Wednesday, 12 November 2014

[Buku] Ken Jennings: Because I said So! (end)

Some of interesting myths I found in that book (masih banyak yang lain sih, tapi ya gimana)....

‘No double dipping, you’ll spread germ’ : TRUE
Klasik sih ini, pasti sudah banyak yang dingatkan nggak boleh double-dipping ketka makan sesuatu dan nyolek makanan tersebut ke saos/bumbunya. Kalau gw sih diingatkan akan hal ini bukan masalah kuman yang nyebar, tapi ke masalah kesopanan,’Ya masa’ makanan udah kamu makan dicolek lagi? Itu nyisain orang lain namaya.’ Bbbzzzttt....

Ternyata pernah dilakukan penelitiannya oleh profesor dari Clemson University. Dia ngasih sekelompok orang crakcer beserta cocolannya dengan instruksi double-dipping. Dia sih memprediksi kalaupun ada kuman tambahan yang masuk ke cocolannya, paling juga sedikit dan nggak signifikan, ternyata perkara double-dipping itu mendatangkan sepuluh ribu kuman baru ke dalam si cocolan, asik kan...hahahahahaha. Jadi kalau mau double-dipping, meding ambil piring sendiri dan bikin cocolan buat diri sendiri, ya paling enggak kan nggak sharing kuman. Kuman dari mulut sendiri dimakan sendiri, azeg kan?

‘Stop opening the door and peeking in the oven! All heat goes out!’ : FALSE
Ini juga kehidupan sehari-hari banget deh,’Nggak usah ditengak-tengok kueanya, panase keluar kabeh.’ Ya bisa sih intip oven dari jendelanya, tapi akuh nggak puas kalau nggak buka langsung. Ternyata nggak gitu juga sih karena pada saat pintu oven dibuka memang ada penurunan temperatur, tapi begitu ditutup, dalam waktu singkat, temperatur akan kembali naik. Hal ini disebabkan oleh panas dalam oven yang dihasilkan dari radiasi dinding oven. Ketika oven dibuka, udara dalam oven memang menjadi lebih dingin, tapi hal ini nggak terjadi pada dinding oven yang menympan banyak panasa dan sanggup untuk mengembalikan temptatur dalam oven secara cepat.

‘Sugar rots your teeth!’: FALSE
‘Jangan makanin permen nanti giginya rusak!!!’ ternyata pernyataan ini kurang pas, kenapa? Gini lho, sayentifikli *tsaelahhh*, gula nggak bisa bikin gigi rusak. Jadi, yang sebenarnya terjadi adalah banyaknya bakteri di dalam mulut yang bisa mengubah karbohidrat –gula salah satunya- menjadi berbagai by-product, salah satunya adalah asam. Nah, asam inilah yang kemudian bikin gigi rusak. Jadi masalah bukan ada di gula, tapi applicable juga buat makanan lainnya. Poinnya bukan apa yang dimakan, tapi berapa lama makanan tersebut tinggal di gigi kita sampai akhirnya kita bersihkan.

‘No soda! The sugar always makes you hyper!’: FALSE
Pengetahuan ter-Nanny 911. Yakeleuz, gw kan hobi nonton Nanny 911, sampe apal aturan time out, bicara dengan tinggi sejajar sama bocah, sampai nasehat jangan kasih makanan bergula nanti anak terlalu aktif. Mitos akan sugar-high ini dimulai sekitar 1970s, dimana ahli alergi dari California merekomendasikan treatment untuk anak dengan hyperactivity dengan cara menghindari artifical colors dan sweeteners. Ahli ini nggak spesifik menyebutkan pelarangan pemberian gula buat anak-anak.

One experiment showed that parents classify their kids behavior as hyper when told the kids had just gotten buzzed on sugar, in fact those kids were drink a sugar free beverage.

‘Don’t feed the dogs chocolate!’ : TRUE
Gw baru tauk anjing ga boleh dikasi coklat. Yaiyalah, secara ga punya piaraan, apalagi piara anjing, paling juga piara tuyul. Ternyata penyebabnya ada di senyawa bernama theobromine yang mana sulit dimetabolisme oleh binatang. Anjing butuh waktu tujuh belas jam untuk memetabolisme setengah dosis theobromine. Makanya kasus keracunan pada anjing (dan kadang hewan piaraan lainnya) seringnya disebabkan oleh coklat. Ya kalo punya coklat sik kasi gw aja :))).

