Saturday, 15 November 2014

[DIY]: Susu Kedelai

Hae....akhirnya gw terbawa arus kekinian di mana semua orang melakukan DIY atau homemade samsing. Yabesss gimana, biar keliatan agak gaya aja, everybody is going raw or vegan, and am just going to the nearest mamang-mamang and,’Mang keripik setan berapaan?!’ zzzzzz... dulu tuh pernah bikin yogurt sendiri yang ternyata emang gampang ya, cuma entahlah apakah gw melakukan dengan cukup steril atau enggak, dan entahlah bakteri yang tumbuh apakah bakteri yang sama dari kultur aktif atau justru patogen....moahahahahahaha!!! Etapi gw baik-baik aja tuh....

Terus abis gugling-gugling gitu dan mendapati bahwa bikin susu kedelai itu gampang, pake bingit malah. Ya kan tau sendiri, di sini pilihan susu kedelai itu terbatas banget, paling cuma merk ini atau itu, udah gitu pasti udah manis semua. Nggak ada pilihan ngga manis, agak manis, atau manis dalam berbagai merk. Beli yang impor ada kali yak, tapi pasti mahal nggak sih?! Hih!! *kekepin dompet*

Setelah gugling di sana-sini dan liat video di yutub, akhirnya bikin dengan bahan:
- 1 cup kacang kedelai, segimana ini nggak tau juga, ya sekitar 150-160 gram
- ±1 liter air

Bikinnya:
- Pilih kedelai yang utuh. Gw nggak tahu juga sik, ini nemunya di sumber berbahasa Indonesia, entah kenapa katanya jangan pake yang udah separoan gitu kondisinya.
- Rendam semalaman

Kalau udah direndem, si kacang membesar

- Pisahkan kulitnya (nggak pun nggak apa-apa, tapi kayaknya ngaruh ke rasa). Gw? Awalnya aja gw pisahin, terus bosen, ya udah bodo amat.
- Blender kacang kedelai dengan air (gw sih air matang pakenya). Dilakukan dalam dua batch, takut membludak dan nggak cukup.
-Setelah ini ada dua versi:
a. dimasak sampai mendidih baru disaring menggunakan kain;
b. ada juga yang disaring menggunakan kain lalu dimasak sampai mendidih. Terserah.


Setelah diblender, direbus. Itu busa kedelai apa rendeman cucian?!
- Selesai.
Hae cantikkk :3
Keuntungan dari bikin kayak begini sendiri sih udah jelas murah (bingitssss), kita tahu apa yang kita tambahkan, dan tanpa pengawet. Tapi ya tetep aja ada kurangnya, kita nggak tahu juga seberapa bagus kualitas kedelai yang dipake, yakeleuz organik mungkin lebih bagus, tapi gw nggak maniak organik atau segala sesuatu yang pake label green, skepticism first *pret*, Sama satu lagi kurangnya, susu kedelai yang dihasilkan kalau bikin sendiri udah pasti nggak fortifikasi. Gw nggak tahu sih, susu kedelai produksi lokal fortifikasi atau enggak, kalau di negara maju, produk kayak susu kedeai, almon, atau sereal biasanya sudah fortifikasi, otomatis kandungannya lebih kaya.

Tapi tetep sih, enakan bikin sendiri, apalagi dari segi harga...bahahahahahahaha.

p.s. ampas kedelai jangan dibuang, kenapa? Karena gw pelit tahu itu masih kaya gizi dan katanya bisa dibikin perkedel. Let’s see. 

Ampas Kedelai a.k.a. Okara
read more.. "[DIY]: Susu Kedelai"

Wednesday, 12 November 2014

[Buku] Ken Jennings: Because I said So! (end)

Some of interesting myths I found in that book (masih banyak yang lain sih, tapi ya gimana)....

‘No double dipping, you’ll spread germ’ : TRUE
Klasik sih ini, pasti sudah banyak yang dingatkan nggak boleh double-dipping ketka makan sesuatu dan nyolek makanan tersebut ke saos/bumbunya. Kalau gw sih diingatkan akan hal ini bukan masalah kuman yang nyebar, tapi ke masalah kesopanan,’Ya masa’ makanan udah kamu makan dicolek lagi? Itu nyisain orang lain namaya.’ Bbbzzzttt....

Ternyata pernah dilakukan penelitiannya oleh profesor dari Clemson University. Dia ngasih sekelompok orang crakcer beserta cocolannya dengan instruksi double-dipping. Dia sih memprediksi kalaupun ada kuman tambahan yang masuk ke cocolannya, paling juga sedikit dan nggak signifikan, ternyata perkara double-dipping itu mendatangkan sepuluh ribu kuman baru ke dalam si cocolan, asik kan...hahahahahaha. Jadi kalau mau double-dipping, meding ambil piring sendiri dan bikin cocolan buat diri sendiri, ya paling enggak kan nggak sharing kuman. Kuman dari mulut sendiri dimakan sendiri, azeg kan?

