Tuesday, 26 February 2019

Huru-hara PhD

Heyhooo!!! Jama'ah....apa kabar jama'ahhhhh???

Gw habis ngintip postingan tahun kemarin dan ternyata dari tahun ke tahun, postingan gw makin dikit aja, kek rambut di kepala *amit-amit* gw tida rela kalau blog ini sampai rest in peace *ya elo nulis nyet!!*, yabes gimana dong gw sibuk *hidung pun memanjang* ehe...ehe...eheheheheh....

Karena hal-hal krusial yang butuh penanganan intensif suda berlalu sejak dahulu, gw mau cerita ah.

Jadi begini, pada awalnya gw melihat postingan lowongan PhD di tempat gw sekarang, wow.... aku sangat tertarik dengan kesempatan kabur dari NKRI topik yang ditawarkan, singkat kata gw apply, interview, dan keterima. Berangkatlah gw ke Finland. Berangkatnya aja via Bandung-Malaysia-Qatar-Helsinki, saking nggak maunya terbang dari Jakarta meski bisa langsung nyampe ke Qatar. Percayalah jama'ah, terbang Bandung-Malay jauh lebih mangkus dan sangkil ketimbang jalan darat Bandung-Jakarta lalu terbang. Apeuuuu.....

Jadi kondisi di sini adalah universitas memprakarsai pembuatan tiga platform riset, gw ada di salah satu platform riset tersebut. Direktur dari platform riset gw ini lah yang merekrut gw dan akan jadi pembimbing gw. Total orang yang beliaunya rekrut ada tujuh orang, lima anak doktor dan dua posdok.  Dese ini aslinya dari Indihe tapi sudah menjadi warga negara Swis *ciyeeee* *kalo dengan keajaiban doi menemukan postingan ini, doi pasti sadar gw menggunjingkan doi, bodo amat!!* yang kalau nulis bio selalu menyertakan kewarganegaraanya, kayak gini nih "Adam Suseno, warga negara Swis, adalah seorang blablablabla..." ciyeeee, pasti untuk meningkatkan nilai jual dan menghindari prejudice eaaaa?!?! Gw juga nanti gitu ah kalau udah pindah kewarganegaraan "Bening Mayanti, warga negara Mars, adalah seorang ukhti soleha...blablablabla..."

Eniwei, tiga minggu tinggal di Finland, tiba-tiba dese mengundurkan diri dari posisinya, keluar gitu aja dari universitas. Sebenernya penggunaan 'tiba-tiba' sangat understatement, karena gw dan kolega gw sudah mencium bau-bau ke arah sana, gara-gara dese ga pernah akur sama pihak universitas. Dese sempet nawarin kami untuk ikut dese keluar dari uni dan gabung dengan perusahaan (atau organisasi?!) yang dese dirikan. 


Say what?!?!?!?! Kontrak di bawah universitas, residen permit didapat karena kontrak dari uni terus dese nawarin keluar ikut dese?! Sekarang sih bisa dengan gagah berani secara logis mempertanyakan tawaran doi, tapi pada masanya sih kami bingung, karena nggak tahu siapa-siapa dan nasib bakalan gimana? Untung ada salah seorang anak posdok yang memang udah tinggal lama di Finland, jadi dia bisa kasih saran bahwa tinggal sama uni akan lebih baik, secara legal lebih kuat kedudukannya, uni nggak akan ngeluarin kita karena gile aja nanti skandal dong ah, kayak Swallow yang biasa ketuker kalau lagi jumatan *itu sandal* *krik*

Setelah doi resign, jadi kayak vacuum of power gitu, ibarat penjajahan sih waktu yang pas untuk mendeklarasikan kemerdekaan. Kosongnya lumayan lama, sejak Februari, dan kami baru dapat direktur baru bulan November kemarin. Direkturnya emak-emak, tiga platform semua direkturnya emak-emak. Ini negara emang tempat yang pas memang untuk perempuan supaya bisa bersinar.

