Saturday, 23 July 2016

Melancong ke Seoul Hari 2

Peringatan: postingan panjang dengan berbagai foto, kalau sayang kuota, bisa diskip aja :)))

Seoul hari 2: Changgyeonggung Palace - Insadong - Gyeongbokgung Palace - National Folk Museum of Korea - Gwanghwamun Square - KTO Tourist Information Center- Bukchon Hanok Village - Cheonggyecheon Stream

Setelah gw liat lagi, kok hari 2 banyak yang dikunjungi??? Pantesan gw gemfor!!!! Meski penentuan lokasi dilakukan secara bijaksana, yaitu sebisa mungkin yang jaraknya nggak terlalu jauh dan searah, tapi tetep aja gemfor maksimal!!!

Sarapan pagi dengan semangat 45 berharap supaya bisa cus dari rumah sepagi mungkin. Manusia berencana, tapi manusia lain menggagalkan. Sambil sarapan malah menggunjingkan Trudeau gara-gara ngobrol sama pelancong Kanada, gunjing apa? Nanti aja di tulis di  bagian extras dan perintilan *kalau inget :)))*

Pagi-pagi diawali dengan mengunjungi Changgyeonggung Palace, kenapa? Karena walking distance dari tempat gw, emang azeg tinggal di sekitaran Hyehwa. Istana ini dibangun tahun 1483 oleh Raja Seongjang sebagai tempat tinggal untuk istri-istri dari raja sebelumnya. Tempatnya nggak sefemeus istana lainnya, jadinya enak, nggak terlalu banyak orang. Tiket masuk Changgyeonggung Palace ini 1000 KRW.







Tempat berikutnya adalah Insadong. Banyak galeri, barang seni dan juga toko antik. Katanya kalau mau coba workshop-workshop art gitu, bisa juga di sekitar sini, tapi nggak tahu pasti juga di mana dan workshop apa. Pastinya di sepanjang jalan banyak yang menjajakan jajanan dan juga souvenir khas Korea. Restauran dan tempat minum teh adalah pelengkap paling pas untuk menikmati galeri di lokasi ini. Setiap Sabtu mulai pukul 14.00-22.00 dan Minggu 10.00-22.00, jalan utama dijadikan area kultural. Toko-toko membuka booth-nya di luar, peramal dan penjual permen dengan mudah bisa ditemukan. Di jalan ini ada satu booth jajanan yang mana penjualnya sempet teriak,'Apa kabar? sini-sini coba dulu, enak-anak!' Beginilah nasib bermuka selera nusantara.





Gw ngejepret foto ini di....toilet.I kid you not :)))


Tempat selanjutnya adalah Gyeongbokgung Palace dengan tiket masuk seharga 3000 KRW. Menurut gw sih ini berasa Changgyeonggung Palace versi besar. Karena hampir semua bangunannya terlihat sama, cuma ukurannya aja yang jauuuuhhhh lebih gedaaayyy. Gempor membara pokoknya!!! Saran gw sih ya mending ga perlu ke Gyeongbokgung Palace, cukup ke Changgyeonggung Palace. Kalau bener-bener penasaran sama bangunannya, sejarahnya, atau bahkan ingin ikut turnya supaya bener-bener paham, ya isokelah, terserah pemirsa. Tapi kalau sekedar foto-foto lucu di depan palace tradisional ala Korea, ga perlu ke Gyeongbokgung Palace, karena imho, harga tiket lebih mahal (ya karena lokasinya yang gedayyyy) dan orang yang datang pun banyak banget (akik puyeng deh ah). Berbanding terbalik dengan Changgyeonggung Palace, tenang banget deh ngunjunginnya, apalagi gw tinggal di daerah Hyehwa, pas banget!!





