Monday, 30 November 2015

[Buku]: Salt Sugar Fat: How the Food Giants Hooked Us- Michael Moss

Ini buku seru banget. Awalnya, gw kira, Salt Sugar Fat ini pure tentang sains. Di mana Moss akan menjabarkan dari sisi sains kenapa sih food industry memilih tiga bahan ini sebagai kuncian, lalu, masih dari sisi sains, gw pikir Moss akan menjelaskan apa yang terjadi dalam badan kita ketika kita mengonsumsi ketiga bahan tersebut. Ya nggak salah sih, hal tersebut dibahas, tapi jauhhhhhh lebih banyak dari itu. Dia ngebahas apa yang terjadi di balik pintu lab RD perusahaan makanan, marketing strategy yang diterapkan, kongkalikong dengan pemerintah (hal ini pemerintah Amerika yah), sampai para pembelot alias 'food heroes' yang merasa bertanggung jawab terhadap masyarakat atas semua jenis makanan/minuman yang mereka racik. 

***

Ngomong-ngomong soal makanan, gw aware soal nggak sehatnya processed food, tapi bisa apa, rasanya ENAK dan sangat CONVENIENT, ya nggak? Selama ini gw baca label makanan, apa isinya, tapi yang gw soroti cuma satu, yaitu gula. Kalori? Nggak. Garam? Nggak. Lemak? Nggak. Kenapa gula? Gw ada gen diabetes dari mbah.

Padahal mah tetep aja gawat kalau makan garem sebakul gara-gara kebanyakan ciki-cikian :))))).

***

Jadi, yang namanya industri makanan nggak bisa lepas dari yang namanya gula, garam, dan lemak. Dan hal ini bukan melulu soal rasa enak yang dihasilkan, tapi juga tekstur, penampakan, mouthful feel ketika masuk mulut, kemampuan mengoreksi rasa yang timbul akibat adanya komponen tertentu, sampai sebagai pengawet. Seiprit tentang tiga bahan itu.

Gula.
Hal yang pertama dibahas adalah gula. Buanyakkkkkk banget makanan manis yang dihasilkan dari pabrik, tapi yang jadi fokus utama dengan pembahasan panjang adalah minuman bersoda dan sereal sarapan. Gula tuh memang luar biasa, bahkan salah satu semboyan yang dipakai adalah 'When in doubt, add sugar.'  Efeknya bahkan diasosiasikan seperti efek narkoba, bisa bikin nagih. Di salah satu bab disebutkan, saat glucose masuk ke dalam darah, kita bakal ngerasa makin pengen makan dan efeknya akan berlangsung selama empat jam. Jadi kalau kita ngemil yang manis-manis dan nggak bisa berhenti, ya ini dia penyebabnya. Kayak lingkaran setan, semakin banyak glucose masuk, semakin ngidam lah kita. Makan glucose lagi, tambah pengen lagi, makan lagi, rauwis-uwis. Tapi gw rasa sih ini kalau glucose yang masuk ke dalam darah dalam jumlah besar, karena di bukunya dese paka kata 'spike', kalau makan normal secara bersahaja harusnya sih oke.

Lemak.
Kalau bahan yang ini, fokusnya bukan ke rasa, tapi lebih ke tekstur dan mouthful feel. Pas masuk mulut langsung meleleh dengan tekstur yang sempurna *langsung bayangin eskrim mc-d* *anaknya murahan*. Puas banget.  Konon katanya, badan kita memang suka sama makanan berlemak karena lemak ini sumber makanan penghasil energi terbesar. Semakin banyak lemak yang masuk, semakin tubuh merasa 'aman' karena akan punya cadangan energi yang cukup untuk disimpan. Saking cintanya badan kita sama lemak, sinyal yang dikirim untuk bilang,'Oke, cukup. Berhenti makan,' saat kita makan makanan berlemak pun jadi lebih lambat ketimbang makanan dengan kandungan lain.

Garam.
Ini komponen yang paling misteri buat scientist. Kenapa kita bisa segitu doyannya sama garam. Cek cenah, saat diliatin makanan bergula dan berlemak, pleasure center di otak kita jadi aktif, kelap-kelip gitu karena pada dasarnya badan kita secara alami ngefans sama gula dan lemak, tapi nggak dengan garam. Menurut mereka, kita bisa doyan sama garam karena asal mula kita. Kan banyak ya teori origin of life (electric spark, dll. aku suda lupa semua), dan ada sekte meyakini kalau asal mula kehidupan dari dalam laut. Nah, karena asal mula kita dari laut, kita terbiasa dengan yang asin-asin *ngemil upil*, makanya sampai saat ini kita tetep suka sama makanan asin.

Gawatnya makanan asin? Apalagi kalau bukan bikin darah tinggi.

Lalu apa hebatnya garam? garam ini bisa jadi pengoreksi dari segala kekurangan. Tanpa garam, banyak makanan rasanya nggak karu-karuan (deskripsinya bilang kalau processed food tanpa garam rasanya kayak logam, timah, sampai kardus. Gw jadi penasaran, emang kardus rasanya kek apa?), roti kurang puffy, beberapa makanan warnanya nggak menarik, belum lagi efek mengawetkan dari garam. Untuk industri, satu yang paling penting, garam harganya murah.

