Sunday, 7 August 2011

skola

Education is a better safeguard of liberty than a standing army (Edward Everett)

beuhhhh, canggih kan kutipan kuotenya?!yayaya, jadi semua berawal dari kegelisahan (bukan geli-geli basah) gw karena sistem pendidikan kita (bokkk, berat bok!!!!!)

dari mulai kasus nyontek masal sampai sistem penerimaan sekolah yang semakin rumit. dulu, semuanya simpel aja, disaat kita mau melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi nem atau nilai ebtanas murni yang dipakai, titik! sekarang?!gosip terbaru yang beredar, ada banyak jalan untuk daftar sekolah, ada yang pake tes untuk masuk rintisan sekolah bertaraf internasional (yang secara pribadi masih gw pertanyakan kualitas para gurunya. do you speak english maam?!), ada juga yang pakai nilai uan (jaman gw nem ->tuir bok!) ditambah nilai rapotnya dengan prosentasi masing-masing. terus masalahnya apa?masalahnya sekarang sekolah berlomba-lomba ngasih nilai besar buat rapot muridnya, ga peduli segoblog apapun muridnya!!!

kisah1
ini nyata lho. tersebutlah seorang guru idealis di suatu smp negeri bandung. guru matematika di mana doi hanya memberi nilai sesuai dengan kemampuan muridnya. suatu hari sang kepala sekolah memanggil doi dan meminta si guru untuk memberi nilai minimal 7 untuk muridnya di rapot. APA?!si guru keukeuh ga mao, dan akhirnya kepala sekolah membolehkan gurunya ngasih nilai yang sesuai, dengan catatan nilai ditulis pakai pensil, biar mudah untuk dirubah.

kisah2
ehm, ini diceritain seorang teman. tentang seorang guru yang pernah ngajar si penulis, dia termasuk guru yang menjunjung tinggi attitude, namun pada suatu hari menyilakan murid-muridnya untuk nyontek ajalah.sedih aku.

kisah3
ini pun diceritakan serang teman, bahwa di masa kini, ada sekolah punya 'jatah' untuk jalur ehm, uang. jadi ketika nilai dia nggak cukup, ketidakcukupan tersebut bisa disumpel pake uang.

kisah4
bukan barang baru, ketika kita denger cerita bahwa ada murid yang ditolak masuk sekolah favorit hanya karena ga punya laptop

kisah5
banyak anak kejeblos dan ga dapet sekolah negeri karena salah strategi. mereka yang kejeblos adalah mereka yang merasa yakin dengan nilai uan-nya, tapi ternyata nilai uan mereka tidak cukup. tau berapa nilai uan anak yang rata2 kejeblos?! tiga delapan koma gendut skala empat puluh. WTF?! 38 out 40, that's big enough!!!!

sesungguhnya si penulis di sini bukan termasuk orang yang nggak pernah nyontek, adakah di luar sana orang yang ga pernah nyontek?si penulis pernah nyontek, tapi bukan tukang nyontek. apalagi si penulis punya seorang ibu yang sangat mengerti etika proses. ibu ga butuh nilai 8,9, atau 10...ibu cuma butuh usaha sungguh-sungguh dari si anak, meskipun pada akhirnya ibu jadi langganan menandatangani kertas ulangan dengan nilai satu.iyak, satu. lupakanlah kisah penulis yang ga penting ini. tapi kebayang nggak kalo para pendidik (alias guru) yang minta anak buat nyontek?!sinting maning!

belum lagi biaya sekolah yang mahalnya ga kira-kira.wajarlah kalo pada akhirnya mereka yang memang mampu memilih untuk menyekolahkan anaknya ke negeri tetangga, misal malaysia, dengan biaya pendidikan yang ga beda jauh, anak-anak bisa dapet pendidikan yang kualitasnya lebih bagus dan pengalaman hidup di negeri orang.

kalo udah gini, gw jadi mikir, jaman anak gw nanti kayak apa ya?!lebih mahal udah pasti, tapi apa bisa jadi lebih baik kah kualitasnya?!

No comments:

Post a Comment