Friday, 5 June 2015

Sauerkraut

Jadi, gw adalah fans berat dari human microbiome pada umunya dan  gut microbiome pada khususnya sejak beberapa tahun belakangan. Gara-gara gw baca cerita tentang infeksi clostridum yang disembuhin pake transplantasi eek, badass!!

Alkisah, terdapatlah seseorang yang mengonsumsi antibiotik untuk ngobatin suatu penyakit, ternyata bakteri yang mati bukan cuma bakteri yang seharusnya dibunuh, bakteri baik di perut banyak yang ikut mati *ini dia salah satu alasan JANGAN beli dan minum antibiotik secara bebas di apotek*. Lalu populasi clostridum ini meningkat pesat di perut yang bikin si penderita mencret nggak sembuh-sembuh. Lha, mencret barang satu atau dua hari aja udah bikin kesel, gimana mencret terus menerus berkelanjutan nggak sembuh-sembuh?!?!?! Akhirnya dilakukanlah stool transplantation alias transplantasi eek. Si pendonor ini harus sehat (dan eek-nya pun dicek dulu) pastinya. Terus prosedurnya kayak mau endoskopi tapi pas di kolon (cmiiw) disemprotkanlah eek yang sudah melalui proses tertentu. Kemudian sembuhlah si pasien. Wow, apakah ini mejik? Tentu bukan. Katanya sih karena bakteri baik dari eek si pendonor berhasil tumbuh secara pesat dan menggusur dominasi clostridium ini. Warbiyasak kan?

Terus abis itu banyak certa tentang sepak terjang gut microbiome ini, pokoknya luar biasa lah. Bukan cuma di level buku pelajaran sekolah bahwa bakteri membantu proses pencernaan makanan sehingga gizi terserap optimal, tapi sampai di level ngaruh ke stress level, anxiety, emosi bahkan katanya bakteri perut pun 'berkomunikasi' sama otak.  Ey-ma-zing.  

Habis gitu kayak baru sadar, apakah ini yang namanya I take this gut microbiome for granted, nggak disayang-sayang gitu? Baiklah, gw akan berusaha secara teratur buat minum Yakult atau makan probiotik lainnya. Awalnya pernah mikir-mikir buat bikin Kimchi karena enak banget -typical fermented napa cabbage dari Korea-, namun kok ribet banget sih campuran bahan-bahannya, males lah gw *cemen*. Terus gw mikir, kalo Kimchi adalah golongan probiotik, berarti Sauerkraut juga dong? dong? dong?

Terus, kok perjalanan gw bisa sampai ke Sauerkraut segala, padahal kan popularitinya jauh di bawah Kimchi, apalagi untuk wilayah Indonesia, iya nggak sih? Pokoknya Korea rules, deh! Awalnya gara-gara liat Inglorious Basterds dan Band of Brothers, kok ini pasukan Amerika terus-terusan manggil pasukan Jerman pake istilah 'Kraut' sik? Ternyata, itu istilah slank untuk nyebut orang Jerman karena mereka hobi makan Sauerkraut alias sour cabbage, yang mana maksudnya ya kubis yang difermentasi. Terus pas gw liat resepnya, kok gampang sih? Ibarat kata, bikinnya sambil merem juga bisa. Mana katanya kandungan bakterinya juga bagus. Maka capcuslah gw bikin.

Terus gimana??
Pas awal-awal mau nyobain, gw takut-takut. Kalau yang tumbuh ternyata bakteri jahat dan bukan bakteri baik, priye? Besokannya gw masup koran lokal: 'Seorang wanita asal Indonesia dilarikan ke rumah sakit karena keracunan Sauerkraut.' Pret abis. Tapi, pada akhirnya, dengan menyebut nama Allah, gw beranikan buat nyoba yang mana BERHASIL SIH TAPI KEASINAN BANGET JEK!!!

Asinnya ga santai banget deh. Soalnya pas gw bikin, gw cuma inget bahan yang dibutuhkan, tapi nggak inget takarannya. Terus takaran garam yang gw pake ternyata buat bikin Sauerkraut dengan kubis dua kali lipat dari yang gw bikin. Bbbzzzttt.

Terus kok tahu itu berhasil?
Karena di balik rasa asin yang luar binasa, gw masih bisa ngerasain asemnya si kubis, pun penampakan fisiknya menunjukkan proses fermentasi yang (kayaknya sih) terjadi. Ciri-cirinya adalah gelembung-gelembung yang muncul. Cek cenah mah, itu gas yang keluar dari proses fermentasi.

 
Penampakan hari ke-1. Gelembung udah mulai muncul.

Penampakan hari ke-3. Menguning *padi kali, menguning*

Ada kemungkinan gagal?
Katanya sih, kecil kemungkinan buat gagal. Kalau bikin Sauerkraut aja gagal, gimana mau bikin makanan lain yang sophisticated??? *padahal gw aja gagal, karena keasinan. Ngok!* Maksudnya gagal tuh nggak berhasil, fermentasi nggak terjadi gitu. Kecil kemungkinan ini terjadi. Hal yang mungkin terjadi adalah ada jamur yang tumbuh di permukaan, yang mana (katanya sih) nggak apa-apa, di scrap aja, kubis yang terendam aman untuk dimakan. Biasanya jamur ini tumbuh kalau ada kubis yang nggak terendam air. Karena air yang asin itu bisa mencegah pertumbuhan jamur, makanya untuk kasus gw, hil yang mustahal jamur bakal tumbuh, asinnya aja bikin hipertensi.

Terus apa aja yang diperlukan?
Kubis
Garam (disarankan garam yang bagus, Kosher salt atau organic sea salt)
Toples yang mumpuni
Di beberapa resep lain, gw pun melihat ada yang ngasih bahan tambahan lainnya. Ada yang pake biji-bijian, ada juga yang pake tambahan white vinegar, gula dan air panas. Gw sih udahlah yang paling gampang aja.

Gw masih penapsaran sih ini pengen bikin lagi. Tentunya dengan takaran yang waras, bukan takaran yang bikin darah tinggi. Tapi nggak tahu sih, liat nanti, namanya juga anget-anget tai ayam. Cuma semangat di awal doang. Tapi berhubung janji-janji manis berupa keberadaan bakteri baik, yaaaa bisa dipaksain buat bikin lagi. Selain pengen bikin dengan takaran yang bener, gw pun pengen nyicipin Sauerkraut yang otentik, sebenernya rasanya kayak apa sih? *kemudian minta Sauerkraut sama Mats Hummels* *haluuu abis!*

No comments:

Post a Comment