Monday, 27 July 2015

KZL...

Jadi gini, ujian Tuhan bisa datang dalam bentuk apa pun, termasuk dalam bentuk senior yang nggilani. Disclaimer dulu yah, senior tetaplah senior, bahwasannya secara ilmu dan pegalaman pasti jauh di atas gw yang hanya butiran debu ini. Tapi segimana pun banyaknya pengalaman yang dipunnya, kalau gemblung ya tetep gemblung, kalau sense of logicnya agak-agak ya tetep aja bikin KZL. Mana pulak gw termasuk golongan yang get irritated easily, like easily. Nyebelin kan gw? Ilmu cetek, pengalaman nggak punya, bahasa Inggris tensesnya campur sari, tapi menggunjingkan orang.

#1
Pada suatu hari yang panas, gw dan senior ,sebut saja, Mawar akan berlatih suatu metoda. Dia udah pernah diajarin sama, sebut saja, Kumbang. Pada hari itu Kumbang akan datang buat ngajarin lagi karena pada akhirnya gw yang bakal ngerjain. Awal-awal kita ngerjain, Kumbang belum datang. Mawar nggotong suatu larutan, terus taruh di atas meja seraya berkata,'Pas kemarin diajarin sama Kumbang, dia bilang suruh pake lemari asam, nah tapi sekarang dia belum datang dan nggak ada orang merhatiin, kita kerjain di sini aja ya.'

My reaction was like... 


Gw speechless abis. Inti dari pake lemari asam itu bukan ada atau nggak yang melihat kamu saat kerja, karena kalau ini intinya, Tuhan kan Maha Melihat *ngok*, tapi bahaya atau nggak. Semakin bahaya, precaution actionnya semakin banyak dong. KZL aing.

#2
Suatu hari gw dan Mawar sedang belajar satu metoda bersama, sebut saja, Melati. Salah satu step dari metoda tersebut adalah menggunakan penutup plastik di atas kaca. Ukuran penutup plasik yang dipake lebih kecil dari kaca alasnya (gambar paling atas).




 Lalu Melati bersabda, 'Gih, sekarang pake kutek buat ngelem penutup plastik dan kacanya.' 

NGELEM PENUTUP PLASTIK DAN KACANYA.

Apa yang gw lakukan (dan gw yakin kabanyakan orang pun) adalah gambar yang tengah. Pinggiran penutup dikutekin, ya biar nempel kelez. Nah, yang Mawar lakukan adalah gambar yang paling bawah. Ngapain ngutekin pinggiran kaca, lha wong nggak bikin nempel sama penutupnya.  Why oh why.


Itu hanyalah dua contoh dari sekian banyak kejadian-kejadian yang bikin puyeng pala berbi. Kalau ngutip omongannya 9gag, memiliki common sense itu bukan keberuntungan, tapi kesialan karena kamu tetap musti menghadapi orang-orang tanpa common sense.

Hyuk mari.
read more.. "KZL..."

Saturday, 18 July 2015

Menuju Udik

Hwalowwww semua!!

Pertama, gw dan jajaran artis Hollywood papan atas mengucapkan Eid Mubarak!!! Semoga amal ibadah kita (terutama gw yang nggak seberapa) selama Ramadhan diterima dan dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan. Amen!

Bitch please!!  X))) 

Edisi menuju udik kali ini sungguh........biasa aja.

Anti klimaks.

Pokoknya tema yang diusung adalah mudik ringkas dan tangkas. Nggak mau rempong dengan gembolan yang nggak penting. Walhasil gw berhasil balik dengan satu backpack doang yang mana udah termasuk laptop segede gaban di dalamnya. Awalnya sih yay! Seneng bawaan nggak rempong. Kenapa bawaan bisa nggak rempong? Karena gw nggak bawa apa-apa, literally nggak bawa apa-apa, baik buat diri sendiri atau pun orang lain. Ya ada rikues-rikues yang mana gw paksa masuk backpack, apa pun yang terjadi. Walhasil, backpack gw yang sudah terokupai oleh laptop dan beberapa titipan udah nggak bisa lagi dipaksain buat bawa barang, makanya gw nggak bawa apa-apa sama sekali. Baju cuma yang nempel di badan. Sikat gigi, sabun muka, sampai pelembap nggak gw bawa. Auk ah, apa masih ada di rumah atau nanti gw harus beli.

