Monday, 3 July 2017

Jerman vs Belanda

Gw bukan ngomongin sepak bola, tenang saudara-saudara sekalian!!! Vidoe di bawah inilah yang gw maksud.


Setiap minggu, salah satu video Youtube yang gw nantikan adalah Easy German *kesel nggak sih judul channelnya? 'Easy German', hih!!* dengan harapan gw bisa tiba-tiba fasih berbahasa Jerman *halu* dan suatu hari nanti menggantikan Merkel jadi kanselir. Nah, kebetulan, hari ini tema videonya adalah Jerman vs Belanda. Wawancara dilakukan terhadap orang-orang Jerman yang sedang studi di Belanda, mereka dimintai pendapat mengenai perbedaan antara Jerman dan Belanda. Beberapa jawaban sudah gw duga, tapi ada jawaban yang bikin gw, 'Masa sih?! Yang boneng nih?!'

Hal yang sudah gw duga adalah orang Belanda lebih rileks, terbuka dan punya sense of humor. Terbuka di sini bukan dalam artian open minded dan orang Jerman closed minded, tapi lebih ke menjaga jarak, orang Jerman lebih....apa ya...reserved? Beberapa waktu lalu gw pernah baca cerita orang Indo yang tinggal di Swedia dan traveling ke Jerman terus kaget karena orang Jerman beda jauh sama orang Swedia, yaiyalah :)))). Belanda sama Jerman yang tetanggan dan tinggal nyepeda kalau dari Enschede aja beda jauh apalagi Jerman sama Nordik, akar dan asal-usulnya udah beda jauh.

Orang-orang Jerman tersebut juga mengakui, di saat orang Belanda bisa lebih rileks, mereka ini tipe orang yang precise dan semuanya musti terorganisir dengan baik. Gw udah pernah cerita belum? Pas ke Penang, gw ketemu orang Austria, orang Austria tersebut ketemu orang Jerman, mereka sama-sama lagi napak tilas Asia Tenggara. Ternyata negara yang sudah dikunjungi orang Jerman adalah negara incaran si orang Austria, maka dia memutuskan untuk minta tips dan juga nanya-nanya soal itinerary orang Jerman tersebut. Ternyata, oh ternyata, orang Jerman tersebut udah merencanakan liburannya yang sebulan (atau lebih) itu secara precise dari Jerman. Bukan negara-per-negara lagi, tapi kota-per-kota, sampai ke detail terkecil semua kegiatan dia. Sedangkan si orang Austria tersebut cuma beli tiket PP dan fleksibel dengan jadwal, misalnya, dia rencana di Penang dua hari tapi ternyata suka banget sama Penang, ya tinggal diperpanjang. Komentar gw, 'Can that German guy be relaxed a bit and stop being a German during his own holiday?'

Nah, karena orang Belanda ini lebih rileks, interaksi antara dosen dan mahasiswa pun lebih santai. Salah satu orang di video tersebut bulang kalau mereka bisa memanggil dosen dengan panggilan informal (istilah dalam bahasa Jerman 'du') ketimbang panggilan formal (istilah dalam bahasa Jerman Sie) dan kalau ada mahasiswa yang butuh untuk bertanya, tinggal samperin aja dosennya, sangat approachable. Bener sih ini. Sering kali saat coffee break kuliah, dosen-dosen ini bakal minum kopi dan  mereka nggak diam duduk di bangku dosen, tapi nyamperin anak-anak mahasiswa dan ngelebur ikut ngobrol. Pada masaya, gw kalau ngeliat study adviser dari jauh, gw pasti akan melambaikan tangan sambil teriak, 'Woy!!' Apakah study adviser gw masih muda dan cool? Nggak sama sekali, dese udah aki-aki banget dan pensiun awal tahun 2016 kemarin, tapi orangnya super santai dan bisa ngimbangin anak-anak mahasiswanya.

Poin menarik lainnya adalah makanan. Orang-orang Jerman ini kangen dengan tipikal makanan Jerman. Mereka pun komplain karena banyak makanan Belanda yang termasuk goreng-gorengan nggak sehat ('Woi, sini main ke Asia!!') dan juga karena tipikal roti di Belanda berbeda dengan tipikal roti di Jerman. Tipikal roti di Belanda terlalu empuk ('Woi, sini main ke Asia!!' *part 2*).

Nah, ini dia, poin yang bikin gw agak mengernnyit sambil bilang, 'Masa sih?! Yang boneng nih?!', yaitu tentang betapa direk-nya orang Belanda. Orang-orang Jerman ini bilang kalau orang Belanda lebih direk dari mereka. Bok, itu omongan keluar dari mulut orang Jerman, JERMAN!!! Gileeee!!!! Seumur hidup, gw (dan pastinya banyak orang di luar sana) punya prasangka bahwa orang Jerman adalah bangsa paling direk dan berdarah dingin. Nah orang-orang direk dan berdarah dingin ini justru bilang kalau Belanda lebih-lebih dari mereka, bahkan salah stau dari mereka bilang, 'Orang Jerman tuh kalau mau ngomong masih di parafrase dulu, orang Belanda sih langsung aja.'

Entah gw harus bangga atau gimana, kalau udah pernah khatam ditempa kekampretan para Landa, harapannya sih survive lah ya ngadepin siapa pun, yenggak? 

No comments:

Post a Comment