Terus gimana nasib PhD gw? Gw secara ofisyel baru mulai PhD sejak Agustus dan dapet pembimbing yang baik. Doakan ya pemirsa, kami senantiasa harmonis nggak kayak gw dengan pembimbing jaman S1 *ahelah, dosa gw ama dese banyak yak? :)))* gw seneng kerja sama dese soalnya, pinter  bangettttt *yakali profesor pekok* membuat gw merasa bodoh secara berkelanjutan tapi tetep enak buat kerja bareng sebagai equal counterpart. Oh how I love egalitarian society. Dan entah kena kutuk apa gw, dese ini udah kayak orang Asia yang terjebak di tubuh orang sini, hobinya kerja!!! Gw kira bakal dapet orang yang tipenya work-life balans seperti di artikel-artikel indah tentang Negara Nordik dan Eropa Barat, nyatanya? Tetot!!! Tapi gw seneng sih kalau nggak dihantui soal progress gw kayaknya nggak akan nyempe ke mana-mana. Enaknya lagi, meski dese sibuk banget, gw selalu bisa menghubungi dese kapan pun entah via email atau telepon. Terus selama masa iddah dari mantan (calon) supervisor resign sampai gw ofisyel jadi PhD ngapain aja nih? Simpel, setiap hari datang siang ke kantor, main Zuma seharian, terus pulang cepet. Oh akhirnya kumerasakan kenikmatan yang dirasakan kebanyakan PN... *sinyal ilang*

Oke, kembali ke lappptoppp... *ketahuan angkatan gw*
Mari kita kembali ke topik utama, menggunjingkan mantan (calon) pembimbing gw a.k.a. MCP. Karena meski menggunjing dilarang agama, siapa yang peduli, selama tidak musyrik dan buka jilbab (oh yes, really want to talk about it as well since Dina Tokio phenomenon stole the spotlight and now Salma Sunan. Because beeyotch! I wonder why wearing one makes you feel morally superior to the ones who take off their hijab?!). 



Pas dese resign sih kami yang bener-bener pendatang di sini cuma mikir kalau emang MCP resign karena beda visi aja sama universitas, tapi lama-lama setelah ngobrol sana-sini, kok kayaknya dese ada agak-agak tipu muslihat sih. Banyak hal yang bikin kami mikir seperti itu, tapi salah satunya yang bikin gw pribadi yakin kalau dese emang penuh tipu muslihat adalah penolakan dia untuk meng-enroll kami para anak doktor. Begini, di sini, periode enrollment untuk anak doktor (dan mahasiswa lainnya) adalah spring dan autumn semester. Sebelum kami nyampe kemari, pihak graduate school udah ngingetin MCP supaya kami bisa enroll dari awal, sehingga begitu tiba langsung terdaftar sebagai anak doktor periode spring 2018. Apa yang dilakukan MCP? No..no..no...dese nggak menggubris pihak graduate school. Pun setelah kami nyampe dan dese resign lalu nawarin (atau 'maksa') kami keluar dari uni, concern kami anak doktor adalah gimana bisa lulus kalau keluar dari uni terus ikut di start-up nya dese? MCP nggak pernah kasih jawaban konkret kecuali, 'Nggak usah khawatir, enroll PhD itu hal yang paling gampang, nanti Saya cariin uni buat kalian 'nyantol' dan terdaftar,' apelo kakean cangkem!!! Setelah dipikir-pikir sekarang, pantes aja sikampret nggak mau enroll kami sebelum datang, karena (suudzon) gw mengatakan bahwa dese emang udah berencana buat keluar dari uni dan ngebawa kami ikut serta (serta mengusahakan supaya funding bisa ikut ditarik keluar, menurut lo?!?!?!). Kalau kami udah nyantol sebagai enrolled-PhD kan tambah susah buat ditarik keluarnya. Apa untungnya doi narik kami keluar? Kalau kami publikasi atau sampai bisa menemukan sesuatu terus bisa dapet paten *yang nemu paten paling anak PhD lain, gw kan cupu :))*, dese nggak perlu 'berbagi' sama pihak universitas, nama dese lah yang popularitasnya terdongkrak, ga pake embel-embel universitas. Mamam noh ego!! Gosip lain adalah anak posdok pertama yang sikampret rekrut. Dia rekrut temennya dari Indihe, temennya datang ke Finland, seminggu kemudian resign dan balik kampung ke Indihe. APHA YANG TERJADI PEMIRSA?!?! Kalau cuma perkara remeh-temeh sih nggak mungkin ya, udah berkorban banyak untuk ninggalin kampung halaman, baru seminggu terus capcus balik. Kecuali dese ada tawaran bombastis main di film Bollywood bareng Shah Rukh Khan, lain cerita kalau itu.