‘Stop opening the door and peeking in the oven! All heat goes out!’ : FALSE
Ini juga kehidupan sehari-hari banget deh,’Nggak usah ditengak-tengok kueanya, panase keluar kabeh.’ Ya bisa sih intip oven dari jendelanya, tapi akuh nggak puas kalau nggak buka langsung. Ternyata nggak gitu juga sih karena pada saat pintu oven dibuka memang ada penurunan temperatur, tapi begitu ditutup, dalam waktu singkat, temperatur akan kembali naik. Hal ini disebabkan oleh panas dalam oven yang dihasilkan dari radiasi dinding oven. Ketika oven dibuka, udara dalam oven memang menjadi lebih dingin, tapi hal ini nggak terjadi pada dinding oven yang menympan banyak panasa dan sanggup untuk mengembalikan temptatur dalam oven secara cepat.

‘Sugar rots your teeth!’: FALSE
‘Jangan makanin permen nanti giginya rusak!!!’ ternyata pernyataan ini kurang pas, kenapa? Gini lho, sayentifikli *tsaelahhh*, gula nggak bisa bikin gigi rusak. Jadi, yang sebenarnya terjadi adalah banyaknya bakteri di dalam mulut yang bisa mengubah karbohidrat –gula salah satunya- menjadi berbagai by-product, salah satunya adalah asam. Nah, asam inilah yang kemudian bikin gigi rusak. Jadi masalah bukan ada di gula, tapi applicable juga buat makanan lainnya. Poinnya bukan apa yang dimakan, tapi berapa lama makanan tersebut tinggal di gigi kita sampai akhirnya kita bersihkan.

‘No soda! The sugar always makes you hyper!’: FALSE
Pengetahuan ter-Nanny 911. Yakeleuz, gw kan hobi nonton Nanny 911, sampe apal aturan time out, bicara dengan tinggi sejajar sama bocah, sampai nasehat jangan kasih makanan bergula nanti anak terlalu aktif. Mitos akan sugar-high ini dimulai sekitar 1970s, dimana ahli alergi dari California merekomendasikan treatment untuk anak dengan hyperactivity dengan cara menghindari artifical colors dan sweeteners. Ahli ini nggak spesifik menyebutkan pelarangan pemberian gula buat anak-anak.

One experiment showed that parents classify their kids behavior as hyper when told the kids had just gotten buzzed on sugar, in fact those kids were drink a sugar free beverage.

‘Don’t feed the dogs chocolate!’ : TRUE
Gw baru tauk anjing ga boleh dikasi coklat. Yaiyalah, secara ga punya piaraan, apalagi piara anjing, paling juga piara tuyul. Ternyata penyebabnya ada di senyawa bernama theobromine yang mana sulit dimetabolisme oleh binatang. Anjing butuh waktu tujuh belas jam untuk memetabolisme setengah dosis theobromine. Makanya kasus keracunan pada anjing (dan kadang hewan piaraan lainnya) seringnya disebabkan oleh coklat. Ya kalo punya coklat sik kasi gw aja :))).

Kalo soal anjing, bukan cuma coklat yang harus dihindari, tapi juga permen dengan xylitol, anggur, ataupun kismis. Mau bikin anjing sempoyongan bak mabok minuman? Kasih aja kacang macadamia *but, no. Just don’t :)))*

‘It’s okay, even Einstein flunked Math!: FALSE
Nah ini mitos yang beretebaran di mana-mana, menyebutkan bahwa Einstein itu emang super pinter, tapi di masa kecilnya dia gagal matematika. Kalimat buat menyemangati anak-anak yang kurang kece di matematika, bahwa mereka akan jadi late-bloomers bak Einstein. Baiknya, ambil contoh lain yang lebih baik atau lebih masuk akal.

Faktanya, seorang rabbi dari Princenton pernah nunjukkin cartoon Ripley’s believe it or not sama Einstein di mana kartun tersebut menunjukkan bahwa Einstein gagal melulu di matematik waktu kecil. Einstein cuma ketawa seraya bilang,’Saya tuh nggak pernah gagal di matematika. Sebelum saya berumur 15 tahun, saya menguasai diferensial dan integral kalkulus.’ Selain itu dia pernah ngerjain pembuktian pitagoras on his own way waktu masih 11 tahun *gilingan gw masih main karet umur segitu*

Poinnya adalah,ketika anak nggak jago matematka, mungkin memang kekuatannya bukan disitu. Kecakapan akan matematika tuh emang bawaan orok, sebagian naturally talented dan ada yang enggak. Daripada bilang kalau Einstein kecil pun gagal di matematik, mending cari strong point si anak.

‘If you shave there, i’ll just grow in thicker!’: FALSE
‘Jangan dicukur keleuz, dicabut aja, nanti tumbuhnya jadi lebat.’

Lagu lama.

Mitos ini sudah disangkal sejak 1923 di mana eksperimen dilakukan dengan meminta para perempuan melakukan shaving dengan interval berbeda selama delapan bulan. Hasilnya menunjukkan bahwa rambut yang tumbuh nggak mengalami peningkatan diameter atau penebalan warna sebelum dan sesudah shaving.

