Thursday, 15 June 2017

Kelakuan Sobat Kizmin pada Masanya

Siapakah sobat kizmin tersebut? Gw lah salah satunya. Seperti pernah gw singgung sedikit di sini *ya elu mah emang ditambah pelit kali Ning!! :))*. Sebenernya kepikiran waktu tadi pagi manasin air buat bikin kopi. Seumur-umur gw ga pernah punya water boiler elektrik, di rumah, dulu kalau mau air panas ya nggodok pake ceret (ceret apaan sih Bahasa Indonesianya?), sekarang mending ya ada dispenser. Terus gw inget, momentum gw punya water boiler pertama kali adalah di Landa. Dari manakah gw mendapat water boiler?  Apakah gw bela-belain beli yang bagus sekalian supaya awet? Oh tidak. Apakah gw beli di supermarket diskon? Oh tidak. Apakah lungsuran angkatan atas? Oh tidak. Terus dapet dari mana woyyy?!?!? Mulung Nemu di suatu koridor. 

Gw emang ter-sobat kizmin :)))).

Lungsuran barang dari angkatan atas sih biasa banget, bahkan udah bukan hal yang anehlah barang seken. Di city center pun ada toko yang khusus ngejual barang seken dan nggak pernah sepi peminat. Jadi ya perkara mulung-memulung barang emang lumrah. Beberapa barang yang gw punya selama di sana adalah hasil mulung. Selain water boiler, hasil mulung gw diantaranya adalah rak, winter boot, tas, sampai baju. Orang-orang biasanya udah paham, ketika mereka mau pindah dan banyak barang yang nggak diinginkan tapi masih dalam kondisi bagus tapi nggak kejual, mereka biasanya akan sortir dan mereka simpan di dalam pintu koridor di mana dia tinggal. Cuma masalah waktu aja, biasanya sobat-sobat kizmin macem gw akan gerak cepat untuk mengamankan barang yang dirasa masih bisa dipakai. Beberapa jam kemudian biasanya gundukan barang tersebut udah habis dan tinggal nyisa perintilan nggak penting. Masalah selesai. Sampah berkurang dan semua senang.

Lain halnya kalau barang yang nggak diinginkan udah jelek, biasanya si pembuang akan langsung buang ke dumpster di student housing tersebut. Nah, tapi pernah juga nih gw nemu barang-barang masih bagus dan bersih di dumpster. Tas yang isinya baju, jaket, sampai sepatu. Ya gw amankan lah barang yang gw rasa oke, bahkan masih ada satu jaket Giordano hasil mulung dari dumpster tersebut yang masih gw pake sampai sekarang *ya envelope, why did I even tell this :)))??*   

Kadang ada juga sih orang-orang kampret yang emang niatnya pure buang barang. Barang-barangnya udah juelek pol dan ngga kepake tapi mereka simpen gitu aja di pintu depan koridor. Biasanya karena mereka terlalu malas buat buang ke dumpster dan  ngebiarin supaya petugas kebersihan gedung yang buangin barang tersebut. Entah kenapa gw sering mikir kalau yang kelakuannya gini mungkin orang Aprika *oh prejudice :))* Ya abis, kejadian begitu biasa gw temui di student housing yang dominannya orang Aprika dan Indo, dan orang Indo kayaknya nggak gitu (gitu amat) deh :)))), fufufufufufu.

