Friday, 21 March 2014

versus: barat-timur

habis jalan-jalan dan nyampe ke sini juga ke sono, ternyata banyak yang berpikiran kayak gitu.  ditambah kemarin kemarin beredar banyak link artikel yang ini. my reaction was like:

pic from somewhere on twitter
ohhh...lagu lama.

kalo artikel-artikel tesebut di atas gw baca beberapa tahun silam mungkin komentar gw adalah 'hah?! mana mungkin!!!! ini tida mungkin!!! pasti penulisnya adalah oknum sindikat jionis iluminati!!waspada!! Allahuakbar!!!' *drama*

dulu sebelum nerusin sekolah, sempet kepikiran betapa mengerikannya pasti orang-orang di sana. dingin, ga ramah, nanti susah solat ga ya?, nanti orang-orang aneh ga ya ngeliat cewe soleha kaya gw begini? ternyata itu hanyalah ketakuan semu tak berujung...tsahhhh. and the people are surprisingly friendly (kenapose surprisingly? karena gw ga ekspek!!), makanan halal gancil, no probelm with religion practice (wong londonya udah ga asing sama ramadhan, orang dari china yang susah dijelasin malahan).

balik lagi lah ya ke tulisan- tulisan di atas, bukan hal baru kalau kita sering mendengar bangsa kita adalah bangsa yang ramah. dan sepertinya anggapan akan keramahan bangsa kita datangnya dari para buleleng, iya nggak sih? bener banget seperti contoh yang disebut di blog yang gue baca, bahwa kalau kita nemu buleleng, biasanya anak kecil -atau bahkan orang dewasa- akan manggil-manggil 'sir, good morning' ngajak salaman atau bahkan foto bareng. kalau gagal minta foro bareng, ya berusaha curi-curi gitu.

entah kenapa ya, otang kita -dan katanya beberapa bangsa asia lainnya- suka mengagung-agungkan buleleng atau jadi pemuja buleleng. suka nganggap kalau buleleng itu adalah manusia dengan derajat lebih tinggi, jatohnya, nggak jarang di antara kita memperlakukan buleleng dengan spesial tapi kemudian memperlakukan orang-orang lokalnya dengan asal-asalan. kadang denger cerita misal sedang di kasir atau ketemu customer service, nah mereka ini bisa ramah luar biasa kalau ngelayani buleleng, giliran kita yang maju, langsung jadi jutek dan nggak niat *voodo* atau kita masuk toko barang bermerek, pas buleleng yang masuk dikasi senyum-sapa-sopan, giliran orang lokal yang masuk dengan dandanan yang kurang kece pasti langsung dikasi tatapan 'sumpe-lo-masuk-sini-kayak-yang-mampu-beli-ajah!' pfffttttt

ada juga artikel lain yang judulnya 'how islamic are islamic countries?', menurut riset beberapa waktu yang lalu, negara islam yang paling islam peringkatnya adalah malaysia dirururan ke-39, Indonesia sendiri ada di urutan 140 :))))). Menurut artikel tersebut, penelitian itu tentang pemahaman ajaran islam dan pengaruhnya terhadap perilaku mereka. Bahwa negara dengan mayoritas penduduk bukan muslim (bahkan pada praktik sehari-harinya mereka mah banyakan yang ateis) justru bisa berperilaku lebih santun, lebih bisa memperlakukan manusia lain dengan baik, lebih menghormati dan nggak membeda-bedakan. Lha, kita yang (ngakunya) muslim, yang udah jelas harus saling menghormati dan menolong dengan semua umat (kecuali dalam akidah yak) malah minim banget praktiknya. Terus yang bikin emosi pas liat ini:

pic from somewhere on twitter

YAELAH BROOOOHHHH!!! kalo ada agama lain berbuat jelak nanti dibilang jionis etc, giliran ada yang berbuat baik dikatain modus. ya envelope!!! kalo udah kayak gitu, imho, mending dibenerin keyakinan agama masing-masing tanpa mengganggu kepercayaan orang, kenapa insecure amat sampai suudzon segala?

terus intine opo??? intine jalan-jalan lah *teuteup* soalnya emang bener, jalan itu mengajarkan kita untuk lebih toleran. karena begitu banyaknya hal yang diliat dan dirasakan, kita bisa lebih menimbang-nimbang. terus karena terbiasa dimanjakan sebagai mayoritas, kadang suka lupa gimana menghargai yang minoritas, lha wong puasa yang 14 jam sahaja dengan kondisi super kondusif buat ibadah aja masih minta dihargai...ckckckckck

paling suka satu kutipan di tulisan 'how islamic are islamic countries' adalah 'Allah butuh akidahmu, umat butuh akhlakmu', ya ampun, manis banget nggak sih :')

No comments:

Post a Comment