Tuesday, 21 February 2017

(Pathetic) Outgoing Introvert

Gw memproklamirkan diri gw sebagai  (pathetic) outgoing introvert. Lha, bukannya oksi-moron ya istilah outgoing introvert, katanya introvert, tapi outgoing, dasar tida berpendirian, hih!!! Banyak yang bilang sebenarnya outgoing introvert itu tak lain adalah ambivert, di mana spektrum introversion and extroversion jatuh daerah tengah. Tapi kok gw nggak setuju ya, karena gw nggak (merasa) ambivert, tapi gw (merasa) outgoing-introvert, bingung nggak loh? Sama sih. Kadang-kadang gw baca introvert ilustrasi, terus ngakak sendiri karena kok bener sih??? :)))

Buat gw pribadi, ada hal-hal yang sepertinya terdengar aneh atau menyedihkan untuk geng ekstrovert tapi gw rasa introvert squad bisa relate. Hal tersebut mislanya….

Ilustrasi ini sebenarnya gw banget. Fungsi utama lubang ini buat ngintip sih pasti, tapi kebanyakan biasanya ngintip ketika ada yang ngetuk pintu, untuk mastiin siapa orang yang ngetuk tersebut. Kalau gw, selalu ngintip sebelum melangkahkan kaki keluar rumah. Alasan utamanya adalah untuk mengetahui apakah tetangga depan rumah sedang ada di luar atau nggak. Kalaupun sedang nggak ada di luar, kadang pintu rumah mereka terbuka dan uncle-nya keliatan sedang ngaso di ruang tengah. Gw nggak suka kalau tiba-tiba gw harus dikejutkan dengan keberadaan mereka di luar rumah, padahal apa sih, ya tinggal senyum, sapa, dan santun. Masalahnya, senyum, sapa, santun ini perlu persiapan mental yang mumpuni, makanya intip dulu lah.

Kadang kalau urusannya nggak urgent, gw lebih milih ga jadi keluar rumah. Misal gw harus buang sampah ke refuse chute yang letaknya di luar rumah dan pintu tetangga sedang kebuka. Gw liat aunty-nya sedang siram tanaman hias. Yaudahya, mending gw nggak jadi keluar dan memutuskan untuk buang sampahnya nanti aja ketika mereka udah pada masuk dan nutup pintu. Cupu amat.

Nggak angkat telepon.
Ini nggak melulu untuk nomor nggak dikenal. Gw kadang snegaja nggak ngangkat telepon dari orang yang gw kenal dan milih buat nelpon balik. Gw nggak tahu apa hal ini aneh atau nggak untuk orang kebanyakan. Pada masanya gw pernah nggak ngangkat telpon dengan kode area Jakarta yang gw tahu pasti tentang aplikasi kerjaan gw. Habis itu gw gooling nomor tersebut dan memang bener itu nomor telepon perusahaan. Kurang pathetic apa lagi coba gw?

Makanya gw lebih suka dihubungi via email karena gw merasa lebih siap dan nggak merasa ‘terjajah’ privasinya.

Ehe..ehe..ehehehehe.

Ambil jalur lebih jauh
Have you ever walked and spotted someone you know from the distance? Instead of walking happily and ready to greet them, you just take another longer route just to avoid the person. Ini gw banget :))). Gw pernah lagi ngobrol sama temen, sebut saja X, dia menceritakan temanya yaitu Y. Nah Y ini punya teman, Z, (ini apose banget sih temen-temennya-temen). Si Y ini katanya pernah memergoki si Z yang tiba-tiba puter balik ambil jalan lain, si Y ini yakin kalau Z menghindari dia, padahal mereka berdua temenan cukup baik dan nggak ada masalah. Terus X bilang teman macam apa itu si Z, kampret amat, really a proper beeyotch.

