Monday, 25 September 2017

Real Detective

Ceritanya gw baru mengkhatamkan Real Detective (tersedia di Netflix dan pastinya banyak link-link streaming dan donlot di luar sana :p) karena khatam quran bisa menunggu kok nonton satu episode terus nagih dan nagih. Sebagai orang yang seumur hidupnya cuma ngikutin secara hakiki The X-Files, Ugly Betty, dan Ally McBeal (plus beberapa telenovela seperti Marimar dan kawan-kawan), bisa namatin/ngikutin TV series secara berkelanjutan adalah suatu prestasi. Mungkin karena topiknya, makanya gw bisa suka dan ngikutin, ditambah embel-embel based on true story, bahkan naratornya sendiri adalah detektif yang bersagkutan. Judulnya juga Real Detective, isinya tentang kasus-kasus pembunuhan di Amerika, jadinya ya seru. Di saat bersamaan, gw masih ngikutin Forensic Files, udah 100-an episode gw tonton yang pada akhirnya bikin gw yakin kalau sekarang gw udah bisa jadi homicide investigator.

YHA!!

*nyampe crime scene kemudian pengsan, paling nggak muntah*

Real Detective ini baru dua seasons dan total episodenya kurang dari dua puluh. Dari semua episode yang gw tonton, ada tiga yang menurut gw "paling," paling nakutin, paling bikin marah, dan paling bikin sedih. Setelah nonton tiga episode ini, nonton episode lainnya mungkin terasa kurang greget, misalnya, "Oh, gini doang. Ditususk piso tiga puluh kali terus akhirnya mati. Oke deh."

Bzzztttt.

Tiga episode tersebut.

1. Misery
Semua orang tua bakal marah dan emosi nonton episode yang satu ini. Meski gw ngakak dengan bit ketiga Louis C.K di sini tentang child molesting, tetap menurut gw child molesting adalah salah satu tindakan terkeji di muka bumi (tindakan keji lainnya misalnya nggondol uang jamaah untuk hidup mermewah-mewah dengan beli gorden 700 juta), apalagi kalau child molesternya merangkap pembunuh berdarah dingin, keji kuadrat ini.

Ceritanya, seoarang anak menghilang dalam perjalanan menuju sekolahnya. Pada awalnya mereka sempat mencurigai ibu korban, karena seperti biasa, kalau ada orang hilang/dibunuh, penyelidikannya pasti dari dalam ke luar, dimulai dari orang-orang terdekat, baru keluar. Ehm, dah bisa kan gw jadi homicide investigator?

Setelah diusut, mereka punya satu orang tersangka, ketika  polisi menggeledah rumahnya, ditemukan diari yang ditulis dengan kode yang berisi nama-nama korban dan apa yang dilakukan terhadap anak-anak tersebut, detektif tersebut sempat bilang, "Mungkin seumur hidupnya dia udah molesting 100an kali." Emosi ga lo?!?!?! And when he thinks it is necessary to kill the kid(s), he does not just kill the kid(s), he butchers them. Butchering the kids, as if they are cow or pig. Saddest thing? Since the body's never recovered, the victim's mother maintain the illusion that her kid's still alive somewhere, although in the diary it's said that that kid died. Another saddest thing? this case destroyed detective's marriage. Hvft, sini om detektif, sanadaran di bahu aku aja.

2. Riverside Killer
Ini serem. Gimana nggak serem kalau ini menceritakan serial killer yang ngincer perempuan. Namanya juga serial killer, gesrek dan kelainan di mana bisa ditarik benang merah dari apa yang dia lakukan pada korban-korbannya. Entah cara ngebunuhnya serupa, entah demografi korbannya serupa, entah jejak yang ditinggalkan khas, dan entah-entah lainnya. Tapi yang pasti, kekhasan yang dilakukan orang ini terhadap korban-korban perempuannya nggilani habis, pake media bohlam.