Kenapa mitosnya masih ada aja sampai sekarang? Karena ada perbedaan tekstur dari rambut yang tumbuh sebelum dan sesudah shaving. Gini deh, kalau rambrnya dicabut, pertumbuhan rambut akan dimulai dari ujung rambutnya yang memang cenderung lebih halus teksturnya, sedangkan saat dicukur, rambut tumbuh dari bagian tengahnya yang teksturnya beda dari bagian ujung rambut. Gitu aja sih.

‘You can’t use tampons. You are virgin!’: FALSE.
Ini juga lagu lama. Tapi ya gimana ya kita hidupnya di Indonesia di mana prahara bisa terjadi cuma karena masalah berdarah atau nggak di malam pertama. Makanya cowok-cowok, jangan cuma isi perut yang digedein, isi kepala juga *rese* *nyebelin* :))) . Etapi tampon kan emang nggak umum sik di sini, ada pun pasti mahils.

Mungkin kebanyakan membayangkan bahwa himen itu bak lapisan/dinding yang nggak bisa ditembus, padahal, ya membran yang fleksibilitasnya berbeda di tiap orang. Kalau hymen kalian emang lumayan fleksibel, event s3x intercourse won’t break it, mungkin pas melahirkan baru sobek. Atau sebaliknya, kurang fleksibel sehingga aktivitas fisik semcem nyepeda atau olahraga udah bisa bikin sobek. Kalau sobek enggaknya dipake sebagai virginity indicator, let’s say those lil girls in NL who mostly bike everywhere and some of them may break their hymen are not virgin anymore? D’oh....

At this point, I 100% agree with what Ken Jennings said: not having s3x is what makes you virgin, not your bicycle seat or choice of feminine hygiene product. Paham?!

***

Sebenernya ya masih banyak mitos-mitos lain yang dibahas, tapi penjelasan tentang berbagai mitos pasti ada jawabannya di internet. Jadi setiap bingung, the answer is only a click away. Iya nggak sihhhh...
read more.. "[Buku] Ken Jennings: Because I said So! (end)"

Tuesday, 4 November 2014

[Buku] Ken Jennings: Because I said So!

Seperti yang gw bilang di postingan sebelumnya, kalau ada mitos yang berlaku umum dan nggak spesifik untuk mereka yang tinggal di negara barat. Semakin gw baca apa yang dia tulis, ini gw tambah suka sama Ken Jennings, he’s sarcastically hilarious. Ngehek gitu. Beberapa mitos tersebut diantaranya:

Take off the band aid and let the cut air out: FALSE.
Kayanya yang ini sering banget kita denger,’Itu perbannya dibuka aja, lukanya biar kena udara jadi cepet kering.’ Oke, kenyataannya memang luka yang kena udara jadi cepet kering, tapi secara medis, itu bukan hal yang paling baik dan sudah out of date sejak tahun 1962. Oh my gawd, kita tertinggal berapa ribu tahun?! Penelitian seorang dokter asal Inggris pake babi, tapi ternyata applicable juga buat manusia. Skin cells regrew about twice as fast on the moist wounds that weren't allowed to scab. Jadi lukanya nanti nggak ngebentuk keropeng gitu. Disarankan untuk menutup luka selama lima hari untuk regenerasi sel darah dan peyembuhan peradangan subepidermal. Sedangkan saat luka dibuka, itu akan bikin sel yang baru mulai tumbuh mati karena kondisi lingkungan yang kering. Jadi biarin luka tertutup, kalau pengen stay moist, bisa kasi vaseline petroleum jelly. Sekarang baru mikir, pantesan tiap kepentok di bibir dan bibir bagian dalem luka sampai berdarah, nggak pernah ngebentuk scab, sembuhnya cepet dan baik-baik aja.

If your nose bleeding, don’t lean your head back: TRUE
Yang ini gw baru tahu. Biasanya kan kalau mimisan disuruh ndelangak alias liat ke atas biar nggak berdarah. Iya bener memang darahnya nggak ngalir ke luar, tapi nggak berart itu menghentikan perdarahannya. Itu cuma menglirkan darah ke kerongkongan dan esofagus yang bisa bikin keselek, mual terus muntah. Bzzztttt. Jadi yang bener justru agak tunduk ke depan dan keep head above the heart. Biarin aja ngalir karena normalnya itu akan berhenti sendiri.

I bring you some chicken soup, you’ll feel better: TRUE
Katanya rekomendasi untuk makan sup ayam/paling nggak kuah rebusan ayam untuk flu sudah ditemukan sejak abad ke empat B.C. di manuskrip De internis affectionibus, katanya sih bikinan Hippocrates. Penelitian tahun 1978 menununjukkan bahwa sup ayam panas jauh lebih efektif daripada air panas untuk meningkatkan kecepatan cairan dalam hidung sehingga proses flushing out lebih cepat. Entah kenapa, mungkin berkaitan sama aroma dan rasa dari sup ayam ini sendiri. Penelitian lain menunjukkan bahwa sup ayam ini bisa meredakan peradangan di tenggorokan dan ngilangin mampet. Jadi ketika sedang flu dan mampet, sup ayam panas adalah pilihan yang tepat kakakkkk.