Gw cuma senyum penuh makna sambil bilang kalau gw juga suka gitu. Bukan karena gw sebel sama orang tersebut, gw cuma nggak pengen nyapa aja, lagi ga ada energinya bok. Gw mending ketemu kucing liar deh ketimbang ketemu orang yang dikenal. Pffftt. 

Merencanakan hangout (lalu membatalkan)
Rencana ini bisa berupa rencana gw sendiri atau rencana hangout karena diundang orang lain. Pada masanya ketika di Landa, ketika begitu banyak undangan parti, hayati sampai puyeng sendiri untuk menentukan apakah gw datang memenuhi undangan tersebut atau cari alasan dan nggak datang. Kalau nggak datang (lagi), kali ini alasannya apa (lagi)? Lha wong kadang yang ngundang itu lagi-itu lagi. Atas nama menghormati yang ngundang, ya sekali-kali gw datang, sambil meper ke pojokan dan ngedeketin orang yang keliatannya 'jinak' (merpati kali ah jinak). Gw lebih suka kalau undangannya melibatkan inner circle, orang-orang yang (lumayan) gw tahu dan sifatnya lebih ke dinner bareng ketimbang parti.

Nggak jarang juga gw merencanakan untuk hangout. Googling keriaan apa yang sedang terjadi, terus merencanakan buat datang dan juga merencanakan hal-hal apa yang akan gw lakukan di sana, berakhir dengan nggak jadi keluar dengan alasan, 'Ah, keluar minggu depan juga bisa, keriaan mah pasti ada aja nggak habis-habis. Mending gw baca-baca atau nonton video youtube.' YHA!  

Nggak suka kejutan
'Kalau lo ultah terus nggak ada yang inget gimana?'
'Nggak apa-apa, nbd.' *melengos*
Ku tak suka kejutan. Kejutan yang bagus aja gw males, apalagi kejutan dalam arti terkejut karena hal jelek terjadi. Kurang malesin dan membosankan apa lagi coba gw??? Hahahahaha.

Sebenarnya masih adalah serentetan hal lain, seperti yang diilustrasikan dengan apik di sini atau di sini.
Read More »

Friday, 27 January 2017

Kegeblekan Seleksi Beasiswa pada Masanya

Pengalaman nyari beasiswa itu selalu seru dan unik buat setiap orang. Sekarang sih bisa ketawa getir kalau inget yang dulu dikerjain, padahal pas jamannya nyari sih mewek-mewek bombay karena udah dapet dua beasiswa tapi dua-duanya slipped through my hand akibat kebodohan masa muda yang sebenarnya nggak perlu terjadi kok nggak dapet-dapet sih. Ah, kzl, zbl, cedi.

Gw nggak tahu apakah pernah cerita soal ini atau nggak, maklum ya, usia makin senja, jadi sering lupa dan suka mengulang cerita untuk kesekian kalinya *rhyme at its best!!*

Alkisah, salah satu beasiswa yang pernah gw apply adalah beasiswa yang disediakan oleh salah satu perusahan minyak kenamaan asal Prancis yang namanya sama seperti nama salah satu toko buah di area Dago-Maulana Yusup-Sulanjana, Bandung. Berhubung perusahaan ini asal Prancis, dia membebaskan para aplikan untuk cari kampus sendiri, bebas merdeka asal di Prancis. Soal jurusan, sayangnya ga bebas, karena yang eligible untuk apply program ini adalah jurusan-jursan tertentu, makanya niat awal untuk apply ke ESMOD Prancis kandas sudah *halu adalah keontji*.

