Monday, 11 June 2018

Lihat Orang Kena Syok Kultur

Tempat tinggal gw ini didesain buat dua orang. Kamar masing-masing, tapi dapur, kamar mandi dan toilet sharing. Selama ini gw tinggal sendirian tanpa housemate, seneng dong ya, semua milik sendiri. Santai aja mau melengggang di dalam rumah cuma pake kaos kaki atau kayang di atas kompor, bebaskeun!!! Sampai suatu hari gw menemukan secarik (((secarik))) kertas di dapur gw bertuliskan, 'Lusa gw bakal nganterin temen gw yang akan tinggal di sini.' Oke, gw nggak excited sama sekali, tapi baguslah, seenggaknya ada notifikasi lebih dahulu.

Ternyata orang yang datang adalah mahasiswa dari Amerika yang sedang ikut program pertukaran pelajar dan hanya akan tinggal di sini selama 3.5 minggu (hamdalah nggak lama), biasa dong ya basa-basi biar kayak orang bener, 'Kalo butuh bantuan bilang...etc...etc.' Bisa ditebak habis kenalan ga pernah ngobrol sama sekali :))).

Tapi bukan itu intinya, gw baru kali ini ngeliat orang ngalamin syok kultur secara hakiki. Jadi kalau ada yang mikir kalau syok kultur cuma kejadian ketika seseorang ngalamin perbedaan kultur yang kelewat ekstrem (pindah dari negara berkembang ke negara maju atau sebaliknya), it is....


Hari pertama setelah dese ngampus, malamya dese video call dengan teman-temannya di Ameriki. Dan dengan aksen Amerika-nya yang gengges *gw ini ngemeng Enggris belepotan tapi ngatain native* *toyor* mulailah dia mengeluh panjang lebar tentang betapa tidak fun-nya orang di sini. Aksen Amerika-nya persis sama yang dicontohin para stand-up komedian kalau lagi ngenyek American teenager/early-adult. Gw sampe amazed dengan kemampuannya untuk curhat dengan teman-temannya yang berbeda sampai berjam-jam. Harusnya gw nggak perlu amazed ya, Amerika gitu loh, loud-gregarious-overly friendly people ceuk cenah mah. Setiap malam akhirnya mau nggak mau gw dengerin keluhan dese ke teman-temannya, ngomongnya kenceng banget ya mbanya. Gongnya adalah sembilan hari kemudian, pagi buta dan gw masih dalam keadaan tidur, antara sadar dan nggak, gw mendengar suara orang yang sibuk gedabrukan kesana-kemari. Disusul suara roda dan pintu yang dibuka terus ditutup. Ternyata dese memutuskan untuk cus sebelum waktu pertukarannya selesai, rencana awal untuk tinggal 3.5 minggu berujung 9 hari doang saking nggak tahannya dengan kultur di sini. Luar biasa.

Gw mayan ngerti juga karena karakteristik umum orang Finland dan Amerika emang njomplang. Ga usah jauh-jauh ngomongin Amerika dan Finland, gw pernah baca seorang Indonesia yang tinggal di Swedia traveling ke Jerman dan dia kaget  dengan betapa 'tidakramahnya' orang Jerman dan bicara Bahasa Inggris tidak seumum di Swedia, padahal Swedia dan Jerman sama-sama di Eropa, gitu katanya. Ya Eropa kan benua aja gitu, pun nggak perlu jauh-jauh ambil contoh, Belanda-Jerman yang tetangga dekat bak Masjid Salman dan Gelap Nyawang aja karakternya beda banget. Atau Finland-Swedia yang tetangga dan satu rumpun di mana Finland pernah 700 tahun jadi bagian dari Swedia aja karakter orangnya beda banget (dan bahasanya nggak ada miripnya blas!!). Contoh yang lebih sempit? Swedish speaking-Finnish dengan Finnish speaking-Finnish yang sama-sama dalam satu negara aja beda bok. Apalagi Jerman-Swedia. Apalagi Amerika-Finland. Pantes dese syok lalu kabur dari Finland setelah sembilan hari.

Pesan moral: paling nggak baca-baca dikit sebelum pergi ke suatu negara supaya dapat gambaran dan ekspektasi nggak kelewat tinggi. Karena tinggal di negara lain (apalagi kalau pindah dari negara berkembang ke negara yang lebih maju) tidak selalu rainbows and butterflies.

2 comments:

  1. Dia ngeluhnya soal apa ben? Atulah maenya baru 9 hari ih, sayang amat hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orang-orangnya Nti, tau kan orang Amerika kalau di dunia barat terkenal (overly) friendly dan exuberance, sedangkan orang sini oposit banget. Ngerasa orang-orang di sini ga ramah dan tidak approachable kayaknya.

      Delete