Lalu  kerempongan terjadi.

Gw sampai rumah, buka lemari. Lha, gw nggak punya baju ternyata?! Ya ada sih, tapi baju jaman baheula yang udah nggak pernah dipake tapi belum sempet dikeluarin, besok-besok gw pake apa ini? Ya masa’ pake kebaya kalau keluar rumah. Ya udahlah, yang ini masih isokey, masih bisalah gw mengais-ngais baju yang bisa dipake. Gongnya ketika gw mendapati gw nggak punya daleman. Buset, gemblung amat sih ini. Tapi yowis, ini pun isokey, pan rencananya mau ke supermarket beli sikat gigi dan segala perintilan.

Urusan daleman, sikat gigi, dan perintilan menjadi sungguh nggak penting ketika gw inget problem utama umat masa kini: nggak punya paket data. Oke, mari beli paket lewat i-banking. Kemudian gw mikir, lha gw nggak punya paket data samsek, terus mau pake i-banking pegimana. Ya  udah deh, nanti aja sekalian ke supermarket sekalian ke ATM buat isi pulsa dan ambil duit, eh bentar, ta...ta...tapi PIN ATM gw berapa ini?!?! Wis lali, nggilani!!! Oke, gw inget satu PIN tapi nggak tau buat ATM yang mana. Ini priye tho, 12 dijit nomor hape masih inget, giliran PIN yang nggak seberapa malah lupa, mungkin karena gw nggak menganggap duit itu penting, cih!

Sampe di supermarket gw muter-muter lalu.....

APEU BANGET HARGA KANCUT MAHAL AMAT!!

Buset, padahal boro-boro, Victoria Secretk KW 15238.88 juga bukan.

Nah, nomor hp gw tuh masih gw simpan baik-baik, karena di saat paket pra-bayar makin nggak karu-karuan term and conditionnya, gw cukup beruntung karena pada masanya berhasil dapat varian nomor yang nawarin paket 4GB seharga 60 ribu untuk sebulan, nggak pake batas waktu siang atau malam, ashoy kannnn. Tapi semua nggak ashoy lagi karena harga paket naik 10 ribu, pret!!! *pelit adalah koentji*

Ini kenapa segala mahal dan naik gini, tuslah hari raya???

Etapi dibalik semuanya, ada satu hal paling precious yang akhirnya bisa gw rasain lagi. Di Bandung, ternyata cuacanya masih luar biasa enak, padahal daerah rumah gw termasuk padat, dan bobok siang selimutan masi sangat mungkin. Gw udah lupa rasanya bobok selimutan (meskipun itu di malam hari) saking panasnya cuaca yang selama ini gw rasain.

Sekali lagi, selamat lebaran *tarik selimut*
read more.. "Menuju Udik"

Wednesday, 15 July 2015

Current Favorite

Favorite dari sulu sih, tapi akhir-akhir ini lagi seneng-senengnya dengerin lagi lagu-lagunya Wouter Hamel. Harapan pas ke Landa adalah bisa nonton dese karena effort buat ngesot di sana dari satu tempat ke tempat lain jauh lebih gampang daripada kalo di Indo *yakale*, tapi ga tau pokoknya jadwal nggak pernah pas. Ngarep juga papasan gitu di mana kek sama dia, nggak pernah juga. Pret!

Jadi kalau suka Jamie Cullum, bisalah dengerin dia (esp. album dia yang judulnya Hamel), meskipun dia nggak pernah mengklaim bahwa dia adalah penyanyi jazz. Kalau ditanya dia paling jawab,'Oh, Saya ini singer/songwriter with the jazz band player. Better not to say I'm a jazz singer because there's other influence but the band I play with is definitely jazz band.' Azeg.

These are some of the numbers I can't stop listening to lately :



This is a sweet sweet song. Happy sweet song with a nice melody lyric whatsoever.


