Wednesday, 4 May 2016

Oma dan Being Mortal

Inget kan cerita oma pada masanya? Oke, jikalau pemirsa lupa, gw akan kembali merefresh ingatan kalian *pemirsa gada yang peduli*. Dulu jaman di Wageningen, gw dilungsurin kerjaan bersih-bersih sama Anan di suatu elderly house. Penghuninya seorang oma (nggak pake Irama *krik*) berusia 90 tahun *yang pada saat gw kerja sempat ulang taun ke-90 sebanyak 2 kali, makleum, udah pikun  :)))* yang tinggal sendiri. Pada saat itu, yang ada di pikiran gw ya lumayanlah wiken juga biasanya juga cuma ongkang-ongkang kaki, bebersih apartemen seorang oma yang jauh dari kotor dan nemenin dia juga. Bayaran? Nggak gede tapi ya namanya juga mahasiswa, seneng aja duitnya dipake jajan kibbeling.  

Gw nggak tahu oma masih hidup apa nggak sekarang (semoga masih dan sehat selalu), gw tiba-tiba kepikiran oma karena Hancong ngasih gw buku Being Mortal. I swear to God, by far, this book was the most depressing book I have ever read. And at one point I feel like all the books I got as a gift from Hancong were always depressing (previously she gave me The Man Who Mistook His Wife for A Hat and Other Clinical Tales). Btw, all the books based on my request, so the blame was on me actually :))). Still, Being Mortal is more depressing because by the end of the day we all will die, yes, we all will die. Some will get older and and all the complicated  component inside the body will be worn out and there is no way to prevent it, and some other will just die in one and another way, could be accident, malignant disease, incurable cancer, whatsoever. The book I mentioned later (the title is too long and it annoys me) is about neurological disorder, reading it could be depressing but on the other hand we realize that not all people have this kind of disorder. But, again, with or without neurological disorder, by the end of the day we will die.

Meskipun di dalam Being Mortal ini Gawande membahas tentang orang dengan penyakit yang tidak bisa diobati, tapi dia lebih fokus membahas orang yang meninggal karena menua. Hal yang gw suka, fokus dia justru bukan di hal teknis mengenai apa-apa aja komponen dalam tubuh yang mulai usang dan bagaimana prosesnya. Justru dia lebih membahas mengenai fasilitas yang membantu orang menghadapi hari tuanya (tentunya spesifik di Amerika yang dia bicarakan) dan segi psikologis, apa yang dirasakan ketika orang mulai tua, gimana susahnya menerima kenyataan bahwa kita udah nggak sekuat dulu (asalnya kuat ngapa-ngapain tiba-tiba harus jalan pake supporting equipment), bagaimana seharusnya anggota keluarga nerima keinginan orang yang udah nggak ada harapan (e.g. 'Once I collapse, just let it, never ever try to resuscitate me.'), gimana sebenarnya membicarakan kematian secara terbuka dengan orang-orang terdekat dari si pasien justru bisa membuat semuanya jadi lebih mudah *menghela napas panjaaannggggg* *mengumpulkan serpihan mood supaya tetap stabil*

Kembali ke oma, kenapa gw jadi inget oma? Karena dia tinggal di elderly house, yang mana tipikal negara barat ya. Tipikal negara barat ya entah tinggal di elderly house atau tinggal di rumah tapi tetep sendirian (dengan atau tanpa perawat/asisten yang datang ke rumah). Gw nggak tahu apa itu pilihan oma atau dipilihkan oleh anaknya. Gw nggak tahu apa yang dia rasain sehari-hari tinggal di sana, meski unit apartemennya bagus dan luas (ruang tengah besar, dapur yang pantas, kamar tidur dan kamar mandi yang bagus juga, ditambah pemandangan ke luar yang cukup oke). Gw nggak tahu seberapa besar lingkaran pertemanan bisa membuat oma punya kualitas hidup yang bagus di hari tuanya (dese bilang masih rajin berenang dan suka main bridge, hedan nggak tuh?!). 

