Friday, 4 November 2016

Enjoy Singapura

Mau tinggal di mana pun, pasti ada enak-nggak enaknya, begitu juga dengan Singapura. Orang-orang lokal yang nggak ramah dan banyak yang stress (iya bok, gw sering ketemu orang stress, literally, for real) ditambah apa-apa yang mahal kadang bikin mangkel juga. Tapi tetep ada hal-hal yang gw suka dan nikmati selama tinggal si Singapura, mislanya:

Makanan
Mulai dari jenisnya, harga, sampai kemudahan mendapatkannya. Berhubung banyak ras yang bermukim di Singapura, belum ditambah orang-orang barat, otomatis pilhan makanan jadi banyak dan mengikuti preferensi berbagai ras yang ada di sini. Kayak di kantin kampus, berbagai stall pasti bisa ditemui, mulai makanan vegetarian, Malay, India, Western, Chinese noodle, chicken rice, Korean, dll. Soal harga, bukannya Singapura negara mahal? Iya emberta, tapi makanan di kampus ya harganya wajar. Dulu pernah ada isu kalau menu makanan di salah satu kantin di kampus harganya bakal dinaikin 50 sen, kenalan orang lokal ada yang merepet ga berhenti-berhenti, ‘Masa mau naikin harga makanan 50 sen? Mahal amat naikinnya.’ #PelitUnited Kalau di luar kampus kan ada hawker center yang tersebar di seluruh penjuru Singapura, gampang nemunya dengan harga yang tetep terjangkau.

Hawker Center (pic taken from here).
Entah kenapa, selama gw tinggal di Singapura, gw malah sering mikirin makanan/cemilan yang nggak mungkin gw temui di sini, misalnya mikirin cimol SMA 5 Bandung (yes, spesifik, cimol SMA 5). Di Bandung pun cimol ini katanya udah nggak ada, ya apalagi di sini, pret! Pas masih di Landa, justru nggak kepikiran makanan model begini, mungkin karena sadar betul kalau pilihan di sana terbatas dan nggak ada harapan sama sekali. Berhubung ini di Singapura, ekspektasi soal makanan/cemilan Indonesia jadi suka mengada-ada.

Event / Keriaan
Banyak event menarik yang diadakan di Singapura. Mungkin karena penyelenggara bisa mengorganisir dengan baik dan minat warga juga tinggi. Ditambah lokasi Singapura yang strategis memungkinkan orang-orang dari negara tetangga untuk ikut hadir. Berhubung Singapura ini negara kecil dan dari ujung ke ujung cuma selemparan kolor (engga juga sih, dari gw di barat, mau ke Changi di timur masih lebih jauh dari pada ke Johor Bahru-Malaysia, pret juga), kalau ada event atau keriaan mudah meyambanginya. Biasanya acara-acara berpusat di tengah, sekitar satu jam-an di jalan masih worth the effort lah.

Misal gw sedang di Indonesia (yang wilayahnya terbentang dari Sabang-Merauke dengan 13 ribu lebih pulau), biasanya agak repot kalau ada keriaan yang  ingin dihadiri. Pasalnya segala keriaan biasanya berpusat di Jakarta, misalnya gw sedang tinggal di Bandung kan rempong ya, contohnya ‘Wah, ada acara/pembicara seru di @America, gratis pulak, pengen datang, tapi datang dari Bandung kayaknya hasil ga sebanding sama effort. Capek dan tua di jalan, gosah datanglah.’

Keamanan
Law enforcement di sini tuh kayak celana jins gw, ketat, ya jadinya orang ga berani macam-macam. Masih ingat kasus mahasiswa NUS asal Indonesia yang kena tuduhan melecehkan di MRT? Nah, bener dikasi hukuman yang nggak main-main. Makanya negara cenderung aman. Gw pernah baca, bahkan ada waktu di mana selama beberapa puluh hari nggak ada laporan kejahatan yang masuk ke kepolisian setempat sama sekali. Polisinya mungkin matgay, tapi entah kalau saking mati gayanya ada polisi yang bikin video lipsync chaiya-chaiya terus jadi viral :)))). Jadi pulang malem sendirian bukan isu besar.

Perpustakaan
Ada satu perpustakaan pusat di Singapura, tapi di setiap wilayah, pasti ada perpustakaan. Dari tempat gw tinggal, ada perpustakaan yang jauhnya sekitar 10-15 menit jalan kaki, yaitu Jurong West public library. Ya ukurannya nggak sebesar perpustakaan pusat  atau desainnya sekece perpustakaan Orchard, tapi koleksinya ya lumayan, apalagi gw yang hobinya cuma bacain Reader’s Digest-mah, capsuslah. Kalau cek websitenya, ada 27 public library di Singapura. Kalau lagi pengen, tinggal naik MRT jarak 3 stasiun, udah sampe Jurong Regional Public Library yang mana bagus pake banget.

pic from here

pic from here
Setiap kampus pun punya beberapa perpustakaan juga dengan koleksi buku yang nggak cuma berkisar textbook doang. Bacaan-bacaan popular semacem The Power of Habit sampai Lean In bisa ditemukan dan ada juga jenis buku yang tersedia dalam versi digital. Tinggal pinjam, download, baca pake Adobe Digital Edition, pas periode pinjam sudah habis, ya udah file nggak bisa dibuka, tinggal pinjam lagi.