Ada satu lagi palace yang ngetop, Changdeokgung Palace. Gw nggak ke sana karena gw rasa bangunan akan sama, gw nggak akan ikut tur, dan gw nggak kepengen bener-bener belajar tentang sejarah dan hal-hal yang terjadi di sana, jadi buat apa? Kalau mau mampir ke Changdeokgung Palace, bayarnya 3000 KRW (gw rasa wilayahnya lumayan geday juga). Hal yang bikin gw penasaran dari Changdeokgung Palace adalah tur secret garden di dalam sana. Katanya tamannya cantik banget, tapi sekali tur jumlah peserta dibatasi dan harus nambah bayar 5000 KRW, hyeuk!!

Meskipun imho Gyeongbokgung Palace ini ga perlu dikunjungi dan lebih baik ke Changgyeonggung Palace, tapi ada tempat di sebelah Gyeongbokung palace yang wajib dihampiri, yaitu National Folk Museum of Korea. Kenapa? Karena masuknya gratis….hahahahahahahahaha!!! Ga deng, awalnya gw penasaran aja museum di Seoul bentuknya seperti apa, awalnya berencana main ke museum lain (yang gratis juga) tapi nggak mungkin sempat, jadi gw pun mampir aja di National Folk Museum of Korea karena kebetulan gw ada di area tersebut. Ketebak ya dari namanya, isinya tentang seperti apa kehidupan orang Korea, cara hidupnya seperti apa dan sejarahnya seperti apa. Lumayan seru kok untuk dihampiri.


Exorcism for curing Smallpox (gut). Serem nggak lo????
 


Masih di wilayah yang sama ada National Children’s Museum, tapi gw nggak mampir.






Hal yang paling menarik menurut gw justru bangunan apa yang bisa ditemui di pelataran museum ini seru abisss!!






Mampir ke Gwanghamun Square ini sebenernya secara tak sengaja. Keluar dari Gyeongbokgung ambil rute secara random, rute berbeda dari yang gw pake ketika datang ke palace ini. Walhasil terdampar di Gwanghamun square ini. Saat itu entah sedang ada demo atau apa, yang pasti lumayan banyak polisi di sekitar situ, agak-agak bikin barikade gitu. Pun ada yang ganteng satu lagi megang HT dan pake kacamata item yaudah aku senyumin aja dese senyum balik, azeg!! Ternyata di sini ada memorial altar dari korban Sewol Ferry, sedih ya. Gw juga baru tahu kalau ada 9 orang (kalau nggak salah) yang fisiknya belum ditemukan saat evakuasi dan keluarga tentunya masih menginginkan pemerintah untuk menemukan. Nggak mungkin sih ya, udah dua tahun, tapi gw paham kalau ibaratnya, keluarganya want some peace of mind. Ya memang anaknya udah meninggal, inginnya badannya ditemukan dan dikubur baik-baik (atau dikremasi?). Malemnya gw malah baca-baca tentang Sewol ferry ini, salah banget nggak sih mau nyebrang ke Nami Island malah baca-baca ferry tenggelam, pret ah!!




Kelar tawaf di wilayah Gwanghamun Square, tempat berikutnya yang gw tuju adalah KTO Tourist Information Center. Ih ngapain main ke sana? Soalnya di KTO ini ada musola. Horeeee!!!! Meski musolanya seiprit, tapi bersih dan ada tempat wudhunya. Nah, gw pikir gedung ini isinya hanya tourist information dan musola, ternyata gw salah!! Di gedung ini pun terdapat Virtual Reality Experience Zone dan K-STAR. Alay tapi seru abis bokkk!!! Di sini pertama kalinya gw nyobain VR, ada beberapa video yang gw coba, tapi yang paling seru adalah ski jumping. Alamak!!! Berasa amat loncatnya, gw serem sendiri dan pegangan tembok. Setelah puas nyobain VR, gw pun masuk ke wilayah K-STAR. Alay luar biasa deh ini, karena di sini kita bisa (berasa) foto bareng arteis Korea favorit. Sebenernya percuma sih kalau buat gw, gw nggak tau apa-apa soal artis Korea selain pemeran Full House *wis tuo*. Tapi tetep seruuuuuu, priye, wis cocok kan?




