Saturday, 1 July 2017

Okja dan Food Security

Di dunia maya lagi lumayan rame ngomongin Okja, pun media-media online yang merekomendasikan film Netflix ini untuk ditonton. Gw nonton ini sih karena iming-iming keberadaan Jake Gyllenhaal dan Steven Yeun. Meski harus gw ingetin dulu, kalau harapan nonton Okja adalah ngeliat Gyllenhaal berwujud seperti ini...


atau ini....


maka lebih baik jangan nonton, karena yang akan didapat adalah....

Macem om-om creepy
Buat gw sih ini bukan tipe film yang, 'Ohemji Ya Allah Tuhan YME wajib tonton cynnnn.' Biasa aja sih, tema yang diangkat bagus sih, food security *halahhhh* atau sebagian bakal ngeliat film ini menceritakan persahabatan anak perempuan dengan super pig. Apa pun itu, kalau buat gw, akarnya adalah food security dan akhirnya mendorong korporat untuk lebih 'kreatif'' untuk memproduksi makanan. Nah, yang lumayan seru ya pendapat orang-orang tentang film ini. Sedih lah (iya sih), lucu, korporat jahanamiyah, atau keinginan jadi vegetarian setelah nonton film ini.

Hmmm.

Sampai saat ini gw ngerasa jadi vegetarian bukan solusi, kenapa? karena gw masih doyan daging *toyor*. Nggak sih, gw anaknya percaya kalau apa-apa dalam jumlah moderat ga akan bikin masalah karena sumber huru-hara ya pola konsumsinya orang Amerika yang nggilani. Kalau seluruh dunia punya pola konsumsi seperti orang Amerika, ambyar semuanya, sekarang juga. Kalau kemudian terbersit keinginan jadi vegetarian setelah nonton Okja, mungkin karena liat kekejaman manusia memperlakukan hewan ternak yang mana lagu lama. Dari mulai ayam-ayam yang dikasi antibiotik biar cepet gendut sampai buat berdiri aja pada nggak bisa saking beratnya. Selain itu, karena perlu intesifikasi produksi, kandang dibuat sepadat mungkin sampai mereka untuk ngebuka sayap pun nggak bisa.

Terus kenapa sih we push the limit that far? Ya jelaslah karena ada banyak mulut yang harus dikasih makan dan semuanya mau makanan tersedia dengan cepat dan murah (tapi ujung-ujungnya banyak yang dibuang juga *lirik kesel orang-orang yang ngambil makan kesetanan di undangan tapi nggak dihabisin*). Video ini ngasih gambaran berapa banyak makanan yang perlu diproduksi di masa depan.


Terus gimana kalau kita jadi vegetarian aja? Gw udah kebayang gimana masifnya invasi tanaman GMO di Amerika. 'Ya kan Amerika, Eropa kayaknya nggak gitu (-gitu amat).' Emang sih, soal beginian, Eropa tuh kayak celana jins gw, lebih ketat, ketimbang Amerika. Gw nggak bisa bilang dampak lingkungannya karena ya masa gw ngecap tapi nggak jelas buktinya, meski kalau diterawang kayaknya dampak lingkungannya lebih kecil, kayaknya lho ya. Concern gw soal GMO juga bukan soal aman atau nggaknya untuk dikonsumsi, sila diteliti bagi yang berkepentingan, tapi lebih ke unsur politiknya dan ujung-ujungnya sih yang paling dirugiin ya petani.

Gw sempet nonton dokumentari yang gw udah lupa judulnya *surem :)))* dan juga baca Farmageddon dan entah kenapa gw paling sedih di bagian para petani yang (terpaksa) pakai bibit GMO. Entah kenapa cerita tentang kekejaman factory farming terhadap hewan ternak kurang menyentuh *gw kezam* dan cerita tentang kerusakan lingkungan pun kurang menggetarkan *karena kalau udah puyeng gw suka mikir, 'Ibarat lingkungan ancur, puncak kehancurannya pas gw udah mokat, yaudalah.'* Sedangkan cerita petani yang pada awalnya baik-baik aja tanpa GMO tapi karena satu dan lain hal harus pindah ke GMO justru bikin sedih. Para petani ini kerja paling keras, dapet pressure paling tinggi, utang paling banyak, tapi ujung-ujungnya penghasilannya ya gitu-gitu aja, belum kalau kena kasus hukum karena dituntut perusahaan GMO.