Don’t talk to strangers: FALSE
Ini bukan mitos yang gimana gitu, tapi gw ngerasa ini penting aja untuk ditulis karena hal ini lumayan tricky. Bukan barang baru kalau  mamak-mamak pada umunya yang sering berpesan sama anaknya untuk jangan berbicara sama orang asing karena berbahaya. Tapi ada cerita, kisah nyata,  yang terjadi sama seorang bocah yang sedang berkemah. Bocah ini entah mengapa bisa terpisah dan hilang dari gerombolan kawan-kawannya. Tim pencari akhirnya bisa menemukan bocah ini dalam keadaan hidup di hari ke empat pencarian, tapi ya udah menyedihkan gitu,dehidrasi, gatel-gatel, segala rupa. Banyak pertanyaan muncul, yang hilang itu bocah, kalaupun dia jalan nggak akan kuat jauh dan pasti masih akan ada di sekitar wilayah kemah, kok ini bisa sampai empat hari baru ditemukan. Ternyata hal ini terjadi karena mamaknya mendoktrin: don’t talk to strangers! Hal yang sebenarnya terjadi adalah si bocah melihat tim penyelamat sedari awal, serombongan orang-orang dewasa, tapi karena ingat pesan mamaknya untuk tidak berbicara dengan orang asing. Walhasil apa yang bocah ini lakukan? Dia sembunyi dong dari ‘orang asing’ yang akan menyelamatkan dia. Jatohnya kayak kucing-kucingan aja sampai akhirnya dia ditemukan.

Konsep mengenai orang asing pun bikin anak bingung, yang asing tuh yang cemmana? Dikatakan bahwa,”We need to develop children’s natural intuition about risk and not give them overbroad rules.” Karena banyak kasus yang terjadi dimana penculikan justru dilakukan oleh orang dekat yang si anak kenal. Teach the kids that real problem is ‘tricky people’ –anyone, known or unknown to them, who tries to get them break safety rules. And if they get lost, make sure they know the best ‘strangers’ to talk to: store employers or a mom with kid, for eg.

If you crack knuckles, you’ll get arthritis: FALSE
Ini udah lumayan banyak dibicarakan juga sih. Orang udah banyak yang mulai tahu kalau ini hanya mitos belaka. Jangan suka membunyikan ruas jari karena bisa bikin artritis. Jadi, ruas jari itu bisa mengeluarkan bunyi saat dibengkokkan karena di joinnya terdapat cairan lubrikasi bernama synovial fluid. Saat jari diluruskan/rilex, cairan tersebut mengeluarkan karbon dioksida yang kemudian membentuk gelembung. Big bubbles collapse with aduible ‘pop.’

Penelitian sudah dilakukan para ahli dan tidak terbukti kalau bunyiin ruas jari bisa bikin artritis. Ada yang lebih epic lagi. Seorang allergist dari California kesel karena mamak, tante, sampai mamak mertuanya serng marahin kebiasaan dia bunyiin ruas jari, dengan alasan nanti artritis. Lalu apa yang dia lakukan? Dia bunyiin ruas jari kirinya dua kali sehari dan tidak membunykan ruas jari kanannya sebagai pembanding selama lima puluh tahun. Mak 50 tahun untung diana masih panjang umur. Lalu setelah 36000 crackings knuckles, dia munculin hasil studinya di majalah Arthritis and Rheumatism yang mana hasil menunjukkan bahwa dia nggak menderita artritis, jari kanan dan kirinya kondsinya sama. Sampai akhirnya dia dapat Ig Nobel Prize. Luar biasah ide peneltian dia X))).

Don’t eat your boogers, it’s bad for you: FALSE
Kampret gw ngakak di bagian ini. Bok ngupil dan makan upil aja diteliti, gilingan. Tahun 1995 di Journal of Psychiatry ditemukan bahwa 91 persen mengaku mengupil dan 8 persen diantaraya makan hasil temuan ngupilnya X))). Bahkan ada orang India yang melakukan penelitian yang kurang lebih serupa di Bangalore sampai-sampai dapat Ig Nobel Prize. Mereka bilang kalau beberapa orang memang makan upil dan para pemakan ini berpendapat kalau si upil itu tasty (errrr...), hal ini nggak bahaya meskipun ga ada kandungan nutrisi yang signifikan dari upil ini. Lain lagi pendapat ahli paru asal Austria. Dia menganjurkan ngupil langsung dengan jari, ga perlu sapu tangan atau apa pun karena akan bikin hidung lebih bersih. Makan hasilnya? Lebih baik lagi! Bicara tentang sistem imun, hidung itu tempatnya filter segala bakteri, sekalinya dimakan, itu akan bekerja layaknya obat. Mereka yang ngupil dan makan hasilnya, akan dapet boosting sistem imun secara gratis. Tetep sih ya mau atas nama sistem imun, gw sih lebih memilih meperin upil di bawah meja, biar aja ditemu sama orang lain.

