Tuesday, 27 September 2016

Complications: A Surgeon's Notes on an Imperfect Science

Ada beberapa buku yang baru kelar dibaca belakangan ini, salah duanya adalah Complications: A Surgeon's Notes on an Imperfect Science dan Better: A Surgeon's Notes on Performance, dua-duanya ditulis oleh salah satu idola gw (bukan, bukan Incess yang nulis) yaitu Atul Gawande. Bosen nggak lo semua? 'Dih, si Bening ini, little little Gawande, little little Gawande.' Yabes gimana, awalnya baca si Checklist Manifesto, masih biasa aja, cuma mikir, 'Wah, oleh uga nih dokter.' Kelar baca Being Mortal, 'He's not only a doctor, but he's seriously a decent human being.' *peluk*

Sebenernya dua buku tersebut mirip sih, style-nya sama. Satu buku dibagi beberapa topik besar, setiap topik besar dibagi ke dalam beberapa bab. Di setiap bab dia ngasih deskripsi, penjelasan, beserta contoh kasus, fakta-fakta, sains dan juga pendapat dia. Ya tentunya kalau Complications lebih ke imperfect science (yaiyalah, judulnya aja begitu) dan kalau Better mengenai Performance (YAIYALAH NING!!!)

Seperti biasa, aku suka banget. Bukan melulu apa yang dia tulis, tapi gimana dia menuliskannya. Dia selalu bisa menyederhanakan hal yang rumit sehingga pembaca dengan satu sel otak kayak gw nggak mengalami kesulitan buat memahami apa yang dia tulis. Dia juga bisa memilih mana kasus/topik yang sebaiknya dia angkat yang bikin pembaca awam kayak gw merasa teredukasi dan terinspirasi. Selain itu, buat gw, cara dia menulis itu jujur, gimana ya, gitu deh.

Gw cuma pengen cerita cuplikan yang menurut gw menarik (etapi semuanya menarik, gimana dong). Seperti biasa, baru baca introduction gw udah stress. Tema besar dari Complications ini ada tiga, yaitu Fallibility, Mystery dan Uncertainty. Salah satu hal yang gw dapat setelah baca buku ini adalah kesadaran  bahwa apapun yang terjadi, dokter (juga) adalah manusia, ujung-ujungnya gw serem sendiri karena kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi ketika kita mempercayakan kesehatan (atau bahkan nyawa) kita pada seorang dokter. 'Loh, kan kita bisa cari tahu dulu, cari info sebanyak-banyaknya tentang seorang dokter apalagi kalau itu spesialis.' Iya betul, tapi kans bahwa dokter membuat kesalahan, sesenior dan sebagus apa pun dokter tersebut, akan selalu ada. SELALU.

Contohnya adalah seorang dokter spesialis ortopedi. Dia terkenal mumpuni, kerjaan bener dan rapi, pun baik. Sampai suatu ketika kerjaan yang dia lakukan ambyar semua, dari mulai ngoprasi ngasal sampai keluhan pasien nggak ditanggapi sampai ujungnya berakibat fatal. Pernah pada suatu waktu dia merasa capek (alasannya capek bok, CAPEK karena banyak pasien seharian), sehingga seorang yang harusnya mendapat perawatan berupa hip replacement cuma dia operasi seadanya yang kemudian beberapa hari kemudian panggul yang dioperasi sedaanya pun ambyar. Gimana coba itu?!?!?! 

Tapi bab favorit gw datangnya dari tema Uncertainty. Ya gimana, namanya juga Uncertainty, kita semua mengahadapi dalam kehidupan sehari-hari, nggak musti jadi dokter atau ngadepin pasien dengan kondisi membingungkan. Judul babnya Case of the Red Leg.

Tersebutlah seorang perempuan muda didiagnosa terkena selulitis. Pada saat itu Gawande hanya diminta tolong untuk mengecek kondisinya oleh seorang dokter dari UGD. Dokter ini hanya ingin meyakinkan bahwa yang diderita memang selulitis, bukan kondisi yang membutuhkan operasi. Oke, Gawande menyanggupi. Setelah mendengar cerita si pasien, sebut saja Mawar, dan melihat kondisinya, Gawande merasa yakin kalau memang itu selulitis. Sampai tiba-tiba dia memikirkan kemungkinan lain. Dia teringat salah satu kasus yang menimpa  pasiennya. Gawande sendiri bilang kalau decisions in medicine are supposed to rest on concrete observations and hard evidence. Tapi tetep aja dia merasa bahwa ada kemungkinan mawar mengidap infeksi yang sama dengan salah satu pasien dia, yaitu Necrotizing Fasciitis alias infeksi dari flesh eating bacteria (bakterinya golongan A-Streptococcus, katanya yang biasa bikin radang tenggorokan itu) *pembaca langsung stress*. Kemungkinan kena infeksi ini sangat kecil, dan kemungkinan bisa sembuh sempurna seperti sedia kala juga sangat kecil karena bakteri ini memakan jaringan dan penyebarannya sangat cepat, sering pasien harus diamputasi. Hal ini bikin Gawande gelisah geli-geli basah. Akhirnya dia minta pendapat kolega dia, ahli bedah plastik, Studdert. Studdert lah yang mengatakan kepada Mawar bahwa ada kemungkinan lain selain selulitis dan untuk tahu bener apa engga, satu-satunya cara dengan biopsi (ngambil sampel dari jaringan yang terinfeksi untuk kemudian dicek). 

