinya empat orang. Kasurnya pake bunk bed gitu, double decker. Untung kebagian kasur bawah, drama juga sih kalau kebagian kasur atas, rempong cyn. Okenya, si hostel cukup pengetian, di setiap kasur, dia sediakan wall lamp. Kalau lo butuh lampu karena pengen baca atau apapun, nggak usah nyalain lampu ruangan. Nggak ganggu stabilitas penghuni kamar lainnya. Kalau tempat nginep gw di KL sebelahan sama kelab, di sini lebih kampret lagi. Jadi lokasinya bersebelahan sama entah sejenis kafe atau apalah, yang pasti menyediakan fasilitas buat lo untuk nyanyi live. Dua malam berturut-turut gw mendengarkan live music. Mending kalau bagus, ini rakaruan dan mereka nyanui dalam bahasa Cina. Selain itu, bangunannya merupakan bangunan lama dengan insulasi yang nggak bagus. Lantainya dari kayu, kalau ada yang jalan dan nggak hati-hati, suka kedengeran. Pun orang ngobrol dari ruangan sebelah bisa terdengar. Untung gw ga denger suara aneh-aneh *pasang cadar*.

Makan
Mirip lah ya sama KL, dari soal harga sampai pilihan. Masakan India bertebaran di mana-mana dan masakan Thailand juga populer abis karena udah dekat dan berbatasan dengan Thailand. Gw makan chendol (di Indo ada, di Sg pun ada. Gw masih lebih suka chendol Indo), es kacang, tom yam, chapati (pake saosnya yang beda-beda tentunya, apaan sih itu? Dhal ya?), asam laksa, curry mee, etc. Semua endesss!!! Gawat abis. Gw ngalamin lagi momen terharu. Kali ini disponsori makan chapati segede ban mobil (oke ini lebay, tapi chapati kan emang lebar abis) dua biji dengan saosnya tiga jenis dan teh tarik. Habis berapa? 3.5 MYR. So cheap. God bless Malaysia!! 

I seriously love Indian food it's so good. 

Transport
Ini agak rempong. Atau memang gw nya aja yang payah. Transport ke mana-mana ya ngandelin Rapid Penang, sebenarnya wilayah yang dicover luas, gw rasa lo bisa pergi ke mana pun di dalam pulau tersebut pake Rapid Penang, masalahnya frekuensi bus tersebut kurang mumpuni. Ya itu tadi, lo bisa nunggu sampai 40 menit buat naik satu bus, kalau jogging udah dapet berapa km tuh? Mana pulak kecepatan bus kan nggak secepat MRT dan kalau jalanan macet ya ikutan macet, makanya agak rempong. Temen-temen gw yang udah pernah ke sana, kebanyakan nyewa mobil atau motor. Kalau untuk area Georgetown sih cincai, tinggal jalan atau nyewa sepeda.

Ongkos? Nggak usah khawatir, murahhhh!!! Dari bandara ke Georgetown sekitar 1.5 jam perjalanan (mbuh berapa km) tiketnya 2.7 MYR, nggak nyampe 10 rebu. Bahkan dari Antapani ke Jalan Jakarta yang jaraknya ga seberapa, angkotnya 3000 perak. ZZzzzZZZzz. Mana pulak bisa kompromi sama kapten bas. Nah, kita kan kudu bayar pake uang pas ya kalau naik bus, pernah gw kudu bayar 4 MYR, gw sodorin 5 MYR, yowislah gapapa, salah gw ga punya uang pas. Terus kapten bas bilang, ga ada duit pas apa. Setelah gw mengais-ngais dalam tas, dapet 3.5 MYR, lalu sang kapten bas bilang, 'Nggak apa-apa, 3,5 MYR aja.' Maap pengelola bas Rapid Penang *salim*

Main
Cek cenah, kalau lo lagi pergi sendirian, salah satu kuncinya adalah berusaha se-cool mungkin dan jangan kayak orang bingung. Kalau tiba-tiba hilang arah dan perlu buka catatan atau peta, melipir secara elegan dan jangan terlalu brutal beraksi. Ketauan banget turis bingung, nanti bisa memancing orang-orang iseng atau jahat.

Gw tuh selalu berusaha menerapkan hal ini. Tapi yang terjadi adalah gw jalan dengan gagah perkasa sambil baca mantra dalam hati, 'Jangan kayak orang bingung...jangan kayak orang bingung...jangan kay...' *tiba-tiba ada yang teriak ke gw* 'NAK CARI APA DEK?!?!

FAIL.
FAIL.
FAIL.

Sering banget kejadian. Paling gw senyum sambil bilang, 'Ndak Pakcik.'