If you swallow watermelon seeds, they’ll grow in your stomach: FALSE.
Bok, gw kira cuma di Indonesia ada mitos kayak gini,’Biji jeruknya ketelen? Ih, nanti tumbuh lho.' Okecip. Hal ini nggak bener karena kondisi perut nggak memungkinkan hal ini untuk terjadi. Si biji akan tumbuh kalau kondisi ngasih suplai beroksigen yang cukup, dan perut kita nggak menyediakan oksigen yang cukup untuk hal tersebut. Belum lagi kandungan hydrochloric acid di dalam perut yang bisa menghancurkan biji tersebut. Tapi tetep hati-hati kalau ada kasus biji ketelen/kehirup dan biji tersebut nyangsang di saluran napas (trakea), kok bisa makan tapi masuk saluran napas? Ya kalau keselek kan larinya ke saluran napas. Pernah keselek air? Keluar dari hidung kan? Nah, tahun 2009 ada kasus seorang pria batuk darah di Ural Russian. Dokter menyarankan biopsi dan menduga dia kanker. Lalu apa yang terjadi? Ditemukan pohon cemara (fir tree -> i tweeted this one as peer tree, am sorry. Am wrong) sebesar dua inci di paru-paru kirinya. Serem mak!!! Another finding from Maryland Medical Journal year 1890 (yes, 1890), di mana ada bocah ga sengaja nyedot biji semangka dan mendarat di salah satu bronchi-nya. Ga ada pertumbuhan, tapi biji tersebut had made an aborted attempt to grow. Ya tetep aja serem. Pesan penulis: pastikan biji semangka masuk sampai ke perut!!

Belum tamat sih bok baca bukunya, kalau ada yang mitos yang umum dan seru lagi, i'll write it later.
read more.. "[Buku] Ken Jennings: Because I said So!"

Read book, not timeline please!

Semenjak ada twitter, terus bikin blog kebiasaan baca buku bergeser jadi baca blog orang atau baca timeline, o yeaahhh. Nah untungnya influence Om Piring dairi dunia twitter ya lumayan juga. Sampai mau beli buku liat dulu buka yang dese lagi baca kemudian tersebutlah buku Mary Roach- Gulp, Adventures on the Alimentary Canal. Terus Penasaran. Nah pas kemarin-kemarin lagi liat-liat buku onlen di Periplus, Buku Gulp itu lagi diskon, dan taulah Periplus itu kalau lagi ada diskon kadang nggak kira-kira. Bukan yang diskon 10-20%, tapi 70-80%....bahahahahahaha. Terus karena banyak yang lagi diskon berakhir dengan:  


 Ga tau dibacanya kapan-kapan kali, buku dari jaman nggak enak aja nggak tamat-taat. Tapi yang penting dibeli aja dulu, takut keburu nggak diskon...mihihihihihii. Bodo amet.  Lalu sekarang ini sedang baca buku Ken Jennings yang ‘Because I Said So-The Truth Behind The Myths, Tales, and Warnings Every Generation Passes Down To Its Kids.’ Menarik sih ya karena bukunya membahas hal-hal yang biasa orang tua katakan sama anaknya tanpa tahu sebenernya itu bener atau nggak sih. Dia membahas dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan sayens ya tentunya. Tapi ya karena si penulis bukan orang Indonesia, jadi banyak hal yang lebih applicable di negaranya atau di negara barat lain ada umumnya. Misalnya mitos tentang permen Halloween yang sering dikasi racun atau akan ada razor di antara tumpukan permen, ya kan kita nggak seheboh itu merayakan Halloween, who cares about this myth, etc. Tapi lumayan lho, ada beberapa hal baru yang gw kira X ternyata Y, akan diposting secara terpisah.
read more.. "Read book, not timeline please!"

Sunday, 2 November 2014

word misuse

Seiring dengan perkembangan zaman pengetahuan juga meningkat, di satu sisi bagus dong, tapi di lain sisi hal-hal kecil nggak penting tapi nyebelin banyak terjadi di sekitar kita. Coba ambil contoh:

"aku tuh bipolar tau..."
kata seorang yang sedang mood swing karena mau dapet.

"gw kan diseleksia..."
kata seorang yang typo atau salah baca once in a while.

"gw ini nggak ada serebelum nya deh...." 
kata seseorang yang latian yoga dan ga bisa seimbang. Oke, yang ini sebeernya lebay!!! Cuma terinspirasi dari kejadian nyata seorang perempuan di Cina hidup puluhan tahun tanpa serebelum sampai akhirnya ketahuan oleh dokter. Hedan!!!

