Wednesday, 2 March 2016

[Buku]: The Checklist Manifesto by Atul Gawande

Ini adalah salah satu buku yang belakangan ini baru kelar dibaca. Dapet rekomendasi buku ini dari lab manajer gw yang ternyata suka baca buku dan topik yang kami baca lumayan sering beririsan, senang!!

Udah ketauan lah dari judulnya, buku ini membahas tentang checklist, iya checkist. Lagi-lagi, salah satu yang menyenangkan dari buku ini adalah mudah dibaca, dalam artian mudah dimengerti dan alurnya gampang diikuti. Hal lain yang gw suka adalah beckground penulisnya yang merupakan seorang dokter, sehingga ilustrasi cerita yang dia kasih ya banyaknya dari dunia kedokteran. Terutama cerita tentang operasi karena dese memang seorang surgeon. Gw nggak nyangka aja ternyata yang terjadi di dalam operation theater bisa semencekam dan serumit itu. Ya meneketehe, gw kan nggak pernah nonton serial tv dengan topik dunia kedokteran (seperti yang gw bilang, serial tv yang gw ikutin secara khusyuk dan khidmat hanya The X Files dan Ally McBeal).

Di sini, dia mendeskripsikan, bagaimana kalian sebagai manusia (iya kalian, aku kan separo alien), rentan melakukan kesalahan ketika dihadapkan pada situasi yang sangat kompleks. Seorang profesional dalam bidangnya yang punya pengalaman banyak pun tetap rentan melakukan kesalahan ketika dihadapkan pada situasi yang sangat kompleks.

Pertama, dia menceritakan kisah penyelamatan bocah berusia 3 tahun di Austria yang tenggelam di kolam dingin selama setengah jam dan ketika berhasil detemukan, dia sudah dinyatakan tidak hidup. Jantungnya sudah berhenti selama 1.5-2 jam tapi tim penyelamat tetap kekeh membawa bocah tersebut ke rumah sakit dan melakukan segala cara. Semua tahap pertolongan dilakukan. Perlahan temperatur si anak naik dan detak jantungnya pun kembali. Tapi paru-paru terendam air dan ada cidera pada otak juga. Pertolongan terus dilakukan dan segala cara dilakukan, pasang alat ini dan itu, belek badan si bocah di sana dan di sini. Singkat kata, si bocah berhasil diselamatkan, dan pada akhirnya tumbuh normal seperti anak pada umumnya. Di sini Gawande memberi gambaran situasi yang begitu kompleks namun bisa dihandle secara baik. Rumah sakit yang menangani pun bukan rumah sakit besar, hanya rumah sakit kecil yang standar dan  seadanya (seadanya versi Austri tentunya), tapi semua prosedur tertata dan rapi. Tidak ada langkah yang terlewat, semua orang tahu perannya dan berkomunikasi.

Tapi apa iya dalam setiap situasi kita selalu bisa bertindak tepat dan sistematis? Jangankan situasi yang kompleks, situasi normal yang sifatnya rutinitas pun bisa ngasih celah untuk suatu kesalahan. Nah, disinilah checklist berperan.

Percobaan pertama penggunaan checklist ini berawal ketika WHO minta tolong pada Gawande untuk bantu kasih solusi soal komplikasi akibat operasi. Ternyata tahun 2004 ada 230 juta operasi besar di seluruh dunia dan jumlahnya terus meningkat setiap tahunnya. Setiap tahun, terdapat paling tidak 7 juta penduduk yang menjadi cacat dan 1 juta meninggal akibat operasi. Dia menyebutkan level ini mendekati malaria atau tuberkolosis. Awalnya, mereka pun ragu untuk menggunakan checklist dalam prosedur operasi, apa iya bisa membuat lebih baik? Gimana kalo nanti justru tambah bikin ribet? Apa iya dokter senior berpengalamn mau pake checklist? Beberapa senior yang merasa sangat berpengalaman pasti punya ego segede gajah dan merasa tersinggung kalau harus menuruti checklist, apalagi yang bertanggung jawab memastikan checklist ini diikuti 'hanya' seorang suster. Suster bahkan dikasi wewenang untuk melarang operasi dimulai (dengan back up dari RS) kalau checklist tidak dipenuhi.

Setelah checklist dibuat, eksperimen dilakukan di delapan RS seluruh dunia, baik negara maju mau pun berkembang, salah satunya RS di tanzania. Ini sedih banget, banyak banget keterbatasannya. Anestesinya ga punya medical degree, kalau musim hujan ga ada akses dan suplai obat-obatan kosong, glove yang sudah digunakan disterilkan lagi supaya bisa dipakai ulang sampai dia mulai berlubang. Ini gimanaaaa T___T.

