Friday, 6 November 2015

Formal education as a back up plan

Biasa, judul keminggris, isi tulisan bahasa 4lay. Ya gimana, bingung yari judul yang pas dalam Bahasa Indonesia, tapi kemampuan nggak nyampe kalau harus nulis pake Bahasa Inggris. Eniwei, pernah denger nggak orang ngomong,'Yaelah, kuliah nggak usah pinter-pinter, yang pinter tuh ujung-ujungnya paling jadi dosen. Justru yang jadi kaya/jadi bos tuh yang pas-pasan.' atau 'Ah kuliah sih nggak usah serius-serius amat. Bill Gates sama Richard Branson yang DO juga sukses.'

YHA!!

Kalo gw sih nggak setuju, nggak tau kalau Mas Anang.

Mungkin pendapat bisa berbeda, tergantung lokasi geografis juga kondisi ekonomi sosial setiap orang. Buat gw mengenyam pendidikan formal secara proper adalah hal cukup bijak, kenapa? karena kita semua jadi punya back up plan. Ibarat kata plan B lah. Bahkan untuk sebagian orang, pendidikan formal justru plan A mereka, sekolah setinggi-tingginya karena memang semata- mata suka.

Kenapa jadi plan B?  Karena pada dasarnya banyak dari mereka yang emang pengen ngejalanin sesuatu yang dengen atau tanpa ijazah S1 pun masih bisa dilakukan. Misal, wiraswasta, penulis, penyanyi, atau artis (ehm, ini sih gw). Tapiiiiiii cek cenah While You Were Sleeping, life does not always turn out the way you plan. Pendidikan formal bisa dipake untuk jaga jaga kalau emang usaha  mandek atau gagal. Kalau main film cuma jadi kameo sepersekian detik dan nggak ada kemajuan. Kalau nyanyi tetep gagal maning dan nggak bisa masuk dapur rekaman. Kita masih bisa pake itu sebagai modal buat masuk perusahaan. Ya mau nggak mau, hidup sehari-hari kan tetep perlu duit.

Contoh nyatanya ya gw ini. Dari dulu pengen nembus Hollywood tapi gagal mulu. Pengen deh rekaman di yu-es atau main film sama Ewan McGregor, tapi ya gimana, gagal maning-gagal maning. Apa boleh buat.

Dear Ewan McGregor, this could be us!!

Bitch please!! X)))


Beberapa waktu yang lalu gw pernah baca berita tentang Cincau Lawra. Dia bilang emang pengen go internesyenel sebagai artis, ibunya pun mendukung. Kurleb, ibunya bilang kalau Cincau sih jadi artis aja. Terus pada masanya timeline fesbuk rame bet ngomentarin (dengan nada negatip) pendapat emaknya Cincau karena pengen Cincau jadi artis aja. Yeeee biarin aja kelez #TeamCincau!! Nah, kan dese itu pinter (banget!! Columbia Uni bok!) dan berprestai secara akademis, tapi cita-cita yang sesungguhnya nggak ada hubungannya dengan akademisnya. Ibarat dia gagal dapet agen buat go internesyenel (meskipun udah tajir karena udah punya bizniz dan job akan selalu ada di Indo), jalan untuk masuk perusahaan atau sekolah lebih tinggi lagi akan selalu terbuka buat dia. Plan B sudah di tangan.

Yaelah, ngambil contohnya Cincau Lawra. Tinggi amat? Ah, biarin.

Hal lain yang suka bikin gw sebel adalah pendapat tentang kuliah nggak perlu serius karena wiraswasta nggak butuh ijazah kuliah yang kemudian dilanjut dengan,'Wiraswasta dong kalian. Masa mau selamanya kerja sama orang, wiraswasta tuh jadi bos sendiri dan membuaka lapangan kerja buat orang. Mau jadi kacung orang terus?'

EMANG SEMUA ORANG MINAT DAN/BAKAT JADI WIRASWASTA, MZ..MB?!?!

Gw sih santai aja kerja sama orang lain. Jadi kacung orang lain, lha emang napa? Emang sejauh ini , i repeat: sejauh ini, masih seneng kerja sama orang kok. Halal juga duitnya. Kalau semua orang maunya jadi bos, kalau semua orang maunya wirausaha, terus yang kerja buat kalian siapa? Lha, kalian para wiraswasta juga kan butuh orang cem gw, yang (masih) demen kerja sama orang. Bwek.

Oiya, sempat baca beberapa waktu yang lalu. Ada riset yang dilakukan, bahwa probabilitas dari para outlier semacam Gates, Jobs, Branson, dsb., besarnya 0.13%. Jadi itulah chance jadi super kaya dan super sukses tanpa pendidikan formal, dan jangan lupa latar belakang Gates yang mendukung dan kemampuan dia yang exceptional. Bukan manusia dengan kualitas abal-abal bak butiran debu.

Yaudah sih. Terserah juga.

No comments:

Post a Comment