Lalu, gimana dengan orang-orang yang ada di dalam industri makanan tersebut? Ya woles ajalah, profit yang dikejar, meskipun ada beberapa 'pembelot' yang merasa bertanggung jawab atas apa-apa yang mereka produksi. Sebagian pusing dan akhirnya resign karena pada awalnya, sebagai food scientist, they want to innovate good food for better humankind, tapi begitu masuk industri makanan, bubarlah semua cita-cita mulia itu. Ada juga petinggi coca-cola yang berusaha membawa perusahaan ke arah yang lebih waras dan sehat dengan mulai nyetop marketing terhadap anak-anak yang masih terlalu kecil. Walhasil dia diberhentiin dari jabatannya yang udah mumpuni.

Selain para food scientists yang memang jago meracik formula supaya konsumen terus-terusan ketagihan, strategi marketing pun gila-gilaan, terutama terhadap anak kecil dan remaja. Anak kecil punya kuasa untuk membuat orang tuanya membelikan apa yang mereka mau sedangkan remaja udah mulai punya duit jajan sendiri dan mereka labil, gampang dipengaruhi dengan embel-embel iklan yang mengatakan kalau kalian itu 'cool' dengan makanan atau minuman tertentu. Ditambah back-up dari pemerintah (Agriculture Department) secara terselubung.  

 ***
Lha terus kalau semua makanan nggak sehat makan apa dong?!?!?!?! Ah, ya nggak apa-apa. Toh masih pada masak juga kan? Kalau makan masih sering mampir warteg juga kan? Bukan melulu processed food, iya kan?

Ada satu poin buku ini yang gw setuju banget. Bahwa industri makanan nggak boleh nutup-nutupin kandungan apa yang ada di dalam makanan tersebut dan jangan kasih sistem pelabelan yang menyesatkan.

Maksudnya nutup-nutupin apa? Bahwa mereka nggak secara jujur mencantumkan bahan-bahan (utama) yang dipakai di dalam makanan tersebut. Sampai sekarang masih ada lho. Jadi gw tinggal dengan seorang landlady yang baik hati *sujud syukur* kadang-kadang menyuplai gw dengan makanan. Pernah suatu hari, dia kasih gw satu boks frosted cornflakes. Dari judulnya udah jelas, sereal jagung dilapis gula, lalu gw mendapati:


Di daftar bahan-bahan disebutin ada gula dan garam, giliran nutritional data cuma ada sodium thok, gulanya mana? mana? mana? Lha wong jelas-jelas cornflakes dilapis gula dan rasanya manis. Terus gw apain sereal ini? Gw jadiin cemilan lah!! Sikattttt!!! :)))

Terus kalau sistem pelabelan yang menyesatkan gimana? Bahwa mereka dengan cerdasnya akan mengangkat suatu kualitas sehingga konsumen terdistraksi dan melupakan aspek lainnya. Nih ya, minuman probiotik dari supermarket lokal di mari:


Reaksi orang-orang ketika pertama ketika lihat produk di atas mungkin,'Cynnnn nggak ada lemaknya cynnn. Cocok untuk akika!!!'

Terus kita cek label nutrisinya:


Gulanya 13.8 gram, kalau nggak salah udah separo dari maximum sugar intake wanita dengan moderate activity (cmiiw). Lagian kan kita nggak akan nenggak gula dalam bentuk gula, pasti gula yang masuk badan udah dari berbagai sumber makanan (nasi, buah, roti, dll), kalau masih ditambah minuman kayak gini terlalu sering, i repeat, terlalu sering, yowis bubar. Apa-apa kalau nggak berlebihan/terlalu sering kan nggak apa-apa, yenggak??? :)))

Lemak 0%-nya dibikin sevisible mungkin. Orang udah terlanjur terpengaruh, sikaaaatttt aja ini minuman nggak ada lemaknya.

Banyak kok produk kayak gini, Zero trans fat padahal sodiumnya segudang, light canned tuna tapi sodium galore. Kayaknya sih memang perlu trade-off, untuk mempertahankan rasa, kalau ada komponen yang dikurangi, komponen lain kudu ditambah *analisis abal-abal*.

Hal lain yang bikin gw sebel adalah iklan di tv pake embel-embel cemilan sehat. Yaelah, keluar dari pabrik mau sehat dari mana, kasian lah penonton awam yang nggak ngerti, isinya tepu-tepu. 

***

Maunya sih industri makanan pasang label yang bener dan nggak menyesatkan, biar konsumen yang pilih, Ketika kami, konsumen, tetep makan processed food secara khusyuk dan teratur, artinya memang kami yang memilih makanan tersebut dan nerima konsekuensinya, gitu loh.

Eh, bahkan ada yang punya ide ekstrem supaya industri makanan pasang label peringatan kayak rokok: mengandung sodium tinggi, hati-hati darah tinggi!! Agak lebay sih kalau ini :)))).

Eniwei, gw nulis ini bukan karena gw hidupnya sehat ya, jauh lah gw dari itu. Nulis aja sambil ngganyem mister pota*o tube besar. Cuma kadang-kadang  gw merasa industri besar ini just crossed the line way too far. Siapa tahu kalian yang apes nyasar baca postingan ini bisa jadi lebih aware dan melakukan hal kecil. Misal yang hobi ngeteh atau ngopi dengan gula mulai meninggalkan gulanya, ya  sesederhana itu. Hyuk.

No comments:

Post a Comment