Friday, 28 October 2016

Gagap Bahasa

Percayalah, gagap Bahasa Melayu itu lebih memusingkan daripada gagap Bahasa Inggris. Udah pada tahu kan ya, di sini itu kalau sesama ras Malay (yak, Indonesia tergolong ras Malay, terima aja yeee) saling jumpa, otomatis langsung cakap Melayu. Bahkan, pengalaman gw, orang India (kadang Cina pun) ketemu gw mereka akan coba cakap melayu satu dua kata. Manggil kakak-lah, sayang-lah, atau bahasa sederhana lainnya. Kalau ketemu dengan orang India atau Cina nggak masalah ya, kemampuan Melayu mereka pasti terbatas dan ujung-ujungnya pasti ngobrol pake Bahasa Inggris yang tetap mbingungi karena aksen :)))).

Justru yang paling menegangkan buat gw adalah ketika ketemu dengan orang ras Malay dan langsung ngajak ngobrol Bahasa Melayu. Kadang gw kekeh menjawab pake Bahasa Inggris (yang mana gw yakin si lawan bicara pasti kurang suka ya) bukan sombong karena sini cas-cis-cus Inggrisnya, tapi lebih menghindari kebingungan. Buat gw, di level tertentu, Bahasa Melayu itu lebih membingungkan daripada Bahasa Inggris dan gw nggak tahu apakah orang-orang ras Malay asal Singapura dan  Malaysia ini ngeh bahwa Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia adalah dua bahasa yang berbeda. Serupa tapi tak sama.

Ketika gw diajak ngobrol Bahasa Melayu, ada beberapa kemungkinan.

Gw jawab kekeh pake Bahasa Inggris. Harapannya si lawan bicara lama-lama akan switch pake Bahasa Inggris dan komunikasi jadi lebih mudah. Seperti yang udah gw bilang di atas, gw yakin mereka kurang suka kalau gw tetep jawab pake Bahasa Inggris, mungkin mereka mikirnya, ‘Dih, sombong amat ni anak, maunya ngomong Bahasa Inggris. Pasti kacang lupa sama kulitnya.’

Gw jawab pake Bahasa Indonesia karena sudah jelas gw bisanya Bahasa Indonesia (yang jelas beda sama Bahasa Melayu) dan ujung-ujungnya sering bikin gw terlihat begok karena gw nggak paham apa yang mereka bicarakan, baik dari segi aksen dan dari makna kata. Kalau begini mereka mungkin mikir, ‘Ni orang dari tadi sora-sori melulu. Masa’ diajak ngobrol pake bahasa ibu-nya malah nggak ngerti. Budek apa begok ya?’ 

Soal  makna kata misalnya, ada kata yang sama-sama ditemukan di bahasa Indonesia dan bahasa Melayu tapi memiliki arti yang beda. Ada yang artinya masih nyerempet-nyerempet, ada juga yang sama sekali berbeda. Kayak percakapan yang satu ini.

Mak Malay : Adek duduknya di mana?
Gw              : …… *masa nanya gw duduk di mana? Jelas duduk depan-depanan gini*  Duduk? maksudnya?
Mak Malay : Iya, duduk di mana? Masih dekat di Jurong sini atau di mana?
Gw              : OH! Iya, dekat, dekat Jurong Point.

Ternyata maksud pertanyaan dia adalah gw tinggal di mana. Kan hayati jadi pening.

Makanya gw penasaran, apakah sebenarnya mereka tahu bahwa Bahasa Indonesia dan Malaysia itu beda? Apa mereka ngeh bahwa (selain Borneo) daerah yang berbatasan/sebrangan dengan salah satu semenanjung Malaysia adalah Sumatera, yang mana cuma sebagian kecil dari wilayah Indonesia? Apakah mereka ngeh kalau mau cakap Melayu secara paripurna maka salah satunya ya coba cakap dengan orang-orang Jambi? Tapi kan ya  moso’ ketemu orang Malay secara random terus pertanyaan gw, ‘Are you aware that our languages are actually different?’ Ngezelin amat sih atau baiknya gw mulai mendalami serial Upin-Ipin??  :)))

2 comments:

  1. Kemarin pas di Myanmar gue juga bahas ini sama orang Singapoh. Demi menghindari perbedaan arti dan kesalahan persepsi, lebih baik pakai bahasa Enggres aje. *Berasa level native. Hoeekk. :)))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal kalau disodorin bahasa inggris singlish juga memble 8')))

      Delete