Tuesday, 22 April 2014

dek dinda

Kemarin-kemarin, kancah social media sempet dibikin heboh gara-gara postingan Path dek dinda, ahem. Kalau ada yang belum tau, googling aja pasti banyak. Dari mulai dia misuh-misuh soal ibu hamil, tulang kakinya yang lagi geser, sampai pada akhirnya minta maaf. Lagsung dong yah postingan Path dek dinda menuai amukan segenap ibu-ibu (hamil dan tidak) juga bapak-bapak, eh ga spesifik ibu-ibu dan bapak-bapak, maksutnya sih menuai amukan dari banyak orang.

Nih ya, dari postingan tersebut sebenernya kita bisa belajar banyak *ciyeee belajar banyak :)))*. Bahwa ga semua orang punya sensitivitas terhadap mereka yang lebih butuh tempat duduk di angkutan umum, bahwa ga semua orang bisa memposisikan dirinya kalau mereka yang jadi ibu hamil, orang tua, difabel, dsb. Nah, kalo pelajaran tentang hal itu sih obvious yak, udah dibahas sama semua orang di mana-mana, yang lebih bikin gw kepikiran justru betapa mengerikannya dunia soc-med, hiiiii…

Sekarang gini deh, Path itu kan digadang-gadang sebagai private soc-network yang mana jumlah temen terbatas (katanya 150 tapi sekarang naik jadi 500 yak?) dan katanya dibikin untuk mengakomodir inner circle, iya ga sih (analisis sotoy, makleum ga maenan Path). Path bukan fesbuk yang mana (kadang) ada orang yang accept friend request tanpa (benar-benar) tahu orang yang di accept. Dulu, gw juga gitu sik, sampai sadar ‘Kok banyak alay-alay di fesbuk gw?! Kenapa Tuhan?!?! Apakah karena aku pun alay?!?!’ *kemudian melakukan peremovean secara barbar*. Kalau di Path kan orang bener-bener selektif milih temen, temen yang bener-bener dikenal, yang (mungkin) bisa bikin nyaman kalau kita share moment yang agak private.

 Nah, di kasus dek dinda, kita ga tahu siapa-siapa aja orang yang dia approve sebagai teman, taruhlah dia menggunakan Path dalam kondisi ideal di mana dia approve inner circle-nya, orang-orang yang memang benar-benar dia tahu. Tapi kemudian ada salah satu inner circle nya dese yang capture statusnya dan nyebarin ke mana-mana. SEREM GA TUH?! *biasa aja kali Ning!* Ih gw sih serem…hahahahhaha…lebayyy. Niatnya pake Path kan biar cukup orang-orang tertentu yang tau moment kita, eh tetiba disebar ke seantero jagad raya, priye tho? Nah, hal ini pun ada pro kontra nya. Ada yang bilang sebar-sebar sesuatu dari Path itu nggak etis, itu kan sifatnya private, tapi ada juga yang bilang, kalau udah sampai ranah inet, apa-apa yang lo aplot udah ga private lagi, relakanlah jadi milik bersama.

Nah, atas dasar ‘relakanlah jadi milik bersama apa-apa yang sudah diaplot di inet’ inilah yang mendasari gw sampa saat ini (sampai saat ini loh, ga tau besok-besok) ga gembok twitter atau instagram. Kalo fesbuk nggak masuk itungan. Udah jarang bingit dimainin. Masih suka dicek, tapi palingan approve friend request, komen/like postingan yang muncul di home gw dan berkirim mesej. Berkirim mesej inilah pertimbangan utama untuk nggak nutup fesbuk karena some friends only connected through fesbuk, ya mao gimana lageeeee. Balik lagi ke masalah IG dan twitter, dua-duanya sejauh ini nggak gue gembok dengan alasan sebagai kontrol. Maksudnya gini, karena akun tersebut nggak digembok, siapapun bisa dengan bebas akses akun gw, baca twit dan liat aplotan foto, nah, dengan keadaan begini, gw jadi punya kontrol tersendiri bahwa apa-apa yang gw twit/aplot jangan yang ‘aneh-aneh’. Bahwa semua orang bisa dengan mudah akses akun gw, jadi kayak ada filter tersendiri sebelum posting apa-apa, gituloh. MESKIPUN GW KAN IMPULSIP DAN SUKA SPONTAN, JADI MASIH SUKA BLUNDER JUGA KALO LAGI MAINAN SOC-MED *self toyor*, tapi gapapa, kalo nggak kotor ka nggak belajar. Etapi kalo lo punya mental sekuat baja bin ndableg level 749575849, juga mengusung prinsip ‘akun aing kumaha aing’ ya silaken posting apa-apa sebebas-bebasnya. Asal kuat iman aja nerima cyber bullying dari semua umat. Ahem, masi inget kan selebtwit yang sempat tutup akun twitter dan hapus postingan blognya cuma gara-gara menyuarakan dukungan buat salah satu politisi? Ngeri nggak tuh dunia maya?!

Pesan moral lainnya adalah trust no one (berasa the x-files) on soc-med. Ada orang-orang yang emang lo bener-bener tahu siapa mereka, ada juga orang-orang yang lo cuma tahu siapa mereka. Mending pisahkan hal-hal yang yang memang ‘aman’ untuk di posting di soc-media, dengan hal-hal yang lebih baik diceritakan secara langsung sama orang yang yang lo percaya.

Yagitudeh pendapat gw, semoga mainan soc-med ini lebih banyak manfaatnya daripada mudorotnya. Hyeukkk…


No comments:

Post a Comment