Hal di atas cuma salah dua fakta yang menguatkan kecurigaan kami terhadap sikampret, kalau dia emang ada kepentingan terselubung dengan mengambil posisi sebagai direktur riset platform tersebut. Masih ada serentetan hal lainnya yang sudahlahya nggak perlu ditulis karena ya memang nggak perlu dan kalau ditulis nantinya postingan jadi panjang banget bak rangkaian THREAD di Twitter, pret! Singkat kata, harapan PhD gw adalah menjadi produktif (untuk publikasi), harmonis dengan pembimbing *fingers crossed, i genuinely like him a lot*, dan tidak gila atau menjadi botak. Amin.
Read More »

Tuesday, 4 December 2018

Hasil Observasi sebagai Ph.D

Berikut adalah hal-hal cemen yang gw pelajari setelah gw menjadi anak Ph.D semenjak Agustus 2018 yang lalu. Lho kok dari Agustus 2018, bukannya ente sudah di Finland sejak Januari? Itu ada lagi ceritanya, huru-hara-rusuh yang diciptakan mantan spv gw bisa diceritakan kemudian hari :))). 

Kompetisi bak celana jins gw, ketat dan tidak seksi. Kalau bahasa kerennya, survival dunia riset dan akademik adalah publish or perish. Meski udah banyak yang berusaha supaya penilaian kesusksesan di dunia riset bukan hanya dari jumlah publikasi semata, tapi apalah daya kalau sistem masih begini. Bukan hal yang aneh makanya kalau peneliti atau dosen yang nggak produktif publikasi atau misalnya nggak dapat dana, ya bisa dihempas dari institusi yang bersangkutan. Habis gitu gw menerawang sendiri, kalau jadi peneliti atau dosen pegawai negeri di Indo tenang batiniyah juga. Eits, jangan langsung protes dan marah-marah sama gw kalau ada pembaca yang termasuk di atas, tapi kan emang tenang batiniyah karena nggak perlu deg-degan bakal dihempas dari institusi kalau produktivitas di ranah penelitian kurang membahana? Jangankan nggak meneliti, nggak ada predikat doktor dan nggak penah ngajar kuliah karena sibuk proyekan mulu walhasil 3 SKS artinya 3 pertemuan di kuliah pengganti kala weekend-pun nggak jadi masalah :)))) *pengalaman pribadi jaman masih bekelor dulu* Makanya nggak heran kalau pada akhirnya banyak peneliti yang berlomba-lomba dalam kebaikan menghasilkan publikasi, bodo amat yang penting bisa publikasi, syukur-syukur di jurnal yang rangkingnya tinggi, kalau nggak yowislah nrimo. Hal lain yang umum adalah banyak profesor yang levelnya udah tinggi kerjaannya lebih sering di level manajerial dan udah nggak begitu terlibat di penelitian, tapi namanya akan selalu nyantol di setiap publikasi yang dikeluarkan oleh institusi yang dia pimpin. Ini pengalaman pribadi juga pas di Singaparna, berhubung profesor seniornya sibuk berat, dese perannya sebagai principle investigator, kurang ngeh juga apa yang dilakukan di level riset, tapi pas ada publikasi, eh namanya dese bercokol, padahal yang kerja rodi ya peneliti yang di lab dan asisten profesor. 

