Saturday, 31 May 2014

England: From Movie to Fantasy

Pertama, gw kudu bilang dulu nih, am not a kind of movie freak, sebagian temen gw ada yang memang bener-bener hobi nonton film dan harus-selalu-kudu-wajib kalau ada film yang baru rilis harus nonton di bioskop. Nah, meskipun bukan maniak nonton film, tetep lho gw punya film-film favorit yang entah berapa kali ditonton pun tetap menyenangkan dan nggak membosankan. Sebagian besar dari film-film favorit gw itu bergenre komedi-romantis, kenapa? (1) Biasanya happy ending. Makkk, hidup ini udah susah, kalau nggak pait, ya pait banget, makanya gw memilih untuk nonton film yang bikin hati hangat dan berbuna-bunga. Kan seneng tuh kalau happy ending (2) Komedi romantis cenderung nggak berat. Nggak berat di sini maksudnya lo nggak butuh pemahaman dan kecerdasan tinggi buat ngerti film ini. Cocok buat gw! Ha! (3) Latar film-film komedi romantis pun biasanya kece-kece dan mendukung jalan cerita film tersebut.

Nah, ngomongin latar dari film-film komedi romantis, Inggris adalah salah satu negara latar favorit gw. Banyak banget film-film kece favorit gw yang nunjukkin betapa wajibnya Inggris dikunjungi buat romantis-romantisan *tapi sama siapa?!* *tetep curhat*, ini dia yang namanya from movie to fantasy.  Kebanyakan nonton komedi-romantis dan gw pun jadi punya banyak hasidu alias hayalan si dungu. Huvft! Kalau buat gw, tiga besar di bawah ini adalah film komedi romantis dari Inggris yang sukses bikin delusional.

 Notting Hill

It’s amazing how you, can speak right to my heart
Without saying a word, you can light up the daaarkkk

Kalimat di atas nggak lain nggak bukan adala cuplikan When You Say Nothing at All-Ronan Keating yang rasa-rasanya udah jadi lagu wajib ketika karaokean atau setiap kita mengenang film Notting Hill *kemudian cewek-cewek mengangguk syahdu tanda setuju*. Entah kenapa, gw ini termasuk golongan orang yang agak terjebak di masa lalu. Film-film komedi-romantis paling hits datang silih berganti, tapi Notting Hill tetap di hati.

Pertama liat film ini sekitar awal 2000-an saat ada stasiun tv swasta yang menayangkan di televisi. Selain terkagum-kagum dengan kegantengan, akting dan logat British Hugh Grant, gw pun terpesona dengan kecantikan Inggris yang menjadi latar film tersebut (tentunya ditambah kecantikan Julia Roberts. CANTIK BANGET SIH DESE?!).Sepanjang film, gw terus-terusan bilang ke diri sendiri kalau suatu hari nanti gw pasti akan sampai di Inggris. Gw pasti akan pergi ke taman tempat yang dipanjat pagarnya oleh Hugh Grant dan Julia Roberts gw pasti akan  pergi ke distrik Notting Hill dan mengunjungi toko buku fenomenal yang ada di film tersebut. Pasti.

Adegan favorit? Pas akhir film di mana ada konfrensi pers, kemudian Anna (Mbak Jul) bilang dia mau pergi dari Inggris dan sejurus kemudian William (Hugh Grant) angkat tangan seraya bilang ‘What if, Mr. Thacker realized that he had been a daft prick and got down on his knees and begged you to reconsider if you would..indeed..reconsider.’ Kemudian ada hening sejenak sampai Anna pun bilang ‘Yes, I believe I would.’ WHOAAAA!!!! *tabur-tabur konfeti*

Love actually

Yoooo…pokonya yang satu ini wajib tonton menjelang natal. Nggak mau tahu, pokonya kalau udah masuk bulan Desember, aka nada hari di mana gw nnton film ini. Nggak tahu kenapa pokonya auranya pas aja. Tetep lho masih Hugh Grant *I like him a lot!!!!* Suka banget banget banget banget banget nget nget nget!!!! Film yang meceritakan kisah cinta masing-masing tokoh. Ada yang sedih ada yang bahagia. Ada cinta monyet bocah yang masih SD sampe cinta terlarangnya seorang bawahan sama bosnya yang udah nikah sampai cerita heroiknya perdana mentri Inggris (Hugh Grant) yang (ceritanya) menentang Amerika…hihihihihihi. 