Seperti tadi yang gw bilang, bagus lho ilmu pengetahuan menemukan gangguan-gangguan di atas. Coba bayangkan jaman dulu kalau ada seseorang yang memang sebenarnya punya bipolar tapi karena keterbatasan ilmu pengetahuan -dan juga ekonomi barangkali-, hal seperti itu mungkin nggak ditangani secara tepat atau malah dikaitin denga hal mistis, 'Ini kenapa orang ini kok perilakunya tiba-tiba berubah kayak gini? Pasti diganggu, ayo ruwatan!!' Kalau sekarang kan medical and sayens at the first place ya, lebih masuk akal dan dapet penanganan yang pas. Nah, di sisi lain, justru karena banyak hal baru ditemukan, banyak orang -terutama abege masa kini- yang kayaknya misuse atau abuse atau apapunlah istilah-istilah di atas. 

Mungkin keliatannya keren ya bagi mereka dengan bilang, 'aku tuh bipolar tau...', they probably thought 'oh my gawd, am so cool dan kekinian.' Blah!! Gw sih berpikiran bahwa orang dengan kondisi seperti ini justru akan berusaha menyembunyikan kondisinya, mungkin cuma orang terdekatnya yang tahu. They might feel ashamed with their condition. Lha, ini malah ada orang yang dengan bangga dan hepi bilang-bilang kalau dia bipolar.

Atau diseleksia  Ya semua orang kayaknya punya masalah saat ngetik, nulis atau mungki ngeja. Ya tapi sampai di level mana sih? Level nggak fokus jadi salah baca? Level nggak teliti jadi salah nulis? Atau level jari kegedean pas menet smartphone jadi typo. Pernah gw baca artikel tentang seorang mahasiswa kampus gw yang didianosa diseleksia. She really had a hard time during her study, especially when she worked on her thesis. Beruntungnya, kampus mengerti dan mau ngasih tenggat waktu lebih panjang ketimbang mahasiwa lain pada umumnya. Gambar di bawah ini hasil dari wikipedia yang nunjukkin mereka dengan diseleksia bisa ngasih variasi tulisan 'teapot' seperti ini:


Just imagine the feeling of people with this kind of disorder when you say 'Gw kan diseleksia,' dengan penuh kebahagiaan dan kebanggaan. They struggle with their situation. They really do.

Contoh ketiga itu lebaynya gw aja, hahahahaha. Itu syok abis waktu baca berita tentang perempuan Cina yang survive hidup tanpa serebelum. Memang dia jadi punya masalah keseimbangan dan telat bisa jalan. Tapi dia survive. 

Pada intinya sih kayanya terlalu banyak misuse dari istilah-istilah tersebut, bukan cuma istilah tersebut, tapi banyak hal lain juga sih di luar itu. Ini cuma contoh belaka. Kadang gw pribadi ngerasa kzl, yabes menurut gw sih itu nggak keliatan keren ataupun kekinian sama sekali. Tapi yasudahah. 
read more.. "word misuse"

Friday, 31 October 2014

Menuju Indonesia Swasembada Kerupuk

Sebagai penggemar kerupuk, tentunya besar harapan gw supaya kerupuk bisa jadi makanan pokok di indonesia. Ya daripada swasembada beras gagal maning, yuk mari kita swasembada kerupuk aja *yakali*. Ibarat kata ditawarin kerupuk atau nasi, gw pasti pilih kerupuk, padahal jelas yak lebih ga sehat dan sekalinya makan ga bisa berhenti kecuali kerupuknya udah habis.

Beri aku sekaleng kerupuk, maka akan kuguncangan dunia!!!

Kalau diminta buat milih jenis kerupuk terfavorit, susah dek kayaknya, yabes semuanya kan enak dan punya kekhasan masing-masing. Mari kita lihat:

Kerupuk jengkol
Gw nggak tahu juga kerupuk ini dikasi nama kerupuk jengkol apa karena beneran pake campuran jengkol atau biar heitz dan mangundang pembeli, tapi gw rasa sik beneran ada unsur jengkol, soalnya ada bagian rasa yang khas jengkol dari kerupuk ini. How do i know if it’s jengkol? I just assume, i forgot the taste of jengkol. Yes, i once tasted jengkol when i was a kindergarten student *say whattt?!?!*. A  five-year-old girl ate jengkol simply because simbok pengasuh cooked it. It tasted quite good but the smell stayed. It was my first and last experience with jengkol. Nah, dengan atau tanpa jengkol pun, kerupuk ini merupakan salah satu kerupuk favorit gw, kasi lah satu kantong, bisa duduk anteng sampai kerupuknya habis, kemudian mulut dan tenggorokan nggak enak karena miyak jelek yang dipake nggoreng. Dijualnya biasanya dalam bentuk satu kantong keresek besar karena emang ukuran kerupuknya geda bok, ya segede layang-layanglah *hyukk*. Tapi sekarang di warung-warung kok kayak udah jarang jual kerupuk ini, waktu gw TK kayaknya dijual di warung dan bisa beli satuan. Kalo nggak salah 25 perak *oh good old time*. Sekarang beli ke pasar atau ke mamang yang emang khusus menjajakan kerupuk. 



