Friday, 27 February 2015

Sedih Gara-Gara Black Hawk Down

Awalnya gw sedang baca The Unthinkable by Amanda Ripley. This is a real good book. Apalagi setelah mengalami pengalaman traumatik dengan Anne Frank Diary of a Young Girl *gila gw jahat banget sama ni buku*, baca The Unthinkable tuh udah kayak Oase di padang pasir. Meskipun suka/nggaknya kita sama suatu buku itu kan masalah selera ya, tapi gw tetep aja nggak habis pikir ada yang suka sama buku Diary of a Young girl *jahat lagi*, dan The Unthinkable ini bener bagus. Gw belum tamat sih baca The Unthinkable, baru separo. Intinya buku ini nyeritain tentang para survivors dari extreme condition/life-death condition. Kalau kita sedang ngerasain ketakutan, apa sih yang sebenarnya terjadi. Kenapa ada orang yang bisa bereaksi seperti ini atau seperti itu. Bagus bingit lah. Tipikal Amanda Ripley, dia ngasih contoh banyak contoh kasus. Termasuk nyeritain profesi yang selalu dihadapkan pada extreme condition.

Salah satu profesi yang dia singgung adalah tentara. Sampai pada satu titik bahas tentara elitnya Amerika yang ternyata secara alami mereka itu beda. Their chemical blood is different from ‘normal’ soldier. Lalu sampailah gw pada statement yang menyatakan bahwa kalau kamu pengen lihat potret tentara elit Amerika, tonton Black Hawk Down. It portrays the Green Berets accurately. Oke, penasaran. Gw tontonlah film itu. Ternyata rilisnya pas gw SMP. Tua banget gw.

Dari awalnya cuma iseng nonton karena penasaran dan ada Ewan Mcgregor malah jadi sedih dan kepikiran. Gw nggak pernah tahu Black Hawk Down itu film tetang apa, yang pasti sih perang tembak-tembakan. Ternyata film ini based on actual event yang dibukukan *jadi pengen baca bukunya*. Civil war di Somalia yang terjadi tahun 1992. Pada saat itu terjadi perang sipil yang pada akhirnya mengakibatkan bencana kelaparan. Aidid, pimpinan kelompok militan, menyabotase pasokan makanan langsung dari pelabuhan. Rakyat semakin kelaparan. Dunia internasional bertindak dengan mengirimkan pasokan makanan yang dikawal oleh anggota U.S Marines. Aidid nunggu sampai pasukan Marine ditarik pulang dan menyatakan perang dengan pasukan penjaga perdamaian PBB yang ada di sana. Aidid pun mulai menyerang dan membunuh pasukan asal  Pakistan, dilanjutkan penyerangan terhadap pasukan asal Amerika. Lalu Amerika menempatkan pasukan elitnya untuk melakukan misi menyingkirkan Aidid.

Di film tersebut diceritakan penangkapan terhadap orang yang selalu memasok peralatan perang pada anggota militan lalu mereka mau nyulik orang-orang penting di ‘pemerintahan’ Aidid, dengan harapan Aidid akan muncul lalu bisa ditangkap karena ada orang-orangnya sebagai sandera. Garis besarnya gitu kalau nggak salah tangkap.

Misi nangkep pemasok senjata berhasil. Lalu misi menyandera orang-orang Aidid dilakukan ketika mereka sedang rapat di daerah ramai (Bakara Market) di Mogadishu. Misi penyanderaan yang dikira akan berjaan mulus dan mudah ternyata berjalan tidak sesuai prediksi. Anggota Militan Aidid ternyata banyak dengan senjata yang mumpuni. Tentara Amerika pun mulai kewalahan. Anggotanya mulai luka dan mati. Chopper tertembak dan jatuh, pun perjalanan Humvee (mobil militer yang dipakai konvoi) jadi terhambat di sana-sini. Pada akhrinya pasukan UN pun turun tangan untuk menyelamatkan pasukan Amerika yang masih banyak terjebak di tengah kota Mogadishu. Lalu nggak berapa lama setelah itu Clinton pun narik pasukannya untuk pulang ke Amerika.

Tersedih dari film ini ada di narasi akhir film ini, tentang pesan seorang Suami/Bapak yang (sudah siap) mati di medan perang kepada istrinya dan waktu Eversmann monolog berbicara sama jenazah Smith, salah seorang temennya yang mati.