Nah, dalam perkara mulung-memulung ini, Indonesian brotherhood dan sisterhood biasanya gercep. Ya mungkin nggak semua, palingan gw dan sobat kizmin lainnya yang sejenis gw *ciyaaannn* Misalnya ada anak Indo lagi lewat lantai 12 dan liat ada seonggok setrika dan barang lainnya, biasanya dese langsung kasih tau anak Indo lainya yang tinggal di housing tersebut supaya dia ngecek siapa tahu ada yang dia butuhin, begitu pula sebaliknya. Dari segala jenis barang yang pernah gw liat di sekitar pintu koridor, kayaknya kulkas udah yang paling heboh. Iya sih kulkas kecil, tingginya paling 1-1.2 meter, tapi kan tetep aja itu kulkas bokkkk. Dan percayalah, kalau kulkasnya masih berfungsi, orang yang ngincer bakal bela-belain dengan segala daya upaya untuk ngambil kulkas tersebut. Biar kata dia tinggal di lantai yang beda dari kulkas tersebut ditemukan, prosesi geret-menggeret masuk-keluar lift bakal tetap dijalani.   

Latar belakang mulung barang untuk sobat-sobat kizmin ini boleh jadi beda-beda, tapi satu hal,   Mz Leo DiCaprio pasti bangga dengan prosesi reuse barang ini :))).
Read More »

Wednesday, 14 June 2017

When You Read Books Written by Swedish Author

Do expect to come across typical Swedish name. 

So, I managed to finish the third book of Millennium Trilogy, and at some points I realize that those typical Swedish names appear more and more. Since I had so much time in hand, I decided to check on them and here they are :)))

The Girl with the Dragon Tattoo
Abrahamsson, Carlsson, Magnusson, Nilsson, Aronsson, Pettersson, Svensson, Torstensson, Toresson, Larsson, Jacobsson, Gustavsson, Karlsson, Samuelsson, Persson, Torsson, Andersson, Adolfsson, Oskarsson, Eriksson.

The Girl who played with Fire
Larsson, Persson, Mikaelsson, Axelsson, Eriksson, Nilsson, Svensson, Johansson, Magnusson, Fransson, Oskarsson, Carlsson, Hansson, Ohlsson, Mårtensson, Olofsson, Håkansson, Karlsson, Andersson, Gunnarsson, Samuelsson, Nicklasson, Viktorsson, Gustavsson, Ottoson, Gustafsson, Jansson.

The Girl who Kicked the Hornet's Nest
Jonasson, Paulsson, Svensson, Johansson, Andersson, Kaspersson, Eriksson, Nilsson, Magnusson, Rikardsson, Fransson, Karlsson, Göransson, Svantesson, Thomasson, Carlsson, Danielsson,  Mårtensson, Oskarsson, Ottosson, Josefsson, Karlsson, Olsson, Fredriksson, Torkelsson, Fransson, Adamsson, Svantesson, Faulsson, Martinsson, Hansson.

Now I start wondering, do I sound Swedish if i change my name to Bening Mayantsson?
Read More »

Friday, 2 June 2017

[Buku]: The Naked Series

Gw mau ngomongin buku dula ah, biar kek orang bener.

Kali ini mengenai The Naked Series (bukan tentang traveling yak). Buku ini ditulis oleh seorang profesor ekonomi bernama Charles Wheelan. Pada saat ini dia staf di universitas Dartmouth, pun dia aktif di dunia politik.

Naked Economics

Sebenernya gw udah nggak inget (-inget banget) sama isi buku ini, hal yang paling gw inget hanyalah cerita tentang helicopter Ben dan easy money-nya. Kurang lebih, Charles Wheelan menulis buku ini untuk memberikan jawaban-jawaban akan doa-doa gw selama ini pertanyaan-pertanyaan awam yang berkaitan dengan ekonomi. Kok setiap hari pasar di Paris bisa punya suplai buah yang cukup? (gw pake contoh dari dalam bukunya, bukan karena geger U.S. mundur dari Paris Accord dan Macron shot the missile), tentang insentif dan perilaku, tentang productivity dan human capital, tentang market efisiensi (kenapa sih Brad Pitt jadi aktor, dia pasti bisa lho jadi sales asuransi yang mumpuni), globalisasi (hae para anti globalisasi), dan cerita-cerita lainnya yang gw udah lupa banget.

Buku ini sebenernya menarik (banget!), tapi entah kenapa kurang enak buat dibaca, setiap gw selesai baca satu halaman, gw merenung bingung terus mundur dua halaman, gitu aja terus makanya kelarnya lama banget. Buku ini bisa dibaca oleh siapa pun karena temanya umum dan relevan dengan kita-kita ini. Hal lain yang mbingungi menurut gw adalah ketika Wheelan memulai suatu bab dengan pertanyaan, ya kurang lebih thought provoking questionlah (tsaaahhh), lalu dilanjutkan dengan pemaparan akan akar/konsep dari pertanyaan tersebut. Setelah deskripsi panjang kesaana-kemari ditambah contoh-contoh, ujung-ujungnya gw ngerasa pertanyaan yang dia ajukan di awal nggak kejawab, gimana sih ini?

Meski kebanyakan isi buku ini udah nggak gw inget, ada satu contoh yang gw suka mengenai good intention resulting bad output. Alkisah, pada suatu masa, Amerika mengimpor produk tekstilnya, salah satunya, dari Bangladesh. Seluruh dunia juga tahu ya kalau industri seperti ini, terutama di negara berkembang yang aturannya ala kadarnya, banyak diantara pekerjanya yang merupakan anak di bawah umur. Pada suatu hari, salah seorang senator berhasil menggolkan bill untuk menolak hasil tekstil dari perusahaan yang mepekerjakan anak di bawah umur. Kedengerannya heroik dan positif ya. Atas dasar hal tersebut, banyak pabrik di Bangladesh yang berhenti mempekerjakan anak di bawah umur. Maksud hati dari si senator ingin nolong anak-anak tersebut supaya bisa bahagia, kembali ke sekolah dan tumbuh seperti anak-anak lainnya, namun apa daya kenyataan berkata sebaliknya. Penelitian menunjukkan kalau banyak dari anak-anak tersebut yang berakhir di lingkungan yang lebih buruk dari sekadar kerja di pabrik tekstil. Banyak yang jadinya sering nongkrong nggak jelas, bergaul di jalanan, dan ditemukan juga peningkatan yang signifikan dari prostitusi anak-anak. Nah, lho?

Gw kan jadi merenung, ya emang kadang hidup suka begini, maksudnya dan tujuannya baik, eh ujung-ujungnya malah jadi nggak baik, hvft.

Reccomended? Yes! Yes! 


Naked Statistics



Aku cinteu buku ini!!! Buku ini nggak akan bikin kita jadi statistik guru (Oh, I wish!), tapi buku ini bisa ngasih fondasi mengenai konsep statistik dengan bahasa yang manusiawi dan contoh yang lucu. 

Bukunya mencakup hal-hal dasar mengenai statistik, dengan penjelasan tentang hal tersebut, mengapa hal itu menjadi penting dan apa fungsinya dalam statistik. Di awal bukunya, dia menyinggung mengenai ketidaknyamanan (atau ketidaksukaan?) kita akan statistik, padahal dalam kehidupan sehari-hari kita banyak bersentuhan dan menggunakan statistik, misalnya, ‘Bro, Real Madrid bakal ketemu Barcelona, dari seratus pertandingan terakhir, Madrid cuma menang tiga puluh kali!!’ (oke, ini gw ngarang, tolong fans Real Madrid jangan nyambit gw) Kurang lebih contoh yang sama yang dipake Wheelan di awal bukunya, bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita banyak bersinggungan dengan statistik. 

Hal-hal dasar seperti rata-rata, nilai tengah, dan nilai yang paling sering muncul pun dibahas di sini, hal simpel yang kebanyakan dari kita udah familiar. Tapi dia nggak sekadar ngasih pengertian dan gimana cara menggunakan instrumen tersebut, dia ngasih twist soal pentingnya nilai tengah dan rata-rata dalam situasi tertentu. Gw pake aja ya contoh yang dia pake. 

