Thursday, 5 October 2017

Dilema Grup WhatsApp

Kata orang, zaman semakin maju dan ngasih banyak kemudahan. Banyak hal yang dulu nggak mungkin dilakukan dengan mudah dan cepat sekarang tinggal lagu lama. Zaman dulu, mau ngobrol aja harus kirim surat dulu dan harap-harap cemas apa surat apa suratnya bakal nyampe atau nggak, merpati posnya bakal mokat nggak nih di tengah jalan. Setelah itu, masuk era telepon, pas telepon rumah mulai marak, nggak lupa ngantongin koin ke mana-mana buat kasih kabar orang rumah kalau pulang telat karena mau ditraktir temen makan di KFC. Lalu ada pager, telepon genggam, ina, ini, inu, lalu sampailah kita di hari ini, era WhatsApp.

Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan coba dengan keberadaan WhatsApp? Bisa kirim pesan dengan cepat, plus emoji-emoji yang bikin percakapan keliatannya lebih akrab dan ramah. Tapiiiii, bersama kemudahan pasti ada kesulitan. Salah satu hal yang bikin gemes adalah keberadaan Grup WhatsApp. Gemes-gemes gimana gitu, kenapa?


Ada GrupWhatsApp yang mengatasnamakan consent ketika masukkin elo dan elo happy ada di dalamnya, ada Grup WhatsApp yang membuat elo tergabung karena emang by default elo bagian dari sesuatu dan elo nggak ngerasa bermasalah, ada juga GrupWhatsApp yang membuat elo...


Meski begitu, ada juga grup yang terbentuk by default dan elo anggotanya, tapi karena satu dan lain hal elo males aja ada di dalamnya. Bisa jadi karena apa yang dibahas bukan interest elo, bisa jadi elo ngerasa nggak klik aja sama anggota lain *bukan dalam artian rusuh dan bermasalah, cuma nggak klik aja*, atau ya males aja. Males karena menuh-menuhin handphone dan bikin hang, terus ujung-ujungnya grup cuma hidup ketika ada yang ulang tahun, nikah, atau beranak. Di luar itu, grup mati suri....bbbzzzztttt

Ada juga grup yang bersifat temporari. Misal, gw sedang mempersiapkan acara 17-an, lalu dibentuklah grup panitia 17-an yang atas persetujuan anggotanya akan dibubarkan setelah acaranya selesai. Atau grup surprise yang dibentuk untuk ngomongin kado ulang tahun atau kawinan seseorang. Biasanya grup ini dibentuk untuk menghindari diskusi di grup lain di mana orang yang punya hajat juga tergabung. Mbingungi nggak sih? Gini maksudnya, misalnya gw tergabung di Grup WhatsApp Miss Universe 2027, nah di grup tersebut ada yang bakal kawin. Biasanya akan dibuat grup tertentu di mana anggota Grup Miss Universe 2027 lainnya bisa diskusi dengan damai untuk ngomongin kado kawinan Miss XYZ, sebut saja Grup Kawin Miss XYZ. Masalahnya, meski elo merupakan bagian dari Miss Universe 2027, nggak otomatis lo mau gabung di grup ini, bisa jadi lo udah punya rencana sendiri untuk Miss XYS karena kalian berdua adalah BFF atau lo ga mau gabung karena....ya nggak mau aja kelessss....mesti banget pake alasan? Problematika muncul ketika tanpa persetujuan tiba-tiba elo udah dimasukkin ke dalam Grup Kawin Miss XYZ, kenapa? Karena elo terjebak dan satu-satunya jalan yang paling aman untuk dilakukan adalah ngikutin aturan yang berlaku di grup tersebut. Entah ikut udunan atau ikut sumbang performance pole dancing di resepsi Miss XYZ, apapun aturan main grup tersebut.

Kadang, keberadaan grup temporari ini bisa jadi lebih nyebelin daripada grup permanen. Grup permanen biasanya nggak punya visi-misi jelas, by default aja. Ketika lo mau leave dari grup, meskipun tetap tricky, tapi sepertinya lebih bisa diterima. Sedangkan grup temporari, biasanya dibentuk karena jelas tujuannya apa, ketika elo mau leave, lo seperti 'oposisi.' Misalnya gw leave dari Grup Kawin Miss XYZ, anggota lainnya bisa jadi komentar, 'Ih, kok leave sih? Lo nggak setuju dengan visi-misi buat Miss XYZ? Elo kayak AfD terhadap Merkel deh, hih!!' Bbbbzzzttt. 

Hal ini terus bikin gw mikir, perlukah approval dari seseorang yang diinvite masuk grup tertentu? Bisa jadi, meski nggak semua orang suka sih pasti. Pasti ada yang lebih milih leave grup ketimbang reject invitation. Seenggaknya kalau pake sistem approval dan lo me-reject, lo bisa bilang sama yang kasih invitation, 'Aku ga bisa gabung, Grup Wasap ini terlalu baik buat Aku. Maaf ya.' 

2 comments:

  1. Eh iya juga ya kenapa ga pake sistem begitu aja. Yes or no. Terus kalo no nanti digosipin di grupnya dibilang si itu ga mau ikutan 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nolak gabung grup wasap digunjingkan, left grup wasap juga digunjingkan, ruwet ah Nti :)))

      Delete