Kalo soal anjing, bukan cuma coklat yang harus dihindari, tapi juga permen dengan xylitol, anggur, ataupun kismis. Mau bikin anjing sempoyongan bak mabok minuman? Kasih aja kacang macadamia *but, no. Just don’t :)))*

‘It’s okay, even Einstein flunked Math!: FALSE
Nah ini mitos yang beretebaran di mana-mana, menyebutkan bahwa Einstein itu emang super pinter, tapi di masa kecilnya dia gagal matematika. Kalimat buat menyemangati anak-anak yang kurang kece di matematika, bahwa mereka akan jadi late-bloomers bak Einstein. Baiknya, ambil contoh lain yang lebih baik atau lebih masuk akal.

Faktanya, seorang rabbi dari Princenton pernah nunjukkin cartoon Ripley’s believe it or not sama Einstein di mana kartun tersebut menunjukkan bahwa Einstein gagal melulu di matematik waktu kecil. Einstein cuma ketawa seraya bilang,’Saya tuh nggak pernah gagal di matematika. Sebelum saya berumur 15 tahun, saya menguasai diferensial dan integral kalkulus.’ Selain itu dia pernah ngerjain pembuktian pitagoras on his own way waktu masih 11 tahun *gilingan gw masih main karet umur segitu*

Poinnya adalah,ketika anak nggak jago matematka, mungkin memang kekuatannya bukan disitu. Kecakapan akan matematika tuh emang bawaan orok, sebagian naturally talented dan ada yang enggak. Daripada bilang kalau Einstein kecil pun gagal di matematik, mending cari strong point si anak.

‘If you shave there, i’ll just grow in thicker!’: FALSE
‘Jangan dicukur keleuz, dicabut aja, nanti tumbuhnya jadi lebat.’

Lagu lama.

Mitos ini sudah disangkal sejak 1923 di mana eksperimen dilakukan dengan meminta para perempuan melakukan shaving dengan interval berbeda selama delapan bulan. Hasilnya menunjukkan bahwa rambut yang tumbuh nggak mengalami peningkatan diameter atau penebalan warna sebelum dan sesudah shaving.

Kenapa mitosnya masih ada aja sampai sekarang? Karena ada perbedaan tekstur dari rambut yang tumbuh sebelum dan sesudah shaving. Gini deh, kalau rambrnya dicabut, pertumbuhan rambut akan dimulai dari ujung rambutnya yang memang cenderung lebih halus teksturnya, sedangkan saat dicukur, rambut tumbuh dari bagian tengahnya yang teksturnya beda dari bagian ujung rambut. Gitu aja sih.

‘You can’t use tampons. You are virgin!’: FALSE.
Ini juga lagu lama. Tapi ya gimana ya kita hidupnya di Indonesia di mana prahara bisa terjadi cuma karena masalah berdarah atau nggak di malam pertama. Makanya cowok-cowok, jangan cuma isi perut yang digedein, isi kepala juga *rese* *nyebelin* :))) . Etapi tampon kan emang nggak umum sik di sini, ada pun pasti mahils.

Mungkin kebanyakan membayangkan bahwa himen itu bak lapisan/dinding yang nggak bisa ditembus, padahal, ya membran yang fleksibilitasnya berbeda di tiap orang. Kalau hymen kalian emang lumayan fleksibel, event s3x intercourse won’t break it, mungkin pas melahirkan baru sobek. Atau sebaliknya, kurang fleksibel sehingga aktivitas fisik semcem nyepeda atau olahraga udah bisa bikin sobek. Kalau sobek enggaknya dipake sebagai virginity indicator, let’s say those lil girls in NL who mostly bike everywhere and some of them may break their hymen are not virgin anymore? D’oh....

At this point, I 100% agree with what Ken Jennings said: not having s3x is what makes you virgin, not your bicycle seat or choice of feminine hygiene product. Paham?!

***

Sebenernya ya masih banyak mitos-mitos lain yang dibahas, tapi penjelasan tentang berbagai mitos pasti ada jawabannya di internet. Jadi setiap bingung, the answer is only a click away. Iya nggak sihhhh...

No comments:

Post a Comment