Pada suatu hari, sepuluh orang cowok sedang kongkow di bar, penghasilan mereka masing-masing adalah 50000 doleu, berapa rata-rata dari penghasilan mereka? Cincai ya, 50000 doleu juga. Tiba-tiba, masuklah Bill Gates ke dalam bar, penghasilan Gates saat itu sekitar 11.5 milyar doleu, sekarang, berapa penghasilan rata-rata dari mereka ber-11? YA JADI GEDE BANGET BRO, SIS!! Padahal sepuluh orang tersebut nggak mengalami peningkatan pendapatan, keberadaan seorang outlier yang akhirnya mengguncang rata-rata penghasilan mereka semua. Sekarang gimana dengan nilai tengah? Nah, nilai tengah dari penghasilan meraka sebelum dan setelah Oom Gates masuk bar tetap sama nggak berubah, itu dia kenapa nilai tengah dan rata-rata jadi punya peranan masing-maisng yang penting. 

Habis baca ilustrasi tersebut, gw langsung mengalami a-ha moment. Gilingan, padahal hal sesimpel itu tapi nggak pernah kepikiran sama sekali.

Hal lain yang gw suka dari buku ini adalah aplikasi dari statistik yang sungguh bisa digunakan untuk kepentingan apapun untuk menyuport pendapat kita akan sesuatu. Dosen Wheelan pernah bilang kalau dengan data yang sama, dia bisa memuaskan audiens yang berbeda, baik mereka yang Republikan mau pun yang Demokrat. Dia bisa mengolah dan menampilkan data seolah-olah kinerja dari Demokrat dan Republikan ini memuaskan, tergantung permintaan.

Wheelan pun membahas soal banyaknya riset-riset nggak mutu yang menggunakan statistik  dan dipublikasikan terhadap khalayak. Banyak hal yang sebnarnya bisa dikritisi dan perlu diterima secara skeptis. Misalnya, golf diasosiasikan dengan penyakit artritis dan serangan jantung. Ah, yang boneng nih? Terus gw musti berhenti main golf nih? *yha* Di sini Wheelan mengkritisi, apa bener metoda yang dipake bener? Apa iya sampel dan data yang didapat bagus? Gimana kalau sebenarnya bukan golf yang punya asosiasi dengan serangan jantung, tapi emang umur yang udah uzur, karena mereka yang hobi bermain golf  biasanya bukan para pemuda. Apa iya variabel ‘umur’ udah dikunci dan yang dibandingkan adalah mereka dengan umur yang sama? Lagi-lagi gw hanya berkata, ‘Enel ugha yha.’

Contoh lain? sering banget kan kita baca headline, segelas wine per hari bisa menurunkan berat badan. Beneran nih? Atau, mereka yang mengonsumsi muffin bluberi 5 kali sehari punya risiko lebih rendah dari meninggal karena kanker. Beneran gara-gara muffin nih? Bukan karena emang mereka orang mampu (ya namanya juga beli muffin bluberi) yang emang punya akses bagus terhadap pelayanan kesahatan? Bukan karena mereka orang mampu dan punya tingkat pendidikan bagus jadi lebih sadar kesehatan? BENERAN GARA-GARA MUFFINYA INI???

Lagi-lagi gw cuma bisa bilang, ‘Enel ugha yha, kok ga pernah kepikiran sih?’ 

Masih banyak lagi contoh-contoh lain dan teori mengenai statistik yang bisa bikin kita lebih aware sama banyak hal di sekitar kita atau bikin kita takjub dengan mereka yang emang bisa menggunakan tool ini dengan baik dan benar dan memberikan hasil yang baik.

Satu lagi yang paling penting, buku ini dirilis tahun 2012, sepuluh tahun setelah Naked Economics dirilis, kerasa banget gaya menulis Wheelan jadi jauuuhhhhh lebih enak dibaca, improve banget lah di mata orang awam cem gw, belum lagi jokes yang dia tulis lebih lucu daripada Naked Economics.

Recommended? yes! yes! yes!

Read More »