Kerupuk melarat
Not my favorite. Tapi kalau lagi ngomplong nggak ada kerjaan dan cemilan, terus disodorin, pasti ta’embat juga. Bukan karena gw takut jadi melarat kayak nama kerupuk ini, tapi ya emang nggak tahu lah, bukan favorit aja. Karena jarang makan varian kerupuk jenis ini, makanya nggak biasa kali yak. Eniwei, disebut kerupuk melarat karena proses penggorengannya yang memang melarat. Maksudnya, kerupuk ini nggak digoreng pake minyak, tapi pake pasir yang panas gitu. Don’t ask me how.



Kerupuk udang
Oke, ini standar. Kayaknya semua orang suka dan kerupuk ini hampir selalu ada di perhelatan-perhelatan. Misal, di hari lebaran, kerupuk udang sering digunakan sebagai pendamping opor atau di kawinan-kawinan pun kerupuk yang disajikan biasanya kerupuk udang, bukan yang lain. Rasanya ya enak lha wong ada udangnya *meskipun paling campuran udangnya pasti cuma seiprit*. Gw suka, cuma kayakya terlalu standar ya. Ibaratnya, makan kerupuk udang tuh bak kita lagi menjalani hidup di zona aman dan nyaman *perumpaan apeuuu*.



Kerupuk sumber sari
I don’t know how people came up with this name. Kayak nama-nama desa yang ada di bacaan buku Bahasa Indonesia jaman gw SD deh. Ini tuh sebenernya salah satu kerupuk standar dalam kehidupan sehari-hari. Lebih banyak ditemui daripada kerupuk udang, mungkin karena harganya lebih murah. Kerupuk ini tuh kerupuk yang warnanya oranye dan putih berukuran sebesar koin 500-an sebelum digoreng. Kalau suka beli bubur ayam kampung atau nasi kuning,biasanya kerupuk ini yang ditambahkan. Selain itu, cikal bakal seblak basah tuh mengguakan jenis kerupuk ini. Meskipun salah satu golongan kerupuk yang standar, tapi tetep ada kesan lain antara kerupuk ini dan kerupuk udang.  



Kerupuk putih
Nggak tahu nama resmi kerupuk ini bok. Sebenarnya apa sih nama dari kerupuk ini? Kalau ada yang tahu boleh dong kasi tahu, boleh nama dagangnya atau nama IUPAC-nya *yakali senyawa kimia*. Ini kalau gw bilang sebelas-dua belas sama kerupuk sumber sari. Ya masih satu keluarga dalam artian lumayan banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Cuma beda segmentasi aja. Kalau kerupuk sumber sari fokusnya di bubur ayam atau nasi kuning, kerupuk ini kayaknya lebih di warung makan/mie ayam/soto tau makanan berat berkuah lainnya. Kalo nggragasin kerupuk ini enaknya sambi ditetesin kecap. Nah, kalau kerupuk ini laiknya kerupuk jebgkol dan melarat, dijual dalam bentuk udah mateng. Lain sama kerupuk sumber sari atau kerupuk udang yang bisa dibeli dalam bentuk mentahan.



Kerupuk mie
Jadi ini tuh kerupuk atau mie?! Kok nggak konsisten amat!!!   Jadi kerupuk ini tuh antara disebut kerupuk mie atau kerupuk kuning. Ya apalagi kalau bukan karena warnanya yang kuning dan bentuknya mirip mi. Kerupuk ini juga biasanya jadi pendamping suatu jenis makanan misalnya, rujak atau rujak atau rujak *kurang pengetahuan, ga tau apa lagi*, ya kalau nggak rujak biasanya pendamping makanan yang berbumbu kacang atau agak berkuah sikit, iya nggak sih?




Dorokdok
Cuma orang (yang hidup di) Sunda yang ngerti istilah ini. Sebenarnya ini sebutan untuk kerupuk kulit sapi, kalau di Jawa krecek kan disebutnya? Yang suka dimasukin ke campuran gudeg. Jenis yang satu ini bisa dimakan langsung atau dimasukin campuran ke masakan (misalnya ya gudeg itu tadi). Kalau udah dijadikan campuran makanan jadinya kenyal-kenyal-alot gimanaaa gituh, tapi kalau dimakan langsung keras dan sering bikin keselek karena teksturnya kering bingit sering nyangkut di kerongkongan. Obviously not my favorite, even the least favorite among other types of kerupuk in this post. Yabessss...effort buat makan terlalu besar ampe sering bikin keselek, dengan rasa yang biasa aja.



Kerupuk rambak
Kerupuk warna coklat yang satu ini pada masanya banyak ditemui di warung-warung dan hidup berdampingan dengan kerupuk putih. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, kerupuk rambak kayaknya kok nggak se heitz dulu yak? Sekarang kerupuk rambak palingan ditemui di penjual bakso, itu pun yang ukurannya kecil batangan, bukan yang lebar seukuran daun kelor kertas a4 yang dibagi 4 *ruwet*



Sebenernya masih banyak pastinya jenis kerupuk lain yang beredar di pasaran. Baik kerupuk tradisional atau yang sudah mengalami modifikasi. Tapi aku ruwet kalau harus mengingat segala jenis kerupuk dan tetek-bengeknya. Semoga jadi inspirasi pemirsa yang pengen makan kerupuk tapi bingung kerupuk apa. If you ask me, i would recommend you to try kerupuk jengkol...hahahahahahha....tapi yang versi gede, segede layang-layang yah, kalau yang versi kicik nggak gitu endang.