Karena niat membara untuk sekolah ke Yurep, kesempatan apa pun gw sikat. Istilahnya ya tebar jaring lah, ya daripada tebar hoax. Seleksi beasiswa ini ada beberapa tahap, meliputi seleksi berkas, FGD, wawancara HR, dan wawancara dengan petinggi perusahaan. Tahap seleksi berkas paling santai karena nggak berasa apa-apa. Giliran lolos tahap satu dan melangkah ke tahap FGD, gw nerves berat. Ya Allah Tuhan YME, aku anaknya cupu, ngasih pendapat nggak berani, ngangkat tangan buat nanya di kelas atau forum pun tak sanggup. Kemampuan gw cuma mentok di level berisik via sosial media, gimana bisa ngadepin FGD. Hal yang bisa gw lakukan adalah cari-cari tips via internet, kebanyakan dari tips tersebut bilang kalau kita jangan terlalu aktif sampai kesannya mendominasi tapi jangan sampai juga terlalu pasif dan cuma ngangguk-ngangguk ketika diskusi berlangsung bak salah satu cawagub DKI. Ih, kzl deh, tips apa ini kok sungguh normatif seperti jawaban-jawaban dari salah satu cagub DKI, nggak membantu dan nggak praktikal: jangan mendominasi dan jangan pasif. Aku kan butuh solusi konkret yang aplikebel. Ya sudahlah, siap nggak siap memang harus dihadapi. Target gw nggak muluk-muluk, jangan sampai ngompol, muntah atau pengsan selama FGD, kalau ternyata gw benar-benar sampah, gw nggak akan melakukan apa yang James McAvoy pernah lakukan untuk kabur audisi, gw berencana untuk pura-pura kesurupan aja, karena kesurupan di luar kuasa gw dan gw nggak bisa disalahkan, salahkan saja para setan dan lelembut yang berkeliaran.

Hari FGD datang, ternyata gw sekelompok dengan salah sorang teman sejurusan, meskipun artinya dia jadi saingan, tapi nggak apa-apa lah, seengaknya gw agak lebih tenang dan bisa mengopi yang dia lakukan selama FGD. Cupu abis kan gw? FGD pun dilakukan, ternyata kami mendapat mendapat skenarion di mana kami terdampar di suatu tempat, entah luar angkasa atau pulau terpencil (jauh amat bedanya, pulau terpencil ama luar angkasa, antara The Martian atau Cast Away), lalu kami diberi list dari berbagai barang yang bisa digunakan sebagai survival kit dan kami harus berdiskusi untuk memutuskan barang mana saja yang harus dibawa. Temen gw membuka diskusi tersebut, berhubung temen gw yang buka, gw jadi merasa tenang, lalu mengekor dia untuk mulai berpendapat. Lalu entah apa yang terjadi, diskusi mengalir di antara kami dan ternyata gw nggak ngompol, pingsan, muntah atau pura-pura kesurupan. Yay!!

Nggak lama setelah itu, hasil diumumkan dan ternyata gw lolos. Nerves lagi lah gw harus menghadapi interview. Gimana bisa go internesyenel dan jadi seleb holiwud kenamaan kalau dikit-dikit nerves dan jiper, hih!! Waktu interview pun tiba. Beberapa pertanyaan standar ditanyakan, salah satunya adalah pertanyaan mengenai alasan gw mengambil jurusan saat S1. Bukannya kasih jawaban berbunga-bunga yang bikin gw kayak orang bener dan punya visi, yang ada gw malah memberikan jawaban ala-ala buku The Secret.

