Thursday, 9 October 2014

punya usaha

Di antara sekian banyak gocip yang sedang beredar di kalangan selebriti *ketauan bacaannya detikhot :)))*, salah satu yang lagi rame diperbincangkan sih Norman Kamaru yang sekarang jualan bubur. Sudah barang tentu pemberitaannya banyak yang isinya negatif. Pun komen-komen yang bertebaran kebanyakan isinya miring, ya kiranya dringkas dalam kalimat pendek jatuhnya jadi,'dih kasian ya sekarang cuma jualan bubur, makanya nggak usah kecentilan keluar dari polisi buat jadi arteis.'

Kasarnya ya, gw sih ga urusana *yes keleuz*, apalagi soal keluar dari polesong buat jadi arteis, ya silaken terserah. Nah, yang bikin agak gerah *selain global warming* adalah komen-komen yang suka menilai suatu pekerjaan yang kayaknya hina dan rendah banget. Padahal selama pekerjaanya 'bener' *dalam artian bukan jadi maling atau misalnya piara tuyul dan ngepet*, it's about how you do it not what you do it, iya nggak sih? *udah keren belom gw?*  

Misalnya gini nih, gw jadi juragan daging di pasar, tiap hari datang ke pasar buat jualan daging sebagai juragan daging *mengulang 'juragan daging'*, tak lupa aksesoris pelengkap berupa emas-emas yang bertebaran dan kalung dengan liotin emas segede kue mari *yes, juragan daging is banyak duit* *ngomong apa sik* *mari kita ulangi*. Misalnya gw jadi juragan daging, kerjanya di pasar tradisional yang udah becek nggak ada ojek pulak, ya gw jualan layaknya orang jualan. Gw nggak ngurangin timbangan, kalo bukan daging sapi ya nggak akan gw klaim daging sapi, dan gw nggak menambahkan formalin biar daging jadi awet. Sekarang katakanlah gw jadi anggota dewan di senayan. Pekerjaan yang terhormat, pake baju rapi, wangi, di dalem jilbab rambut udah di sasak setinggi 653,65 cm. Tapi kerjaan gw cuma titip absen, bobok-bobok an kalau sedang sidang, gelagapan nggak ngerti apa-apa pas di wawancara wartawan, sampai bikin huru-hara kalau lagi sidang biar dibilang keren. Nah, ketangkep kan maksud akik?

Tapi kan ya begitulah our lovely society menilai orang. Kita nggak bisa minta *apalagi maksa* orang buat berpikir seperti cara kita mikir, begiti pun orang lain ga bisa minta kita untuk mikir seperti mereka. Orang kan cuma liat dari luar, mana tahu Norman emang lebih seneng buka bisnis, bisa nyerap tenaga kerja, nggak musti ngantor tiap hari, bisa ngawasin bisnisnya cuma pake singlet dan sarungan, pun penghasilan yang mumpuni. You know the femeus cuanki serayu yang ada di Bandung? yang cabangnya udah banyak? yang pegawainya udah banyak? yes, yang punya tentangga akiks di lingkungan rumah. Mau ngomong soal penghasilan? ga usahlah nanti kalian malu sama rekening sendiri, mau tau orangnya kayak apa? biasa banget, cenderung ndesit maslah *maap pak* *salaim tangan* *cuanki serayu is da best!!* Pun orangnya baik bok, salah satu yang warga tunggu-tunggu adalah pertemuan di rumah doi karena konsumsinya makan cuanki, o yeah!!

Jadi ya gitu deh. Ini postingan tuh semacan justifikasi aja karena salah satu cita-cita gw adalah pengen punya kantin kek, ato punya usaha potokopian, atau punya toko kue kayak si anto *if in any weird circumstances si anto baca, iyes elo keren, tapi nggak usah ge-er*. Gw ngapain? gw sih jadi instruktur yoga sambil sesekali ongkang-ongkang kaki di yacht *you wish bening, you wish!! :)))* 

2 comments:

  1. Justru ya, menurut gue, menjadi entrepreneur adalah pencapaian tertinggi umat manusia lohhh. Bayangin aja, lo berani ngelepasin pekerjaan demi sesuatu yang tak pasti. *cailah*

    Aneh aja sih itu yang komen-komen tentang pergantian profesinya si abang. Hasilnya padahal bisa menyamankan dia sendiri, inisnya, plus orangtua lohhh. Ih, ciamik!

    ReplyDelete
  2. NAH ITU DIA!!!! lo mengungkapkan semuanya dengan pas. Pencapaian tertinggi bok. Ga bergantung sama siapa-siapa justru jadi yang digantungi. Nah, makanya ayo kita buka usaha *kemudian jadi muci*ari

    ReplyDelete