Ranking jurnal yang utama. Bukan hanya jumlah publikasi yang jadi patokan kedigdayaan seorang peneliti, tapi juga jurnal di mana dia mempublikasikan hasil kerjanya. Impact factor suatu jurnalah yang jadi patokan. Semakin tinggi impact factornya, maka semakin elit-lah journal tersebut. Misalnya ya Nature, ini tuh udah yang paling hakiki. Peneliti yang udah canggih sih santai aja kalau habis publikasi di Nature, tapi para amateur rakyat jelata yang berhasil publikasi di Nature untuk pertama kalinya be lyke...  


Gw mah nggak ada cita-cita publikasi di Nature, sadar diri memanglah lebih penting dari sekadar percaya diri. Ngimpi buat publikasi di Nature adalah ekuivalen dengan ngimpi kawin sama Jake Gyllenhaal. Halu nggak ada obat.

Eniwei, balik lagi soal rangking jurnal. Rangking ini pun ada banyak versinya, misalnya Google Scholar dan Scopus punya rangking sendiri untuk jurnal. Nggak sampai di situ, tiap negara biasanya punya organisasi atau badan tersendiri yang tugasnya membuat rangking untuk jurnal, boleh jadi bikin rangking untuk seluruh jurnal dari berbagai bidang secara umum, atau bisa juga bikin rangking untuk bidang tertentu, Business and Management misalnya. Nggak mau ketinggalan, Finland pun punya rangking tersendiri untuk jurnal akademik di luar sana, JUFO. Seperti yang ditunjukkan dari websitenya, journal ini dikelompokkan ke dalam tiga kategori: 3, 2, 1 dengan kategori 3 sebagai yang utama. Terus apa implikasinya sih dari keberadaan berbagai rangking jurnal dari institusi yang berbeda? Hal ini bisa bikin dilema, karena untuk kasus JUFO di Finland, sangat mungkin ditemukan jurnal yang di kancah internesyenel termasuk jurnal yang bagus eh masuk kategori 1 di JUFO, atau pun sebaliknya, jurnal yang di JUFO masuk level lumayan, di kancah internesyenel justru kurang diakui. Masalahnya gini ya, pemerintah Finland itu ngasih insentif terhadap universitas berdasarkan publikasi jurnal. Semakin banyak publikasi jurnal di JUFO kategori 3, semakin banyak moni yang didapat suatu uni dari pemerintah. Kadang agak mbingungi juga jadinya, haruskah ikut kategori rangking di kancah internasional atau ikut rangking JUFO. Kemarin-kemarin ada seorang dosen yang ngasih nasihat oke punya soal ini. Dese bilang, 'Lo sebagai anak Ph.D mah egois aja, pilih apa yang baik buat kamu. Kalau pun suatu jurnal masuk kategori 1 di JUFO tapi kamu tahu jurnal tersebut diakui di kalangan internasional, ya ikutin aja yang itu. Kamu yang lebih tahu bidang kamu, apalagi kalau di masa depan yang kamu incer karir akademik internasional. Finlan itu bukan center of universe, tenang aja.' Okelor kalau begitu.  

Pssstttt, gw kasih tahu hal lain ya, di sini, uni pun dapat uang dari pemerintah untuk setiap lulusan Ph.D dengan jumlah nominal lebih besar untuk Ph.D anak internasional. Ka-ching!!

Ph.D adalah jalan efektif untuk membuat kita merasa seperti Window Vista: gagal. Ph.D adalah jalan paling efektif untuk membuat kita merasa menjadi manusia paling pekok. Titik.