Super love Lohengrin.


Live a little :')


Atau cek ini. Full Paradiso concert, daripada nontonin Inb*x atau Dahs*at gitu.

Pokoknya love bingit, Lagu yang bikin mellow ya banyak, tapi yang bikin hati melonjak juga banyak. 
read more.. "Current Favorite"

Sunday, 12 July 2015

Embrace Solitude

Gitu kata artikel yang ditulis di sini. Baca dua paragraf pertama langsung setuju, bunyi dari paragraf tersebut adalah:
I got a Skype call from one of my Indonesian friends a couple of months ago. She confided in me about being uncomfortable and hurt by her friends who made fun of her, because she had been practicing solitude of late.
“I was called a loner and I hate it! I don’t think Indonesia is a safe place for seekers of solitude like us.”
Akurat.

Gw inget, pada masanya, I have always flocked with others. Kemana-mana bareng-bareng, bergerombol. Pengen pergi-pergi sendiri tapi takut. Bukan, bukan takut diciduk dimasukkin ke dalam karung terus diculik *yang nggotong karungnya juga ga bakal kuat, bwek!!*, tapi takut terlihat menyedihkan. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, hal yang sebenarnya menyedihkan justru karena kita takut terlihat menyedihkan, ye nggak? *ruwet* Paling banter, keberanian gw cuma di level pergi ke toko buku sendirian dan paling anti pergi makan sendirian. Mending take away deh makanannya. Kebayangnya pas lagi duduk makan sendiri dan bangku lain keisi paling enggak sama dua orang, maka semua mata pengunjung akan memandang gw dengan tatapan sedih.

Padahal keinginan terdalam adalah duduk makan sendiri atau ngopi-gopi sambil bengong planga-plongo merhatiin orang-orang atau -bener kata penulis artikel di atas- just wander around aimlessly then stop anywhere sit and take moment enjoying yourself without companion and observe anything, or just doing nothing, completely nothing. Tapi, lagi-lagi, gw merasa takut 1) takut orang-orang lain yang nggak dikenal memandang sedih, pitying me  2) takut ketemu orang yang gw kenal yang kemungkinan besar nggak mungkin jalan sendiri kemudian percakapan yang terjadi adalah:

dese: eh bening lagi ngapain?
me: nggak ngapa-ngpain, lagi jalan aja.
dese: sama siapa?
me: sendirian?
dese: kok sendirian sih? *diiringi tatapan iba*

Bbbzzzttt.

Lagi-lagi, gw setuju sama tulisan di artikel tersebut, ya emang begitu adanya kalau tinggal di negara/lingkungan dengan close-knit community, ye nggak? Emang nggak ada yang salah, kalau gw rasa ya memang di Indonesia kulturnya begitu (individualisme kita kan sangat rendah), pasti ada untung ruginya. Kekeluargaan dan pertemanan yang akrab emang baik, ya mun cek cenah mah kan menjalin silaturahmi, tapi (selalu ada 'tapi' dalam segala hal) ya nggak perlu memandang menyedihkan juga sama orang yang memang sedang embracing solitude atau pada dasarnya memang senang menyendiri. Dan bener banget, banyak karya besar lahir dari solitude tersebut, kayaknya hampir semua scientist melahirkan karya hasil pemikiran mendalam saat menyendiri, bukan saat flocking together berisik cekakakan (meskipun dalam beberapa hal banyak kepala lebih baik dari satu kepala). Begitu juga dengan Wozniak, Dickens, Dr. Seuss dan masih banyak lagi. 