Flashback ke jaman SMA, gw punya notes yang isinya catatan macam-macam. Ada satu catatan yang gw tulis ketika gw masih kelas satu SMA, isinya berupa ancer-ancer jurusan kuliah. Di halam tersebut, gw bagi menjadi dua, yaitu IPA dan IPS. Di list IPA isinya (urut dari nomor 1 sampai nomor 3) Teknik Lingkungan, Farmasi, Biologi; sedangkan untuk IPS, gw tulis akuntansi. Gw nggak pernah sadar pernah bikin catatan seperti itu. Waktu baru naik kelas 3 SMA, gw keteteran abis karena 'bolos' sekolah sekitar 40 hari untuk misi pengenalan angklung ke Yurep. Stress dan ngerasa paling bodoh, kayaknya nggak akan ada kampus yang bakal nerima gw, SPMB nggak akan lolos dan kampus swasta pun kayaknya menolak aku *drama*. Setelah melalui jalan panjang nan berliku, di SPMB gw memutuskan ambil IPC dengan pilihan berupa Teknik Lingkungan, Akuntansi, dan Biologi. Ternyata gw lulus pilihan pertama. Setelah positif gw lulus SPMB, gw pun mulai mensortir barang-barang SMA, mana yang masih bisa dipakai dan mana yang sudah tidak akan dipakai. Nah, saat sedang menyortir barang itulah gw menemukan notes tersebut dan saat gw buka, isinya membuat gw terpana seraya berujar, 'APAAN NEH CATETAN JAMAN KELAS SATU SMA KOK AKURAT SAMA REALITI KEHIDUPAN? APAKAH INI WAHYU ILAHI ROBI?!?!?!'

Kembali ke proses seleksi. Ketika gw ditanya kenapa milih jurusan gw, gw jawab, 'I am interested with this major and it's just the way it should be.' Seraya gw menjelaskan kisah notes tersebut, ter-The Secret abis memang, ngok . Ndilalahnya kok ya gw lolos ke tahap selanjutnya. They bought my whole arguments during the interview :)))).

Seleksi terakhir mengharuskan gw datang ke kantor mereka di Jakarta. Gw nggak tahu pasti siapa yang menginterview gw, tapi gw punya feeling kalau salah satu interviewernya adalah petinggi perusahaan tersebut sekaligus bapak dari salah satu senior satu jurusan gw dan senior tersebut pun sekarang berjibaku di dunia oil service (anak sejurusan gw yang dengan apesnya baca postingan ini be like, 'Oh, I know who are you talking about.'). On a serious note, this father and son (my senior) are great people. Eniwei, seluruh dunia rasanya udah tahu kan gw nggak akhirnya nggak lanjut sekolah di Prancis, yang berarti gw gagal seleksi tahap akhir. Tahu kenapa gw gagal? Gw juga nggak tahu pasti, tapi gw punya perkiraan kenapa gw gagal. Jadi, salah satu pertanyaan di inerview terkahir adalah, 'So, are you interested to work in oil company?' Gw dengan penuh keyakinan dan kepolosan menjawab, 'No, I am not.' DUILEEEE NING!!! BEGO DIPIARA, KAMBING DIPIARA KEK BISA GEMUK...KZL :''))). Ya ngapain mereka biayain gw kuliah kalau gw nggak ada ketertarikan untuk berkontribusi di dunia minyak pada umumnya atau di perusahaan mereka pada khususnya.

Kalo sekarang diingat-ingat ya bikin ketawa. Ibarat di masa depan gw berhasil go internesyenel dan diundang jadi bintang tamu Graham Norton Show, kisah ini bisa jadi anekdot, meskipun ketika baru dialami sih bikin air mata berderai-derai. Oh, life :"D.
Read More »

Thursday, 26 January 2017

Review Film Ala-Ala: Patriots Day dan Jim-The James Foley Story

[Disclaimer] Namanya juga review ala-ala, ya pastinya ala-ala. Selain jarang nonton film, kemampuan  gw mereview film nggak ubahnya kemmapuan gw mereview makanan, asal edible, ya she-cut!!! Kalo kebangetan nggak enaknya, baru gw protes. Begitu.

Kenapa dua film disatuin? Yaudahlah biar gampang, gw nonton keduanya minggu ini, meski bentuk filmnya beda, yang satu dokumenter, tapi kalau ditarik benang merahnya, ya masih bisalah, terror attack. Satu film tentang marathon bombing di Boston yang satu tentang freelance journalis yang diculik IS dan dipenggal kepalanya.

