Saturday, 20 December 2014

Kota Tua dan Sekitarnya

Pada suatu hari yang panas, gw dan teman pergi ke Kota Tua, Jakarta. Kenapa Kot Tua? Abisnya temen gw ngasih opsi mau ngemol atau ke pasar asemka, pret abis. Untung gw masih punya pengetahuan sikitlah tentang Jakarta, yaudahlah akhirnya gw minta ke Kota Tua aja. Yabes, sering liat orang pada main ke sini, kok kayaknya agak-agak hitz gitu ya. Pas udah sampai sana....yagitudeh, namanya juga daripada ngemol. Persoalan utama? Nggak bawa kamera yang mumpuni!! *anak masa kini* Kamera hp gw tuh cupunya pake banget, cuma 3 MP *buset, 2014 apa 2004?* dan ga pake autofokus :))). Ngambil foto wis tahan napas tetep goyang...bihihihihihik.

Kota Tua
Nggak terawat ya, sayang aja sih. Temen gw udah bilang sih kalau nggak terawat dan yang paling bikin malu waktu itu dia nganterin temennya temen yang lain asal Belanda buat liat-liat daerah sini. Kan ceritanya punya nilai historis yag lumayan ya daerah ini. Malunya karena daerahnya nggak terawat dan sepanjang sungai itu kan bau, banyak sampah juga. Ya kalau gw sih woles-woles aja, wis maklum. Tapi emang iya sih, kalau lebih terawat bisa lebih bagus lagi.

Sepeda warna-Abandoned building-Cafe Batavia

Jalanan menuju Kota Tua-Bangunan Tua-Sungai yang bau


Museum Bank Indonesia
Sebenernya bukan penikmat museum yang sejati sih, meskipun nggak nolak juga kalau diajak main ke museum, lumayanlah. Di dalam museum nya sih biasanya cuma liat-liat barangnya aja sambil kagum (kalau museumnya bagus), abisnya kalau musti bacain satu-satu keterangannya males aja gitu, pret!!

Nah pas masuk museum yang satu ini nggak ada ekspektasi apa-apa, ya secara museum-museum di sini kan cenderung nggak terawat (baca: jelek. Bahahahahahah!!!). Etapi ternyata Museum Bank Indonesia ini bagus lhoooo bokkk!!! Gede, bersih, terawat, bagus, interiornya oke, dan haratis!!! Hampir lupa, judule kan Museum Bank Indonesia, jelaslah siapa yang mendanai dan merawat museumnya, pantesan oke.

Gedung museum BI- bagian dalam museum BI. Bagus kan?
Di dalemnya ya nyeritain tentang uang dan tetek bengek pereokonomian. Sampai ada cerita tentang krismon, apa kriling, sejarah uang, profil gubernur BI mulai dari jaman Belanda dan masih bernama Javanische Bank (iya bukan? Lupa gw), dll. 

Manekin, semoga kalo malem ga idup-emas batangan imitasi
Museum Keramik
Judule sih ngono, tapi ternyata isinya nggak melulu keramik dan di taman bagian dalam museum ada tulisan ‘Museum Kontemporer Jakarta’, nggak tahu mana yang bener. Dari luar udah ketebak sih, nggak mungkin museum ini lebih bagus dari museum Bank Indonesia. Buat masuk bayar 5000, nggak mahal kan? Ya iyalah, nggak mahal aja pengunjungnya seiprit, apalagi mahal, makin nggak ada yang datang *jahat*.

Museum Keramik ini bangunannya jadul, beda banget sama museum BI. Isinya ya karya-karya seni mulai dari lukisan, tembikar-tembikar, karikatur, dll. Si tembikar-tembikar itu ada yang (katanya) hasil peninggalan jaman Majapahit. Wowwww!!!

Salah satu bagian dalam-salah satu bagian luar
Trio babi Majapahit-Ahok-Samad

***


Kalau nggak salah sih di sekitar kota tua ada lima museum, selain dua yang di atas, ada juga Museum Fatahillah, Museum Bank Mandiri, dan Museum Wayang. Tapi pada saat itu Cuma dua museum yang disambangi, lebih baik diakhiri dan pulang sebelum masuk jam macet, malesh cynnnn.

No comments:

Post a Comment