Niat awal mau main ke Balik Pulau buat ikut bike tour, tapi sekali jalan 2 jam, belum lagi nunggu Rapid Penang-nya. Ya sudah, lupakan. Akhirnya gw keliaran di sekitar Georgetown, Cinatown, Little India, ya daerah yang semacemnya. Pergi ke Kek Lok Si temple dan muter-muter di pasar deket situ (yoi, pasar beneran), mampir juga ke Fort Cornwallis. Sebenernya, menurut primbon, banyak lokasi yang bisa dikunjungi, seperti  Batu Ferringi (pantai), Bukit Bendera, Penang National Park, etc. tapi jaraknya lumayan jauh dari wilayah Georgetown dan gw hanya mengandalkan publik transpot. Kan males :)))).





Soal Fort Cornwallis ya, menurut hemat gw, ga perlu banget dikunjungi. Lokasi cuma seiprit pun barang peninggalan yang diliat sedikit (masih dalam tahap improvement). Ibarat kata, ngupil aja belum kelar, eh udah beres ngitarin wilayah tersebut. Pun kalau mau masuk bayar 20 MYR untuk non-Malay dan 10 MYR buat Malay. Ada wifi sih di situ *anak internet*, tapi lo nongkrong di luar fort juga kecipratan wifi-nya *anak internet yang pelit*





Nah, kalau Kek Lok Si temple lain cerita, aku sukiiii!!!!! Nggak tahu ya, mungkin memang aura rumah peribadatan. Apa pun bentuknya, untuk agama apa pun rumah tersebut, pasti auranya tenang dan bikin damai, sama juga dengan temple tersebut. Ditambah fakta bahwa gw datang saat masih pagi, jadinya masih sepi dan minim turis yang lagi selfie :)))). Gw suka banget terutama area pagoda. Untuk masuk area pagoda, cuma diminta bayar 2 MYR, buat maintenance katanya. Ya ampun mursid. Masuk area pagoda, ada ruangan untuk ibadah yang luassssss banget. Dan di sekitaran pagoda ada taman yang isinya bunga macem-macem. Sukaaaa!!! Gw suka banget ngambil foto bunga pake efek bokeh ala-ala, ya namanya juga usaha.






Habis itu, ada lokasi buat liat patung Dewi Kwan Im, ohmaygat!!!! Perjalanan ter Sun Go Kong!!! Gila, bawaanya pengen panggil Tong Sam Cong, Ti Pat Kay, dan Wu Ching *kan ceritanya gw Sun Go Kong* Untuk mencapai lokasi tersebut, lo bisa naik lift bolak-balik 6 MYR atau jalan kaki muter dan nanjak. Gw naik lift, karena  sesuka-sukanya jalan kaki, hari mulai siang dan Malay ini panasnya ajegile banget!! Sebenernya wilayah Dewi Kwan Im ini kurang penting, cuma patung aja gedayyyyy abis. Gw sih mending common area atau pagoda area sih.





Di hostel gw sekamar dengan seorang Austria asal Turki dan dua orang cewek Korea. Three of them are so cool with those 40 L backpack. Warbiyasak, traveling lama mereka. Hikmah yang gw ambil, ternyata hobi nontonin interview artis bisa berguna juga (lebih berguna dari nonton filmnya :p). First thing I said to that Austrian fellow, 'I watch Christoph Waltz interview. He said the difference between German and Austrian. German people are pretty straightforward, while Austrian, they are very polite but they don't mean it. Is it true?' She bursted into laugh and said, 'Ohhh, wait a minute, lemme text my bf about what you just said.' Another nice conversation with stranger. She studied anthropology and we talk about so many interesting stuffs. Oia, fyi, sebagai orang Austria berdarah Turki dengan pendidikan mumpuni, dese sih ngelepehin Erdogan ya (begitu pulak dengan ex-kolega akik yang dari Turki). Untuk perenungan fans garis keras Erdogan *tolong, aku jangan disambit*

Gw juga sempet makan di Little India, disamperin uncle-uncle buat duduk bareng, terus ngobrol  lah kami. Dari dia, gw nangkep kalau imej Indo lumayan oke di Malay, kecuali soal bakar hutan. Seru. Dese kagum juga sama Ahok yang naikin haji para mrebot (cc: fans Foke garis keras). Ujung-ujungnya dese traktir *lumayan* terus ditawarin tebengan. Gw tolak soalnya kurang mudaan dan kurang mirip Adam Levine masih pengen jalan-jalan malem dulu dan ya ngapain juga nebeng sama orang nggak dikenal, ngok! Kalo ditangkep pulisi, cewek doang yang kena denda. Oh, negeri Syariah. 

Secara Umum
Gw suka Malay. Kalau ada kesempatan lagi, gw mau mampir sana lagi, ke Penang lagi atau ke daerah yang belum pernah gw sambangi, misal Melaka atau Langkawi. First timer yang nggak pernah pergi-pergi dan pengen nyoba jalan sendiri, tempat ini aman, meski pun hati-hati tetep perlu (itu sih dimanapun). Cuma satu pesen gw kalau ke Malay: bawa cengdem dan pake sunblock!! Yasalam, bulan Desember tapi puanase puolllll. Gw udah berasa setan yang lagi dingajiin.
read more.. "Kabur Akhir Tahun: Penang"