Gawande bilang, banyak pilihan yang dijalani para orang tua semata-mata karena anaknya yang memilihkan, dalam hal ini memilihkan bahwa sudah saatnya mereka harus tinggal di elderly house dan memilihkan elderly house mana yang pas dirasa terbaik dari perspektif anaknya. Anaknya akan berusaha memilihkan elderly house dengan pelayanan paling sempurna, padahal menurut Gawande, orang-orang tua ini masih ingin punya otonomi atas apa yang mereka masih bisa lakukan. Beberapa pengen punya privasi, nggak mau ada orang asing (termasuk suster) yang bisa mengakses masuk ke tempat tinggalnya  tanpa izin dia, beberapa pengen punya hewan piaraan.

Gw pun jadi inget salah satu rutinitas ketika bebersih di tempat oma adalah coffee break (told ya, Dutch people are massive fans of coffee break). Gw akan datang jam 9 pagi dan setiap jam 10.30 oma akan nanya, 'Do you want coffee or tea?' setelah itu oma akan menyiapkan minuman sesuai permintaan pleus cemilan pendamping, entah cookie atau cake. Lalu kami akan duduk bareng dan gw akan mendengarkan cerita yang sama dari oma. Cerita yang sama dari minggu ke minggu. Cerita bahwa oma pernah tinggal di Indo karena ikut suaminya yang kerja di BAT, cerita betapa dia sporty waktu muda dan masih cukup sporty sampai saat itu (itu tadi, rajin renang dan main bridge), cerita kalau dia beruntung punya pemandangan yang bagus di luar apartemennya. lalu oma akan nanya gw kuliah apa, dari Indonesia bagian mana, di Wageningen tinggal di mana.  Hal yang gw lakukan adalah mendengarkan oma dengan level antusiasme yang sama setiap kali dia cerita dan jawab pertanyaan dia ketika dia nanya. She just wanted to be listened.   

Dari segala hal yang Gawande bahas, hal yang paling mengena buat gw adalah tentang bagaimana anggota keluarga (orang terdekat pasien) mau menghargai keinginan si pasien dan tentang membicarakan kematian secara terbuka. Hvft.

Sekarang taruhlah ada pasien kanker, incurable one. Obat-obatan yang ditujukan untuk menyembuhkan masih dalam tahap trial. Si pasien udah tahu kondisi dia, probabilitas untuk sembuh sangat kecil sedangkan pilihan untuk mencoba obat-obatan yang masih dalam tahap trial atau kemoterapi punya efek samping yang sangaaaatttt membuat tidak nyaman. Lalu dalam hal ini si pasien memutuskan untuk tidak mencoba pengobatan apa pun, dia memutuskan to live her/his life happily and cheerfully. S/he wants to cherish every moment with all the loved ones and get some morphine for every pain caused by her/his disease. Lalu apa keluarga/orang-orang terdekat bisa nerima? Apa mereka akan mendorong (baca: memaksa) si pasien untuk tetep mencoba segala pengobatan dengan probabilitas keberhasilan yang hampir nggak ada dan membuat si pasien cuma tiduran seharian, tersiksa, dan ngerasa nggak nyaman dengan segala efek samping yang ada? But then some will argue, there's God rite? Ngutip Twitnya Bang Poltak 'God is why one in a million happened, and why 999,999 in a million didn't happen.' Here comes the tricky part. I step out of the ring if the conversation about it is about to start *kabur ke semak-semak* Ok, just let it sink. 

