Monday, 13 January 2014

sukses itu

‘kuliah cepet lulus, cepet kerja, nikah, beranak, punya mobil dan rumah sendiri,’ that's what I read from my twitter timeline sometimes ago when it comes to success definition in Indonesia , and oh, I could not agree more. Dan naga-naganya itu udah jadi standar umum kesuksesan yang mana kalau hal-hal tersebut di atas belum terpenuhi, lo nggak akan lepas dari pergunjingan masyarakat sekitar *cabein mulut-mulut ngehek* *cabein lho ya bukan cabe-cabean* *tambah ngelantur*

Many times, I even listen to my family keeps talking on ‘anak bapak anu sekarang di bank anu. Gajinya udah segini naik posisinya cepet lho’ atau ‘ada temen kerja di anu udah sekian puluh taun. Jabatnnya udah tinggi penempatannya pindah-pindah terus.’  Atau ‘si anu yang kerja di anu posisinya udah anu mobilnya merk anu.’ Hoekkkk!!!! Bok, kalau gue pengen, I will do it voluntarily for sure. Ga pake diminta, apalagi disuruh. If, for instance, i want to be banker, i'll do it. Masalahnya semakin disuruh gue semakin males ngelakuinnya. Semisal,  kalau dulu gue ga pernah diojok-ojokin jadi dokter, boleh jadi gue udah jadi dokter sekarang. gue sempet punya cita-cita jadi dokter. Tapi cuma sampai awal kelas satu sma. Semuanya ribut nyuruh jadi dokter. Meh!!

Oke, kembali ke perkara ‘gajinya udah segini dan naik posisinya cepet, naiknya mobil anu’ , emangnya semua orang di bumi ini cita-citanya sama yak? Emangnya kalau hidup di dunia fana ini harus ngejar hal yang sama kayak yang orang lain kejar? Gitu? Yakali Ning, emang situ ga mau banyak duit? Ya mau lah, secara gue cewek sendu –seneng duit- , but it does not have to be like the others, for God’s sake!!  

One time, my Korean friend told me about her being accepted in imperial College London to do her master degree. She said,’ I told my father that was accepted, instead of saying congratulations!, he said Wow good, find PhD afterwards!’. How many Indonesian fathers will encourage her daughter that way? Zero, I presume :))))).  Yang lainnya, seorang temen, laki-yermani-sedang kuliah master di tu-berlin. Sekarang dese lagi yalan-yalan di kuba setelah sebelumnya hongkong, kanada, kesana dan kemari. Anak-anak lainnya abis lulus? Kebanyakan yalan-yalan ke sana kemari, kerja yang lutju-lutju aja macem ngajar bahasa engris, ada yang volunteer.

Oke, iya, gua juga tahu kalau Nampak nggak fair memdanding kan situasi kita dan mereka. Dari sisi duit, yakali kita mau yalan-yalan ke mana dengan nilai rupiah yang makin busuk terhadap dolar? *tiba-tiba terdengar bisikan goib: ‘piye, enak jamanku tho? :)))*, dari sisi paspor? Duh, paspor ijo negara kita emang gada harganya, mau jalan ke mana pun nampak sulit (jadi inget omongannya mbak T, mau masuk Guatemala aja Indonesia itu masuk kategori negara yang susah dapet visa dan perlu diwaspadai. Guatemala getohhhh. Negaranya juga nggak maju, pun rusuh banyak penembakan di mana-mana. Pppfffttt!).

Poin gua di sini bukan di yalan-yalan dan masalah visanya, tapi lebih ke bagaimana mereka –selagi masih muda- bener-bener bisa melakukan sesuatu yang emang pengen dilakukan tanpa takut digunjingkan masyarakat sekitarnya atau diomel-omel orang tuanya.

Pernah jug ague ketemu satu cewek ostrali pas di hostel di brugge –that’s the nice thing about traveling and stay in hostel : make new friend or just simply talk to a stranger J-, dese lagi yalan-yalan karena lagi ambil gap year. Yang gue tangkep sih gap year itu kayak taun kosong setelah dese lulus sma dan akan ngelanjutin ke kuliah, cmiiw ya, masalahnya intelejensia gue kurang kece buat paham sama aksen ostrali. Dia bilang, pada saat gap year ini, kebanyakan anak traveling sama kerja part time gitu. Ga gue denger tuh dia bilang ‘oh, yang lagi pada ngambil gap year itu biasanya belajar dengan giat demi mempersiapkan masuk kampus paling kece dan bisa rangking 1.’ Again, poinnya bukan di yalan-yalan, tapi how those teenagers make use of their gap year. Pasti mereka milih kegiatan yang emang mereka senengin, enjoying their time.

Terus, apa artinya kita sebagai pemuda-pemudi Indonesia nggak bisa gitu? Oh, tentu saja bisa. But you have to be ignorant enough to deal with what people will say. And the problem, sometimes, lies on our parents. They are more vulnerable of what people say dan pada akhirnya, ya gitu deh, daripada nanti dikira durhaka.

Tapi ada satu hal yang keren, ada satu temen gue, cita-citanya pengen jadi youtubers. Mungkin kalau di Indonesia kedengerannya kurang kece ya, secara youtube itu kalo di Indonesia terasosiasi dengan video-video kampring nan alay macem dualas lima. Sedangkan di luar nagreg sono, banyak youtubers kece seperti nigahiga, blogilates, atau pewdiepie *duh jadi kangen nonton pewdiepie sama pacarnya di video yutub lucu banget tapi koneksi ngehek*. She told her momma that she wants to be a youtubers, and I guess she got no negative reaction from her momma. Sekarang ini dia sedang jadi dosen (atau asisten dosen?) di kampusnya dulu karena dia punya kontrak dengan pemberi beasiswa. Tapi, sejauh yang gue tau, dia emang yakin mau jadi youtuber dan udah punya rencana tentang itu. To be frank, I envy her :D.

Terus gimana tentang gue? I’ve never pictured myself driving a fancy car to go home after I work –etapi, kalau pada akhirnya I drive a fancy car, ya Alhamdulillah to’-.  I always see myself walking in a pavement after work simply because my house is three or four blocks away from the office. Wearing a flat shoe and listening to my playlist. Put a jacket when temperature drops; wear a thicker jacket and boots when it starts snowing. Sometimes he picks me up and we go to the cafe or cinema or just sit in the riverside, then he walks me home. We have  a conversation about how this world is not getting any better, he talks about the lousy  home band in the café and I tell my stupid fantasy about one day I’ll be singing on the stage. And I feel happy, content :'). Tetep ya bok, gue mah selalu hasidu –hayalan si dungu- blame on me being a pisces. A sign with a high-stupid-silly-superb imagination and fantasy :))))

Eniwei, ini gue ngomong apa sih? Kayaknya dari satu paragraph ke paragraph lain nggak nyambung yah? Intinya, di sini, there is general standard about success. It’s hardly possible to have your success’s definition. Ngutip dari twitter seseorang: manusia itu berencana, Tuhan yang menentukan, dan orang lain ngomentaran :))). Have a nice life!!     


2 comments:

  1. Beniing,Endonesaah banget ini, mari sortir apa yang harus didengar,yang baek2 aja didenger,biar g durhaka2 amat. Daripada terlihat sukses mainstream g taunya stres berat trus bunuh diri.

    ReplyDelete
  2. Iya banget Sekarrrr(ung beras--> bodoran garing jaman SMA...mihihihihi), yang penting tetep istikomah dengan pilihan kita *pasang cadar :))*

    ReplyDelete