***

Nah, habis itu gw jadi kepikiran dan nggak bisa move on dari film ini. Apa pasal? Film ini kan dibuat berdasarkan kisah nyata, jadi gw mulai ngebayangin pas kondisi real-nya terjadi kayak apa sih. Malah baca-baca artikel terus hati jadi patah. Pertanyaan paling mendasar dari orang awam kayak gw, ’Why they fight for other’s people battle?’ Mungkin tujuan awalnya mulia, untuk menghentikan manuver Aidid supaya civil war berakhir rakyat dapat pasokan makanan, dan kondisi membaik. Tapi tetep aja lho itu tuh perang. Pas tahu cerita di balik beberapa tentara Amerika yang mati, yang ada jadi sedih.

Pilla dan Smith. Ini dua orang tentara muda yang mati di misi ini, umurnya baru 21 tahun. Ternyata darah militer memang ada di keluarga mereka. Kedua orang tua dari Pilla dan Smith adalah veteran Perang Vietnam (i guess this one is way more horrible than Mogadishu), bahkan kakek dan kakak Pilla pun tentara kalau nggak salah. Keluarganya udah ngebungkusin paket untuk dikirim ke Somalia, tipikal tradisi setiap ada anggota keluarganya yang sedang pergi perang. Tapi paket itu nggak pernah sampai ke Somalia karena Pilla sudah meninggal terlebih dahulu. Dia ada di bagian atas Humvee untuk nembak para Militan yang ada di sepanjang perjalanan. Di suatu titik dia ngelihat militan yang ngarahin tembakan ke arah dia, mereka berdua sama-sama nembak dan keduanya pun mati. Keluarga dari Smith sempat menerima surat dari Smith yang cerita kalau dia nggak suka perilaku para militan, tapi di satu sisi kasihan sama rakyat sipil Somalia. Smith mati karena menyelamatkan temannya saat misi. Once, his father lost one leg in Vietnam war, while Smith never coming back home alive. Aku sedih.

Wolcott. Salah seorang pilot choper yang sudah senior, 36 tahun. Saat sedang menerbangkan chopper, militan menembakkan RPG. Of course Wolcott tried his best meskipun pada akhirnya helikopternya jatuh dan dia nggak selamat. Sedihnya, tiga tahun lagi Wolcott akan pensiun. Setelah pensiun, dia dan istri sudah merencanakan untuk hidup bertani. They already bought house in countryside dan udah belajar untuk beternak dan bertani. Kinda family man, that’s what his wife said. Sedih.

Gordon dan Shughart. Selain chopper yang dipiloti Wolcott, chopper lain pun ada yang jatuh. Setelah chopper jatuh, idealnya ground army akan mendekat. Mereka bikin perimeter untuk mengamakan wilayah tersebut dan nunggu rescue team datang untuk menyelamatkan korban dalam helikopter. Pada saat itu, chopper yang dipiloti Durant jatuh dan keadaan udah memanas. Pasukan Amerika pun sudah mulai kewalahan. Nggak ada ground army ataupun Humvee yang bisa mengamankan area tersebut dalam waktu cepat. Pada saat itu, Gordon dan Shughart, dua senior snipper yang sedang terbang di chopper, minta izin untuk bikin perimeter sampai ground army datang. Cuma mereka berdua tanpa mereka tahu apa ada korban selamat atau tidak di dalam chopper yang dipiloti Durant. Request mereka ditolak, selain nggak tahu apa ada tentara selamat dalam chopper, ratusan Somalians (rakyat sipil dan militan) sedang blingsatan mendekati helikopter yang jatuh tersebut. Terlalu berbahaya untuk Gordon dan Shughart. Tapi Shughart dan Gordon kekeuh, pokoknya mereka pengen turun dan mengamankan wilayah tersebut. Akhirnya mereka diizinkan untuk turun. Ternyata di dalam helikopter tersebut Durant masih hidup, patah kaki dan cedera punggung. Durant dipindahkan ke tempat yang lebih tertutup, dibekali satu senapan. Shughart dan Gordon kembali ke crash site. At the end, Durant selamat. Dia disandera dan dilepaskan setelah 11 hari, sedangkan Shughart dan Randy mati tertembak defending themselves from the Somalians who kept shooting. How brave they were. Ini paling sedih.     

***

Only the dead have seen the end of war -Plato-


No comments:

Post a Comment