Friday, 15 November 2013

(lagi-lagi) tentang passion...

oh my dear, kalau kita ngebahas hal yang satu ini pasti nggak akan ada habisnya. muter dan mbulet terus....ibarat kata bak diskusi masalah ayam dulu atau telur dulu. baru aja nemu artikel yang judulnya Follow a career passion? let it follow you. buat gw sih artikel ini menarik, ehm...bukan cuma artikelnya, tapi juga penulisnya yang masih 31 dan punya posisi associate professor di georgetown university dan pehade dari MIT *mulai lost pokus :)))* *mimisan pelangi* 

udah terlalu sering orang menggembar-gemborkan propaganda 'follow your passion' dalam hal berkarir. nah, di artikel tersebut di atas, masnya bilang, slogan 'follow your passion' seolah-olah menekankan bahwa setiap dari kita punya pre-existing passion yang menunggu untuk ditemukan. kalau kita berhasil menemukan dan ternyata bisa sesuai dengan peikehidupan yang dijaani, kita akan happy. tapi sebaliknya, kalau kita nggak bisa, ya kita bakal ngerasa nggak happy. sekarang masalahnya adalah, berapa banyak sih dari kita yang bener-bener tahu apa yang kita mau (passion/true calling/ apapunlah)? dan dari orang-orang yang tahu apa passion mereka, seberapa banyak sih yang realistis untuk diwujudkan dan bukan cuma hasidu (hayalan si dungu) semata?

propaganda 'follow your passion' itu pada akhirnya bisa menambah keribetan hidup kita. masnya bersabda: 
this philosophy puts a lot of pressure and demands long deliberation. If we’re not careful, we may end up missing our true calling. And even after we make a choice, we’re still not free from its effects. Every time our work becomes hard, we are pushed toward an existential crisis, centered on what for many is an obnoxiously unanswerable question: “Is this what I’m really meant to be doing?” This constant doubt generates anxiety and chronic job-hopping.
yes, job chronic hoping. karena terus-menerus merasa nggak yakin, dan karena apa yang diinginkan terlalu hasidu, mungkin ini semua akan jadi 'job chronic hoping' belaka dan kita malah mengabaikan banyak kesempatan yang datang.masnya pun cerita bahwa dia sempat galau dengan pilihan hidupnya. 
gawe di microsoft, ambil pehade, atau jadi penulis yang pada akhirnya dia putuskan untuk ambil pehade kemudian:
Had I subscribed to the “follow our passion” orthodoxy, I probably would have left during those first years, worried that I didn’t feel love for my work every day. But I knew that my sense of fulfillment would grow over time, as I became better at my job. So I worked hard, and, as my competence grew, so did my engagement
wowww.  ini seperti mebuka mata gw. seorang hasidu yang ga tau maunya apa. akhirnya gw sampai pada kesimpulan, kalau kita tahu passion kita apa dan itu realistis, good for you!! tapi kalau kita nggak tahu apa yang kita mau atau tahu tapi itu terlalu hasidu, jangan pada akhirnya kita cuma menunggu 'our true calling' dan berakhir pada 'job hoping chronic' dengan mengabaikan segala kesempatan yang ada.

jadi, merujuk pada mas cal newport:
To other young people who constantly wonder if the grass might be greener on the other side of the occupational fence, I offer this advice: Passion is not something you follow. It’s something that will follow you as you put in the hard work to become valuable to the world.
wallahualmbisowab *pasang cadar :)))*

3 comments:

  1. Gue pernah wawancara penasihat karier untuk artikel. Lalu, dia bilang, "Saya tahu cari kerja itu nggak gampang, apalagi yang sesuai passion. Passion itu bisa didapat dari mana aja. Nggak harus dari kerjaan, dari hobi juga bisa."

    ReplyDelete
  2. boo, kalo kerjaannya ngerevisi RAB sama bikin kuitansi palsu, lama2 bisa jadi passion juga ga tuh? #bzztt

    ReplyDelete
  3. @dyah ya begitu emang ya dy kalo emang mau raealistis *menerawang*

    @muti bokkk komen jij epic abis :))))). gilak!!! hal ini cuma bisa dijawab oleh career coach merangkap ustad...mihihihihihi

    ReplyDelete