Akhir kata, selamat hari jumat! 



read more.. "Menuju Indonesia Swasembada Kerupuk"

Tuesday, 28 October 2014

kontemplasi pagi

*muntah ngetik judulnya*

‘When I was younger, I was healthier but I was racked with insecurity. Now I am older, my problems are deeper but I am more equipped to handle them’ (Jesse Wallace-Before Sunset).



Salah satu line favorit dari film Before Sunset. Trilogi manis yang pernah ada. Trilogi manis? Padahal gw belum pernah nonton Before Midnight. Udah pernah nonton sik, tapi belum sampe separo film terus udahan habisnya  takut kuciwa. Soalnya gini, gw suka sama Before Sunrise, terus pas nonton Before Sunset, gw lebih suka lagi. Before Sunrise itu kan they’re young, stupid and naive *tsaelahhhh*, pas Before Sunset tuh udah lebih dewasa and getting real gimana gituh (dan jangan lupa settingnya di Paris...ooo yeahhh). Nah, gw males aja kalau ternyata Before Midnight ini nggak sabagus Before Sunset, jadilah nggak gw tamat-tamatin sampai sekarang, padahal latarnya Yunani aja gitu. Impian banget nggak sih main ke Yunani *untuk kemudian melipir ke Santorini gitu* *berbisik Amiin dalam hati*

Oke, balik lagi ke ucapannnya Jesse (Ethan Hawke) di  Before Sunset yang mana kalau dipikir-pikir benar dan masuk akal. Waktu muda kita lebih sehat dan kuat (physically), tapi insecure nggak pede dan ragu-ragu kalau mau ngapa-ngapain. Aku tuh hidunya kepriye sih? Ini tuh harusnya gimana? Oh..oh...bagaimana ini?? Mikirnya pendek yang penting saat ini aja. Yang nanti ya biar nanti aja, yu dada babay yang penting gw hepi hari ini.

Saat udah menua, problematika hidup makin kampret, datang silih berganti, fisik makin ringkih, terus rambut rontok, metbolisme melambat, kerutan halus muncul (ini ngomongin apa sik?!). Ya pokonya, saat mulai menua (atau bertambah dewasa?), segalanya malah nggak tambah gampang dan tanggung jawab makin besar. Tapi pengalaman dan asam garam kehidupan udah lebih banyak dirasa, kita lebih siap buat menghadapi berbagai hal tersebut.

Iya nggak? Iya dong......seharusnya.

Nah, sayangnya omongan si Jesse itu nggak selalu applicable buat semua orang. 

Contohnya ya buat gw...bahahahakhamperthaha.

Waktu gw muda -ya sekarang masih uda juga sik-, oke ralat. Waktu lebih muda dari sekarang, ya gw bego (duile, kayak sekarang udah ngga bego), nggak mikir panjang, nganggep kalau idup tuh ga ribet dan ‘cuman’ gitu-gitu aja *cuman gundulmu!!*

Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak yang dilihat, semakin banyak yang dijalani, akhirnya tahu kalau world is a horrible –yet fine- place. Is this world getting any better? Hmmmmm...not really. Those experinces made you better, stronger, and well equipped. Masalahnya, meskipun kita udah lebih siap, masalah yang datang pun level kesulitannya naik, jadi ya tetep aja aku kudu priye iki?!?!

Jesse bilang kalo semakin tua kita semakin more equipped, nah more equiped tuh bisa banyak pegertiannya. Bisa jadi more equipped untuk menghadapi haters. Saking seringnya ketemu haters sampe apal selahnya ini orang harus diapain. Bisa juga more equipped dalam artian ngadepin uncertainty *no am not talking about uncertainties in clmate change scenarios that its model always needs to be validated, ngok!!*, karena sudah sadar bahwa hidup penuh ketidakpastian dan bisa menerima hal itu dengan baik, setiap surprise yang terjadi dalam hidup selalu bisa diambil sisi positifnya.  Kalau gw lain cerita, soalnya, rasa-rasanya more equipped ala gw masih di level beginner. Palingan keyakinan gw akan ‘badaiiiii pasti berlalu,’ itu juga kalau lagi waras, kalau lagi gila tetep aja meratap di pojokan. Kalau lagi waras dan di puncak kepositifan, i really can see the light at the end of the road. Dan kalau udah nggak tahu lagi ke mana harus bersandar selain ke dada Adam Levine, ya ini aja yang diingat: 

#BeningSoleha2014

versi penyair herman:

...wo aber Gefahr ist, wächst das Rettende auch... -Friedrich Hölderlin-

Jadi ya begitulah. Selamat Hari Sumpah Pemuda. Bukan Sumpah Serapah.
read more.. "kontemplasi pagi"