Gw sempet milih-milih antara La La Land, Patriots Day, Dangal atau Hacksaw Ridge, entah mengapa ujungnya nonton Patriots Day (padahal kandidat kuat adalah Dangal) yang gw rada nyesel juga, why oh why? Apakah karena aku kena pelet Mark Wahlberg? Auk ah. Kenapa rada nyesel? Ya abisnya filmnya ngono thok. Gw suka ekspektasi tinggi ketika nonton film yang berdasar kisah nyata (padahl kan Hacksaw Ridge juga, Dangal jugaaaa, ah kzl), ditambah baca twitnya Joko Anwar tentang film ini, katanya oke. Jangan salah ya, ketika gw ngerasa filmnya biasa aja bukan berarti gw nggak berempati dengan korban dan peristiwa tersebut. Abisnya kan gw dulu pernah bilang betapa malesinnya buku Diary of  a Young Girl, lalu dikatakan, harusnya gw berempati terhadap Anne Frank, dia masih begitu muda tapi punya keberanian untuk menulis, betapa sulitnya. Iya gw paham, but, having a an empathy toward what she's been going through and dislike the book written by her are two different things. At least for me.    



Patriots Day. Okelah. Menurut gw ya biasa aja, you don't watch it, you don't miss anything. Pun rasa-rasanya nggak perlu pake Mark Wahlberg atau Kevin Bacon lah, asa nanaonan kitu ya??? Inti ceritanya adalah peristiwa pengeboman saat maraton di Boston diselenggarakan dan bagaimana respon dan reaksi berbagai pihak sampai akhirnya sang pengebom bisa ditangkap. Di sana juga diperlihatkan footage asli dari peristiwa tersebut dan wawancara terhadap para survivors. Menurut gw sebagai penonton ala-ala, harusnya sih filmnya bisa lebih ngena karena menunjukkan gimana respon dari berbagai pihak seperti polisi, FBI, media, presiden, dan warga yang justru jadi bersatu ketika ada peristiwa kayak gitu. Tapi yang gw pribadi rasakan justru biasa aja. Kurang menyentuh dan yagitudoanglah.

Selama film juga banyak momen di mana gw nggak fokus karena gw malah mikir, 'Ini apaan sih?' dan juga mikirin detail nggak penting. Misalnya, ada pasangan suami istri yang jadi korban, keduanya mengalami amputasi satu kaki dan mendapat treatment terpisah di rumah sakit yang berbeda. Ketika akhirnya mereka dipertemukan kembali di suatu rumah sakit, reaksi yang gw harapkan adalah, 'Ohhhh, akhirnya. So sweet....' yang ada, 'Eh bentar, tadi textnya nunjukkin berapa hari setelah peristiwa mereka ketemu lagi? Kok lakinya masih clean shaved gitu? Harusnya facial hairnya udah mulai tumbuh belum sih? Oh mungkin emang harusnya belum tumbuh. Tapi kalau seharusnya udah mulai tumbuh, itu yang batuin shaving siapa? Suster? atau bapak mertuanya? Awkward ya.' Ngapain coba ai mikir begini sepanjang film?!?!?! Peristiwa lain, salah satu scene menunjukkan satu pengebom yang udah berhasil dilumpuhkan dengan cara ditembak sedang terkapar di jalan, pengebom satu lagi (yang namanya Jahar dan gw rasa nama lengkapnya adalah Jahara cynnn) berusaha kabur dengan mobil. Pada saat Jahar tanchap gas buat kabur, dia ngelindes temennya sendiri yang terkapar, gw sadar kalau gw harusnya ngeri atau bahasa kerennya horrified, yang ada malah ngakak, literally ngakak. Mungkin saking bosennya, scene begitu jadi hiburan. 

Gw sempet kepikiran juga misalnya muslim seperti gw nonton film ini di America, apakah akan ada prejudice dari penonton lain? Mbuhlah, wallahualambisowab.

Intinya, you don't watch it, you will not miss anything.  