Ph.D bukan untuk semua orang. Bukan berarti seseorang harus super pinter untuk melangkah ke jenjang Ph.D *tapi kalau memang pekok ga ada obat, ya jangan juga sih * Gw ada temen yang udah setahun Ph.D lalu akhirnya keluar dengan alasan, "Ph.D bukan buat gw deh." Sekarang dese kerja di perusahaan multinasional dan hepi dengan yang dia kerjain. Pernyataan bahwa Ph.D bukan untuk semua orang itu ibarat bahwa sekolah kedokteran itu bukan untuk semua orang ataupun sekolah enjineering atau hukum. Meski nggak sesederhana itu juga sih. Saat profesor merekrut Ph.D, jarang yang jujur ngasih tahu apa yang bakal dihadapi nantinya. Ph.D itu ibaratnya ada di level paling bawah dari rantai makanan. Buruh murah yang biasanya dipekerjakan untuk berbagai hal. Kalau untung dapat pembimbing ya baleg ya syukur, nggak jarang jura yang ditelantarkan. Gw kurang tahu dengan berbagai skema Ph.D di seluruh dunia yang fana ini *ya kali Ning, sape lo* tapi dari hasil ngobrol yang nggak seberapa ini, Ph.D di Swedia strukturnya bagus. Gw cuma ngobrol sama anak-anak Chlamers sih, tapi mungkin skemanya kurang lebih akan sama di universitas lain di Swedia. Intinya, profesor merekrut Ph.D kalau fundingnya jelas sampai akhir, projek mana dan siapa yang ditempatkan, strukturnya sistematis, tanggung jawab dan ekspektasi dijelaskan dari awal. Meski demikian, kisah sukses dari para Ph.D yang awalnya cuma iseng-iseng karena nggak tahu mau ngapain juga banyak. Mungkin mereka yang iseng-iseng ini emang karakternya pas untuk jadi anak Ph.D, punya resilience tipe tertentu yang dibutuhkan supaya dalam perjalanan Ph.D ga jadi gila.
Read More »

Sunday, 25 November 2018

Prasangka Dua Arah

Salah satu hal yang paling bikin cewek soleha yang satu ini gw lelah adalah prasangka dua arah ini, satu dari bule dan satunya lagi dari sesama muslim. Nama pun pake kerudung, belum apa-apa orang udah tahu identitas gw. Kebanyakan orang sih baik-baik aja dan cenderung netral, hal bikin gw ngerasa nggak nyaman dan aman justru datang dari orang muslimnya sendiri *kzl bgzt* *emosi* *copot kerudung*

Udah kayak peristiwa Singapura terulang lagi, tapi dalam bentuk beda dan bikin lebih emosi. Udah pada apal kan ya gw sering banget disamperin mamang-mamang India yang muslim dan menggnggap gw TKI dan dengan sigap langsung membuka pembicaraan dengan, "Eh gw muslim juga lho, kita bisa temenan atau lebih dari temenan." Dan biasanya langsung disambung dengan pertanyaan nama, umur, status dan jumlah anak. Kzl bgzt.

Tapi yaudahlah, gw kan udah nggak di Singapur *meski gw kangen Singapur banget nyet!!* dan kejadian seperti itu nggak akan gw alami lagi, itu yang ada dipikiran gw sebelum balik lagi ke Yurep. Gw justru antisipasi dari orang lokal Yurepnya sendiri sejak krisis imigran beberapa tahun silam. Gw nerveus abis ketika kembali ke Yurep dan membayangkan kalau kudu ngalamin hal-hal nggak menyenangkan mulai dari pemeriksaan yang dibuat-buat ketika di airport, sampai ke perlakuan orang-orang pada umumnya, yang ternyata sampai sekarang belum nggak terjadi. Gw yakinlah jauh di lubuk hati terdalam mereka, pasti banyak prasangka macem-macem ketika ngeliat gw, cuman mungkin akal sehat masih jalan atau benih-benih rasismenya dipendam dalam-dalam. Kalau bahasanya Bill Burr, real racism is subtle. Bener sih. Saking nerveusnya gw pun sudah berikrar...