Kalau diminta milih bagian favorit dari film ini susah bokkkk, semuanya tuh luar biasa banget. Tapi dari semuanya, hal yang justru paling gw suka adalah narasi pembuka yang dibawain Hugh Grant di awal film sambil menayangkan bandara Heathrow yang bunyinya:

‘Whenever I get gloomy with the state of the world, I think about the arrivals gate at Heathrow Airport. General opinion’s starting to make out that we live in a world of hatred and greed, but I don’t see that. It seems to me that love is everywhere. Often it’s not particularly dignified or newsworthy, but it’s always there –fathers and sons, mothers and daughters, husbands and wives, boyfriends, girlfriends, old friends. When the plane hits the Twin Tower, as far as I know none of the phone calls from the people on board were messages of hate or revenge- they were all messages of love. I’ve got sneaky feeling you’ll find that love actually is all around.’ *tisu mana tisuuuu?!?!*

Bridget Jones’s Diary

Untuk film yang satu ini, karakternya Hugh Grant luar biasa nyebelin *tapi tetep suka. Lha, priye?!* ya udahlahya, kalau ngeliat tokoh Bridget itu pasti cewek-cewek bawaannya pengen nyama-nyamain, ‘Duh Bridget tuh gw banget, hopelessly romantic, gendut (sebenrnya ga gendut, tapi semok. Hyuk!), konyol, idupnya gitu-gitu aja. Bedanya cuma satu, dia dideketin dua orang cowok ganteng.’ Iya, bedanya cuma satu, tapi signifikan. Sebenernya agak-agak kesel juga setiap liat karakter Collin Firth di sini, ih kok dingin banget sih *cekek*, tapi Collin Firth effect ini luar biasa. Luar biasa sukses bikin cewek-cewek semakin delusional gara-gara salah satu dialog dari Colin Firth yang bilang ke Bridget ‘I like you very much just as you are.’ *tepuk tangan* tapi abis itu Collin Firth balik badan, naik ke tangga, pergi ke meetingnya lagi. *kzl deh!*

Tapi diluar dialog itu, adegan favorit gw ada di film yang ke dua, Edge of Reason, yaitu adegan di mana Collin Firth dan Hugh Grant kelahi. Dan adegan kelahinya bukan yang gagah ala-ala cowok tinju-tinjuan untuk mertahanin cewek yang disuka, tapi tarik-tarikan sambil nyebur ke kolam. Sungguh luar biasa :))).

Setiap gw nonton film Inggris, gw akan membagi konsentrasi gw, yaitu untuk ngikutin jalan cerita dan untuk fokus sama aksen British para pemainnya *mimisan*.  Nah berawal dari kesengsem di fim, gw semakin ngayal buat bisa jalan-jalan ke Inggris, terutamanya sih nelusurin Portobello Road di wilayah  Notting Hill, mana tahu tiba-tiba ngeliat Hugh Grant lewat, kan bisa langsung gw geret nyari penghulu *hasidu level 736449*. Terus nelusurin jalanan London dengan jalan kaki. Iya, jalan kaki aja. Main-main di taman, keluar masuk second hand shop, sampai ngeteh di kafe. Kurang lebih, foto di bawah bisa ngasih gambaran apa yang mau gw kerjain di Inggris:

cocok kan? yes! we meant to be together :')
Nggak apa-apa sekarang ngayal, toh kata Pablo Picaso, ‘Everything you can imagine is real.’ :’)


.



2 comments:

  1. Suka juga sama briget jones diary.. apalagi si colin firth-nya..

    ReplyDelete
  2. @Bebe iya bangetttt..Collin Firth-nya luar biasa...

    ReplyDelete