Friday, 21 July 2017

Beda Agama

Kemarin-kemarin baru baca postingan Mbo Dea yang ini, reaksi gw...


Bahasan yang bisa jadi nggak ada habisnya seperti mana yang duluan, telur atau ayam. Menurut gw, ada tiga kategori umat manusia kalau udah menyoal beda agama, 1) nggak merasa kalau itu masalah sama sekali, 2) masalah banget, seagama adalah harga mati 3) terombang ambing ga jelas karena sebagian dari dirinya merasa itu nggak boleh tapi sebagian dirinya mempertanyakan, 'Whhyyyy???'  Dengan berat hati gw akui kalau gw termasuk golongan nomor tiga. *brb kabur ke semak-semak sebelum disamperin lalu dirukyah teteh mentor*

Salah satu pengalaman klasik muslimin-muslimat ketika jadi minoritas adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan khalayak soal Islam, apalagi kalau kebetulan lo (dianggap) golongan cewe soleha berjilbab. Padahal apalah jilbab ini, gw tiap solat juga telat dan bacaannya surat kulhu melulu, tapi ya mana bule-bule itu paham, pokoknya lo pake jilbab, solat, puasa dan nggak malan babi, sudah barang tentu mereka mengategorikan gw sebagai cewe relijius, ngok. 

Temen gw pernah nanya soal boleh engganya muslim menikah dengan non muslim, gw kemudian harus menjelaskan dengan pengetahuan agama gw yang maha cetek dan Bahasa Inggris gw yang ha-hi-hu ga puguh. Gongnya akan terjadi ketika gw sampai di bagian, 'Lelaki muslim bisa nikahin cewek non muslim, women of book, ahli kitab gitu deh.' Reaksi yang gw dapet...


Lanjut dengan sumpah serapah bahwa itu nggak adil dan pertanyaan, 'Kenapa kok bisa gitu?' Terus lanjutlah gw menjelaskan dengan penjelasan yang pasti untuk mereka semakin mbingungi, ya karena di agama gw laki-laki dianggap sebagai pemimpin, jadi mereka yang harus diikutin, terus ketika akad nikah, si laki-laki yang mengucapkan, otomatis syarat utamanya adalah dia musti muslim...lalalalalala, sedangkan kalau perempuannya bukan muslim iskoey karena dia nggak ada peran pas nikah, perjanjiannya antara laki-laki dengan bapak si perempuan atau kalau perempuannya bukan muslim ya pake wakil dan berbagai penjelasan yang sebagian mungkin ga bener karena gw rada-rada ngowos juga :))))

X: It's not fair Bening.
Me: ...
X: Do you think it's fair?
Me: ...
X: I know deep down inside you think it's not fair
Me: .....

Gw terlalu cemen untuk berpendapat :)))

Atau dalam situasi lainnya.

Y: Ortu lo bakal ngijinin gw ngawinin elo ngga?
Me: Ngga
Y: Kenapa? Agama?
Me: Hmmm
Y: It's not fair, they don't even see me, how could it be. Forget parents, if we really love each other will you allow me to marry you?
Me: ....
Y: You will, right?
Me:....
Y: Yes, I know you will.
Me: *siul-siul sambil pura-pura budeg*

Bening Mayanti, tercemen dalam berpendapat.

Sama seperti Mbo Dea, deep down, gw tetep ada secercah keinginan jikalau gw kawin dan memutuskan untuk beranak, gw masih pengen anak gw muslim. Bukan sebagai 'investasi' untuk ngedoain gw menuju surga karena gw dengan pengetahuan agama tercetek yakin bahwa surga pintunya banyak, kalau bukan dari anak, masih ada pintu amalan lain yang bisa ngebawa ke surga, meski kalo didoakan baik ya siapa yang nggak mau, apalagi sama anak. For some reason I don't know what, gw cuma masih pengen mereka muslim, entahlah, ngono thok. Sedangkan buat pasangan, gw nggak terlalu peduli karena dese 'cuma' suami, terserah dia mau ngapain, mau berendem di bathtub isinya wine juga silakan. Etapi jangan deng, berapa duit itu yang dihabisin buat ngisi bathtub pake wine? *ternyata ujungnya pelit* 

Terus gw pikir-pikir lagi, lha kok gw begitu amat, gw menentukan untuk diri gw bahwa gw nggak keberatan dengan pasangan yang beda, tapi gw nggak mau anak gw beda. Ekhois kamu Bening!!

Kalau udah gini, solusi terpintasnya adalah convert aja lakinya supaya bisa digeret ke KUA, tapi kalau konversi ini hanya untuk memuluskan langkah menuju KUA kok rasanya gimana gitu ya, it is against somebody's belief. Meski kepercayaan gw saat ini pun lebih karena sesuatu yang bawaan orok dan jadi kebiasaan yang dilakukan karena dibesarkan di kultur yang seperti ini, sehingga kalau nggak dilakukan rasanya ada yang salah *level beragama gw baru nyampe situ, go judge*. Tapi ya nggak tahu sih, kalau bahasa temen gw, manusia itu biasanya ujung-ujungnya makan omongannya sendiri, misalnya mengedepankan anti pembajakan karyanya sendiri tapi ternyata hobi bajak dan donlot sana-sini ugha. Mana tahu besok-besok am lyke, 'Screw this!! You better convert now and we go KUA a.s.a.p. Like, A.S.A.P.'

Auk ah. 

4 comments:

  1. nah ini.... konsep wali nikah itu juga bias gender sih ya... seakan-akan yang bisa mutusin masa depan ya cuma pihak cowo aja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. *terlalu cupu buat komen* *panggung gw serahkan pada mamah dedeh*

      Delete
  2. Si gw pernah baca penjelasan knp muslim(ah) mesti kawin sm sesama muslim, tulisan ustadz fav si gw, yg kata org2 mah doi syiah~ klo mau tau nanti kita japrian.. #takuttemennyanikahsamaatheis 😆😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmm...pasti ini ustad favorit aku juga yang anaknya oke semua.

      Delete