Thursday, 10 March 2016

[Buku]: The Paradox of Choice by Barry Schwartz

Ini bukan buku baru sik, udah mayan lama published-nya, tapi tetep gw mau rekomendasiin orang buat baca The Paradox of Choice. Alasannya sederhana, selain kemudahan membacanya, buku ini dekat banget dengan kehidupan kita sehari-hari. Iya bok, karena yang namanya pilihan itu selalu kita temui setiap hari, SETIAP HARI, meskipun dalam bentuk paling trivial sekalipun.

Pada tahu kan ya sama kisah seorang art director ini pake baju sama setiap hari? Bukan hanya dese, Obama dan Zuckerberg pun terkenal dengan seragam yang biasa mereka pakai. Alasan Obama pun pas dengan buku ini. Kalau nggak salah, karena sepanjang hari akan begitu banyak keputusan yang harus dia buat, dan mengambil keputusan itu melelahkan secara mental. Dia nggak mau urusan remeh semacam pilih baju bikin dia ribet di pagi hari dan menghabiskan mental energy. Makanya pernah suatu hari dia pake suit warna khaki (bukan warna gelap, hitam atau biru dongker, seperti biasanya) dan terjadi kehebohan, Obama kenapose??? :)))

Introduksi yang dia kasih sangat sederhana. Dia mau beli jins. Terakhir kali beli jins udah lama banget. Pas masuk ke toko, dia minta jins sama pelayan yang kemudian si pelayan nanya balik sama dia, 'Mau jins yang mana? Slim? Slim fit? Regular? X? Y? Z?' Terus dia pun bingung, ini gimana sih kok jadi mbingungi, gw cuma pengen jins yang selama ini biasa gw pake, udah nyaman, tapi sekarang udah nggak ada dan malah jadi repot gini???

Salah satu hal yang paling gw inget dari buku ini adalah mengenai tipe orang dalam mengambil keputusan, yaitu maximizer dan satisficer.

Maximizer. Mereka adalah tipe orang yang akan menimbang semua, SEMUA, pilihan yang dia punya sebelum pada akhirnya mengambil keputusan. Sederhananya, dia pengen beli jins. Pergilah dia ke satu toko. Ngubek sana -sini sampai akhirnya menemukan jins yang dia rasa oke. Meski pun sudah menemukan jins yang oke, dia nggak serta merta beli barang tersebut karena takut akan ada barang yang lebih (lebih murah, lebih bagus, lebih kekinian, dan lebih lainnya) di toko lain. Akhirnya jins tersebut diuwel-uwel dan dia sembunyikan di suatu tumpukan sedangkan dia terus menyisir berbagai toko untuk mencari jins yang dia inginkan.

Satisficer. Golongan ini adalah mereka yang merasa puas dengan sesuatu yang cukup baik alias 'good enough.' Tipe ini punya standar sendiri dalam memutuskan segala hal. Ketika suatu pilihan dirasa sudah memenuhi standarnya alias 'good enough' tersebut, mereka akan berhenti di sana dan memutuskan hal tersebut.

Kalau dilihat sekilas, mungkin banyak yang berfikir bahwa keputusan yang diambil oleh para satisficer ini tidak akan sebagus keputusan dari para meximizer karena mereka settle for something 'good enough' dan tidak menimbang SEMUA pilihan yang ada. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Para maximizer ini sangat rentan terhadap perasaan kurang puas atau lebih parahnya meresa kecewa dengan pilihan yang dijatuhkan. Kenapa? Karena tipe maximizer akan terus berusaha nyari-nyari-nyari, meski pun pilihan sudah dijatuhkan, mereka masih memikirkan opsi lain yang mungkin masih ada di luar sana. Semakin banyak pilihan, semakin banyak trade-off, semakin banyak opportunity cost yang hilang, maka orang akan semakin merasa less-satisfied dengan keputusan final yang diambil. Lain halnya dengan satisficer, ketika dia menemukan something 'good enough' dari pilihan yang ada, dia akan memutuskan dan tidak menggubris pilihan dan kemungkinan yang lain (ya mungkin masih kepikiran kali yak, barang sedikit, nama pun manusia), walhasil dia lebih hepi.

Terus gw mikir, selama ini gw gimana sih, cenderung satisficer atau maximizer? Atau gw ini satisficer dalam menentukan X,Y,Z dan berubah jadi maximizer kalau berurusan dengan A.B,C. Mbuhlah.

Perbedaan lain mengenai maximizer dan satisficer ini juga bisa dilihat ketika mereka melakukan social comparisson. Hare gene, siapa sih yang nggak melakukan social comparisson. Apa? Situ nggak pernah ngelakuin social comparisson? Ih, bohong abis, ngok! Karena Maximizer itu akan memasukkan semua pilihan yang ada untuk dipertimbangkan, maka apa yang dilakukan/didapatkan orang lain akan dia jadikan opsi untuk kemudian dia analisis dan pertimbangakan. Sedangkan satisficer, dia melihat apa yang dilakukan/didapatkan orang lain untuk membantu menentukan standar 'good enough' yang dia pegang. Pada akhirnya satisficer tidak tenggelam dan merana hanya karena begitu banyaknya pilihan yang harus dipertimbangkan.