Pas di Landa barulah gw meletek. Naik kereta sendiri, mau ke mana? Ya kadang ke mana aja. Duduk mepet jendela, merhatiin lansekap di luar yang sedap buat diliat (meskipun lama-lama membosankan), terus berhenti di mana pun cuman buat ngopi terus makan kukis sambil planga-plongo, merhatiin orang, mikirin kemajuan bangsa  hidup gw kok nggak maju-maju. Atau jalan nyusurin kanal, berhenti duduk, planga-plongo terus nanti tiba-tiba mewek for no reason, bhahakakkkaka, ya kalau di Ams sih sambil ngirup bau-bau kanabis di sepanjang jalan, lumayanlah biar bikin hepi dan boosting mood. Setiap gw bilang gw suka sama Wage karena tempatnya yang kecil, no excitement, damai, isinya sebagian besar mahasiswa dan nggak ada hingar bingar metropolitannya sama sekali, nggak ada yang mandang aneh, seringnya malah dapat saran untuk ngunjungin tempat yang sejenis. Yang nggak terlalu besar, nggak hitz, dan damai. I ended up like those places, like Haarlem for instance.

Paling sering sih sepedaan ke arboretum terdekat, duduk di kursi yang ada di tengah-tengah, wis ngono thok.



Mengutip artikel tersebut 'Practicing solitude is simple. It could be done by taking a walk, going nowhere in particular, shutting off your phones, withdrawing from the social media, and, if possible, meditating.' Beberapa orang mungkin merasa nggak bisa melakukan hal tersebut. Ya nggak bisa aja, mungkin embrace solitude is just not their thing. Merasa nggak mungkin kalau pergi ke mana gitu tanpa ada yang nemenin atau menarik diri (sementara) dari hingar bingar kehidupan, they just can't. But for at least you can try this thing I found from Notes Of Belin's Instagram:


Let's embrace solitude.
read more.. "Embrace Solitude"

Saturday, 11 July 2015

Apes

Nggilani!!

Akhir-akhir ini gw kayaknya apes mulu dalam hitungan hari, dari mulai apes yang lucu dan rasanya pengen ngetawain diri sendiri, apes yang bikin lemes, sampe apes yang beneran sial rasanya pengen mewek *padahal udah mewek, tjih!!* Ibarat Bahasa Inggris, iki judule apeses *jamak tapi maksa* atau kalau Yerman mungkin jadinya √Ąpes. Hih!!

Awalnya dari microwave. Tahulah hubungan gw dengan microwave itu udah nempel kayak perangko. Segala yang bisa gw mw biasukin microwave, ya gw masukin. Oat, mug cake ala-ala, brokoli, jamur, terong, telor, sampai tempe pun gw masukin microwave. Sebenernya sih mamak kos ngijinin masak, tapi males aja, karena statusnya tinggal bareng landlord ya jatohnya segan aja, daripada giman gituhhh. Nah, pada suatu hari gw pake oven. Posisi microwave itu tepat ditumpuk di atas si oven listrik. Gw pakai oven dengan bersahaja. Besoknya pas mau pake microwave, lho kok pintunya nggak bisa dibuka, nah lho. Mana pulak bagian bawahnya jadi keriting bergelombang nggak karu-karuan. 

HAPAH YANG TERJADI?!?!

Terus setelah gw pikir-pikir, kayaknya kena hawa panas oven yang gw pake. Pas gw pake oven, microwave nggak gw turunin dan setelah beres make, pintu oven gw buka sedikit biar hawa panasnya cepet keluar, walhasil bikin leleh bagian bawah microwavenya, pfftt. Terus pucinglah pala berbi, pucing gimana bilang sama landlord. Kalo diganti, pasti gw ganti, tapi cara bilangnya gimanose?? Mana dese kan baik gituh orangnya. Akhirnya gw bilang juga pagi-pagi, biar diskusi singkat karena sama-sama mau berangkat *rhyme*. Jadi ternyata dese punya spare microwave dan gw ganti duit aja seharga microwave termurah. Fyuh.