Hal terkampret dari kasus ini, yaitu si pelaku yang merupakan orang yang ada di sekitar detektif. Makanya dia bisa tahu pennyelidikan udah sampai mana, rencana selanjutnya dari detektif apa, bahkan satu waktu hal yang nggak boleh diketahui media sampai bocor ke media. Berhubung si pelaku memang ada di sekitar detektif, beberapa pembunuhan yang dia lakukan pun (seolah-olah) ada unsur ngenyek dan ngeledek si detektif. Misalnya mayat korban dibuang di sekitar tempat tinggal kakeknya detektif, di mana si detektif waktu kecil banyak menghabiskan waktu di sana. Pernah juga si korban merupakan orang yang detektif kenal. Si pembunuh ini kayak mau ngomong, "Segitu doang nih? Coba tangkep gw kalo lo emang bisa."

Ketika pelakunya terungkap, reaksi gw cuma, 'Ya Allah Tuhan YME.....' 

3. Blood Brothers
Ini sedih bukan karena korbannya, bukan karena keluarga yang ditinggalkan, tapi karena apa yang terjadi dengan detektif yang megang kasus ini. Selain sedih, gw pun emosi. Gw selalu emosi ketika ada orang yang menutupi kejahatan yang dilakukan pasangannya, apalagi kalau sampai ada korban dan korbannya adalah anggota keluarganya sendiri.  Kzl pangen ta' jambak rasanya! Hal ini pun terjadi di episode ini, di mana si perempuan menutupi kejahatan yang dilakukan sama pertnernya.

Partnernya emang gesrek, pemarah, dan kriminal. Perempuan ini nutupin perbuatan pertnernya yang menyebabkan adiknya meninggal. Hal yang bikin gw sedih adalah detektif yang megang kasus ini, dua orang sohib kental bak adonan vla yang udah ditambahin cairan tepung maizena. Mereka udah kerja bareng-bareng bertahun-tahun. Di tengah penyelidikan, ibu dari detektif John meninggal, cutilah dia sementara. Partnernya, Ray, lanjut dengan penyelidikan. Ray memutuskan untuk kembali ke rumah tempat terjadinya perkara, sendirian. Ketika dia sedang mengamati kondisi rumah, tiba-tiba dia ditembak dari belakang. Nggak sempat membalas, udah keburu mati.

Harusnya sih ini jadi sesuatu yang biasa. Bukan biasa dalam artian terjadi sehari-hari, tapi sangat mungkin terjadi pada polisi/detektif ketika sedang bertugas. Masalahnya, serial ini dibuat lebih personal, dan seperti yang udah gw bilang, naratornya adalah orang yang bersangkutan. Ini yang bikin sedih. John masih cuti ketika dia dapet kabar kalau Ray mati dan ketika dia kembali ke kantor dia ngecek telepon Ray dan ada dua pesan, pesan pertama dari bapaknya Ray, isinya kurang lebih, 'We heard an inspector being shot dead in [name of his area], i know you're busy, but please call me.' Pesan kedua, masih dari orang yang sama, dengan isi yang sama. Cetannnn!!!!! 

Hal kayak gini nggak perlu terjadi kalau si perempuan nggak nutupin kejahatan partnernya *jambak lagi*.

***

Begitulah lika-liku dari orang yang jarang nonton serial TV. Gw sempat nonton Confession Tape juga, tapi nggak dilanjutin, ya habis nggak tega. Soalnya dokumentari ini menceritakan pengakuan (terpaksa) dari tersangka yang diakibatkan karena pihak penyelidik menggunakan berbagai trik. Hal ini terjadi karena kasus kekurangan bukti. 

Sedikit info nggak penting, di salah satu episode Real Detective, ada seorang polisi yang sekilas kok mirip pemeran utama Tukang Bubur Naik Haji, kan gw nontonnya jadi terdistraksi. Tapi di luar itu, gw puas ya, bukan cuma karena emang bagus, tapi karena setiap episode beda cerita, maka pemeran detektifnya pun ganti-ganti, lumayan penyegaran :))). Belum lagi kasus yang dipegang oleh investigator perempuan, gile bad ass abis. 

No comments:

Post a Comment