Sunday, 2 November 2014

word misuse

Seiring dengan perkembangan zaman pengetahuan juga meningkat, di satu sisi bagus dong, tapi di lain sisi hal-hal kecil nggak penting tapi nyebelin banyak terjadi di sekitar kita. Coba ambil contoh:

"aku tuh bipolar tau..."
kata seorang yang sedang mood swing karena mau dapet.

"gw kan diseleksia..."
kata seorang yang typo atau salah baca once in a while.

"gw ini nggak ada serebelum nya deh...." 
kata seseorang yang latian yoga dan ga bisa seimbang. Oke, yang ini sebeernya lebay!!! Cuma terinspirasi dari kejadian nyata seorang perempuan di Cina hidup puluhan tahun tanpa serebelum sampai akhirnya ketahuan oleh dokter. Hedan!!!

Seperti tadi yang gw bilang, bagus lho ilmu pengetahuan menemukan gangguan-gangguan di atas. Coba bayangkan jaman dulu kalau ada seseorang yang memang sebenarnya punya bipolar tapi karena keterbatasan ilmu pengetahuan -dan juga ekonomi barangkali-, hal seperti itu mungkin nggak ditangani secara tepat atau malah dikaitin denga hal mistis, 'Ini kenapa orang ini kok perilakunya tiba-tiba berubah kayak gini? Pasti diganggu, ayo ruwatan!!' Kalau sekarang kan medical and sayens at the first place ya, lebih masuk akal dan dapet penanganan yang pas. Nah, di sisi lain, justru karena banyak hal baru ditemukan, banyak orang -terutama abege masa kini- yang kayaknya misuse atau abuse atau apapunlah istilah-istilah di atas. 

Mungkin keliatannya keren ya bagi mereka dengan bilang, 'aku tuh bipolar tau...', they probably thought 'oh my gawd, am so cool dan kekinian.' Blah!! Gw sih berpikiran bahwa orang dengan kondisi seperti ini justru akan berusaha menyembunyikan kondisinya, mungkin cuma orang terdekatnya yang tahu. They might feel ashamed with their condition. Lha, ini malah ada orang yang dengan bangga dan hepi bilang-bilang kalau dia bipolar.

Atau diseleksia  Ya semua orang kayaknya punya masalah saat ngetik, nulis atau mungki ngeja. Ya tapi sampai di level mana sih? Level nggak fokus jadi salah baca? Level nggak teliti jadi salah nulis? Atau level jari kegedean pas menet smartphone jadi typo. Pernah gw baca artikel tentang seorang mahasiswa kampus gw yang didianosa diseleksia. She really had a hard time during her study, especially when she worked on her thesis. Beruntungnya, kampus mengerti dan mau ngasih tenggat waktu lebih panjang ketimbang mahasiwa lain pada umumnya. Gambar di bawah ini hasil dari wikipedia yang nunjukkin mereka dengan diseleksia bisa ngasih variasi tulisan 'teapot' seperti ini:


Just imagine the feeling of people with this kind of disorder when you say 'Gw kan diseleksia,' dengan penuh kebahagiaan dan kebanggaan. They struggle with their situation. They really do.

Contoh ketiga itu lebaynya gw aja, hahahahaha. Itu syok abis waktu baca berita tentang perempuan Cina yang survive hidup tanpa serebelum. Memang dia jadi punya masalah keseimbangan dan telat bisa jalan. Tapi dia survive. 

Pada intinya sih kayanya terlalu banyak misuse dari istilah-istilah tersebut, bukan cuma istilah tersebut, tapi banyak hal lain juga sih di luar itu. Ini cuma contoh belaka. Kadang gw pribadi ngerasa kzl, yabes menurut gw sih itu nggak keliatan keren ataupun kekinian sama sekali. Tapi yasudahah. 

No comments:

Post a Comment