Beres ngerusakin microwave sebiji, nggak lama setelah itu gw masukin sesuatu ke microwave baru yang mana ada butternya. Butternya leleh dan netes ke alas kaca microwave yang (kayaknya) sih panas luar biasa. Karena butter setetes, tercipta asap gosong sebelanga. Makkk, asap dan bau gosongnya luar biasa, langung dong gw matiin microwave kemudian deg-degan, waktu itu lagi sendiri tapi udah malem, gimana kalau orang rumah tiba-tiba pada balik. Matek. Asapnya banyak pake banget mulai nyebar kemana-mana, dan bau gosongnya edan. Langsung ngibrit ke kamar, gotong kipas angin buat menggiring asap ke luar jendela, sambil komat-kamit berdoa semoga orang-orang jangan pada balik dulu. Bagian dalam microwave langsung gw lap pake tisu basah yang wanginya bikin pucing. Lalu langkah terakhir adalah semprot-semprot wewangian buat nyamarin bau gosong. Udah bak horangkayah gw semprat-semprot bodyshop parfum ke semua ruangan. Beres menghilangkan jejak, semua baik-baik aja, nggak tahu sih kalau orang rumah curiga. Mbuh lah. 

Di kantor pun. Pucing pala berbi pokoknya. Pucing karena pengen nulis tapi kayakya ga deh *telen sendiri*. Pokoknya gitu deh. Tapi yang terbaru dan ga penting tapi bikin KZL adalah pas ada orang yang buang sampel gw. Nyet! Gw tuh baru mau ukur-ukur pake spektro, terus tiba-tiba ada yang huru-hara nanya gw sampel punya gw banyak apa engga karena dia punya sampel yang emang harus cepet diukur. Ya gw kasih aja itu spektro, sampel gw sisihin di samping spektro dan gw tinggal dulu. Pas gw balik lagi, lha kok sampel gw udah ilang. Muter-muter nyari ternyata botol-botol gw udah teronggok di tong sampah. Ya envelope!!! *insert jari tengah* Ya gw tau sih itu pasti nggak sengaja. Terus teori gw dan orang lab adalah orang yang make spektro sebelum gw bingung ini sampe bekas gw apa bukan ya, terus ya sekalian dia bersihin bareng sampel dia. Tapi tetep aja masa' nggak inget sampel sendiri nyet! Terus gw melangkah gontai nyiapin sampel berikutnya, untung masih ada sisa.

Masih di hari yang sama. Setelah hari panjang, akhirnya gw pulang. Duduk di bus dan sebelahan sama yang ngganteng arab-indihe gitu yang ternyata awake' mambu tenan. Cuma sepuluh menit dalam bus udah mau pengsan rasanya. Pengen gw suruh berendam rasanya, bukan berendam di air dengan kembang tujuh rupa, tapi di air yang udah dikasi baking soda.

Auk ah, mbuhlah.

Terus gw balik rumah, tidur cepet, bangun cepet. Yaudahlah nulis postingan ora mutu ini.
read more.. "Apes "

Monday, 29 June 2015

Kerudungan

Wewwww, gileee, kalau dihitung berdasarkan kalender Islam *soleha*, ternyata gw udah kerudungan selama tujuh tahun. Gileeee!!!! Soalnya gw masih inget, pertama kali pake kerudung itu di hari Jumat bulan Ramadhan tahun 2008. Mayanlah, gw pake kerudung juga karena impulsip. Bangun pagi ke kampus pake kerudung, ada yang nanya, 'Ini karena hari Jumat atau gimana?' terus dengan gagah gw jawab, 'Nggak kok, bukan karena hari Jumat.' Walhasil, apa daya, besoknya dipake lagi. Besok-besoknya dipake lagi. Tiba-tiba masih pake sampe sekarang.

Perkembangan apa aja yang dicapai setelah kerudungan?

...
...
...

Ora ono.

Serius, still same old me, cuma dikerudung aja, etapi kalau mau berbuat agak gila suka mikir dulu. Hahahahahaha *toyor*. Masih suka bergunjing, suka nyela-nyela, tetap menunda solat, berkawan juga dengan setan dan maksiat, hyuk!!