Seriiiinnggggg banget hal kecil tapi krusial tidak dilaksanakan dalam prosedur operasi dan bisa memberi akibat fatal, salah satunya infeksi akibat operasi. Di salah satu RS tempat penelitian dilakukan, 30% dari pasien yang mendapat tindakan operasi tidak mendapat antibiotik secara benar. Termasuk di dalamnya mereka yang terlalu cepat dikasih, sehingga operasi belum kelar tapi efek udah ilang mau pun mereka yang kelupaan dikasi antibiotik. Gilakkk!!!! Bahkan dokter pun bisa cuek dalam hal remeh, seperti dia habis benerin posisi lampu operasi dan langsung mau balik pegang pasien tanpa ganti sarung tangan (saat itu RS tersebut sedang jadi tempat studi untuk checklist, si dokter diselepot oleh suster dan dia pun ganti glove baru). Itu hanya sedikit contoh dari beberapa contoh printilan yang sering lupa dikerjakan tapi bisa berakibat fatal terhadap pasien. Khilaf-khilaf macam begini ternyata bukan karena rumah sakit tersebut ada di negara maju atau negara berkembang karena pada kenyataannya hal seperti ini terjadi di mana-mana.

Setelah masa eksperimen selesai, data yang didapat meniunjukkan bahwa komplikasi major akibat operasi berkurang 36% dan kematian turun 47%, pasien yang harus menjalani operasi ulang  karena masalah teknis berkurang 25%. Setelah berbagai proses panjang, checklist ini diperkenalkan secara publik tahun 2009.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kalau ada situasi yang tidak diinginkan terjadi? Tiba-tiba ada masalah major? Dia mengatakn bahwa ''power needed to be pushed out of center as far as possible." Seperti dalam operasi, checklist yang digunakan bukan semata-mata 'checklist', tapi di dalamnya ada moment pause, jeda beberapa saat di antara satu prosedur ke prosedur lain. Tim operasi boleh mengemukakan pendapat jika dirasa perlu, komunikasi harus berjalan. Seperti dia bilang, wewenang bergeser dari pusat. Ketika masalah major terjadi, mereka harus berkomunikasi, mereka dibuat merasa punya tanggung jawab bahwa mereka adalah bagian dari proses tersebut (dalam hal ini operasi), bukan sekadar, 'Ya apaan itu, masalah kayak gitu sih urusannya dokter anestesi, akik sebagai suster ga peduli. Pikirin aja sana harus gimana.'

***

Masih banyak contoh menarik soal penggunaan cheklist, terutama dari dunia aviasi (karena memang awalnya checklist ini digunakan oleh sektor aviasi) dan konstruksi. Juga contoh mengenai tindakan yang diambil ketika situasi ekstrem terjadi, ketika wewenang bergeser dari pusat, yaitu ketika Badai Katrina terjadi dan pemerintah begitu lamban bergerak, justru Wal-Mart yang menunjukkan kemampuan menghadapi situasi ekstrem. 

Gw suka buku ini karena topik yang diangkat cukup praktikal kalau ingin diterapkan oleh pembaca. Gw rasa, dengan penyesuaian, kita selalu bisa membuat checklist baik untuk digunakan secara pribadi mau pun diterapkan di tempat kerja. Gw pun yakin, bahwa tanpa contoh membahana dari Gawande dari dunia kedokteran, konstruksi, dan aviasi, banyak dari kita yang pasti sudah sadar kalau checklist ini sangat membantu.

Hal lain yang gw suka, Gawande ini jujur dalam menceritakan checklist. Dia nggak mendewakan ide yang dia punya, 'In the end, a checklist is only an aid. If it doesn't aid, it's not right. But if it does, we must be ready to embrace the possibility.' 

Hal yang ga gw suka? Ada beberapa ilustrasi cerita yang gw rasa nggak pas dan agak maksa disambung-sambungin sama checklist ini. Meski rada maksa, tapi masih worth to read dan kasih pemahaman baru tentang suatu hal.

Buku dia yang lain, langsung masuk dalam bucket list. Gut gemacht, Gawande!

3 comments:

  1. Mau dong pinjem bukunya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukunya beneran gampang dibaca cong. Ga kerasa udah setengahnya aja gw baca. Thanks ya udah minjemin.

      Delete