Jim: The James Foley Story. Mood aku awur-awuran setelah nonton ini!!! Ditambah soundtracknya dinyanyiin Sting, aransemen dan liriknya begitu amat pulak. Ambyar semua!!! Film ini merupakan sebuah film dokumenter mengenai seorang freelance Journalis bernama James 'Jim' Foley yang mengcover konflik di Timur Tengah. Dia udah beberapa kali bolak-balik Timur Tengah untuk meliput perang dan sempat ditahan oleh pemerintah Libya pada tahun 2011 namun pada akhirnya dibebaskan. Setelah itu dia memutuskan untuk meliput konflik di Syria pada tahun 2012, sekitar November 2012 dia ditahan oleh grup radikal (yang kalau ga salah sih IS, tolong aku dikoreksi, karena ada yang bilang grup X, grup Y, IS, dll) bersama seorang jurnalis Inggris. Dia disandera selama hampir 2 tahun dan sempat berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dia pun disandera bersama jurnalis/fotografer dari negara lain yang jumlah totalnya sampai belasan orang. Setelah hampir dua tahun, akhirnya dia dipenggal kepalanya (iyalah kepalanya, kan dipenggal).

Awal film dibuka dengan penjelasan salah stau adik Foley mengenai bagaimana dia pertama kali mendengar berita mengenai pemenggalan kakaknya. Dari awal sampai pertengahan film, semua masih biasa aja. Menceritakan Foley ini siapa. Diisi dengan narasi dari anggota keluarga, teman, dan juga kolega yang pernah bekerja bersama Foley di wilayah konflik. Selain itu, ditunjukkan pula real footage hasil pekerjaan Foley selama ini. Beberapa bagian menunjukkan keadaan asli di wilayah konflik tanpa sensor, seperti korban perang, mayat, ledakan, dan situasi di salah satu rumah sakit di Syria. Menurut gw sih masih normal, nggak visually disturbing. Di awal film ada peringatan kok, bahwa akan ada image seperti itu, tapi proses pemenggalan Foley tak akan ditampilkan.

Pertengahan film, di mana mulai menceritakan Foley ditangkap dan disandera, sampai akhir film barulah jahanamiyah. Di bagian ini, diisi oleh bagimana kontak dan negosiasi terjadi antara penyandera dan keluarga Foley, tapi sebagian besar menunjukkan para jurnalis dan fotografer yang menceritakan pengalaman mereka ketika disandera bersama Foley. Pengalaman apa yang mereka rasakan, bagaimana Foley ketika disandera, dan kesan mereka terhadap Foley. Sedih nyet....sedih. Kadang mikir, kok bisa ada manusia yang tega kayak gitu. Ada bagian di mana salah satu jurnalis Prancis mengatakan kurang lebih, 'We were so hungry we ate banana peel. And there's a time they gave us chicken we ate its bones as well.' 

Selama disandera, Foley ini dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, sampai akhirnya dia dipindahkan ke dalam ruangan bersama para jurnalis dan fotografer yang gw sebut di atas. Karena Foley sudah hampir setahun disandera, dia sudah 'berpengalaman' dan berbagi dengan sandera lain apa yang dia rasakan. Ada waktu di mana penyandera memperlakukan mereka seperti teman, namun selang beberapa jam kemudian mereka akan datang dan menyiksa habis-habisan. 

Banyak hal yang bikin emosi naik turun ketika nonton film ini.