'....consider that.' That = lepas kerudung. Ape lo?! Ape lo?!


Tapi masalahnya namapun warga negara NKRI, paling teladan di seluruh dunia, implikasinya kurang lebih....



Hal yang sangat mengecewakan justru datang dari orang muslim yang gw temui di sini. Tentunya gw nggak bisa menggenerelisasi, tapi sebagai manusia, penilaian kan dibuat dari pengalaman yeeee. Pengalaman nyebelin gw semua datang dari orang muslim *bersiap diberi label islamfobia oleh orang islam lainnya* Gw mengalami kejadian seperti di Singapura dengan beberapa orang Islam yang gw temui di sini. Gw sampe capek karena gw mencium gelagat superiorisme dari para laki muslim ini yang secara implisit menunjukkan, 'Lo muslim di sini, cewek. Populasi muslim di sini ga banyak, udahlah lu pasti desperate sini sama gw aja.'  Kenapa mereka bisa gitu? Ya karena gw pake kerudung, anggapannya adalah gw ini sudah pasti submissive dan pasti bakal ngekor dan nurut aja lah sama laki (muslim). Gw pernah diberentiin beberapa kali di jalan sama orang bermuka timur tengah dan diajak kenalan, apesnya (atau justru untungnya) orang-orang tersebut cuma bisa bahasa Finland atau bahasa negara asalnya, walhasil gw cuma bilang "Ei puhut suomea (nggak bicara Bahasa Finland). Englanti?" Alhamdulillah, orang-orang tersebut keukeuh bicara pake Bahasa Finland dan gw keueuh bilang gw ga bisa Bahasa Finland, sambil terus gw ngeleos pergi. 

Gw juga nggak tahu musti bereraksi gimana setiap kenalan sama laki terus hal pertama yang diucapkan adalah, "Saya muslim juga lho." Dan seringnya gw menangkap bahwa hal tersebut diucapkan bukan sebagai bentuk interaksi yang menyenangkan semacam, "OMG!! Lu ngefans sama Justin Bieber juga??? Ihhhh sama dong."  Lalu terjadi interaksi seru karena dua orang menemukan persamaan. Lagi-lagi ketika mereka bilang kalau mereka juga muslim justru sinyal yang dikirim adalah sinyal, "Di sini laki muslim ga banyak maneh pasti desperate udah sama gw aja." Pengen banget gw nanggepin ucapan mereka ketika bilang kalau mereka itu muslim dengan jawaban, "Ok, see you in Jahanam then." Tapi apa daya, aku cemen orangnya. Pernah juga gw baru kenalan lalu pertanyaan berikutnya yang diucapkan adalah, "Lo solat ga?" Pertanyaan macam apa itu kenalan sama orang terus nanya solat apa kaga? Setelah itu dese nyerocos, "Saya tuh solat, tapi kadang repot nih kalau mau solat Jumat kayak sekarang blablablabla...." Bodo amet tongggggg bukan urusan gw!!!!!

Hal yang masih seger baru terjadi dua hari yang lalu. Gw lagi jalan bareng temen, pas papasan dengan dua orang laki-laki, salah satunya bilang,"Allahu Akbar" dengan nada ngenyek. Apakah dia bule? Bukan bok, dia laki dengan muka timur tengah. Gw jalan lempeng aja ga nengok sama sekali berasa budek, tapi tetep aja sakit hati ya cyn. 

