Friday, 27 January 2017

Kegeblekan Seleksi Beasiswa pada Masanya

Pengalaman nyari beasiswa itu selalu seru dan unik buat setiap orang. Sekarang sih bisa ketawa getir kalau inget yang dulu dikerjain, padahal pas jamannya nyari sih mewek-mewek bombay karena udah dapet dua beasiswa tapi dua-duanya slipped through my hand akibat kebodohan masa muda yang sebenarnya nggak perlu terjadi kok nggak dapet-dapet sih. Ah, kzl, zbl, cedi.

Gw nggak tahu apakah pernah cerita soal ini atau nggak, maklum ya, usia makin senja, jadi sering lupa dan suka mengulang cerita untuk kesekian kalinya *rhyme at its best!!*

Alkisah, salah satu beasiswa yang pernah gw apply adalah beasiswa yang disediakan oleh salah satu perusahan minyak kenamaan asal Prancis yang namanya sama seperti nama salah satu toko buah di area Dago-Maulana Yusup-Sulanjana, Bandung. Berhubung perusahaan ini asal Prancis, dia membebaskan para aplikan untuk cari kampus sendiri, bebas merdeka asal di Prancis. Soal jurusan, sayangnya ga bebas, karena yang eligible untuk apply program ini adalah jurusan-jursan tertentu, makanya niat awal untuk apply ke ESMOD Prancis kandas sudah *halu adalah keontji*.

Karena niat membara untuk sekolah ke Yurep, kesempatan apa pun gw sikat. Istilahnya ya tebar jaring lah, ya daripada tebar hoax. Seleksi beasiswa ini ada beberapa tahap, meliputi seleksi berkas, FGD, wawancara HR, dan wawancara dengan petinggi perusahaan. Tahap seleksi berkas paling santai karena nggak berasa apa-apa. Giliran lolos tahap satu dan melangkah ke tahap FGD, gw nerves berat. Ya Allah Tuhan YME, aku anaknya cupu, ngasih pendapat nggak berani, ngangkat tangan buat nanya di kelas atau forum pun tak sanggup. Kemampuan gw cuma mentok di level berisik via sosial media, gimana bisa ngadepin FGD. Hal yang bisa gw lakukan adalah cari-cari tips via internet, kebanyakan dari tips tersebut bilang kalau kita jangan terlalu aktif sampai kesannya mendominasi tapi jangan sampai juga terlalu pasif dan cuma ngangguk-ngangguk ketika diskusi berlangsung bak salah satu cawagub DKI. Ih, kzl deh, tips apa ini kok sungguh normatif seperti jawaban-jawaban dari salah satu cagub DKI, nggak membantu dan nggak praktikal: jangan mendominasi dan jangan pasif. Aku kan butuh solusi konkret yang aplikebel. Ya sudahlah, siap nggak siap memang harus dihadapi. Target gw nggak muluk-muluk, jangan sampai ngompol, muntah atau pengsan selama FGD, kalau ternyata gw benar-benar sampah, gw nggak akan melakukan apa yang James McAvoy pernah lakukan untuk kabur audisi, gw berencana untuk pura-pura kesurupan aja, karena kesurupan di luar kuasa gw dan gw nggak bisa disalahkan, salahkan saja para setan dan lelembut yang berkeliaran.

Hari FGD datang, ternyata gw sekelompok dengan salah sorang teman sejurusan, meskipun artinya dia jadi saingan, tapi nggak apa-apa lah, seengaknya gw agak lebih tenang dan bisa mengopi yang dia lakukan selama FGD. Cupu abis kan gw? FGD pun dilakukan, ternyata kami mendapat mendapat skenarion di mana kami terdampar di suatu tempat, entah luar angkasa atau pulau terpencil (jauh amat bedanya, pulau terpencil ama luar angkasa, antara The Martian atau Cast Away), lalu kami diberi list dari berbagai barang yang bisa digunakan sebagai survival kit dan kami harus berdiskusi untuk memutuskan barang mana saja yang harus dibawa. Temen gw membuka diskusi tersebut, berhubung temen gw yang buka, gw jadi merasa tenang, lalu mengekor dia untuk mulai berpendapat. Lalu entah apa yang terjadi, diskusi mengalir di antara kami dan ternyata gw nggak ngompol, pingsan, muntah atau pura-pura kesurupan. Yay!!

Nggak lama setelah itu, hasil diumumkan dan ternyata gw lolos. Nerves lagi lah gw harus menghadapi interview. Gimana bisa go internesyenel dan jadi seleb holiwud kenamaan kalau dikit-dikit nerves dan jiper, hih!! Waktu interview pun tiba. Beberapa pertanyaan standar ditanyakan, salah satunya adalah pertanyaan mengenai alasan gw mengambil jurusan saat S1. Bukannya kasih jawaban berbunga-bunga yang bikin gw kayak orang bener dan punya visi, yang ada gw malah memberikan jawaban ala-ala buku The Secret.