Ketika diceritakan bahwa Foley ini solat. Saat dia masih di Libya (atau di Iraq bantuin USAID? gw lupa), Foley memang sering solat bersama warga, karena dia sempat ditanya, 'Kok nggak solat bareng kita?' dan dia nggak tahu musti gimana ngejelasinnya. Gw nggak mau ngangkat apakah ini penistaan ketika dia ikut solat bareng muslim lain sedangkan dia bukan muslim, oke?! Ketika dia disandera dan solat, gw nggak tahu apa yang sebnarnya terjadi (of course, nobody actually knows), tapi yang bikin gw sedih adalah pernyataan seorang fotografer Denmark yang ditahan bersama Foley. Dia kurang lebih mengatakan, 'He's a man with the strong faith (faith in his own religion), but when you get used to go to Church every Sunday and attend the mass, then all of sudden you can't do it anymore, you need another way to do something with your faith.' Inti yang gw tangkap adalah Foley punya kepercayaan yang kuat pada agamanya, tapi ketika dia disandera, dia kesulitan untuk tetap terhubung dengan Tuhan-nya akhirnya supaya koneksi dengan Tuhan bisa tetap terjaga, dia memutuskan untuk (konvert ke Islam dan) solat. Gw sedih anet. Ketika seseorang 'nyari' Tuhan sendiri dan menemukan di suatu agama (lain), it's ok. Tapi kalau keadaan yang memaksa, itu sediiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhh. Tapi lagi-lagi, gw (dan seluruh dunia) nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan dia rasakan. Hal lainnya, ketika Foley menceritakan bahwa hari itu adalah hari ulang tahun dia. Sandera lain mengucapkan selamat dan nyanyi untuk Foley sambil mengatakan semoga tahun depan kamu bisa merayakan dengan lebih baik lagi. Tapi yang terjadi, itu ulang tahun Foley yang terakhir.

I got an impression that he's the strongest, bravest, and selfless person, among us in general and among other hostages in particular. He remained strong and even cheered Ottosen (Danish photographer) who was tortured few weeks led up to his released while Foley had no clue at all about himself. Whether he would be freed or what. Before being captured, he even raised money to get secondhand ambulance for particular hospital in Syria.

Keluarga menyayangkan respon pemerintah US yang dianggap kurang, karena belasan sandera dari EU berhasil dibebaskan dengan cara ditebus. Entahlah soal ini.

Udah ah, hayati lelah. It's a good movie to watch which leads to some kind of philosophical question ssuch as, 'Why would these war journalist are willing to do that? What am doing with my life? Have I done enough for others? Why some people could be that evil? Killing and manslughtering? ' Auk ah. Kzl. Zbl. Cedi. 

Yaitu tadi, yang paling kampret sih pas filmnya udah selesai. Lagu Sting-The Empty Chair diputar dan ada slideshow foto Foley semasa hidup. Sebelumnya gw nggak ngeh dengan hal ini, gw tahu ada wartawan US yang dipenggal, tapi gw nggak ngeh dan nggak pernah tahu ceritanya, bahkan sampai disandera selama itu. Gw nonton film ini pun iseng karena baca berita soal lagu Sting ini yang dapat nominasi Oscar. Inspirasi lagunya aja udah bikin cedi, Sting bilang 'Gw ngebayangin Thanksgiving, saat berkumpul dengan keluarga. tapi ketika sudah kehilangan anggota keluarga, kursi tempat dia biasa duduk akan selalu ada di sana, namun kosong.' *nangis senderan di dada Sting yang meski udah tua banget tetep bidang dan firm*


Silakan, ini liriknya, ayo ambil suara, Do=C, oke?

If I should close my eyes, that my soul can see,
And there's a place at the table that you saved for me.
So many thousand miles over land and sea,
I hope to dare, that you hear my prayer,
And somehow I'll be there.

It's but a concrete floor where my head will lay,
And though the walls of this prison are as cold as clay.
But there's a shaft of light where I count my days,
So don't despair of the empty chair,
And somehow I'll be there.

Some days I'm strong, some days I'm weak, 
And days I'm so broken I can barely speak,
There’s a place in my head where my thoughts still roam,
Where somehow I've come home.

And when the Winter comes and the trees lie bare,
And you just stare out the window in the darkness there.
Well I was always late for every meal you'll swear,
But keep my place and the empty chair,
And somehow I'll be there,
And somehow I'll be there.
Read More »