Friday, 17 November 2017

[Buku] Camilla Läckberg - Erica Falck & Patrik Hedström

Akhirnya gw menamatkan sembilan novel Camilla Läckberg - Erica Falck & Patrik Hedström. Kesan pertama? Bangkrut ya bokkk!!!! *brb pasang stoking jala terus nangkring di lampu merah* Soal kepelitan berkaitan dengan harga buku Kobo dan Amazon akan dibahas kapan-kapan (kalo ngga males). Gw baca buku dia pun kebetulan, awalnya dari Stieg Larsson. Kalau baca suatu buku biasanya ada rekomendasi, entah dari genre yang sama, atau bahkan lebih spesifik lagi yaitu dari genre yang sama dan penulis dari negara yang sama.

Sekarang nggak mungkin bahas bukunya satu-satu, mungkin sih, tap banyak banget neyk. Meski bagus sih satu buku buat satu postingan, jadinya sembilan postingan *quantity over quality*, jadi lebih baik nulis kesan pesan secara keseluruhan aja, oke? Garis besar cerita, setting terjadi di sebuat kota kecil (atau desa) bernama Fjällbacka. Tempat ini emang beneran ada dan si penulis berasal dari sini. Erica adalah penulis dan Patrik adalah polisi yang kemudian nikah.

pic from here
Detail Prosedural Investigasi
Buku ini bukan untuk mereka yang suka denga detail prosedural investigasi polisi. Gw, sebagai orang yang (ngerasa) mampu jadi homicide investgator (berbekal nonton serial detektif) kadang mengernyitkan dahi karena kok kayaknya nggak mungkin polisi slebor banget atau lupa melakukan sesuatu yang basic. Misalnya ya (spoiler alert), di buku pertama ada korban pertama yang mati. Setahu gw, daftar telepon korban adalah salah satu hal yang akan pertama dicek, terutama komunikasi yang dilakukan beberapa saat sebelum doi diperkirakan mati. Tapi polisi kok nggak ngecek, yang ngecek justru Erica dengan mengunjungi rumah korban terus pake redial (karena ini landline) untuk tahu orang yang terakhir korban kontak. Dan itu terjadi setelah  seminggu (atau lebih) korban ditemukan. "Oh, mungkin polisi lupa Ning." Nggak, nggak boleh dan nggak masuk akal!!! Polisi nggak boleh lupa sama hal kayak gini dan nggak masuk akal karena ketika ada korban kedua yang mati, satu hal pertama yang polisi cek adalah daftar telepon genggam si korban.

Di buku lain, (setelah Erica dan Patrik nikah) ada penembakan, pada saat penembakan terjadi, adik Erica yaitu Anna ada di lokasi kejadian. Lalu Erica kekeh buat ikut ke lokasi kejadian dan dikasih sama Patrik. Masa sihhh??? Itu kan artinya membahayakan nyawa warga sipil lain (Erica) atau bisa aja si warga sipil (Erica) slebor dan ngacak-ngacak crime scene. Noooo!!!!!

Dan masih ada perintilan lain yang gw anggap tidak masuk akal.

Cara Menulis
Ada beberapa pembaca yang nggak suka dengan style nulisnya doi karena dianggap tidak melibatkan pembaca. Dia sering nulis hanya menggunakan s/he dalam situasi yang penuh misteri. Dan banyak pembaca yang nggak suka karena jadinya mereka penasaran dan nggak tahu apa-apa *ini gw ngemeng apa sih?* Misalnya gini.

Penulis lain yang melibatkan pembaca
"Erica mencium sesuatu yang tidak biasa. Dia mencium bau busuk yang khas dari pakaian yang dikenakan oleh Natalie. Bau yang mengingatkan dia pada mayat yang sudah membusuk beberapa hari. Baunya begitu menyengat dan menempel. Ia tiba-tiba teringat akan Joe, anak Natalie yang berusia empat tahun. Selama ini Erica tak pernah melihat Joe keluar rumah. Natalie selalu mengatakan bahwa Joe tidak sehat dan perlu berisitirahat. Erica merasa ada yang tak beres, ia takut apa yang ia perkirakan ternyata benar. Ia pun mengatakan pada Natalie bahwa ia perlu mengambil barang yang tertinggal di kapal, namun yang Erica lakukan adalah memasuki tempat tinggal Natalie untuk mengecek keadaan Joe."