Flashback ke jaman SMA, gw punya notes yang isinya catatan macam-macam. Ada satu catatan yang gw tulis ketika gw masih kelas satu SMA, isinya berupa ancer-ancer jurusan kuliah. Di halam tersebut, gw bagi menjadi dua, yaitu IPA dan IPS. Di list IPA isinya (urut dari nomor 1 sampai nomor 3) Teknik Lingkungan, Farmasi, Biologi; sedangkan untuk IPS, gw tulis akuntansi. Gw nggak pernah sadar pernah bikin catatan seperti itu. Waktu baru naik kelas 3 SMA, gw keteteran abis karena 'bolos' sekolah sekitar 40 hari untuk misi pengenalan angklung ke Yurep. Stress dan ngerasa paling bodoh, kayaknya nggak akan ada kampus yang bakal nerima gw, SPMB nggak akan lolos dan kampus swasta pun kayaknya menolak aku *drama*. Setelah melalui jalan panjang nan berliku, di SPMB gw memutuskan ambil IPC dengan pilihan berupa Teknik Lingkungan, Akuntansi, dan Biologi. Ternyata gw lulus pilihan pertama. Setelah positif gw lulus SPMB, gw pun mulai mensortir barang-barang SMA, mana yang masih bisa dipakai dan mana yang sudah tidak akan dipakai. Nah, saat sedang menyortir barang itulah gw menemukan notes tersebut dan saat gw buka, isinya membuat gw terpana seraya berujar, 'APAAN NEH CATETAN JAMAN KELAS SATU SMA KOK AKURAT SAMA REALITI KEHIDUPAN? APAKAH INI WAHYU ILAHI ROBI?!?!?!'

Kembali ke proses seleksi. Ketika gw ditanya kenapa milih jurusan gw, gw jawab, 'I am interested with this major and it's just the way it should be.' Seraya gw menjelaskan kisah notes tersebut, ter-The Secret abis memang, ngok . Ndilalahnya kok ya gw lolos ke tahap selanjutnya. They bought my whole arguments during the interview :)))).

Seleksi terakhir mengharuskan gw datang ke kantor mereka di Jakarta. Gw nggak tahu pasti siapa yang menginterview gw, tapi gw punya feeling kalau salah satu interviewernya adalah petinggi perusahaan tersebut sekaligus bapak dari salah satu senior satu jurusan gw dan senior tersebut pun sekarang berjibaku di dunia oil service (anak sejurusan gw yang dengan apesnya baca postingan ini be like, 'Oh, I know who are you talking about.'). On a serious note, this father and son (my senior) are great people. Eniwei, seluruh dunia rasanya udah tahu kan gw nggak akhirnya nggak lanjut sekolah di Prancis, yang berarti gw gagal seleksi tahap akhir. Tahu kenapa gw gagal? Gw juga nggak tahu pasti, tapi gw punya perkiraan kenapa gw gagal. Jadi, salah satu pertanyaan di inerview terkahir adalah, 'So, are you interested to work in oil company?' Gw dengan penuh keyakinan dan kepolosan menjawab, 'No, I am not.' DUILEEEE NING!!! BEGO DIPIARA, KAMBING DIPIARA KEK BISA GEMUK...KZL :''))). Ya ngapain mereka biayain gw kuliah kalau gw nggak ada ketertarikan untuk berkontribusi di dunia minyak pada umumnya atau di perusahaan mereka pada khususnya.

Kalo sekarang diingat-ingat ya bikin ketawa. Ibarat di masa depan gw berhasil go internesyenel dan diundang jadi bintang tamu Graham Norton Show, kisah ini bisa jadi anekdot, meskipun ketika baru dialami sih bikin air mata berderai-derai. Oh, life :"D.

7 comments:

  1. Hwakakakakakaa aku tau perusahaannyaaa karena aku gagal di tahap yg sama kayanya gara2 pas ditanya 'What can you tell me about this company?' jawabnya cuman 'It has something to do with oil and gas processing and it's from France.' yakeles cuman gitu doang ����

    ReplyDelete
    Replies
    1. 'It has something to do with oil and gas processing and it's from France'

      (((something)))

      Pantes ya orang cem kita ditolak 8))))

      Delete
  2. Cusss ceritain lagi yang lainnyaaaaaa, puhlease.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Abisnya cerita yang lain kurang dramatis, terima email ditolak, ngono thok...ahahahahaha. Etapi reaksi gw sih lumayan dramatis, ya mewek di depan layar komputer...

      Delete
  3. Ahahaha jawaban jujur ya mbo :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. azeg ya, kejujuran merupakan hal yang utama *pret ah*

      Delete
  4. Ahahaha jawaban jujur ya mbo :')

    ReplyDelete