Ngemeng-ngemeng soal kerudung, kehidupan jaman kampus tuh nggak bisa dipisahkan dari mentoring, gw termasuk yang rajin mentoring waktu sedang ngambil kuliah agama. Iyalah, soalnya wajib. Pret! Jadi mentoring tuh ya semacem diskusi/belajar tentang agama dipandu oleh senior. Ya senior ceweklah pastinja, kalau laki kan bukan muhrim nanti jaraknya harus 1 km dan sambil nunduk mentoringnya, atau saling memunggungi,  kan repot. Eniwei, seinget gw, pas jaman kuliah, gw dapet teteh (kakak) mentornya yang enak. Maksudnya enak tuh, baik dan tidak terkesan menggurui, tipe-tipe 'yuk-kita-sama-sama-belajar' dan nggak resek. Meskipun, grup gw dapet teteh mentor yang enak, kadang kalau si teteh sedang berhalangan, digabunglah dengan grup lain yang kadang membuat gw berhadapan dengan tipe teteh mentor yang bikin malez.

Bikin malez ini versi gw loh, gw kan berkawan ikrib denga syahitan, makanya suka bedegong kalo dibilangin. Orang-orang yang tau gw udah pada apal pastinya bahwa tipe teteh mentor yang paling bikin gw malez adalah mereka yang hobinya nanya 'Eh, kapan mau pake kerudung?' atau kalau ada cewek yang sedang belajar pake kerudung di hari Jumat dikasi komentar 'Tuh kan, cantik kalau  pake jilbab. Dipake terus ya.' 

*muntah batu akik*

'Eh, kapan pake kerudung?' itu kalo dipikir-pikir derajat nyebelinnya sama kayak 'Eh, kapan kawin?' malahan kalau gw rasa lebih nyebelin lagi. Gw nggak tahu buat orang lain, tapi kalau buat diri gw sendiri sih nggak memotivasi sama sekali. Bawaanya pengen ta' jawab 'Oh, May teh. May..be yes, may..be no. Bhayyy!!!' terus habis gitu nggak mau lagi datang mentoring kalau teteh mentornya orang itu dan kalau papasan kasih tatapan setajam silet *edan lebay drama*. Tapi gw emang sebel sama tipe teteh mentor kayak gini. Bukan sebel deng, SEBEL!!! 

'Tuh kan, cantik kalau pake jilbab. Dipake terus ya.' Orang kayak gini tau nggak sih kalau orang  cantik tuh ya cantik aja? mau dijilbabin kek, mau disuruh foto pose merengut kek, mau dipakein baju lusuh kek, mau rambutnya dikuncir tiga kayak orang yang lagi diospek kek, mau dipakein bikini terus jalan di runaway Victoria Secret kek (yaiyalah kalau model) tetep aja cantik. Jadi, motivasi jilbaban tuh biar cantik? Coba kalau jaman dulu gw udah senyebelin sekarang, kalau semisal ada yang bilang 'Tuh kan, cantik kalau pake jilbab. Dipake terus ya,'  mungkin gw jawab,'Oh, pake jilbab tuh biar cantik gitu? Teteh juga gitu, pake jilbab biar cantik? Duh nggak kebayang waktu belum pake kayak apa.' *mulut comberan* *cuci dengan ayat suci Al-Quran* 

Gilakkkk!!! Puasa-puasa tetap bergunjing. 

Eniwei, hal-hal menyenangkan dari pake kerudung juga banyak ditemui kok, dari perkara yang paling cemen tapi fundamental *tsahhhh*: makanan. Baik di sini maupun di Landa, orang cukup hapal sama apa-apa yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh muslim. Karena pake jilbab, jadi obvious, kadang mereka kasih tahu/peringatan tentang apa-apa aja yang ada di menu mereka. Malah pernah gw mau makan ditolak sama mbak-mbak penjualnya, padahal kalau jelas-jelas no pork and no lard mah gw sikat aja, cus! Kemudahan lainnya adalah solat di kendaraan umum, kalau lagi naik NS di Landa, ya solat-solat aja, tayamum terus pasang kaos kaki. Orang-orang juga cuek aja. Selain itu, selama delapan tahun terakhir, gw nggak pernah ngalamin bad hair day. YA KELEZ. :)))

