Tuesday, 13 October 2015

Syarat hidup (extended version)

Temen di salah satu grup gunjing wasap ngirim link tulisan Adhitya Mulya, bagus deh tulisannya. Hal yang pertama kepikir di kepala gw apa? Gw dan dua saudara laki-laki gw, kakak dan adek gw. Pada satu titik, apa yang Adhit tulis mengingatkan apa yang terjadi di antara kami bertiga. 
Pertanyaannya, jika kita ingin mencetak anak-anak yang bermental baja, kenapa kita justru memberikan semua kemudahan? Kenapa justru kita hilangkan semua kesulitan itu?

***
Mari kilas balik ke puluhan tahun lalu waktu gw masih muda belia, masih kecil sih tepatnya. Gw terpaut tiga tahun lebih muda dari kakak gw. Jaman gw kecil sampai sekitar SD, kemudahan yang gw dan kakak gw dapat nggak banyak. Kami bukan orang kaya, tapi kekurangan juga enggak. Satu yang pasti, hemat itu harus dan banyak kesenangan yang harus ditunda, meski kesenangan itu dalam bentuk paling sederhana sekalipun. *ambil tisu*

Gw masih inget loh, pas jaman TK atau awal SD tuh masa-masa boomingnya apel New Zealand. Apel merah yang di iklannya anak kecil (cmiiw) pegan apel, lalu tanpa dicuci dan cuma diusapkan ke baju langsung  dia gigit. Duh, enak banget kayaknya seger. Seperti anak kecil pada umumnya, gw kepengen. Sederhana, cuma pengen apel. Ya tapi seperti yang gw bilang, kesenangan yang paling sederhana pun seringkali harus ditunda. Biasanya emak gw bakal bilang,'Oke, bulan depan habis gajian ya.' Iya bener, bulan depan dibeliin, dibeliin dua. Satu untuk gw dan satu untuk kakak gw. Kalau emak gw mau kasih kami kemewahan lain, seperti beliin es krim, maka dia bakal jalan kaki supaya uang yang biasa dipakai naik becak bisa digunakan untuk beli eskrim *ambil tisu lagi*

Emak gw juga crita, gw ini bocah yang maunya banyak. Liat ini kepengen, liat itu kepengen. Dikit-dikit minta ini, nggak lama kemudian minta anu. Kalau udah mulai bertingkah, emak gw dengan santainya akan bilang,'Ya, ayok sekarang apa yang kamu mau dicatet dulu ya.' Dari kecil gw dibuat untuk biasa menulis sebagai taktik untuk menunda kesenangan yang gw inginkan. Taktik emak gw canggih juga. Makanya, gw cukup akrab lah sama delay gratification. I am very well trained for it. 

***

Sepuluh tahun setelah gw lahir, adek gw lahir. Pas adek gw mulai gede, perekonomian di rumah juga tambah baik. Nggak ada cerita delay gratification buat dia. Mainan banyak, pengen sesuatu hampir selalu keturutan. Now I can really see a big difference among me&my big brother compared to him. He's smart indeed, but his endurance and persistence are just.....ya gitudeh. I several times argue with my mother regarding this issue. Her answer be like, 'Karena mau gimana pun dia bungsu, tetep ada bedanya. Jamannya kamu dan aa lain sama jamannya dia. Jamannya dia, ibu dan bapak kebetulan "punya", jadi nggak ada salahnya dipenuhi apa yang dia mau. Lagian dia sepuluh tahun di bawah kamu, kalau kamu punya waktu 50 tahun bareng ibu, dia cuma punya waktu 40 tahun.' Oke, argumen kedua ga bisa dibantah, tapi untuk argumen pertama, seperti yang Adhit bilang:
Karena dengan menghilangkan kesulitan-kesulitan itu, justru kita menciptakan generasi yang syarat hidupnya banyak.   
Iya, gw setuju sama Adhit: generasi yang syarat hidupnya banyak. Karena pada akhirnya, dunia nyata nggak akan peduli apakah kamu anak pertama kek, tengah kek, bungsu kek. Dunia yang sebenarnya akan memperlakukan semua orang sama. Apalagi kita yang kaum proletar rakyat jelata. Kalau anak pejabat sih lain, nabrak orang sampai mati aja bisa lolos dan ngibrit ke luar negeri. Ya kalau kita yang butiran debu? Privilege kek gitu mana punya sih, kerja keras harus berkali-kali lipat, belum lagi -seperti yang Adhit bilang- manusia di bumi ini tambah banyak, yang mau cari hidup dan cari makan pun tambah banyak. 

But I believe, my younger brother will cope with that, maybe it just takes a bit longer. 

Tulisan Adhit juga ngingetin tulisan Teguh-nya Mba Lei yang judulnya Fathers. Gw amazed akan kesederhanaan bapaknya Mba Lei, line favorit gw berbunyi:
“Never, ever raise your lifestyle in times of economic upturns,” he tells me repeatedly, over and over, “Supaya kita tidak linglung saat rejeki turun.” He tells many tales about his friends who lived like kings, only to disappear into oblivion when their riches are gone
Nasehat di atas tuh emang salah satu hal yang harus selalu diingat, meskipun lagi-lagi, gw setuju dengan Adhit, ketika ada rezeki lebih, nggak ada salahnya mencoba ragam kemewahan yang ada, bukan meningkatkannya.  

Udah sih gitu aja. Nanti kalau kepanjangan bisa disepelpot ibu-ibu muda, 'Elahhh, sotoy lu, beranak aja belom.' Karena seperti yang kita tahu, banyak ibu muda yang lebih kejam dari ibu kota.  Intinya gw suka sama yang Adhit tulis, biar selalu jadi self reminder.

6 comments:

  1. halo mbak salam kenal,saya silent reader. tulisan yang ini bagus sekali. terimakasih juga linknya aditya mulya

    ReplyDelete
  2. aaaaaaaaaaaaaaa. udah gitu aja :))

    ReplyDelete
  3. Ya empelop, kasus ade loe sama ma kasus ade gw.
    Bo, jaman gw 'n kakak gw tuh pilih jajan tapi pulang jalan kaki, ato ga jajan tapi pulang naik angkot. Ade gw mah ya jajan ya dijemput pake mobil ber-AC (dengan gw sebagai sopir, hih!). Keinginan ga diturutin dikit langsung meledak parah seakan dunia akan berakhir 1 menit lagi.
    Mari kita doakan agar ade2 kita mampu bertahan dikejamnya kehidupan dunia yang fana ini, aamin!

    ReplyDelete
  4. @anon: sama-sama, terimakasih sudah baca.
    @anti: heh!!! ingat, kamu harus istikomah terhadap segala peer pressure di sosial media!!
    @hancong: nah kannnn!!!!!! ortu serba salah juga kali yak: nggak dikasih padahal bisa ngasih atau dikasih tapi nanti keenakan terus. Eymin for our little siblings!!

    ReplyDelete
  5. si gw pun dulu gtu. tiap belanja bulanan, berdua nonton bagian tempat mainan. selesai belanja bulanan bisa pulang dengan sigap, krn tau mainan itu cuma untuk diliat, bkn dibeli :') terus pas udh agak agak gede, bikin monopoli dan ular tangga sndiri krn ga pernah dibeliin. ngapalin monopoli orang, trus bikin sndiri :')

    ReplyDelete
  6. @nana: ceuuuuu :") *kasi tisu* *tepuk-tepuk bahu*

    ReplyDelete