Saturday, 25 September 2010

Misteri Mbah Dahlan

Judulnya emang mengandung mistis, tapi cerita ini sama sekali nggak mistis. Jadi suatu sore yang cerah di Bulan Ramadhan 2010 diadakan buka puasa basamo. Buka puasa di Warung Laos dengan anggota si gw, echi, nana, nindi, rina, dan fasti. Makan, ketawa-ketiwi, gosip-gosip dikit, lalu kita solat magrib. Kita solat magrib di Premier, tempat paling deket dari Warung Laos, Ciwalk mah jauh.

Di parkiran Premier, tiba-tiba pandangan kita tertumbuk pada seonggok bus. Bukan bus sembarang bus, tapi bus punya Muhammadiyah, yang mana bagian luar bus tersebut penuh dengan gambar petinggi Muhammadiyah mulai dari Ahmad Dahlan sampai Din Syamsudin. Begitu liat bus itu, gw sama rina langsung pandang-pandangan sambil nyengir. Udah tahu sama tahu kalau kita berdua sama-sama berniat buat foto di depan bus itu.

Selesai solat, kita samperin bus itu lalu kita foto dengan gaya kita masing-masing. Rina berdiri jejer di sebelah Din Syamsudin, seolah-olah doi adalah petinggi Muhammadiyah setelah beliau, sedangkan gw *dengan pede-nya dan dengan tololnya * berfoto dengan gaya nyolek Dyn Syamsudin, gw colek tuh dagunya.

Ga lama kemudian gw aplot fotonya, dan suatu hari gw jadiin propic di fesbuk sampai suatu hari aa (kakak gw) dan mba liva (istri aa) ke rumah. Sebelumnya mereka mampir dulu ke BTC buat nonton The Brightener alias Sang Pencerah. Begitu sampai rumah mereka cerita kalau di film itu ada tokoh Bani Saleh (Muhammad Saleh), Bani Saleh itu kakak iparnya Ahmad Dahlan. Bani Saleh ini punya cucu, dan cucunya Bani Saleh ini adalah mbahnya mba liva, berarti, ibarat kata, mba liva adalah incu ti gigirnya Mbah Dahlan. Gw baru ngeh kalau keluarganya mba liva yang dari ibu emang orang Muhammadiyah.

DHUARRRRRRRR!!!!!Hal yang pertama kepikiran adalah fesbuk gw yang mana pada saat itu propicnya adalah gw yang sedang melakukan pencolekan terhadap *gambar* Dyn Syamsudin (kenafa oh kenafaaaaaa???????). Obrolan berikutnya antara aa, ibu, dan mba liva udah ga gw simak, yang gw pikirin adalah mengganti propic fb secepatnya.

Hakakakakakakaka,,,gw merasa konyol,,tolil,,,dan begog to the max!!!!!Secara nggak langsung si gw telah mengkekmeneli karuhun si gw sendiri. Ahhhhhh, tapi berhubung gw orang Indonesia, semua peristiwa ada untungnya. Untung yang gw colek gambar Dyn Syamsudin,,bukan gambar Mbah Dahlan ;p, jadi masih termaafkan lahh yaaaa. Ingin rasanya gw pasang gambar pencolekan itu di sini,,tapi nggak mungkar lah ya. Jadi biarkan gambarnya teronggok di sini, di salah satu album fesbuk gw ;p.


Dan pada akhirnya dua cita-cita terwujud. Cita-cita untuk ngerasain nonton di bioskiop sendirian, dan cita-cita nonton Sang Pencerah. Gw nonton Sang Pencerah sendiri di 21-nya Cilegon, di Ramayana (meni usummmm ;p).

Gw suka ceritanya. Kalo cerita kan masalah selera, ada yang demen sejarah, ada yang nggak. Tapi pemilihan pemainnya emang oke. Gw masih inget di salah satu twitnya Timothy Marbun, *lupa kata-kata pastinya* intinya dia kagum sama cara Hanung memperhatikan setiap detail dari semua pemain yang memerankan film Sang Pencerah, dan ini emang bener.

Semua peminnya tampak pas. Dan yang lebih parah, dari awal film sampai udahan, gw mencari-cari sosok Sudjiwo Tedjo dan nggak ketemu!!!!!Akhirnya gw tanya diah, jadi apakah Sudjiwo Tedjo di film itu. Bahkan pas awalnya liat Giring pun gw nggak ngeh.

Gw terhara nonton film ini,,mana ceritanya di jogja, berasa liat kampung halaman sendiri pada masanya :). Gw baru ngeh, kalau memurnikan ajaran Islam di lingkungan Islam aja susahnya minta ampun begitu, apalagi jamannya Muhammad dengan orang jahilliyah *lagi insap*.
Dan dengan teganya, orang di jaman sekarang malah ngerusak apa yang udah mereka-mereka bangun pada masanya. Gw masih inget salah satu bagian pas Dahlan (Lukman Sardi) bilang 'lakum diinukum waliyadiin' untukmu agamamu, dan untukku agamaku, emang iya, urusan agama, urusan masing-masing individu dengan Tuhan-nya, jadi biarkanlah saja tiap orang memilih caranya sendiri untuk sampai pada Tuhan-nya. Tapi hubungan baik antar manusia harus tetep dijaga, apapun agamanya *bener-bener lagi insap, semenjak karaoke lagi tobat maksiat ;p*.

Kalau ada yang nanya, gw pilih darah garuda atau sang pencerah, gw pilih sang pencerah. Film-nya lebih kena, meskipun nonton darah garuda terasa lebih seger,,,wakakakakakakakka

Yasutlah,,Mbah Dahlan, maapin aku ya mbah,,ga lagi2 aku colek petinggi Muhammadiyah ;p.




No comments:

Post a Comment