Ada seorang petani masih bertahan dengan bibit konvensionalnya, tapi area pertanian di sekitarnya sudah menggunakan GMO. Kena inspeksilah dia dari perusahaan GMO. Kok bisa? Karena dari dokumentari *yang gw udah lupa judulnya* dipaparkan bahwa 70% pegawai dari perusahaan GMO tersebut fungsinya sebagai investigator. Mereka muter ke seluruh pertanian di Amerika untuk lihat apa ada petani yang berani macem-macem melanggar term dan kondisi dari perusahaan GMO tersebut. Balik lagi ke petani tersebut, dia kena kasus karena di wilayah pertaniannya ditemukan dua jenis tanaman, GMO dan non-GMO, aturannya, hanya ada stau jenis bibit yang boleh dipakai, kalau memutuskan untuk tetap pakai konvensional, ya jangan dicampur dengan GMO. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah kontaminasi dari pertanian sekitarnya. Karena area pertanian di sekitar kebun milik dia udah menggunakan GMO. Dan kalau udah begini, petani tersebut harus bisa membuktikan klaimnya bahwa dia masih menggunakan bibit konvensional dan tanaman GMO yang ditemukan di areanya emang bener kontaminasi. Lha priye, kok jadi ribet amat.

Contoh lain. Petani pada umumnya ngumpulin bibit setelah panen. Jadi sambil memanen hasil pertaninnnya, mereka ngumpulin bibit-bibit dari hasil panennya untuk ditanam kembali di musim tanam berikutnya. Hal ini nggak berlaku untuk GMO. Meski setelah panen bibit GMO masih ada yang bisa dikumpulkan, tapi aturan dari mereka mewajibkan petani untuk membuang dan membeli bibit baru. Lagi-lagi jangan main-main dengan hal ini karena tim investigasi dari perusahaan GMO ini ada di mana-mana.

Ditambah unsur politik dan konflik kepentingan. Kewajiban untuk ngasih label mengenai makanan yang mengandung GMO baru disahkan tahun kemarin meski sebelumnya beberapa produk makanan ngambil inisiatif untuk pasang label secara sukarela. Kenapa labeling jadi penting? Ya karena konsumen punya hak untuk memilih, mana makanan yang mau dia makan atau nggak. Seperti halnya tempat makan non-halal tapi no-pork dan no-lard dan gw tetep mau makan fufufufufufu. Beberapa tahun silam, pemerintah Amerika juga narikin petinggi perusahaan GMO untuk ngisi pos penting di pemerintahan, misalnya EPA atau FDA. Hal seperti ini bikin kebijakan yang diambil FDA atau EPA jadi pro GMO kalau ternyata belakangan, misalnya, GMO terbukti bahaya atau ngerusak lingkungan.

INI KENAPA GW NULIS KAYAK GINI KAYAK ORANG BENER AJA?!

Terus idealnya apa? Idelanya ya perubahan perilaku. Terstandar dan boring dan sungguh text book. Ya abis gimana, solusi dari segala prahara emang perubahan perilaku sih :))). Perubahan perilaku supaya konsumsi daging dalam batas wajar, produksi nggak musti berlebihan dan menyebabkan hewan musti diternakan dengan cara nggak manusiawi hewani. Jangankan berpaling jadi vegetarian, ngubah pola konsumsi aja udah susah banget, bukan cuma perkara kebiasaan tiap individu dalam makan daging, tapi juga lobi-lobi dari perusahaan makanan berbasis daging atau susu luar biasa kenceng. Pemerintah Amerika pasti nemu satu dan lain hal untuk tetep menjaga konsumsi orang Amerika akan produk daging ada di level nggilani yang tinggi.

KOK AMERIKA TERUS? Yabes segala literatur kebanyakan ngomongin Amerika.

Jadi intinya apa? Bahwasannya dengan jadi vegetarian nggak serta merta jadi solusi mumpuni untuk masalah food sekuriti. Sejatinya, para autoriti pun pusing mikirin ini dan banyak peneliti yang emang beneran mikirin dan berusaha untuk bisa menemukan cara paling ideal dan sustainable dalam hal agrikultur.
Bahwasannya perkara yang butuh solusi sungguhlah banyak dan kalau menurut gw level urgensinya jauh lebih tinggi ketimbang sekedar huru-hara ngeblok Starbak karena pro LGBT.

Tapi satu hal, gw seneng karena Okja nyentuh tema seperti ini, karena bikin orang ngeh akan apa yang sebenernya terjadi. Film kayak gini akan bisa lebih banyak narik audiens ketimbang dokumentari atau buku. Dan gw juga seneng karena sutradara dan pemeran utamanya dari Korea #KoreaCahayaAsia *lah* *gw dikepret ahli sejarah* Akhir kata, wabillahi taufik wal hidayah, kalau gw salah di sana-sini tolong dikoreksi.

2 comments:

  1. Gw inget tuh di wur pernah ada debatnya, datengin Monsanto 'n Greenpeace: http://resource.wur.nl/en/show/One-extra-gene-wont-change-the-ecosystem.htm

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, Monsanto itu yang petingginya (sempet) ngisi pos penting di pemerintah US dan 70% pegawainya kerjaanya investigasi, tapi gw juga kzl sama Greenpeace secara umum gara-gara Nazca Lines *jadi maumu opo Ning?!*

      '....fifteen thousand people demonstrated in Wageningen against GM conglomerate Monsanto.' Kaefci sama Mekdi aja ditolak apalagi Monsanto :))))

      Delete