Tuesday, 25 July 2017

[Buku]: Born A Crime - Trevor Noah

Di buku ini Noah menceritakan bagaimana dia sempat mengalami tumbuh di lingkungan apartheid (gila ya? Gw ngebayanginnya aja begidik). Dalam lingkungan apartheid, semua batasannya jelas antara orang kulit hitam dan putih, yang repot justru orang campuran seperti Noah. Lo nggak akan kena masalah kalau lo lahir sebagai anak campuran karena bapak lo campuran dan ibu lo campuran, tapi lo akan kena masalah, bahkan hal ini dikategorikan sebagai tindak kriminal, kalo lahir sebagai anak campuran dari satu orang tua hitam dan putih, dan itu dia Trevor Noah, makanya dia bilang kalau dia itu Born a Crime. Saat dia kecil, dia bahkan nggak bisa dengan bebas jalan bareng ibunya karena kalau pihak autoriti melihat, Noah akan langsung digeret masuk panti asuhan. 

Milih buku (berbentuknya esai atau memoir) yang ditulis oleh (stand-up) comedian itu tricky, apalagi kalau kita secara personal suka dengan comedian tersebut. Ekspektasi biasanya udah tinggi karena kita bikin penilaian berdasrkan karya lainnya yang udah pernah dia bikin (stand-up performance-nya lah, sitkom lah, hosting, podcast, dll.), tapi giliran nulis buku kok meh, kan kecewa.

Hero dari buku ini sendiri kalau menurt gw adalah emaknya Trevor Noah, Patricia Noah. Kalau menurut gw sih , dia orang gila keras kepala. Mulai dari dia kekeh pengen punya anak dari seoarang kulit putih Swiss-German (dan lahirlah Trevor Noah) sampai dia ditembak oleh mantan suaminya sendiri. Tapi gw bilang, karena kegilaan dia juga Trevor Noah bisa jadi seperti ini.

Menurut gw, Trevor Noah ini bisa cerita lewat tulisan. Kerjaan dia kan sebagai host atau komedian, selama ini di biasa nyampein sesuatu lewat performance yang terlihat secara visual, pasti beda ya kalau ingin menyampaikan sesuatu lewat tulisan, tapi dia sukses melakukan ini. Mungkin bukan cuma  dari cara dia nulis, tapi juga pengalaman yang dia tuliskan. Baca Born a Crime itu rasanya kayak nonton Homecoming King-nya Hasan Minhaj, beautifully told and personal. It touches people (or at least me) at so many levels, since those are their personal stories growing up as kid. As I read that book, I experienced many different emotions; sad, happy, anger, joy, disgust, mistrust, etc. Jokes yang dia angkat pun cukup universal dan pembaca mana pun bisa ngeh sama jokes tersebut tanpa perlu referensi tertentu.

Kesimpulannya, gw suka banget buku ini!!! Rekomendasi banget deh buat dibaca, bacaan ringan tapi masih ada isinya.

Dan tentu saja, tidak lengkap rasanya kalau belum ngutip bagian favorit dari buku, ini kuitipan dari bukunya sebagai ucapan emaknya.
“I know you see me as some crazy old bitch nagging at you,” she said, “but you forget the reason I ride you so hard and give you so much shit is because I love you. Everything I have ever done I’ve done from a place of love. If I don’t punish you, the world will punish you even worse. The world doesn’t love you. If the police get you, the police don’t love you. When I beat you, I’m trying to save you. When they beat you, they’re trying to kill you.”
Bagian lainnya.
“We’ve caught your son shoplifting batteries,” he said. “You need to come and fetch him.”
“No,” she said. “Take him to jail. If he’s going to disobey he needs to learn the consequences.”
Then she hung up. The guard looked at me, confused. Eventually he let me go on the assumption that I was some wayward orphan, because what mother would send her ten-year-old child to jail?

Dear Patricia Noah,



No comments:

Post a Comment