Masih banyaaaakkk hal lain yang dibahas, cakupan dari buku ini mayan luas. Gw kira sekadar bicara tentang pilihan *ya kelez* dan hal-hal yang berkaitan dekat dengan pilihan. Ternyata enggak juga, dia ngomongin tentang pilihan, kepuasan/ketidakpuasan, social comparisson, penyesalan, depresi, dll, ruwet ya bok ternyata. Apalagi kehidupan masa kini lebih menawarkan kebebasan, kebebasan untuk memilih. Apalagi ini dari persepektif Amerika, land of freedom cenah mah. Keberadaan pilihan yang begitu banyak ditambah peningkatan kesejahteraan manusia pada umumnya, diperkirakan bisa membuat orang lebih punya kontrol dalam memilih dan akhirnya lebih puas dengan keputusan yang diambil dan ujung-ujungnya hepi. Eh, ternyata enggak juga sih. Kok bisa? Itu tadi, karena terlalu banyak pilihan dan ekspektasi jadi tinggi. Ketika kita hanya punya sedikit pilihan (atau bahkan nggak ada pilihan) dan kita merasa salah memilih, kita akan cenderung lebih cepet buat move on, 'Ya udahlah, pilihannya cuma itu.' Sedangkan ketika pilihan yang ditawarkan begitu banyak, ekspektasi tinggi, dan ketika kita merasa salah pilih, yang terjadi mungkin, 'Nah kan salah, coba aja kalu yang dipilih X atau Y atau Z atau...atau..atau...'

Gw pernah bilang (gw pernah tulis kan ya? mbuh lali) kalau gw nggak suka dihadapkan sama banyak pilihan, terutama kalau pilihan-pilihan tersebut terlihat sama baiknya (atau sama jeleknya :p). Gw nggak suka menganalisa dan menimbang banyak pilihan karena sangat melelahkan dan pada akhirnya akan selalu melibatkan trade-off antara satu dan yang lainnya. Ternyata gw tergolong manusia (separo alien) yang normal karena, ya itu tadi, additional options don't improve the decision you make, yang ada malah bisa bikin tambah runyam. The more options you have, the less satisfied you can be by the final decision you make. Cenah mah kitu.   


Ted Talk nya bisa dilihat di mari:




Selain buku yang gampang diikuti dan isinya yang oke, hal lain yang gw suka adalah cara dia me-refer sesuatu. Maksudnya, gini, penulis kadang mengacu ke bab lain di bukunya. Penulis lain kadang bilang, 'Seperti yang udah Saya bahas di Bab 3, bahwa kita itu blbalblablabla...' Apaan itu di Bab 3?!? Gw udah lupa *buka lagi bab 3* *rieutlah*, kalau Schwartz ini dia akan bilang, 'Seperti yang udah Saya bilang di Bab 3 yang menjelaskan tentang blablablabla...' Dia akan mengulang sepintas hal yang sudah dibahas di Bab 3 tersebut. Kan enak tuh pembaca langsung ngeh sama yang dia omongin.

***

Salah satu daily struggling yang gw hadapi adalah nentuin tempat makan siang, sama kan sama banyak orang pada umumnya? Remeh sih, tapi tetep bok, ibarat Obama bilang, mental energy tuh ya baiknya disimpen untuk keputusan yang lebih signifikan, bukan buat yang kek gini. *Cih, saving mental energy. Situ mau ngambil keputusan buat negara apa?! :)))*

Akhirnya gw coba akali perkara makan siang ini dengan bikin hierarki. Di gedung gw ada tempat makan, tapi gw (dan teman lainnya) males makan di sana. Otomatis dicoret dari opsi tempat makan siang. Walhasil, setiap siang gw cus pake shuttle bus ke kampus #rhyme. Di kampus ada banyak pilihan tempat makan. Aturan yang gw pake, kalau gw pergi makan sendiri gw pasti akan pergi ke kantin NIE (bukan karena makanan yang super enak, tapi tempatnya yang terbuka dan rada berasa di alam bebas) dan kalau gw sedang terburu-buru gw akan pilih kantin A (jarak terdekat dari bus stop). Dalam kondisi lain,, gw pergi ke tempat lain. Misal, lagi ngidam abis pengen makan menu Koriya, ya eke pergi ke kantin yang ada menu tersebut. Hal lain, misalnya lagi makan sama temen atau gw janjian sama temen di suatu kantin, ya gw cus ke tempat tersebut (dan dalam hal ini gw ga perlu repot memilih dan memutuskan). Terus, setelah sampai kantin kan musti pilih makanan juga? Iya sih, berhubung gw soleha, yang gw makan ya makanan yang halal, otomatis ada beberapa pilihan yang tereliminasi dengan sendirinya, PR gw dalam memutuskan jadi lebih mudah, ye nggak?  

3 comments:

  1. Benin meni rajin baca bukunya ih, reseeep. Seru2 lagi. Jadinya pake e-book reader nggak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama kaya teh uti komennyaa.. bening meni rajinnnn :)

      Delete
    2. YA AMPUN!! AKU INI HANYA PENCITRAAN DUNIA MAYA!!! :))))

      Ga jadi pake e-book, kalau baca sambil tiduran terus ketimpa sakit, soalnya ketimpa hape aja udah maknyus *pencari alasan :))))*

      Delete