Dari KTO gw menuju ke Bukchon Hanok Village (BHV). Ngomong-ngomong soal rute, sebenarnya lebih bijak jika dari KTO gw langsung menuju Cheonggyecheon Stream, kenapa? Karena aliran sungainya ngelewatin depan KTO, tapi gw milih untuk ke BHV dulu karena gw bukan cuma pengen liat area sungai ketika siang hari, tapi penasaran ketika sudah malam bakal kayak apa dan lagi gw nggak mau main ke BHV ketika hari sudah gelap. BHV ini sebenernya residensial area, namun rumah-rumahnya berbentuk tradisional. Sukiyaki deh akikeus!!! Hal ini unik juga sih. Di luar BHV, semuanya keliatan modern, dengan jalan besar dan mobil berweliweran, begitu masuk BHV, suasananya langsung lain, Jepang mungkin gini juga kali yak? *sotoy*. Agak lucu juga sih, ngeliat ada mobil yang diparkir di depan salah satu rumah di BHV ini, jadinya kontras ya, harapan gw sih yang diparkir di depannya kereta kencana gitu, ngok!

Karena wilayah ini merupakan residensial area, banyak sign berupa peringatan untuk nggak berisik ketika ada di wilayah ini. Saat gw mengunjungi BHV ini, ada beberapa orang yang sedang melancong juga ke daerah ini, dan mereka semua orang lokal.



Tolong mobilnya diganti kereta kencana berlapis emas



Hari kedua ini ditutup dengan pulang ke hostel melewati Cheonggyecheon Stream. Ngelewatin daerah ini pun udah sambil terseok-seok saking gempornya. Kalau selain sungai ini masih ada tempat yang harus disambangi, kayaknya gw akan ngesot. Sampai 2005, sungai ini ya hanya sekedar sungai. Baru setelah itu dipercantik dan jadi tempat nongkrong orang-orang. Siang-siang banyak yang sering duduk di sekitar sungai sambil membaca buku dan malam hari banyak yang nongkrong, pacaran, atau jalan-jalan. Pasti jalan-jalan melepas stress tekanan dan persaingan hidup yang begitu tinggi, iya nggak? *puk puk*



Meskipun capek, tapi senang, untungnya lagi, summer di Koriya ini sungguh manusiawi. Ngga ada apa-apanya dibanding panasnya Singaparna atau neraka. Meskipun orang lokal sih mengeluh karena katanya temperatur terlalu panas. Pret abis, gw nggak keringetan sama sekali :))).


p.s. gambar diambil dengan handphone oppo 1206 ga pake edit, mayan yaaa *bukan posting berbayar*

7 comments:

  1. Warbiyasak Beningnong! Eta kabayang gemporna...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di jalan pulang gw dikejar anjing, mungkin gw membiarkan diri gw digigit saking udah nggak bisa ngibrit

      Delete
  2. NAH itu dia Mas TOP. Oh, aku terharu ada yang mewakili foto sm TOP. Meski boongan. :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. pasti nama belakang dese MARKOTOP, iya nggak???

      ehe..
      ehe..
      ehehehehehe...

      Delete
  3. kok gw adi gak tertarik ke korea ya Ning...
    beli mirorless fuji deh ning :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan-jangan gara-gara gw lo jadi ga tertarik??? nooo!!! Gapapa sih, kalo kata orang2 mending jepang sih bos, tapi kalo kepingin jepang dan korea, mulai dari korea, kalo sebaliknya nanti njomplang dan ekpektasi tidak terpenuhi. Hahahahaha, sayang euy beli kamera beneran kalo dipakenya jarang-jarang (atau beli dulu biar termotivasi buat rajin make? ;p)

      Delete
    2. iyess ning gara-gara lo :)))) beda feel nya sama foto2 yg di postingan singapore :))

      kalo gw sih beli dulu, termotivasi kemudian, kemudian bosen :)))

      Delete