Tapi ke-obvious-san sebagai muslim juga kadang bikin kzl. Pernah tuh puasa 2013, gw sedang menikmati *menikmati? padahal lagi laper dan haus mau pengsan* kemeriahan panggung-panggung dan segala keriannya di Nijmegen. Berhubung gw sedang sama temen-temen dan mereka lagi makan, ya gw nginti merekalah. Kemudian ada bapak-bapak nggak dikenal ngemeng,'Kamu muslim ya? Lagi puasa ya? Ngapain sih puasa segala? Katanya mengendalikan diri, temen Saya yang muslim banyak yang puasa pas buka makannya kayak kesetanan, terus letak pengendalian dirinya di mana?' *insert emot jari tengah* nyebelin nggak sih? lha wong nggak kenal juga, tapi masalahnya yang diomongin bapak itu bener. Ya nggak semua muslim pastinya, tapi banyak kan yang begini, termasuk gw. Tjih. 

Hal lain yang bikin rempong soal jilbab adalah perkara tinggal di student housing. Mau keluar kamar ya harus kerudungan dulu. Kalo lagi insap, gw pake celana panjang, jaket, dan kerudung kalau mau keluar kamar. Sayangnya, dominasi jiwa ibu penjual lotek mengalir dalam diri ini, jadi seringnya pake celana panjang dan kerudung, tapi kaosan tangan pendek *kemudian ngulek bumbu kacang dan jualan lotek pedes dengan karet dua biji*. Satu hal lagi, ini sebenernya nyebelin tapi lucu karena orang yang sebelumnya nggak pernah punya temen yang dikerudung biasanya penasaran. Sebenernya rambut lo kayak apa sih? Atau jangan-jangan, sebenernya lo nggak punya rambut.... ZZZzzzZZZzzz.

Begitulah.

Intinya, kalau mau pake kerudung, ya pake, tapi bukan karena orang lain dan untuk seluruh teteh mentor di dunia ini, ga usahlah kasih pertanyaan dan komentar nggak penting. Oke? Oke? Oke?
read more.. "Kerudungan"

Resepsi Kawinan

Jadi gini, tau kan ya kalo tipikal Indo (juga tipikal Asia dan Afrika pada umumnya) yang namanya kawinan tuh idealnya heboh dan membahana. Bahwa nggak semua ngerti ada beberapa orang yang emang konsepnya lebih ke syukuran aja dan ngundang orang-orang terdekat thok atau mungkin habis kawin ya makan malam keluarga doang, and they do it by choice, meskipun mereka sebenarnya tergolong mampu. Lha, emang maunya kayak gitu. Ya tapi harap makleum, namanya juga NKRI, kalau ada yang memilih buat kayak gitu dan dari keluarga yang mampu, biasanya pergunjingan dimulai. Misalnya,'Ih, anaknya Pak Anu kan orang mampu, masak nikahan anaknya cuma kayak gitu, tetangga nggak pada diundang,' dan nggak jarang sampai ke level, 'Kok nikahnya diem-diem ya, pasti udah isi duluan.' 

HUVT.

Nah, karena social pressure yang luar biasa dan kawinan itu kadang dijadikan alat penentu derajat manusia di mata masyarakat, nggak jarang ada yang sampai akhirnya maksa buat menggelar resepsi yang sesuai dengan tuntutan masyarakat, bukan sesuai dengan kemampuan. Akhirnya apa yang dilakukan? Cari dana sana-sini supaya kebutuhan non-primer (boro-boro primer, tersier juga bukan kalo menurut gw) ini bisa terpenuhi seusuai standar di masyarakat. Mending kalau si peminjam benar-benar sadar dengan yang dia lakukan dan sudah cukup berhitung, bahwa nanti semua yang dipinjam bisa dikembalikan dlam jangka waktu x tanpa merepotkan anggota keluarga lainnya. Atau kalau orang tuanya yang cari pinjaman, ya pinjaman bisa dibayar tanpa bikin keuangan keluarga morat-marit dan mengorbankan kebutuhan lain yang jauh lebih penting daripada itu. Tapi kan yaaaaaa, gimana ya, yang penting sekarang aja dolo, pinjem aja dolo, bayarnya gimana? Ya urusan nanti. Kayaknya banyak kan ya yang kayak gitu, salah satunya dengan kasus yang satu ini *lha, kok jadi brgunjiang?!* *whatev, the point is, learn your lesson*