Mawar shock dan awalnya nolak, tapi berhasil diyakinkan setelah dengar opini dari dokter lain, yaitu Segal. Kenapa? Karena bapaknya Mawar merasa kalau Studdert masih terlihat muda. Wakwaw. Singkat cerita, hasil biopsi nunjukkin kalau memang dia kena infeksi Necrotizing Fasciitis  *pembaca makin stress* dan harus segera dioperasi. Di tengah-tengah operasi, Studdert dan Segal diskusi mengenai seberapa banyak bagian kaki yang harus diamputasi. Namun tiba-tiba Studdert merasa sentimentil. Mawar ini masih muda, masa depannya masih panjang, kalau pasien yang dia hadapi ini sudah tua dan bukan usia produktif, mungkin dia nggak akan merasa ragu untuk melakukan amputasi. Akhirnya dengan leap of faith Studdert bilang, 'Oke, ga perlu amputasi, kita bersihin, scrapping semua jaringan di dalam kaki yang udah termakan dan busuk. Setelah itu Mawar kita kasih terapi hyperbaric untuk meningkatkan sistem imunnya untuk melawan bakteri ini.' Walhasil, dia perlu melakukan total empat kali operasi sampai akhirnya semua jaringan yang udah rusak dan bakterinya bisa dibuang. Operasi berhasil, Mawar sembuh total meski makan waktu berbulan-bulan sampai jaringan di dalam kakinya bisa tumbuh lagi dan dia harus mulai belajar jalan lagi *pembaca menghela nafas lega*

Ya itu tadi, uncertainty. Semua serba nggak jelas. Gawande pun ga bisa jawab kalau ditanya, 'cue' apa yang dia ambil sehingga dia bisa mikir sejauh itu bahwa selain selulitis, kemungkinan lain adalah Necrotizing Fasciitis, padahal kans untuk kena infeksi itu sangatttttt kecil. Okelah dia pernah liat kasus itu sebelumnya, tapi kalau ngomong secara statistik, ya itu tadi, kans-nya kecil banget..nget...nget. Setelah Gawande datang dengan judgement tersebut yang diamini oleh Studdert, pilihan berikutnnya biopsi atau nggak? Menurut gw sih ini lebih sederhana, lebih baik biopsi lah *gw sotoy abis* karena itu satu-satunya jalan untuk tahu apakah dia kena  Necrotizing Fasciitis atau tidak. Kalaupun engga, risiko dia hanya scar beberapa cm di kaki, no biggie.

Buat gw sih gongnya ketika Studdert awalnya datang dengan ide untuk BKA alias-below-knee amputation, bahkan AKA, above-knee-amputation dan berakhir untuk nggak mengamputasi tapi 'cuma' membuang semua jaringan yang udah terinfeksi. Di buku nggak disebutkan, tapi gw nggak yakin kalau Studdert punya banyak pengalaman dengan Necrotizing Fasciitis (secara kansnya kecil banget itu tadi) atau bisa jadi belum punya pengalaman sama sekali, terus kenapa dengan yakin bisa mengambil keputusan untuk 'membersihkan' infeksi tersebut tanpa perlu amputasi? Kalau ternyata dia gagal, setelahnya bakterinya menyebar sampai paha atas dan naik ke perut? MAU GIMANA?!?!

Gw quote lagi apa yang dia tulis, in the absence of algorithms and evidence about what to do, you learn in medicine to make decisions by feel. You count on experience and judgment. And it is hard not to be troubled by this. Terus ya gw malah stress sendiri karena akhirnya malah kepikiran Sully. Pernah latihan water landing sebelumnya? 'Engga, karena hal tersebut terlalu susah dan berisiko untuk diparktikkan, hanya diajarkan di kelas. Kedua sayap musti seimbang tapi Saya tahu Saya bisa melakukan itu.' Sully bilang dengan luar biasa kalem gw mau nangis liatnya!!!

Inti tulisan ini apa? mengajak pemirsa untuk baca buku Complications :))). Di area apa pun kita kerja, pelajaran yang bisa diambil tetap banyak dari buku ini atau setidaknya jadi punya gambaran seperti apa dunia medis  itu. Bahwa masih banyak kekurangan di sana-sini. Masih banyak pertanyaan dari pasien yang dokter nggak bisa menjawab. Banyak keluhan pasien yang dokter belum bisa temukan penyebabnya. Setiap dokter punya kans untuk melakukan kesalahan, sehebat apa pun dan semulus apa pun track record dia selama ini. Bahwa hal ini harusnya membuat setiap dokter sadar dan menyisakan 'ruang' untuk kesalahan yang mungkin mereka buat. 

Dan khusus untuk uncertainty, mungkin banyak pekerjaan yang menuntut pengambilan keputusan yang cepat tanpa ada landasan yang pasti, satu-satunya cara (seperti yang sudah selalu dibahas di mana-mana), ya itu tadi count on experience and judgement, ga ada lain. Satuuuu lagi kutipan dari dese it is because intuition sometimes succeeds that we don’t know what to do with it. Such successes are not quite the result of logical thinking. But they are not the result of mere luck, either. 

Wallahualam. Hyeuk.

No comments:

Post a Comment