Gongnya terjadi pas gw dibuntutin sama laki bermuka timur tengah. Pertama dese ngekor gw di dalam supermarket. Gw udah curiga, tapi masih berusaha sok rasional, "Ahelah Ning, ga usah ke GR an, sape lo? PD amat lu berasa dibuntutin." Tapi kalau setiap gw jalan ke lorang tertentu dese tiba-tiba ada di sebelah gw, apa itu namanya? Bahkan ketika gw udah sengaja jalan ke bagian paling ujung jung jung dari supermarket dan itu adalah area buat perempuan terus dia tiba-tiba ngikut ke sana juga, apa itu namanya? "Yakali Ning dia nyari sesuatu buat istrinya." Nggak malihhhhh. Ada orang ngeliatin aja kita bisa sadar apalagi ngebuntutin. Sambil terburu-buru gw akhirnya bayar dan jalan keluar dari supermarket. Ga jauh dari supermarket itu, ada toko secondhand, jaraknya palingan dua menit nyepeda. Gw pun mampir ke situ. Masih di area depan ga jauh dari pintu masuk gw berenti, liat-liat barang-barang buat cewek dan tiba-tiba dese udah berdiri ga jauh dari gw. Singkat cerita, gw akhirnya melakukan apa yang gw lakukan ketika masih di supermarket, muter kesana-kemari di dalam area toko yang lumayan guedeeee. Dan tebak apa yang terjadi? Tentunya apa yang gw alami di supermarket terjadi lagi si sini. He's always few meters away from where I was standing. And every once in a while he looked the way lion looks at a piece of meat. Terrified and angry I just stormed out of the store and biked home as fast as I could. Sure enough I was crying on the bike. 

Ironisnya gw merasa nggak aman di tempat yang aman. Di tempat di mana perempuan bisa maju, sejajar, dan dihargai sebagai diri mereka sendiri. Ironisnnya lagi, justru sumber ketidakamanan gw datang dari sesama muslim yang katanya bersaudara dan harusnya bisa lebih menghargai *masih emosi sampai sekarang*. Tiga bulan di sini, gw ketemu dengan dua orang perempuan dari Pakistan yang sedang PhD dan sudah sejak master tinggal di sini, tahu pesan apa yang mereka kasih buat gw? "Hati-hati sama orang muslim di sini, mereka ga bisa dipercaya. Kalau muslimnya datang untuk sekolah (seperti kita), mereka baik dan punya level pemikiran yang bagus, tapi selain itu (e.g. imigran), baiknya ga usah banyak berurusan kalau bisa." Saat itu gw nggak ngerti sama yang mereka bilang, tapi sekarang gw mulai ngeh. Gimana mau percaya kalau nggak bisa ngerasa aman.

Gw masih terkejut aja sampai sekarang, ketika gw menyiapkan diri untuk menghadapi prejudice dari orang lokal atau bule-bule, justru hal itu nggak terjadi, yang terjadi malah sebalikanya. Hal-hal yang terjadi karena gw berkerudung dan membuat gw mudah diidentifikasi sehingga hal yang tidak menyenangkan terjadi justru datangnya dari orang Islam sendiri. Ada yang bilang pakai kerudung salah satunya buat melindungi diri, tapi (lagi-lagi) ironisnya apa yang katanya bisa melindungi justru malah menghasilkan hal yang sebaliknya buat gw. Karena laki-laki yang lokal diajarin cara menghormati perempuan. Pas summer sedang puncak-puncaknya, orang berjemur dan bikinian tuh bergelimang di taman kota, apa iya terus laki-laki lokalnya jadi buas dan blingsatan? Nggak lah. 

Jadi, dear Ibu yang hobinya kirim doa buat anak perempuan satu-satunya ini supaya dapet yang soleh, ya aku sih makasih sama doanya, cuma ya monmap, soleh bukan prioritas anakmu yang satu ini. Kalau ketemu sama jodohnya, anakmu ini cuma pengen yang baik, waras dan mentalnya stabil (cos am demented inside and mentally unstable I think am crazy) juga kaya dan pintar . Ada amin pemirsa sekalian?
Read More »