Hal ini bikin gw inget ibu dan mbah gue. Mbah gue (bapaknya ibu gw) meninggal di rumah, yoi, di rumah gw di Bandung. Pada saat itu gw sedang nggak di rumah, sedang ngangklung di Yurep. Gw nggak tahu detail ceritanya, gw bahkan ngga inget sebenernya mbah meninggal karena apa ya? *toyor* satu yang pasti, dia (pernah) punya hernia. Eh, iya kan ya punya hernia, duh nggak yakin juga gw. *dijewer emak gw*   Kalau gw nggak salah inget, pada saat itu mbah sedang dirawat di RS, tapi seperti kebanyakan orang yang sudah mau 'pulang', they know when it comes. Mbah minta pulang, ibu gw kayaknya udah ngeh pada saat itu. Eh, rasanya ada cerita mistisnya sih kalo nggak salah, mbah gw punya apaaan gitu, nempel di badannya atau sesuatu yang ngikut dia, mbuhlah, tapi ini nggak berhubungan dengan yang sedang dibahas di mari. Eniwei, pokoknya ibu minta supaya mbah bisa dibawa pulang, akhirnya ya udah, istirahat di rumah, anak-anaknya pada ngumpul, pada ngaji. Lebih menenangkan daripada waktu di RS, ya memang udah waktuya ya udah, nggak perlu ribet panggil suster pasang alat ini itu dan berusaha buat dibangunkan lagi. Lebih menenangkan untuk pasien karena memang itu yang diinginkan dan lebih menenangkan untuk keluarga karena mereka udah ngeh waktunya udah deket, nggak ada ekspetasi apa-apa dan gw rasa sih lebih siap. I really applaud my mom, she's always the brave-decisive one and it strikes me that maybe years from now, I'll be in mom's position: decision please!!

Hal lain adalah soal membicarakan kematian dengan terbuka. Ya coba aja liat di film-film, semisal tokoh utamanya sakit parah, terus si tokoh utama udah ngeh waktunya nggak lama lagi, lalu dese mulai membuka pembicaraan bahwa waktu dese nggak lama lagi, penonton pun tahu dese udah mau mokat, tapi tetep aja lawan main si tokoh utama akan bilang, 'Oh, stop talking about that, just stop. You'll be okay, everything will be alright, trust me.' *diucapkan dengan pandangan mata tajam nan meyakinkan* Ngok!! Gawande bilang bahwa kita musti mulai terbuka untuk membicarakan kematian. Dengan terbuka membicarakan ini, selain si pasien bisa menyatakan preferensi dia mengenai hari-hari terakhir dia (yang mana ingin dia habiskan dengan kesenangan tanpa beban dengan orang-orang tersayang), orang-orang terdekat pun jadi lebih ngeh kalau waktu dia nggak akan lama lagi, mereka nggak akan set ekspektasi berlebihan dan akan lebih siap ketika waktunya datang. Gawande bilang, mereka yang dengan terbuka membicarakan kematian, kemungkinan keluarga yang ditinggalkan mengalami depresi menjadi lebih kecil. Ya tapi gimana? Easier said than done kan ya pastinya???? I  talk about death with my mom, openly and brutally, but it's about other people (neighbor or relatives), and it must be a whole new different round if the one who’s dying is my parent and me or my siblings should step into the game and start talking about the death. Gimana?!?!?!?!?!

Baca buku ini aja udah bikin suram, gimana ngalamin langsung. Iya, suram abis karena Gawande ngangkat cerita soal dia dan ayahnya. Ayahnya dokter juga. Bapak dan anak sama-sama dokter, segudang pengalaman menghadapi pasien sekarat, tapi tetep luar biasa susah ketika mereka yang harus ngadepin langsung. Tapi luar biasa, they handled things smoothly, like smoothly. Ibu dari Gawande kadang sedikit agak drama yah, tapi beneran, it’s an example of beautiful ending. Beautiful ending of beautiful person, yang mana semasa hidupnya bapaknya Gawande ini banyak melakukan hal yang bermanfaat buat semua orang.

Buku ini suram dan bikin pembaca (baca: gw) capek secara mental, tapi beneran bagus banget. Selama ini artikel cuma ngomongin aging gracefully atau age is only number, tapi buku ini bicara jujur tentang menua dan mendekati kematian. Ayo gih baca, biar gw nggak suram seorang diri. 

2 comments:

  1. kalau udah dikasih tau bukunya berat, pasti langsung deh aku nyerah hahaha. Yang ringan aja gak kelar2 nih hiks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha...iya banget sih, kadang baca baru awal-awal terus males dan ditinggal, pas mau nerusin udah lupa, ulang lagi dari awal :)))

      Delete