Camila yang suka berteka-teki
"Erica mencium sesuatu yang tidak biasa. Dia mencium bau busuk yang khas dari pakaian yang dikenakan oleh Natalie. Bau yang mengingatkan dia pada sesuatu yang pernah ia alami sebelumnya. Ia berusaha mengingat-ingat dan seketika terhenyak ketika menyadari dari mana bau tersebut bersumber. Tanpa berpikir panjang, ia pun mengatakan pada Natalie bahwa ia perlu mengambil barang yang tertinggal di kapal.  Namun, yang Erica lakukan adalah memasuki tempat tinggal Natalie. Ia berusaha menghilangkan pikiran yang ada di benaknya, semoga dugaannya kali ini salah." 

Banyak orang yang esmosi dengan si Camilla karena "Elo ngemeng apose sih sebenarnya??? Gue sebagai pembaca pengen tahu, masa Gue harus menebak-nebak dan menunggu dalam kebimbangan?!?!?!?!"

Dan semua misteri-misteri tersebut baru kebuka ketika buku hampir tamat.  

Drama
Emang buku ini lebih ke drama daripada investigasi yang bener, makanya ada detail yang kayaknya nggak terjadi di kehidupan nyata. Semua bukunya ditulis dengan cara yang tipikal. Selalu ada narasi kejadian di masa lalu yang kemudian berhubungan degan apa yang terjadi di masa kini, dan  kasus yang terjadi di masa kini ya biasanya dendam. Tapi ada satu buku yang gw merasa si background cerita di masa lalu agak dipaksain dengan yang kemudian terjadi di masa kini.

Doi juga senang mendeskripsikan hal dengan panjang lebar di sana-sini, beberapa pembaca nggak suka dan lebih suka kalau langsung to the point, "Tong loba ile lah," kalau kata orang Sunda. Makanya ada yang baca Henning Mankell akhirnya ga suka dengan Camilla Läckberg, karena stylenya beda dan beberapa buku mereka ada yang diterjemahkan oleh orang yang sama. Jadi pembedanya emang si penulis, bukan si penerjemah.

***

Dari buku pertama emang udah gini, terus kenapa gw terus-terusan baca sampai tamat? Nggak tahu juga. Mungkin yang terjadi dengan gw adalah attachment dengan tokoh dan lokasi. Nggak tahu lah. Karena selain kasus pembunuhan, dinamika kehidupan Erica, Patrik dan orang-orang sekitarnya juga diceritain *pembaca butuh drama tambahan di luar drama pembunuhan*, ujung-ujungnya pengen baca lagi. Karena awalnya dari Stieg Larsson yang bukunya difilmkan dengan apik oleh David Fincher, alam bawah sadar gw menumbuhkan obsesi terhadap Swedia secara khusus dan Negara Nordik secara umum.

Dan btw, gw sempat ngecek adaptasi buku ini ke TV, dan versi tersebut sungguh membuat gw menghela napas. Visualisasi tokoh yang ada di kepala gw sama sekali nggak ada di pemerannya. Kesel deh, asal amat kayaknya mereka milih pemeran, padahal aktor yang nyampe Hollywood semodel Alexander Skarsgård. Bbbbzzztttt.

Tidakkk!!!! Erica yang ada di kepala gw nggak kayak gini, apalagi Patrik nya. Kenapa doi botse di mari.
Pic from here

Untungnya, di seri selanjutnya terjadi perombakan menuju arah yang lebih baik.

Patrik-nya kegantengan sih, tapi yaudala, pemirsa tak menolak dan Erica-nya pas.
Pic from here
Lebih baik baca atau nggak? Ya baca aja. Masa' orang mau baca dihalang-halangin. Tapi menurut pendapat pribadi, kalau memang nggak mau baca semua hindarilah The Lost Boy dan bacalah The Hidden Child, The Drowning, dan Ice Child. Jangan lupa kalau mau beli bersi e-book, silakan bandingkan Kobo dan Amazon. 

No comments:

Post a Comment