Publik Transport
Seperti yang gw bilang di sini, orang lokal mah sering potes soal transportasi publik ini. Tapi berhubung gw orang Indonesia yang  ga bisa nyupir atau mengendarai motor (bisa sih, tapi nerves dan ga berani ke jalan besar., apa gunanya?!), pilihan gw ya selalu angkot. Puluhan tahun ngangkot lalu ketemu MRT dan bus ya udahlah jadi surga dunia. Keluhan orang lokal ya berkisar frekuensinya yang kurang, rutenya nggak kece, waktu beroperasi setiap harinya kurang, kadang telat dan ada gangguan. Salah satu temen gw pernah bilang, ‘Transportasi di sini bagus? Ah bagus apaan, kalah jauh lah sama Jepang.’ Pret abits.

Pilihan taksi pun ada, dengan pengemudi yang dilengkapi GPS, jadi pasti tahu jalan mereka, meski tetep nanya penumpang apakah punya preferensi jalur. Pake argo sudah pasti. Cuma ya mahal (menurut lo?!), belum kalau booking dan saat sedang peak hour, akan ada biaya plus-plus yang bikin tambah mahal.

Gw cuma stress ketika ada urusan di kota dan harus commuting saat peak hour, stasiun MRT isinya orang semua (yaiyalah!).

Taman-taman
Salah satu diskusi gw dengan Sentot ketika sedang hiking (ala-ala) di MacRitchie (yang mana file foto-fotonya ilang dari hp gw, entah kenapa. Teleque tenan!!) adalah, ‘Bok, ini negara segede upil kan ya, tapi kalau lagi main ke nature park-nya kok area nature park-nya berasa gede banget sih?’ Iya, saking amazednya dengan banyaknya dan ukuran dari berbagai nature park yang ada di sini. Kalau pun bukan nature park, di setiap area pasti ada tamannya, ruang tebuka hijau gitu, mayanlah, dengan jarak yang bisa ditempuh dengan jalan kaki sahaja.

Salah satu foto MacRitchie yang berhasil diupload sebelum filenya hilang.


Museum
Buat penggemar museum, banyak museum tersebar di sini, ada beberapa yang gratis dan ada juga yang berbayar, atau ada juga yang berbayar namun bila sedang ada event tertentu bisa gratis juga. Gw bukan fans berat museum sih, mungkin cuma excited di 4.8 menit pertama, habis itu rasanya udah males untuk bener-bener baca dan mengamati koleksi yang ditampilkan di museum tersebut (ujung-ujungnya sih foto-foto buat diupload di sosmed, biar dikirain artsy). Dari beberapa kunjungan yang gw lakukan di beberapa museum di Singapura, kunjungan yang gw paling nikmati adalah ketika mengunjungi Museum Peranakan. Bukan karena paling bagus, paling besar, paling banyak koleksinya atau paling hitz, tapi karena saat kunjungan bertepatan dengan waktu tur gratis di museum tersebut. Ada volunteer yang menunjukkan dan menjelaskan koleksi-koleksi terpenting di museum tersebut. Gw tinggal ngikut, ngamatin, lalua mendengarkan. Kalau nggak ngerti tinggal nanya. Ternyata lebih enak diceritain daripada baca sendiri. Setelah tur, kalau belum puas, ya tinggal tawaf lagi keliling museum.



***

Nah, untuk yang doyan (window) shopping, mereka mungkin pengen nambahin satu poin lagi kali yak, yaitu mall-mall di Singapura. Karena banyak, besar, dan lengkap. Gw sih kayaknya ga akan sedih misalnya, karena satu dan lain hal, mal-mall di area Orchard diratakan dengan tanah. Terlalu banyak mall, terlalu banyak orang, berbi pusing.

4 comments:

  1. soal tempat makan lu mesti lebih explore lagi ningg... banyak tempat makan yang chef nya serius2 hipster disono.. belom lagi hawker2nya yang gak ada matinye.. angan makan di kampus mulu :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ih, gw kurang gaul kalau soal makan. Soalnya gw orangnya murahan dan gampang puas sama maknan apa aja, jadi males nyari2. Penasaran juga itu sama chicken rice di hawker center yang dapet michelin star, tapi mbuh halalan toyiban apa kagak hahahahahaha

      Delete
    2. Chicken rice yang di Maxwell? Yang ngantrinya gils itu bukan sih? Kalo iya, berartii ya gitu aja. Ihik. *tetep anak Indonesia yang segala makanan harus berasa. :p

      Delete
    3. yang ini yang ini yang ini http://www.burpple.com/hong-kong-soya-sauce-chicken-rice-noodle

      Delete