Gw juga taunya belum lama sik. Masih inget kan duluuuu gw pernah misuh-misuh kan ya sebagai pembaca terjemahan quran di kawinan, yang mana mereka kekeh masukin gelar akademik gw saat MC nyebut nama gw? *masih inget? pemirsa mengernyitkan dahi.* tiap inget itu akik masih KZL deh, ini juga ter-NKRI, mau kawinan dan kumpul keluarga apa pamer gelar? Tjih! Eniwei, yak, ini terjadi di kawinan yang itu. Intinya sih, keluarga ini pinjam dari bank atas nama tidak mau diremehkan tetangga dan mengangkat martabat keluarga. Huvft banget ya. Masyarakat kita tuh kadang nggak masuk akal dan nggilani yah? Salah satu ukuran pantas enggaknya seseorang/satu keluarga dihormati adalah dari resepsi yang diselenggarakan. Meanwhile, in the galaxy far far away, orang jauhhhhh lebih meghormati hal-hal kayak gini. Mau kawinan di halaman belakang rumah ngundang tiga orang juga sok aja. Kecil kemungkinan keluar pergunjingan seperti yang gw sebut di atas atau kometar resek macem,' Ih kawin kok nggak bilang-bilang sih?' atau 'Ih, kok gw nggak diundang sih?' 

YHA?!

Oke, balik lagi. I would say that the idea of borrowing money was stupid. Plain stupid. Ya pokoknya, kurleb, gw tau apa yang terjadi di dalamnya, dramanya apa aja. Dan dengan minjam seperti ini, justru bikin semuanya makin ribet. Karena, setahu gw, yang minjam pihak cewek dan (tampaknya) pihak cowok nggak tahu, berarti beban ada di pihak cewek yang mana pihak cewek pun nggak bisa 'menanggung' ini sendirian sehingga butuh support dari saudara laki-lakinya yang juga sudah berkeluarga dan pasti punya bayak kebutuhan sendiri yang lebih penting. Selain itu, si ibu dari mereka sudah cukup sepuh, apa-apa yang dirasa bukan berita baik, harus disembunyikan rapat-rapat.  Lalu, yang pasti sih, perihal ini baru bisa lunas bukan dalam hitungan bulan, tapi dalam hitungan beberapa tahun dan bunganya juga udah bertambah-tambah.

Bok. Gw sih belum pernah kawin yak, tapi kalau dipikir pake logika gw yang super cetek ini, bukannya setelah resepsi jauh lebih penting dari resepsi ya? Resepsi nggak sesuai standar masyarakat, berapa lama sih mereka bakal bertahan untuk terus bergunjing? Belum lagi kebutuhan orang habis kawin itu banyak bukan sih? Daripada dipake nyicil biaya resepsi yang cuma sehari *boro-boro sehari, cuma dua jam!!*, kalau logika gw sih lebih masuk akal dipake nyicil rumah atau panci teflon sekalian. Make sense!! Terus, jahanamnya gw, waktu gw tau hal ini, sisi kemanusiaan hampir tidak tersentuh sama sekali, yang ada malah,'Kok bisa sih? logikanya apaan? itu kan nggak masuk akal. Ya udahlah, biar mereka mikir akibatnya apaan.' And mein Mutter be like,'Nggak boleh gitu. Kita harus bersyukur makan masih gampang, blabalablabalabla *all the wisdom* dan kalau bisa, ya kita bantu sedikit-sedikit.' 

Ya gitudeh. Bahwa kadang, ada yang maunya pesta besar, tapi mampunya sederhana. Ada yang memang sebenarnya mampu pesta besar, tapi emang maunya sederhana atau bahkan nggak mau perayaan. Ada yang memang mampu pesta dan memang maunya pesta besar. Ada juga yang mampunya sederhana kemudian menyelenggarakan secara sederhana. Ya sekarang sih terserah bae' lah mau gimana, asal tau risikonya kayak apa.
read more.. "Resepsi Kawinan"