Friday, 17 March 2017

Kenapa Babi?

Di antara dua kata di judul tersebut, tidak dipisahkan dengan koma, jadi judul tersebut bertanya secara netral, bukan mau ngatain satu pihak sebagai babi :)))).

Jadi begini, di Singpura ini kebetulan pemeluk Islam lumayan banyak, pun dengan orang India, walhasil ketika ada perhelatan, menu yang ditawarkan biasanya halal dan ada opsi vegetarian (gw senang dengan hal ini, meski bukan berarti semuanya berjalan mulus dan sempurna, tapi society yang inklusif begini bagus, semua merasa dihargai dan diakomodir). Biasanya kalau bentuk makannya prasmanan, lo akan liat sertifikat halal ikut dipajang di meja prasmanan atau kadang gada sertifikat halal tapi dia ga pake menu babi. Ada beberapa yang nggak mau makan menu ini karena meski nggak berbabi, tapi tetep menu daging-dagingannya nggak disembelih secara halal (fair enough), tapi kalau gw pribadi sih ya gw sikat.

Ehe.
Ehehe.
Ehehehehe.

Go judge me.

Nah, beberapa hari yang lalu gw ikutan winter school (paan neh winter school di Singaparna), sejenis short course gitu, niatnya sih buat melebarkan lingkar otak meski yang terjadi justru lingkar perut yang melebar. Ya gimana, yang ada coffe break secara teratur dan makan siang secara paripurna. Nah, di suatu coffee break, gw membabi-buta dengan mengambil mencicipi beberapa makanan yang ada. Beberapa untuk vegetarian beberapa nggak. Kemudian sampailah gw menggigit sesuatu yang kenyel-kenyel dan isinya berdaging. Reflek pertama gw adalah ngelepeh makanan tersebut yang sejurus kemudian gw sadari itu adalah Chinese dumpling. Setelah itu gw berhenti makan dumpling tersebut (kemudian gw tahu selama short course ini si katering nggak nyediain menu babi).

Setelah persitiwa ngelepeh dumpling, satu pertanyaan timbul di kepala gw. Btw, ini pertanyaan buat diri gw sendiri ya (kalau ada pemirsa yang ngerasa, ya maap-maap ya...fufufufufufu). Kenapa gw (dan beberapa orang di luar sana yang gw tahu) menetapkan babi sebagai batas/boderline? Maksudnya gini, coklat ada rumnya? sikat! Tape? sikat! Croissant dengan filling coklat ber-rum? sikat!! Semua maksiat disikat dan diperbuat kecuali makan babi.

Ehe.
Ehehe.
Ehehehe.

Btw, balik lagi ke persoalan babi. Seperti yang gw bilang, ketika gw nemu makanan berdaging yang meragukan, insting pertama pasti berkata, 'Gimana kalau ini babi?' terus gw berhenti makan. Tapi itu nggak terjadi dengan (makanan atau perilaku) yang lainnya. Why oh why? 



p.s. I know lotsa people out there can relate to me.

2 comments:

  1. nahhhhhh ini banyak nih temen2 gw yang doyan mabok2an, suka prostitusi, dll hampir sebagian besar (kalo dia Islam) dia anti banget sama makan Babi.. hahahahahaha..

    ReplyDelete