Saturday, 30 May 2015

Tersiksa Laktosa

Gw berhenti minum susu sejakkk.......lumayan lama. 

Apa pasal? hal ini karena gw adalah 1 dari 65% populasi dunia yang punya lactose intolerance, bukan karena gw adalah jamaahnya erikar-lebay. Soalnya terakhir gw baca, katanya dokter dunia secara umum belum punya konsensus apa susu itu merugikan atau menguntungkan untuk badan, jadi pinter-pinter aja menyesuaikan dengan diri sendiri. Dan iyes, gw golongan orang yang percaya kalau nggak ada yang namaya 'one fits for all', jadi kalau ada yang kekeh kalau pola makan tertentu yang paling bagus dan paling bener, abaikan saja *lirik nama di atas*. Banyak hormon dari sapi? ya minum aja yang organik, lebih mahal sih tapi. 

Eniwei,  Gw lupa kapan tepatnya gw sadar kalo gw punya lactose intolernce, yang pasti ini tuh genetik *yaiyalah*. Semua orang di keluarga gw rasanya intoleran deh sama laktosa. Gw masih inget, gw tumbuh di keluarga yang salah satu menu sahurnya adalah segelas susu putih, buat tambahan gizi. My mom is smart, she argued that serving milk was better than a glass of sweet tea which I agreed. Additional sugar from sweet tea? No one needed since we ate ton of  rice for sahur.  Tapi masalahnya hal yang berikutnya terjadi adalah kami sekeluarga perutnya kembung,  bergas dan kentut-kentut sampai siang. Nyebelin abis-abisan. Sampai gw paham apa yang terjadi, terus nggak mau lagi minum susu, problem kentut-sampai-siang-setelah-sahur pun hilang. Yes!!!

Untungnya *sebagai orang Jawa, selalu ada untungnya dalam setiap peristiwa*, gw cuma intoleran sama susu. Susu dalam bentuk susu. Produk turunannya? Hajar!!! Kebayang kalau gw juga intoleran sama keju. Hangpa hidup ini, hangpa!!! Pokoknya keju, yogurt, (sour) cream, butter, dan produk turunan lainnya masih bisa gw nikmati dengan bersahaja. Jangankan produk turunannya, susu kalau bentuknya bukan susu pun masih bisa gw sikat. Misal pake susu buat bikin pancake, ya gw tetep baik-baik aja setelah makan pancakenya. Hamdalah. Untung lainnya adalah intoleransi gw terhadap susu cuma sampai level kembung, rumbling sound, dan kentut. Salah seorang temen gw bakal langsung muncrut kalo minum susu, pokoknya langsung butuh toilet. Makanya gw dan temen gw sering dikatain perutnya miskin, ga bisa diajak gaya buat minum susu. Hih!! 

Cek cenah, laktosa itu adalah gula alami yang ada di susu. Ketika susu masuk ke saluran pencernaan dan kita nggak punya cukup enzim laktase *biasanya enzim ini ada di bocah untuk mencerna ASI, dan ketika bocah mulai tumbuh, gen ini hilang*, gula ini nggak bisa dipecah/dicerna secara baik sampai akhirnya masuk ke usus besar. Nah, saat si laktosa yang nggak tercerna dengan baik masuk usus besar, bakteri di sini bisa mencerna laktosa lewat proses fermentasi *emang bikin tape doang yang perlu fermentasi!!* yang produknya berupa macem-macem gas, maknya perut bergas. Nggak habis sampai disitu, gas-gas dan gula yang nggak terserap dengan baik pun naikin tekanan osmosis kolon dan ngedorong cairan. Makanya temen gw sampai muncrut :)))).  

Kalau yang intoleran sama laktosa bisa sampai 65%, terus yang tolerannya siapose? Kebanyakan sih wong Europe, esp. daerah barat-tengah-utara, katanya sih gara-gara jaman manusia purba dulu, orang-orang yang di daerah sana yang pada awalnya memerah susu dari hewan dan setelah sekian ratus tahun berlalu, fungsi badan mereka menyesuaikan dengan tipe diet mereka. Makanya sebelum menentukan pola makan yang mau diterapkan sama diri sendiri, ngaca dulu sama diri sendiri, bakal cocok apa enggak, karena fungsi badan tiap orang, atau at least tiap bangsa, bisa beda.

Dari sini

Terus kalo nggak minum susu kalsiumnya gimana??? Ya nggak gimana-gimana, kalau kalian makan dengan baik dan benar, kalsium bisa didapat dari mana aja, brokoli atau bayem misalnya. Tapi kalau hidupnya ngaco cem gw yang hobinya makanin roti prata pake sayur pare bumbu kari, tetep nggak usah khawatir karena produk fortifikasi kan udah banyak. Gw nggak paham sih apa kalsium dari produk fortifikasi sama bagusnya dengan yang didapat dari sumber alami :))) *gw kan bukan dokter atau ahli gizi*

Gw pun kepikiran nulis ini karena lagi minum susu kedelai yang katanya berasal dari non-genetically modified Canadian soy bean *karepmu* dengan kandungan kalsium per penyajian 400 mg, tinggi kan? Jadi kalau emang intoleran sama laktosa dan nggak mau minum susu lagi, ya berhenti aja, selalu ada alternatif lain yang lebih nyaman karena kentut-kentut dari pagi sampai siang itu nyebelin abis, nyet!! 

2 comments: